Bani Abbasiyah
العصر الذهبى ومزاياه
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Sepeninggal Hisyam bin Abd al-Malik,
khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah, tetapi juga
bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi. Akhirnya pada tahun
750 M, daulah Bani Umayyah dapat digulingkan dan pemerintahan pun berpindah
tangan kepada Bani Abbasiyah. Karena sifat masalah yang berkembang di bawah
dinasti Umayyah terlalu arogan membuat Bani Abbasiyah mengadakan suatu
revolusi, bukan hanya melakukan pergantian dinasti saja. Kemajuan-kemajuan
telah dirasakan oleh kaum muslimin dalam masa ini, terlebih ketika
kepemerintahan dipegang oleh khalifah Harun al-Rasyid, dan putranya al-Makmun.
Dalam
zamannya tersebut, berbagai disiplin ilmu telah dilahirkan atas jasa beberapa
tokoh intelektual muslim, kedokteran, filsafat, kimia, sejarah, dan geografi,
misalnya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan
Masalah dari latar belakang di atas adalah:
1. Kapan puncak keemasan daulah Bani Abassiyah?
2. Pada masa kepemimpinan siapakah puncak keemasan daulah
Bani Abassiyah?
3. Apa faktor-faktor yang mendukung masa keemasan daulah
Bani Abassiyah?
BAB I
PEMBAHASAN
A. Masa
Keemasan Bani Abbasiyah
Dinamakan
khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah
keturunan al-Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh
Abdullah al-Suffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya
berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132-565 H (750-1258 M).
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda
sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan pola
pemerintahan, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah
menjadi tiga periode[1]
yaitu:
1.
Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). Kekuasaan pada
periode ini berada di tangan para khalifah.
2.
Periode kedua (232 H/847 M – 590 H/1194 M). Pada periode ini
kekuasaan hilang dari tangan para khalifah berpindah kepada kaum Turki (232-234
H), golongan Bani Buwaim (334-447 H), dan golongan Bani Saljuq (447-590 H).
3.
Periode ketiga (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), pada periode
ini kekuasaan berada kembali di tangan para khalifah, tetapi hanya di Baghdad
dan kawasan-kawasan sekitarnya
Pada
periode pertama, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara
politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat
kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain kemakmuran masyarakat
mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi
perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, setelah periode
ini berakhir, pemerintahan Bani Abbasiyah mulai menurun dalam bidang politik
meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang.[2]
Kalau
dasar-dasar pemerintahan Bani Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu
al-Abbas dan Abu Ja’far al-Mansur, maka puncak keemasannya dari dinasti ini
berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu:
1. Al-Mahdi
(775-785 M)
2. Al-Hadi
(775-786 M)
3. Harun
al-Rasyid (785-809 M)
4. Al-Ma’mun
(813-833 M)
5. Al-Mu’tashim
(833-842 M)
6. Al-Wasiq
(842-847 M)
7. Al-Mutawakkil (847-861 M)
Pada
masa al-Mahdi, perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor
pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak,
emas, tembaga dan besi.[3]
Popularitas
Daulah Bani Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun al-Rasyid
dan putranya al-Makmun. Ketika mendirikan sebuah akademi pertama di lengkapi
pula dengan lembaga untuk penerjemahan. Adapun kemajuan yang dapat dicapai
adalah sebagai berikut :[4]
1.
Lembaga dan kegiatan ilmu pengetahuan
Sebelum
dinasti Bani Abbasiyah, pusat kegiatan dunia Islam selalu bermuara pada masjid.
Masjid dijadikan center of education. Pada dinasti Bani Abbasiyah inilah
mulai adanya pengembangan keilmuan dan teknologi diarahkan ke dalam ma’had.
Lembaga ini kita kenal ada dua tingkatan, yaitu :
a.
Maktab/kuttab dan masjid yaitu lembaga pendidikan terendah,
tempat anak-anak remaja belajar dasar-dasar bacaan, menghitung dan menulis
serta anak remaja belajar dasar-dasar ilmu agama.
b.
Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam
Islam pergi ke luar daerah atau ke masjid-masjid, bahkan ke rumah gurunya. Pada
tahap berikutnya, mulailah dibuka madrasah-madrasah yang dipelopori Nizhamul
Muluk yang memerintah pada tahun 456-485 H. Lembaga inilah yang kemudian
berkembang pada masa dinasti Bani Abbasiyah.
2.
Corak gerakan keilmuan
Gerakan
keilmuan pada dinasti Abbasiyah lebih bersifat spesifik, kajian keilmuan yang
kemanfaatannya bersifat keduniaan bertumpu pada ilmu kedokteran, di samping
kajian yang bersifat pada al-Qur’an dan al-Hadits, sedang astronomi, mantiq dan
sastra baru dikembangkan dengan penerjemahan dari Yunani.
