1.
PERNAH dengar Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo? atau Anda malah sudah pernah
mencicipi menunya? Rumah makan ini terkenal dengan ayam bakarnya. Setiap jam
makan tiba, rumah makan ini dipenuhi pengunjung. Jumlah gerai rumah makan ini
pun tidak kalah dengan waralaba makanan cepat saji asing. Hingga kini ada 27
gerai Ayam Bakar Wong Solo yang tersebar di Pulau Jawa,
Sumatera, dan Kalimantan dengan pencapaian
hebat bagi usaha yang dirintis dengan modal hanya Rp
700 ribu.
Puspo Wardoyo, 47, merintis waralaba Ayam Bakar Wong Solo hingga menjadi
sebesar sekarang ini dari titik paling bawah. Ia pernah
menjajakan ayam bakar di kaki lima.
Sejak kecil Puspo sudah terbiasa berurusan dengan ayam. Orangtuanya penjaja
ayam. Pagi hari, Puspo kecil membantu menyembelih ayam untuk dijual di pasar.
Siang sampai malam, pria penggemar warna merah ini membantu orangtuanya
menjajakan menu siap saji seperti ayam goreng, ayam bakar, garang asem ayam,
dan menu ayam lainnya di warung milik orangtuanya di dekat kampus UNS Solo.
Pekerjaan ini dilakoninya sampai tamat kuliah.
Lulus kuliah, Puspo meninggalkan bisnis unggas ini. Ia menjadi guru di daerah Muntilan. Awalnya ia merasa bangga dengan
profesi ini. "Gajinya tetap. Saya bisa membeli apa-apa yang saya inginkan
waktu itu. Plus, dihormati oleh murid-murid merupakan kebanggaan tersendiri
bagi saya," papar Puspo yang ditemui Bintang di salah satu gerainya di
daerah Kalimalang, Jakarta.
Namun lama-kelamaan hatinya merasa tidak sreg. Alasannya, ia merasa kurang
berbakat menjadi guru. Puspo juga merasakan profesi guru tidak dapat memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. Ia lantas berhenti dan kembali lagi ke
kota asalnya.
Ia kemudian membuka warung makan. Tentu saja dengan ayam sebagai menu
andalannya.
Berprofesi sebagai penjaja makanan, pria beristri 4 -- bukan salah ketik,
istri Puspo memang 4 orang, sering mendatangkan cibiran orang sekelilingnya.
Tapi ia cuek dan terus menekuni usahanya. Suatu waktu, temannya yang berjualan
bakso di Medan pulang ke Solo, sang sahabat
menyarankan agar ia pindah berjualan ke Medan.
Prospek bisnis rumah makan di kota
itu sangat baik, kata sang teman. Ia tertarik dengan ajakan kawannya itu. Untuk
mendapatkan modal, ia kembali menjadi guru, kali ini SMU di daerah Bagan
Siapi-api, Riau. Warung makan miliknya ia tinggalkan. Puspo mempercayakan
pengelolaan warungnya pada seorang kerabat. Selama 2 tahun mengajar, 1989-1991,
terkumpul uang sekitar Rp 2.400.000. Dengan uang itu ia membeli motor dan sewa
rumah kontrakan. Sisanya sekitar Rp 700.000 dipergunakan untuk modal jualan
ayam bakar. Kenapa mesti ayam bakar lagi? "Tiga hari sebelum meninggal
ayah berpesan agar saya berjualan ayam bakar. 'Insya Allah sukses'," kata
pria berkacamata ini menirukan ucapan mendiang ayahnya. Puspo lantas membuka
warung kaki lima di daerah Polonia, Medan. Sukses tidak
datang begitu saja. "Kadang-kadang sehari cuma laku beberapa potong,"
ingatnya. Melihat pertanda tidak bagus, sang istri Rini Purwanti, yang kala itu
bekerja sebagai dosen Politeknik USU, memintanya berhenti berjualan ayam bakar.
