kumpulan cerpen yang enak untuk dibaca
Peradilan Rakyat
Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya,
seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata
pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda
yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak
terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara
yang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya
kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu
sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang
dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku
juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan
kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para
pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit
dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi
lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan
dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari
keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama
ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa
Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang
bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah
yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak
belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba
memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun
sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda.
Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan.
Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap
kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk
menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak
memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan
yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah
keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau.
Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu
Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu
yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!"
potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu
minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak
kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat
tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri.
Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke
dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air,
bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri.
Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau
berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan
aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman
mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan
kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang
pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena
aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara
hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang
sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam,
sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan
istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran
untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua
perkara yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian
keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian
keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak
dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir.
Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang
mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan
sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela
oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat
itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh
tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena
kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang
menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah
yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa
lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan
selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu
pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta
pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku
datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu
sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku
bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu
dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya
melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi
jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab
aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional.
Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta
agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku
mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan
menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang
seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa
yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah
menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di
balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan
keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi
di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang
penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas
ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang
minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor
untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa
ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan,
bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang
ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati,
kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah
tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling
penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga
tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan
berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh
negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku
akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara.
Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi
perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah
saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua
memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena
takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga
adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan
membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan
orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan
main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar.
Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia
mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu
bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa
sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas
jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu
ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi
kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu
bimbang.
Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong
oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari
pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan
menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati
nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua
tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas.
Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku
sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak
memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan
dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang
profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan
punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya.
Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak.
Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki
mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia
memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia
mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai
membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat
dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu
tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan
bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk
terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat
negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi
bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi
kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan
memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia
merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat
ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan
mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster
raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara
muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.
Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan
pemerintahan yang sah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara
sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh
wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara
besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang
gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya
dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang
lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu
kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi
juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang
ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang
penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana
yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***
Salah Nurunin
Resleting
Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta
asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus
Bus
Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi
untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus.
Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting
roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai
Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.
Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya,
ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.
“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan
pegang-pegang pantat orang!”
Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ,
Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”
Pemeras Kecil
Seorang
anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Esok
harinya, ia menemui lelaki itu.
“Abang semalam mencium kakakku bukan?”
“Ya, tapi jangan keras-keras. Ini seribu untuk tutup
mulut!”
“Terima kasih, ini uang kembaliannya
“Lho, kok pakai uang kembalian segala?”
“Saya tidak mau nakal, Bang. Semua orang yg mencium kakak
juga saya tagih
“???!!!”
Sakit kanker ato
Aids??
Seorang
penderita kanker di beritahukan oleh dokternya bahwa hidupnya tidak lama lagi
hanya sekitar 2 minggu lagi. Mendengar khabar tak mengenakkan hati, ia
memberitahukan anaknya untuk segera mengadakan pesta besar perpisahan.
Ditengah kawan-kawannya ia menyatakan : “Maaf teman-teman,
Saya mengumpulkan Kalian agar tahu bahwa Saya tak lama lagi akan meninggalkan
Kalian, AIDS telah merongrong tubuh Saya.”
Anaknya dengan heran bertanya : “Ayah, mengapa Ayah
berbohong atas penyebab kematian Ayah?”
Ayahnya menjawab : “Sssst, aku tak mau salah seorang dari
mereka akan tidur dengan Ibumu yang cantik setelah aku meninggal kelak !”
Kalo
Kerja Pake Ini
Kerja pake
ini Di suatu pinggiran
Suatu hari, pembantu itu memecahkan piring untuk kesekian
kalinya... akhirnya nyonya itu memanggil pembantunya sambil memaki
berkata," Minah....kamu ini gimana...dasar org goblok, makanya kalau kerja
itu jangan pake ini (sambil nunjuk lututnya) tapi pake ini (sambil nunjuk kepalanya,
otak-red)...kamu saya pecat.."akhirnya pembantunya pergi...
5 tahun kemudian, di suatu Supermarket..si Nyonya ketemu
dengan pembantunya yang dulu tapi dengan pakaian yang mewah dengan banyak
perhiasan emas...
Si-nyonya memanggil," Minah, kok kamu sekarang
berubah..menjadi kaya...kok bisa????