3.
Kemajuan dalam bidang agama
Pada
masa dinasti Bani Abbasiyah, ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama
dua metode, yaitu tafsir bil al-ma’tsur (interpretasi tradisional dengan
mengambil interpretasi dari nabi dan para sahabat), dan tafsir bil al-ra’yi
(metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran
daripada hadits dan pendapat sahabat).[5]
Dalam
bidang hadits, pada zamannya hanya bersifat penyempurnaan, pembukuan dari
catatan dan hafalan dari para sahabat. Pada zaman ini juga mulai
diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis.
Dalam
bidang fiqh, pada masa ini lahir fuqaha legendaris, seperti Imam Hanifah
(700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Syafi’i (767-820 M) dan Imam Ahmad
ibn Hambal (780-855 M).
Ilmu
lughah tumbuh berkembang dengan pesat pula karena bahasa Arab yang semakin
dewasa memerlukan suatu ilmu bahasa yang menyeluruh.
4.
Ilmu pengetahuan sains dan teknologi
Kemajuan tersebut antara lain:
a.
Astronomi, ilmu ini melalui karya India Sindhind, kemudian
diterjemahkan Muhammad ibn Ibrahim al-Farazi (77 M). Di samping itu, masih ada
ilmuwan Islam lainnya, seperti Ali ibn Isa al-Asturlabi, al-Farghani, al-Battani,
Umar al-Khayyam dan al-Tusi.
b.
Kedokteran, dokter pertama yang terkenal adalah Ali ibn
Rabban al-Tabari. Tokoh lainnya al-Razi, al-Farabi dan Ibnu Sina.
c.
Kimia, tokohnya adalah Jabir ibn Hayyan (721-815 M). Tokoh
lainnya al-Razi, al-Tuqrai yang hidup di abad ke-12 M.
d.
Sejarah dan geografi, tokohnya Ahmad ibn al-Yakubi, Abu
Ja’far Muhammad bin Ja’far bin Jarir al-Tabari. Kemudian ahli ilmu bumi yang
terkenal adalah Ibnu Khurdazabah (820-913 M).
5.
Perkembangan politik, ekonomi dan administrasi
Pada
masa pemerintahan Bani Abbasiyah periode I, kebijakan-kebijakan politik yang
dikembangkan antara lain:
a.
Memindahkan ibu kota negara dari Damaskus ke Baghdad
b.
Memusnahkan keturunan Bani Umayyah
c.
Merangkul orang-orang Persia, dalam rangka politik
memperkuat diri, Abbasiyah memberi peluang dan kesempatan besar kepada kaum
Mawali.
d.
Menumpas pemnberontakan-pemberontakan
e.
Menghapus politik kasta
f.
Para khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para
menteri, panglima, gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan
Persia dan Mawali.
g.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting
dan mulia
h.
Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.
i.
Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk
menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993: 213-214).
Selain
kemajuan di atas, pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, pertumbuhan ekonomi
dapat dikatakan maju dan menunjukkan angka vertikal. Devisa negara penuh dan
melimpah ruah. Khalifah al-Mansur merupakan tokoh ekonomi Abbasiyah yang mampu
meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam ekonomi dan keuangan negara. Di sektor
perdaganganpun merupakan yang terbesar di dunia saat itu dan Baghdad sebagai
kota pusat perdagangan.[6]
B. Faktor-faktor
Pendukung Masa Keemasan
Ada
beberapa faktor yang turut mempengaruhi masa keemasan Bani Abbasiyah, khususnya
dalam bidang bahasa,[7]adalah:
1.
Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa
lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa itu memberi
saham-saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
2.
Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase.
a.
Fase pertama, pada masa khalifah al-Mansur hingga Harun
al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam
bidang astronomi dan mantiq
b.
Fase kedua, berlangsung mulai khalifah al-Ma’mun hingga
tahun 300 H.
c.
Fase ketiga, berlangsung setelah tahun 300 H, terutama
setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang yang diterjemahkan semakin luas.
Dengan
gerakan terjemahan, bukan saja membawa kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan
umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Akan tetapi, secara garis besar ada
dua faktor penyebab tumbuh dan kejayaan Bani Abbasiyah,[8] yaitu:
1.
Faktor internal: faktor yang berasal dari dalam ajaran Islam
yang mampu memberikan motivasi bagi para pemeluk untuk mengembangkan
peradabannya.
2.
Faktor eksternal, ada 4 pengaruh, yaitu:
a.
