cerpen si jenius wilma Kabur pun sia-sia
Kabur pun sia-sia
Aku Wilma, aku bersekolah di SMA
MULTITALENT kelas XII.IS.1.
Ceritanya hari itu hari senin, dimana hari
senin itu kebetulan maksain efektif belajar, padahal hari esok akan ada kemping
3 in 1 yang wajib diikuti oleh semua murid. Seharusnya jangan belajar, liburkan
saja.
Pagi-pagi, siswa yang mengikuti kemping
harus cek kesehatan per kelas dan mengambil merchandise
seperti tas, baju, dan syal. Semua itu berlangsung singkat karena kelas 3 lah
yang awal medapat giliranya. Dan yang bikin malas adalah mengikuti pelatihanya nanti
jam 12 di lapangan serta terik matahari yang cukup menyengat, padahal nggak
penting juga menurutku. Sesudah itu yang bikin jengkel para siswa harus masuk
kembali ke kelasnya masing-masing untuk belajar seperti biasa.
Aku, Selvina, Rokhmah, Hesty, Ayu, Yunita,
Anissa, Nengsri, Ratna, dan Ira berencana nggak akan masuk pelajaran, karena
semua percuma kalau niat kami nggak buat belajar. Kami pun pergi ke kantin.
Pada dasarnya kami menginginkan pulang
saja, karena perut kami yang sudah keroncongan. Aku dan Yunita punya ide
cemerlang.
“gimana kalau kita kabur aja!!!” sahutku
sambil memukul meja, Yunita Cuma cengar-cengir aja dia setuju dengan apa yang
diusulkan.
Kaum intelektual dan anti kabur seperti
Selvina, Nengsri, Hesty, Rokhmah, Anissa, dan Ratna terkejut mendengar usul kami.
“ah gila!” teriak Nengsri
Tiba-tiba Rully, Hany, dan Dianix datang
menghampiri kami yang sedang gundah gulana ini. Rully anak cewek yang rajin
kabur, bisa dikatakan mungkin sudah ahli.
“kabur yuk, kawan!” ajak Rully
“gimana caranya?” Tanya Selvina risih
“Tanya aja ke anak yang kemaren jum’at
kabur!” sindir Hesty sambil ngelirik aku dan Yunita
“ya, tapi jangan setengah-setengah. Entar
minta balik lagi ke sekolah nggak akan bener.” Jawabku “eh. Tapi entar mau
kemana?”
“di rumah Hany aja ya!” sahut Hany. Hany
rumahnya memang dekat dengan sekolah.
Mereka pun menyetujui. Aku dan Yunita pergi
ke portal yang memang kalau di lihat dari kantin terlihat jelas. SMA
MULTITALENT memang terkenal nggak punya pager seperti sekolah lainya. Jadi,
buat kabur gampang, kecuali sebelah ruang PKn yang di pojok sana pake pager. Banyak
pilihan jalan untuk kabur, semak belukar, belakang masjid, kandang ayam, TPS
(Tempat Pembuangan Sampah), kuburan, dll. Kalau berani lewat depan banyak guru
yang lalu lalang. Tapi, kali ini aku dan Yunita mencontohkan cara kabur yang
baik dan benar adalah melewati jalan yang telah disediakan, yaitu lewat depan.
Aku dan Yunita mengendap-endap melewati
tata usaha yang biasanya banyak guru. Tengok kanan kiri ‘clear’. Di ujung
portal segerombol anak laki-laki udah staytune yang mau kabur juga. Mereka
lihat-lihat ke Masjid. Tiba-tiba salah satu dari mereka lari.
“aya Bu Nina ninggalikeun ka portal wae,
euy!” kami pun lari dan balik lagi ke kantin.
“kenapa balik lagi?” Tanya Rully
“ada Bu Nina.” Jawab Yunita
“liatin nih Ully!!!” Rully beranjak dari
kursi sambil menarik tangan Ayu yang sudah langganan kalau kabur mereka suka
barengan.
Rully dan Ayu lihat situasi lapangan bawah
clear, mereka langsung loncat dari tebing yang tingginya 1 meter, lalu pergi
entah kemana. Di susul Hany dan Dianix, mereka yang biasanya nggak ikut-ikutan
dalam hal kabur-kaburan, tapi sekarang mereka terjun dalam bidang kabur. Mereka
mengikuti siasat Rully dan Ayu, melewati lapangan lalu loncat tebing. Mereka
berhasil keluar, tibalah aku dan Yunita yang terjun.
Kami melewati lapangan, tapi di kelas atas
ada anak kelas XII.IS.2 yang memperhatikan gerak-gerik kami. Saat kami akan
terjun,,,
“HEY, KALIAN MAU KEMANA???” terdengar suara
guru killer dari koridor bawah
“mampussss!!!” gumamku agak kesal.