Si-pembantunya menjawab," makanya Bu, kalau kerja itu
jangan pake ini (sambil nunjuk kepalanya, otak-red) tapi pake ini donk (sambil
nunjuk dii antara pahanya)...."?#$#@"
Kalau
Main Dokter-Dokteran Jangan di Ruang Tamu
Sepasang suami istri tertangkap basah
oleh anak mereka ketika sedang melakukan hubungan badan di ruang tamu. Pasangan
suami istri itu berusaha menjelaskan kepada anak mereka yang setengah remaja
itu, bahwa mereka sedang bergurau dan bermain dokter-dokteran.
Dengan santai si anak menasihati orang tuanya itu,
"Kalau mau main dokter-dokteran jangan di ruang tamu, nanti kalau ada
orang ngeliat
CERPEN : GAUN PENGANTIN DALAM MIMPI
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Stephany Silvana Sompotan
Total cerpen di baca: 188
Total kata dlm cerpen: 1497
Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
11:19 AM
2 Komentar cerpen
Aku tidak tahu kekuatan apa yang aku miliki ini. Sejak aku
beranjak SMA ada yang berbeda denganku. Aku takut untuk memberitahukan ini pada
orang lain, dan baru sekarang aku berani untuk mengatakannya. Setiap kali aku
tidur pasti akan bermimpi.
CERPEN : KOMPUTER 13
| Print Cerpen
Posting cerpen by: raihani
Total cerpen di baca: 44
Total kata dlm cerpen: 1956
Tanggal cerpen diinput: Thu, 18 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
2:24 PM
0 Komentar cerpen
KOMPUTER 13Hujan lebat mengguyur bumi yang setelah seharian
kering terbakar matahari siang, mulai menyejukkan bumi. Tidak terasa sudah 6
bulan aku tidak masuk kerja alias pengangguran. Tid it Tid it lamunanku buyar
fikiranku sadar seketika dengar suara SMS yang masuk ke Mobile Phoneku. Ah
fikirku ocehan apalagi yang akan aku dapatkan dari Ortuku.Kubuka pesan singkat
itu tidak ada nama yang tertera disana cuma 0813245xxx siapakah gerangan. Ku
baca SMS itu “ Silahkan hadir tanggal 21 Mei ke kantor kami untuk wawancara,
maaf tahu informasi lowongan disini dari siapa”. Aku berfikir panjang dari
siapa SMS itu aku tidak mengenalnya, ku buka memori lamaku untuk mengingat –
ingat lamaran apa yang pernah aku kirim. Yeah ternyata aku mengingatnya ya aku
pernah melamar di salah satu Sekolah Boarding yang cukup ternama.Dengan
semangat aku bergegas untuk membalas SMS itu, “Saya mengerti ada lamaran itu
dari temen saya Dini”, maaf pak sebelumnya berapa % yah saya diterima disana.
Aku tidak tahu apakah terlalu PD atau tidak aku mengatakan itu karena fikirku
aku harus PD untuk mengatakan itu karena jarak tempat Boarding itu dengan
tempat tinggalku bukannya dekat beda propinsi. Ya sekolah Boarding itu berada
di Banten.Tid it Tid it ada balasan SMS “ silahkan datang, Insya Allah kalau
kita sudah mengkonfirmasi untuk wawancara maka sudah 80% diterima”.Dengan
bergegas aku langsung memesan tiket untuk berangkat ke Banten, ah fikirku aku
akan mendapatkan pengalaman baru lagi, wow that's fantastic aku bisa
mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi.Aku berangkat menuju
lokasi Boarding School, wow jauh sekali fikirku , sambil bertanya-tanya dengan
penduduk sekitar aku memasuki angkot,“bang ini sampai ke Anyer nggak” tanyaku“
oh sampai neng, emangnya eneng mau kemana”.“ saya mau ke Boarding School bang”,
jawabku“ oh Boarding School sekolah bagus itu ya” jawab si abang angkot “ mau
ngapain kesana neng”“ mau wawancara bang” jawabku“yah udah ini si abang cuma
sampai ke Anyer, nanti kalau sudah sampai di Anyer tinggal naik ojek aja