"Mertua saya bahkan menyuruh saya bertobat berdagang dan menjadi guru
kembali," tegasnya lagi. Tapi dengan kesabaran dan ketaqwaan Puspo, maju
terus.
Usahanya tidak sia-sia. Pelan tapi pasti usahanya berkembang. Pegawainya pun
bertambah. Suatu saat pegawainya tertimpa masalah. Ia terlibat utang dengan
rentenir. Puspo membantunya dengan cara meminjamkan uang. Sebagai ucapan
terimakasih, sang pegawai membawa wartawan sebuah harian lokal Medan. Si wartawan yang merupakan sahabat
suami pegawai yang ditolong Puspo kemudian menuliskan profilnya. Judul artikel
itu Sarjana Buka Ayam Bakar Wong Solo. Artikel itu membawa rezeki bagi Puspo.
Esok hari setelah artikel dimuat, banyak orang berbondong-bondong mendatangi
warungnya. "Seratus potong ayam ludes per hari. Keesokan harinya meningkat
menjadi 200 potong ayam per hari. Omset saya waktu itu mencapai 350 ribu per
hari," sebut pria berbadan besar ini. Hari ke hari usahanya makin sukses.
Ia pun kemudian mendirikan tempat yang lebih representatif dan mulai melebarkan
sayapnya ke berbagai daerah.
Kemampuan meracik dan meramu masakan didapatnya sewaktu bekerja membantu
ayahnya berdagang. "Saya memiliki naluri memasak sejak kecil dan tumbuh di
lingkungan yang memiliki usaha rumah makan. Bermodalkan naluri itu saya
merancang sendiri menu-menunya dan bukan belajar dari buku, juru masak, atau
orang lain," papar bapak 10 anak ini. Bahasa kerennya, ia belajar masak
secara otodidak. Kemampuannya ini terus diasahnya sampai sekarang. Hasilnya di
Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo sekarang telah ada 50 menu. Sebagian besar
modifikasi dari masakan-masakan yang telah ia ciptakan sebelumnya. Sekarang ini
menu yang dihidangkan bukan sekadar ayam. Ada
ikan, sayur mayur, dan jus. Ada
catatan khusus untuk jenis yang disebut terakhir ini. Nama yang diberikan Puspo
untuk hasil karyanya ini unik. Ada
jus Poligami dan Jus Dimadu. "Jus poligami berisi gabungan buah-buahan
berserat yang dicampur menjadi satu. Sedangkan Jus Dimadu kombinasi buah
Markisa dengan buah Torung -- buah khas Medan.
Rasanya, semanis madu," sebut Puspo yang pernah dua kali menyabet
penghargaan Enterprise
50 versi Accenture dari majalah Swa dan HIPMI ini. Ia punya alasan sendiri
untuk menggunakan nama ini. "Saya sedang mengampanyekan poligami itu tidak
seburuk anggapan orang," cetus penerima penghargaan Waralaba Unggulan
Tahun 2003 dari Presiden Megawati ini.
Bagi Puspo bekerja tidak hanya sekadar mencari nafkah saja. Lebih dari itu,
bekerja sarana beribadah dan beramal. Tidak heran jika nuansa Islami sangat
mengental di rumah makan yang dikelolanya. Semua karyawatinya mengenakan
jilbab. "Sebelum masuk dan sebelum pulang, karyawan mendapatkan kultum --
kuliah tujuh menit, mengenai Islam. Tujuannya agar akhlak mereka menjadi terus
baik," terangnya. Puspo kini tengah mencoba menambah gerainya. Ia berniat
masuk ke mal-mal dan supermarket. Tidak puas Puspo berniat mengglobalkan Ayam
Bakar Wong Solo. "Kami sedang mengusahakan mendirikan gerai di Malaysia, Brunei, bahkan di Belanda,"
katanya. Tapi namanya masih tetap Wong Solo kan, bukan Wong Londo?
Komentar
Posting Komentar