“hahahahahah!!!!” sorak anak-anak XII.IS.2,
dan diantara mereka salah satunya adalah mantan aku yang paling aku benci di
dunia ini. Malu tentunya, entahlah kemana muka harus di simpan.
“KESINI KALIAN!!!” teriak guru killer itu.
Terpaksa kami mendekati guru itu dengan
perasaan was-was. Wajah kami terpasang takut saat dihadapanya.
“kalian mau kemana?” Tanya Bu Dira yang
killer
“mau ngambil pulpen di situ, Bu.” Jawabku
kurang masuk akal sambil menunjuk tempat tadi kami berada
“kenapa pulpen kamu ada disitu?”
“di lempar Miraz, Bu!” jawabku mulai
ngelantur
“ya sudah, Ibu banyak kerjaan.” Ibu Dira
pergi ke arah ruang multimedia
Akhirnya aku dan Yunita bisa menghela nafas
lega. Guru killer itu pun ternyata bisa di bodohi. Tanpa basa-basi kami mencari
jalan untuk tetap kabur, gimana pun caranya kita harus bisa.
Kami memutar haluan ke arah ujung TPS. Tapi
disana ada segerombolan cewek ganjen yang lagi narsis deket TPS. Kami memilih
kandang ayam untuk di lewati. Saat kami ada di depan kandang ayam, disana
banyak sekali bangkai tikus yang sepertinya baru mati, kayaknya dari gudang
sekolah, memang disana banyak tikus dan bangkai tikus itu akan segera di bakar.
“kita kemana lagi nih?” Tanya Yunita
Tiba-tiba handphone aku bergetar tanda SMS
masuk
Kawan kalian ada dimana??
Aku, dkk udah didepan rumah hany.
From: SQ.Ratna
“Nah,
lo. Kok mereka udah kabur? Kapan kaburnya?” aku heran atas kejadian yang
menimpa aku dan Yunita yang samapai detik ini belum juga bisa kabur.
Kami sudah berputar-putar selama 30 menit
belum menemui ilham. Tapi 20 menit yang lalu semua temen-temenku sudah lolos
kabur. Bagaimana ini?
“aha, gimana kalo kita lewat belakang
sekolah. Deket masjid khan ada jalan kecil, entar kita nerobos kebon, kita
muter aja lewat sutet, gimana?” ide Yunita
“sekarang jam berapa sih?” Tanya aku sambil
berjalan menuju masjid
“jam 11, mending mana dari pada kita haru
nunggu disini sampe jam 3?”
“ok, no one choise!”
Aku pun setuju, di koridor kami berpapasan
dengan Miss Rima, dia kayaknya bingung nyari sesuatu. Miss menatap kami yang
lagi ngehindar dari dia, takutnya dia nyuruh melakukan sesuatu.
“Wilma, kamu lagi sibuk nggak?” Tanya Miss
Rima
“oh, nggak Miss.” Jawab ku ragu-ragu
“kenal Fadli anak kelas XI.IA.3 nggak?”
Tanya Miss Rima
“oh, kenal Miss.” Jawab Yunita. Yunita
semangat denger nama Fadli, toh dia kecenganya.
“tolong sampaikan sama Fadli, kalau Miss
nyariin dia. Atau suruh aja ke ruang guru.” Amanat Miss Rima
“ok Miss.”
“harusnya kamu jangan nyanggupin perintah
Miss, padahal kamu jangan kenal Fadli.” Kesalku pada Yunita
“iya ya, padahal tadi jangan di gubris.”
Sesal Yunita.
Kami pun terpaksa menjemput Fadli yang ada
di ruang bahasa Inggris yang kebetulan berada di lantai 2. Mana tangganya itu
30 cm tiap tingkatan. Hhh, capek.
“ada Fadli?” Tanya Yunita pada segerombolan
cewek belagu.
“oh, Fadlinya lagi ke kantin barusan.” Jawab
cewek tersebut dengan sinis
Kami pun balik lagi ke kantin. Nyari tuyul
yang berkeliaran. Pas ke kantin nggak ada si Fadli. Arrgh kacrut. Kami pun
menghiraukan perintah Miss Rima, dan langsung ke belakang masjid. Di perjalanan
menuju masjid tiba-tiba ada sesosok guru sok sibuk Pak Agung yang mematung di
depan ruang wakasek manggil-manggil kami entah mau apa, terpaksa kami
menghampirinya.
“kalian, tolong buang sampah ini ke TPS,
entar beli fresh tea di koperasi, uangnya dari kalian dulu nanti Bapak ganti,
bapak lagi nggak ada uang kecil.” Udah ngomong gitu Pak Agung ngasih tong
sampah yang isinya kerlas lalu kabur, padahal kami mau komplen bahwa kami sibuk,
mengapa proses kabur ini belum kelar juga???