jaraknya kurang lebih 10 kg, ojek-ojek disana sudah pada ngerti”“ ow iya
bang,terima kasih”Tanpa terasa aku sudah sampai ke Anyer, wow pantai Anyer,
belum pernah kulihat cuma denger lagu aja Antara Anyer dan Jakarta, Ah fikirku
petualangan baru lagi nih, ah tanpa terasa ini sudah propinsi ke -4 aku
kunjungi, Jambi, Jogja, Jakarta, eh sekarang Banten senyumku dalam hati.“mau,
kemana neng” tukang ojek menawarkan“ mau, ke Boarding School mang”“ow iya neng,
mari naik “sambil menghirup udara segar ,“masih jauh ya mang” tanyaku“ya
lumayan neng 10 kg jaraknya” si tukang ojek menjawabSambil memperhatikan
lingkungan sekitar aku bertanya“kok gak ada rumah-rumah penduduk ya mang”tukang
ojek “ Iya neng, lokasinya memang jauh dari rumah penduduk”“berarti sepi dong
mang” tanyaku penasarantukang ojek : “iya, ini sekolah memang dibangun untuk
sekolah asrama berbasis lingkungan”wow keren fikirku semakin penasaran.Akhirnya
setelah perjalanan panjang aku sampai di sekolah Boarding School ini.“ ini mang
aongkosnya” aku memberikan uang lembaran Rp.20.000,-si tukang ojek
mengembalikan uang Rp. 10.000,-“ ini neng kembaliannya”Wow fantastic fikirku
sekolah yang sangat asri luas sekali dengan pemandangan yang sangat indah,
belum pernah aku melihat sekolah seindah ini, bener-bener seperti “Istana
didalam hutan”.Tid it tid it hpku berbunyi ow ada sms0813245xxx : “bu sudah
sampai dimana”“saya baru sampai disekolah pak ini saya berada dipintu gerbang,
ow iya dengan bapak siapa ya ini” balasku0813245xxx : “ nanti langsung aja
kekantor yayasan, bertemu dengan pak Yusuf”aku langsung menuju ke
satpam“permisi pak, maaf pak saya mau bertemu pak Yusuf diyayasan”satpam “ oh,
iya silahkan bu, lurus aja lalu ada pertigaan belok kanan”Sampailah aku
ditempat yayasan dengan mempersilahkan aku duduk dan sambil wawancara dengan
cukup santai . Pak Yusuf memulai pembicaraan.Pak Yusuf : “ Sebelumnya ibu Rahma
sudah pernah mengajar”“ belum pak, ini pengalaman pertama saya” dengan jujur
aku menjawabPak Yusuf : “ ibu yakin bisa mengajar disini dengan kondisi
lingkungan yang jauh dari perkotaan”“InsyaAllah pak” balaskuPak Yusuf : “baik,
bu silahkan langsung menuju lokasi lab komputer, kita coba microteaching”Pak
Yusuf memanggil Pak, Edi“Pak Edi ini calon guru komputer baru kita , tolong
diantar ke Lab komputer untuk microteaching”pak Edi : “baik pak”Kita menuju lab
komputer ,P.edi mengetuk pintu “ permisi pak Zhar, ini ada calon guru komputer
baru”pak zhar: “ ow iya , silahkan bu” beginilah kondisi lab kita buw
silahkan”terdengar suara anak-anak remaja SMP riuh “hore guru baru ya pak, ya
ini dia guru perempuan, kita butuh guru perempuan”.Satu bulan kemudian aku
hadir disini untuk menjadi pengajar komputer SMP & SMA khusus wanita,
karena di boarding ini antara putra dan putri dipisah semuanya. Aku memasuki
ruangan Lab, ya sepi, karena tidak ada pelajaran hari ini. Selain sebagai
pengajar aku juga di tugaskan untuk menjadi Coordinator Lab disini. Ya sungguh
luar biasa technologi yang dipakai sudah cukup up to date, karena sekolah ini
jauh dari perkotaan . Sumber belajar disini menggunakan Teknologi internet
untuk mencari bahan pelajaran maupun tugas untuk anak-anak.Aku menyalakan
komputer server tit tombol power suply aku tekan, dengan menggunakan software
open source menjadi membuatku salut begitu up todatenya sekolah ini, untuk