Semangat Islam
b.
Perkembangan organisasi negara
c.
Perkembangan ilmu pengetahuan
d.
Perluasan daerah Islam.
Adapun
penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya khilafah Bani Abbasiyah adalah
karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya, bahwa Bani Abbas
adalah keluarga yang dekat kepada Nabi dan bahwasanya mereka akan mengamalkan
al-Qur’an dan Sunnah Rasul serta menegakkan syariat Islam.[9]
C. Lahirnya
tokoh-tokoh Intelektual Muslim
Pada
masa daulah Bani Abbasiyah, telah banyak tokoh-tokoh intelektual muslim yang
berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan, antara lain yaitu :[10]
1. Filsafat
Setelah
kitab-kitab filsafat Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, kaum muslimin
sibuk mempelajari ilmu filsafat, sehingga lahir filosof dunia yang terkenal,
yaitu :
a.
Abu Ishak al-Hindy (karyanya lebih dari 231 judul)
b.
Abu Nashr al-Faroby (karyanya sebanyak 12 buah)
c.
Ibnu Sina (karyanya al-Qanun fil al-Thib)
d.
Ibnu Bajah
e.
Ibnu Thufnil
f.
Al-Ghazali (terkenal dengan karyanya Ihya’ Ulumuddin)
g.
Ibn Rusyd (terkenal dengan Averoes di wilayah barat).
2. Kedokteran
Daulah
Bani Abbasiyah telah melahirkan banyak dokter kenamaan, yaitu:
a.
Abu Zakaria Yuhana ibn Masawih
b.
Sabur ibn Sahal
c.
Abu Zakaria al-Razi (tokoh pertama yang membedakan cacar
dengan measles)
d.
Ibnu Sina
3. Matematika
Di
antara ahli matematika Islam terkenal adalah beliau pengarang kitab Al-Gebra
(al-Jabar), ahli matematika yang berhasil menemukan angka nol (0).
4. Farmasi
dan Kimia
Di
masa para ahli farmasi dan kimia pada masa pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah
adalah Ibnu Baithar (karyanya yang terkenal adalah al-Mughni).
5. Perbintangan
Tokoh ilmu
perbintangan antara lain:
a.
Abu Manshur al-Falaky
b.
Jabir al-Batany (pencipta teropong bintang)
c.
Raihan al-Bairleny
d.
Abu Ali al-Hasan ibn al-Hitami (terkenal dengan al-Hazen
dalam bidang optik).[11]
6. Tafsir
dan Hadits
Ilmu
tafsir yang berkembang pesat adalah tafsir al-Ma’tsur dan al-Ra’yi di antara
tokoh-tokohnya adalah :
a.
Ibnu Jarir al-Thabari (ahli tafsir al-Ma’tsur
b.
Ibnu Athiyah al-Andalusy (ahli tafsir al-Ma’tsur)
c.
Abu Bakar Asam (ahli tafsir al-Ra’yi)
d.
Abu Muslim Muhammad (ahli tafsir al-Ra’yi)
Sedangkan
tokoh ilmu hadits yang terkenal antara lain :
a.
Imam Bukhari
b.
Imam Muslim
c.
Ibnu Majah
d.
Abu Dawud
e.
Al-Nasa’i
7. Kalam
dan Bahasa
Perdebatan
para ahli mengenai dosa, pahala, surga, dan neraka serta pembicaraan mereka
mengenai ilmu ketuhanan atau tauhid menghasilkan ilmu, yaitu ilmu tauhid dan
ilmu kalam. Para pelopornya adalah Jaham ibnu Shafwan, Wasil bin Atha’.
Sedangkan
ilmu bahasa yang berkembang pada waktu itu adalah nahwu, bayan, badi’ dan arudl.
Di antara ilmuwan bahasa yang terkenal, adalah:
1.
Imam Sibawih (karyanya terdiri dari 2 jilid setebal 1.000
halaman)
2.
Al-Kasai
3. Abu Zakaria al-Farra (kitab nahwunya
terdiri dari 6.000 halaman)
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari uraian
di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa puncak keemasan daulah Bani Abbasiyah
adalah terletak pada periode I yaitu pada masa khalifah Harun al-Rasyid dan
juga terletak pada masa khalifah al-Makmun (putra Harun al-Rasyid). Pada zaman
itu juga muncul beberapa intelektual-intelektual muslim yang berhasil menemukan
berbagai ilmu pengetahuan yang sangat penting, baik itu pengetahuan agama
ataupun umum. Adapun faktor yang mendukung masa keemasannya terdapat 2 faktor,
yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Komentar
Posting Komentar