Dengan langkah yang sangat berat, kami
membawa sampah itu ke TPS. Balik dari TPS ke koperasi beli minuman Fresh Tea
meski berat banget ngeluarin duitnya, toh aku dan Yunita lagi sama-sama bokek.
Kami patungan 1000 per orang.
Kami kembali ke ruang wakasek, setibanya
disana Pak agung nggak ada di tempat. Di cari ke tata usaha nggak ada, ke ruang
guru nggak ada, ke toilet pun nggak ada. Kami menanyakan keberadaanya pada
nggak tau. Hhh, ini pasti ngerjain.
Asap dari kepalaku udah panas kayak teko.
Nggak tahan lagi, Ratna nge SMS terus supaya aku dan Yunita segera ke rumah
Hany, yang udah bikin pesta seblak disana. Saat kami akan menuju masjid
ternyata ada Pak Agung.
“Pak ini Fresh Tea-nya.” Kataku sambil
menyerahkan Fresh tea
“emang bapak nyuruh kalian beli teh gitu?”
Tanya Pak Agung dengan raut wajah serius
KURANG ASEM, kita di kerjain. Sesudah itu
Pak Agung lenyap entah kemana. Kami bener-bener kecewa sama Pak Agung yang tega
banget ngerjain muridnya. Kami segera ke belakang masjid saat di lihat, ternyata
ada 2 anjing kampung yang lagi india-indiaan.
Haduuhhhhh, gimana ini? Mana Bu Dira
ngejaga tebing, TPS banyak sampah, kandang ayam banyak mayat. Kemana lagi
dong??? 1-1nya yaitu kuburan, kemaren hari minggu ada yang meninggal dan di
kuburinya deket banget sama jalan keluar biasa anak-anak kabur. Takut nih, tapi
gimana lagi.
Kami ke sisi lain, kebetulan, ruang PKN
sedang tidak berpenghuni. Kami mengendap-endap, perlahan kami memanjat pagar
yang membatasi sekolah dengan makam. Aku menelan air liur ku yang sulit di
telan, suasana merinding menyelimuti proses kabur kami.
“WILMAAAA,, ,, ,”teriak seseorang laki-laki
di belakang sana.
Kami pun menyegerakan pergi, Yunita manjat
pagar setinggi 2 meter itu.
Breeeeeeeeeeetttttttttt
Rok
Yunita bagian belakang sobek besar-besaran gara-gara tersangkut besi yang
menlingkar di dalam pagar. Aku pun menyegerakan panjat pagar, supaya nggak ada
yang melihat kami kabur terutama aku nggak pakai shot.
“aduh gimana ini rok aku?” Tanya Yunita
“ni pake jaket aku dulu.” Sahutku “cepet
Yun, aku takut.”
Kuburan yang baru itu sungguh menyeramkan
dengan taburan bunga di atasnya yang masih terbilang segar itu. Aku memegang
tangan Yunita, Yunita berada paling depan. Sebenarnya kawasan makam ini hanya
diisi oleh beberapa kuburan dan sisanya kebun singkong dan bambu. Ketika kami
akan melangkahkan kaki keluar kebun, tiba-tiba ada anjing yang lagi
ngorek-ngorek sampah. Aku takut anjing, aku pun lari keluar kebun. Anjing itu
pun mengejar kami.
Aku
dan Yunita berlari kencang , meski nafas sudah nggak mungkin lagi tapi anjing
itu masih mengejar. Terpaksa untuk kali ini kmi memutar jalan, karena jalan
yang biasa di lewati di tutup sementara. Ketika kami keluar kebun, anjing itu
sudah tidak mengjar kami lagi. Kami menyegerakan ke rumah Hany, yang jaraknya
tidak begitu jauh.
Dengan nafas yang ngos-ngosan kami akhirnya
amapi di rumah Hany.
“aduuuh, sayang kenapa?” Tanya Nengsri yang
menyambut kita
“anjrit, hari ini bener-bener sial.” Jawab
Yunita
“kalian kenapa lama?” Tanya Ira
“kita tuh, dikerjain Pak Agung, di kejar
anjing, arrgghh, sial.” Sahut Yunita “mana rok aku sobek pula.”
Kami menceritakan apa yang terjadi pada
kami, mereka hanya tertawa bukanya ikut capek. Namun ketika aku melihat ke
jendela, Fikky, Derry, Iman, dan Oki keluar dari sekolah sambil bawa motor.
Disusul siswa-siswa lainya. Tito tiba-tiba datang ke rumah Hany.
“ada Wilma?” Tanya Tito
“iya.” Jawab Hesty
“tadi ngapain manjat pager?” Tanya Tito
“padahal aku mau bilang kalo kita itu di pulangin. Kamu susah-susah manjat.”
Aku dan Yunita saling bertatapan dan
terasa dibodohi. Kabur yang tadi sampai rok yunita sobek, dikejar anjing pun
sia-sia.
Komentar
Posting Komentar