tahun 2005 ini masih sedikit yang menggunakan Sofware Open Source apalagi
dilingkungan pendidikan.Ku buka aplikasi browser Firefox seperti biasa ku
mencoba internetnya apakah online dengan mengetik “www.gogle.com” browser
loading dan seketika tampilan google muncul dihadapanku.Sambil berinternetan
aku mencoba semua fasilitas yang ada di lab komputer itu, ku nyalakan 3
komputer siswa sambil aku kendalikan didepan kmputer server, ternyata aku bisa
mengendalikan komputer siswa dari depan, semua sudah terhubung dengan jaringan,
jadi kalaw mereka membuka macem-macem kita bisa langsung peringatkan dan
menghandlenya langsung tanpa ke komputer siswa. Setelah 30 menit aku mencoba
semua fasilitas dan software aku mulai mematikan komputer siswa dari komputer
server kemudian ku buka komp 1. ku klik sistem --> shut down dengan , dengan
seketika komputer 1 itu mati begitu juga komputer kedua dan ketiganya.Setelah
ku matikan beberapa sat kemudian tiba-tiba ada bunyi tit dikomputer siswa
seolah-olah ada yang menekan tombol powernya, ku memperhatikan dari server
depan ya ternyata ada komputer yang nyala komputer 13, aku berfikir panjang,
padahal aku tidak menekan tombolnya secara logika memang tidak mungkin karena
untuk menyalakan komputer itu harus menekan tombol power, secanggih apapun
software hanya bisa mengendalikan disaat komputer menyala.Aku mencoba untuk
mematikan komputer 13 itu dari server ku buka komputer 13 laluku klik
sistem--> shut down beberapa saat komputernya mati seketika tetapi kemudian
terdengar suara tid lagi seperti ada yang menekan tombol powernya. Fikirku
mungkin ada yang rusak di CPU komputer 13 ini sehingga komputer merestart sendiri,
tanpa berfikir panjang aku menuju kekomputer 13 lalu dengan seksama kumatikan
komputer 13 itu. Kutunggu beberapa saat ya komputer itu tidak menyala. Ya aku
berfikir memang ada yang eror kali.Ku tutup jendela dan mengunci pitu lab
dengan gembok, ya karena tidak ada jam hari ini.Pagi ini jam 9 aku akan
mengajar anak-anak kelas VIII, aku menuju Lab komputer kubuka pintu dan gembok
lalu aku menyalakan lampu. Tanpa berfikir panjang aku menuju komputer server.
Aku menyediakan RPP untuk materi pembelajaran hari ini, Kali ini aku tidak
menyalakan komputer terlebih dahulu aku berfikir biar anak-anak yang menyalakan
sendiri .Siswa kelas VIII memasuki ruangan labkom, “ pagi bu”, sapa para siswa
denganku“pagi jawabku”, ya setelah menduduki tempat masing-masing , aku melihat
ada 1 komputer yang kosong tidak diduduki ya komputer 13, aku melihat ada 2
siswa yang berbarengan aku menegurnya“ Sin, ayo pindah kekomputer yang kosong
biar masing-masing dapat 1 komputer”,sinta : “ gak bu, biar kita disini saja
berdua”“kenapa” tanyaku “ gak ada apa-apa bu” jawabnya“apa rusak ya” tanyaku
dengan serempak siswa menjawab iya bu tetapi komputer itu dalam keadaan menyala
“apa ada yang menyalakan komputer ini sebelumnya”? Tanyaku“tidak bu” jawab
salah satu siswa “
CERPEN : Kemalaman
| Print Cerpen
Posting cerpen by: qeong
Total cerpen di baca: 163
Total kata dlm cerpen: 1805
Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
3:19 AM
0 Komentar cerpen
KEMALAMAN Kulambaikan tangan. Bus itu menyalakan lampu
kirinya yang berwarna merah, dan berhenti di depanku. Sedangkan suara iqomah
dari mushalla yang telat masih mempercantik udara yang kian kelam menghitam.
Jingga mega sore kian lenyap dari atap Bumi. Hari mulai malam dan aku naik
tangga bus satu-persatu.Sepi, sepi sekali. Hanya ada suara angin yang terbelah,
mesin bus, kaca jendela yang kocak dan rengekan anak kecil yang tak lagi betah
duduk di pangkuan ibunya dalam bus pengap ini.Bus itu berhenti di terhminal
selanjutnya dan menaikkan seorang penumpang wanita yang memilih duduk di
sampingku. Lalu senyap kembali. Kernet yang tadinya berkoar-koar mencari
penumpang-pun diam terduduk lesu. Ini malam dan malam adalah capek. Suasana
seperti ini memberi hanya tiga kegiatan yang bisa kita pilih, tidur, menggerutu
dan mengenang. Dan aku terpancing pada kail yang terakhir.Tadi beberapa kawan
MTS berkumpul di rumah Nisa. Dan karena begitu indah, aku lupa waktu dan
kemalaman. Yang termasuk point terpenting tadi sore adalah, bahwa rumah nisa
dekat dengan rumah yang dulu kami sekeluarga pernah ngontrak disitu. Ketika
keluargaku utuh dan bersemayam dengan damai dirumah itu. Yang harus kupikirkan
saat itu hanyalah belajar dan belajar, bukan uang bulanan yang hampir habis
pada tanggal dua puluh atau hutang pada teman yang belum lunas walau sudah
dicicil selama tiga bulan. Ku pandangi bekas rumah kami itu sepuas hatiku
merasa. Rumah itu adalah salah satu fase pertumbuhanku. Berbeda memang dulu dan
kini. Segalanya telah mengalami pergantian waktu.Perbedaan atau pergantian
waktu ternyata tidak hanya berdampak pada kata telah, belum, sekarang, sesudah
itu, dua hari yang lalu atau keterangan waktu yang lain, tetapi juga berdampak
pada kata-kata sifat yang lain yang bukan keterangan waktu, seperti sedih,
bahagia, gila, sehat. Untuk skala lebih luas lagi, ternyata kata waktu masih
sangat mempengaruhi semua kata, baik kata benda, maupun kata kerja. Misalnya
saja sebuah benda yang dikatakan sebagai “Almari”, setelah mengalami pergantian
waktu sekian tahun akan berubah, orang akan mengatakannya sebagai “Kayu bakar”.
Atau yang lebih instant saja, sebuah benda akan disebut “Bangkai” setelah tiga
detik sebelumnya orang mengatakan “Ayam keracunan”. Lebih jauh, ternyata ini
tidak hanya mengenai nama-nama dan kata-kata, ternyata pergantian waktu juga
berdampak pada seluruh benda dalam Alam Raya ini, apapun. Juga benda-benda yang
tak bernama, tak dikata. Jadi, pantaslah kiranya ALLAH, dalam Kitab sucinya,
berjanji atas nama Waktu.Pergantian waktu-lah yang berhasil mengubah marahnya
Ayah dan omelan Ibu yang dulu terasa panas di telinga menjadi tatah yang kini
mengukir senyumku. Kepahitan-kepahitan yang sekarang-pun akan menjadi kenangan
indah besok-besok. Itulah, kenapa, kesedihan apapun yang terjadi kini, tak
CERPEN : Guru kehidupan
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Ricky Luck
Total cerpen di baca: 432
Total kata dlm cerpen: 189
Tanggal cerpen diinput: Mon, 15 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
3:19 AM
0 Komentar cerpen
ketika orang normal melangkah, sibuntung melompat dua kali
untuk jarak yang sama.
orang normal tak lupa dan malah melambaikan tangan dengan
sendirinya.
sibuntung hanya ingat mengencangkan otot perut saja dia
tidak ingat kebiasaan orang normal.
ketika orang normal melihat, dia bisa berlari dan tanpa
takut dia melompati batu-batu dan menunduk ketika ranting melintang. Sedang
sibuta dia memfokuskan telinga, kulit, tongkat dan penciumannya hanya untuk
satu langkah.
Tapi ketika finish terlewati, si buntung memperoleh
keteguhan hati, perut yang indah, dan keseimbangan yang terpakai oleh tuhan
untuk menjadi guru ketangkasan. Si buta mempunyai filsafat, indera selain mata
yang lebih kuat, dan kesabaran yang terpakai oleh tuhan untuk mengajar arti
hidup ini. Si normal tidak mendapat apapun walau dia sampai lebih dahulu.
Lalu orang normal berkata, kenapa tuhan aku tidak menjadi
pemenang walau aku tiba lebih dahulu, setidaknya angkat aku jadi guru.
Tuhan pun tersenyum dan berkata
"Bukankah kau menang? buktinya piala ada
ditanganmu."
"Tapi kenapa aku kosong dan tidak merasa senang?"
Sekarang tuhan tertawa dan berkata
"Karena pialamu tidak bisa dimakan."
CERPEN : Life is Beautiful
| Print Cerpen
Posting cerpen by: raihani
Total cerpen di baca: 531
Total kata dlm cerpen: 2466
Tanggal cerpen diinput: Sun, 14 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
9:15 AM
5 Komentar cerpen
LIFE IS BEAUTIFUL
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kapasitas kemampuan orang tersebut.”
Itulah ayat yang paling sering aku baca didalam sholatku
semenjak aku memahami artinya dan mendapatkan ujian dari Allah.
Setiap orang pasti mendapatkan nikmat dari Allah karena
Allahlah yang maha pemberi nikmat. Nikmat yang Allah berikan kepada tiap orang
berbeda ada nikmat kebahagian maupun nikmat ujian yang mana jikalau kita
memetik hikmahnya begitu luar biasa. Seperti pengalaman saya selama beberapa
tahun ini.
“ Mandiri”, mungkin aku bisa dikategorikan anak yang mandiri
karena semenjak aku kecil aku sudah terbiasa melakukan pekerjaanku sendiri,
seperti mempersiapkan keperluan sekolah, menyapu rumah, mencuci piring dan
bahkan tugas sekolahku akulah yang mengerjakannya sendiri tanpa bantuan dari
kedua orang tuaku. Aku mempunyai keluarga yang besar mungkin karena jumlah
saudaraku yang banyak membuat orangtuaku mempunyai waktu sedikit untuk
memperhatikan aku.
“Ujian”, aku merasakan didalam beberapa tahun ini keluargaku
sering mendapatkan ujian. Aku merasakan ujian yang teramat berat adalah
semenjak aku duduk dibangku SMA.
Ceritanya seperti ini kondisi ayahku sudah lama tidak sehat,
mungkin secara kasat mata dari tampilan fisik abak (sebutan untuk ayah ) adalah
sosok yang mempunyai badan sehat, karena fostur tubuh abak yang besar, tegap
dan tinggi, mungkin karena fostur tubuh yang seperti itulah yang tidak pernah
orang lain bayangkan bahwa abak sesungguhnya mempunyai sakit yang amat berat.
Abak mendapat penyakit sudah begitu lama semenjak tahun 1985. Secara medis
penyakit abak tidak bisa diprediksikan karena hasil dari tes kesehatan
menyatakan semuanya normal tetapi secara fisik abak mendapatkan penyakit kulit
yang sangat mempengaruhi kesehatannya, abak sering meriang, panas, demam dan
gatal-gatal.
Abak sudah sering melakukan pengobatan baik secara medis
maupun non medis tapi selama ini hasilnya tidak begitu signifikan bahkan
semakin memburuk. Akhirnya pada tahun 1998 abak memutuskan untuk melakukan
pengobatan secara serius di tanah kelahirannya di Sumatera Barat.
Bulan Juni 1998 abak berangkat ke Sumatera Barat bersama
emak untuk menemani abak selama melakukan pengobatan. Jadi tinggal aku dan
abang, kakak dan keponakanku yang tinggal di Kepulauan Riau.
Pada awal bulan petama kami mendapat kabar kalau abak sedang
melakukan pengobatan dan terapi khusus dan kondisi abak mulai membaik. Selama
abak dan emak di Sumatera Barat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari abak
mengamanahkan kepada kakak yang no 4, karena beliaulah yang belum menikah dan
lebih mapan dalam mengendalikan usaha. Beliau berdagang pakaian anak-anak di
pasar.
Tetapi dagangan kakak tidak begitu laris akhir-akhir ini,
terkadang hanya laku dua atau tiga helai baju dan bahkan pernah tidak laris
sama sekali.
Tiga Bulan setelah abak melakukan pengobatan kami mendengar
keadaan abak semakin memburuk, walaupun aku tidak ikut berkumpul ketika rapat
keluarga, karena aku yang paling bungsu, tetapi aku mendengar bahwa keadaan
abak semakin parah hanya terbaring lemah tidak berdaya sehingga tetangga dan
keluarga yang ada di Sumatera Barat memprediksikan kalau umur abak tinggal
menghitung hari. Aku menangis pasrah ketika mendengar berita tersebut aku hanya
berdoa kepada Allah, agar Allah tidak mengambil abak dulu karena kami
sekeluarga masih belum siap kehilangan abak. Tetapi aku yakin Allahlah, yang
menetapkan umur bagi hamba-Nya, Allah tidak akan mempercepat ataupun menunda
ajal apabila sudah sampai waktunya.
Tiga hari setelah itu aku yang bersama kakak, abang dan
keponakanku masih dalam keadaan kesedihan berharap agar abak segera
disembuhkan.
Senin ditahun 1998 hujan begitu deras dan petir yang sangat
keras. Aku yang ditugaskan untuk memasak untuk keluarga semenjak keberangkatan
abak dan emak, setiap hari aku memasak untuk pagi dan petang. Di senja itu
setelah hujan reda sekitar pukul 17:30 sore aku menuju ke dapur untuk
menyediakan makan malam, tapi setelah keluar dari dapur menuju ke ruang tengah
terdengar suara yang begitu dahsyat seperti gempa. Subhanallah aku tidak
mengira ternyata suara itu berasal dari rumahku sendiri dari dapurku ternyata
dapurku ambruk, dan itu terjadi beberapa menit mungkin sekitar dua menit
setelah aku keluar dari dapur. Masyarakat sekitar dan para tetangga pada
berdatangan kerumahku. Melihat keadaan dapur rumah yang ambruk dan beberapa
dinding dan perabotan rumah retak dan pecah.
Di satu sisi aku bersujud syukur kepada Allah karena aku
tidak tertimpa batu-batuan, karena pada waktu itu aku berada disana dimana ada
satu batu besar tepat dibelakangku, disatu sisi Allah telah memberi cobaan pada
keluarga kami. Banyak perabotan rumah khususnya perabotan dapur seperti kompor,
piring dan sebagainya pecah dan remuk karena tertimpa batu-batuan.
Dua hari setelah kejadian tersebut, kakaku yang diamanahkan
abak untuk membiayai kami selama kepergian abak terbaring lemah tidak berdaya
ditempat tidur. Ternyata kakaku sakit, kami tidak tahu harus berbuat apa,
setelah diperiksa oleh mantri ternyata kakak sakit demam berdarah dan harus
dibawa ke rumah sakit segera. Kami semakin bingung kami harus mendapatkan uang
dari mana sedangkan keadaan kami seperti ini dan tidak ada orang tua. Tapi aku
masih bersyukur ternyata di balik ujian itu Allah memberi jalan keluar pada
kami dan beberapa bulan kemudian kami mendengar kabar kalau keadaan abak sudah
membaik dan akan segera pulang ke Tanjung Pinang.
Tahun 2000 keadaan keluarga semakin membaik, ekonomi
keluarga mulai stabil dan tahun 2001 aku memutuskan untuk kuliah ke Jogja dan
Allhamdulillah abak dan keluarga mengizinkan walaupun emak merasa berat untuk
melepaskan putri bungsunya sendirian di Jogja karena tidak ada sanak famili
kami di Jogja.
Tahun 2001, aku berangkat ke Jogja, aku sangat bersyukur
pada Allah karena telah memberi kemudahan aku dalam kuliah.
Tahun 2002 liburan semester aku pulang ke kampung halaman
Tanjung Pinang. Aku mempunyai kesempatan pulang dikala liburan semester,
kebahagian ada di pelupuk mataku rindu akan kampung halaman dan terutama pada
keluarga. Aku akan memberikan kejutan pada keluargaku kalau aku sudah pulang,
di hatiku pasti mereka akan “surprise” dan memelukku karena kerinduan setelah
satu tahun tidak bersua. Tapi ketika aku pulang didalam perjalanan menuju
kerumah sopir yang mengangkutku bercerita kalau tadi malam telah terjadi
kebakaran di pasar. Aku hanya mengira kalau yang terbakar hanya bagian utara
pasar. Setelah aku sampai di rumah tidak ada seorangpun yang menyambutku. Abak,
emak dan abang dan kakak sedang berkumpul tapi tidak menampilkan ekspresi hanya
terdengar suara “baru nyampai ya” dari kakakku. Setelah aku mencium tangan abak
dan emak, emak mengeluarkan suara “baa caronyo malanjuikan kuliah nak, lah abih
sadonyo tabaka” sambil menitikkan air mata. Ternyata yang kebakaran adalah
daerah pasar tempat mata pencaharian keluarga kami.
Aku terdiam Maha suci Allah, “Allah maha berkehendak dan
maha mengetahui” tetapi Allhamdulillah Allah masih memberi kemudahan bagiku
karena aku masih bisa melanjutkan kuliahku.
Tahun 2003 aku sudah menginjak semester empat. Di liburan
semester ini aku berencana untuk tidak pulang selain mengirit ongkos dan aku
mau konsentrasi ke Tugas Akhir. Tapi aku mendengar kabar bahwa kakaku yang no
tiga sedang sakit parah.
Kakak sakit paru-paru, keadaannya sangkat kurus dan lemah
sekali, orang yang menjenguk kakak pada menitikan air mata. Tinggal kulit yang
membaluti tulang kakak. Hampir dua tahun aku tidak bertemu dengannya, karena
tepat pada tahun keberangkatanku ke Jogja, kakaku ini pindah ke Sumatera Utara
mengikuti suaminya.
Tanggal 25 Mei 2003 pukul 18:30 WIB seperti biasa setiap
satu pekan sekali aku mengisi kajian buat remaja putri di kostku. Pada malam
itu sewaktu aku mengisi kajian ada panggilan dari teteh (sebutan buat mbak
kost).
“kamu punya saudara yang namanya Yuli”
“punya teeh kenapa?”
“kamu disuruh baca yasin buat kakakmu Yuli, sms dari
keluargamu”
aku terdiam, didalam benakku ada apa gerangan, tetapi
untunglah pada malam itu anak – anak sedang kumpul di tempatku dan aku meminta
kepada mereka untuk membacakan yasin bersama-sama. Tanpa terasa air mataku
menitik.
Tanggal 26 Mei 2003 pukul 07:00 teteh langsung buru-buru
menuju kekamarku “Rit, ada sms dari keluargamu, tapi teteh harap sabar ya,
kakakmu sudah pergi “. Semalaman aku tidak bisa tidur, aku mengenang masa-masa
bersama kakaku sosok yang lembut, ramah dan paling suka ngajak aku makan soto
dan bakso, tapi aku merasa takut, ketika aku disuruh membaca yasin aku berfikir
Tetes air mata membasahi pipiku tak tertahankan, aku lupa,
aku masih ada harapan untuk bertemu dengan kakaku untuk terakhir kalinya, aku
langsung menuju ke bandara untuk membeli tiket, tapi didalam perjalanan aku
melihat ada kecelakaan lalu lintas, dan membuatku semakin lemas. Setiba
dibandara tidak ada tiket yang menuju ke batam, alasannya sudah dibooking,
walaupun aku sudah memberikan alasan kepada sipenjual tiket. Tapi mereka masih
tetap bersikeras mengatakan sudah full. Akhirnya pupuslah harapanku untuk
melihat kakaku untuk terakhir kali, aku hanya mengingat sekitar dua tahun lalu,
ketika aku pamit ke Jogja. Tapi aku masih bersyukur kepada Mu ya Allah karena
aku masih bisa mengunjungi “penginapan terakhirnya”.
|
|
Feb 5, '06 9:47 PM |
Bidadari Syurga dunia...
Memantulkan warna hati si jiwa Syurga
Bidadari Syurga dunia..
Wajah yang senantiasa putih dan menawan
Berhiaskan air wudlu yang terpancar..
Menambah pesona hiasan mata..
Bidadari Syurga dunia..
Yang senyumnya selalu merekah..
Yang parasnya mempesona..
Yang hatinya selembut sutra..
Bidadari Syurga dunia..
Jadi dambaan setiap wanita..
Impian diri wanita sholehah
Qonitat dan berhati bunga..
Bidadari Syurga di hati luka..
Yang pucatkan muka si durjana
Yang tepiskan angan dunia..
Yang hatinya bagaikan kaca..
Bidadari Syurga di hati dunia..
Yang siangnya bagaikan singa di rimba
Yang malamnya bagai sufi perindu
Syurga Zuhud selendang pengikatnya..
Bidadari Syurga dunia..
Dimana pun berada kau tetap setia
Pada Allah, Rasul dan juga Dien-Nya..
Kemana lagi
Di arusnya dunia merana..
Sentuhanmu bangkitkan rasa..
Hingga syahid ku jumpa di pintu Syurga..
April 2004, aku merasa bahagia sekali karena aku bisa
menyelesaikan kuliahku dalam waktu dua tahun
Juni 2004, aku segera disuruh pulang kekampung halaman
karena aku sudah menyelesaikan kuliahku. Aku masih berkeinginan untuk
melanjutkan kuliahku ke jenjang Strata Satu. Tetapi aku harus menyadari kondisi
ekonomi kelauarga masih belum stabil, tapi aku masih mempunyai keyakinan kalau
Allah akan membantuku.
Setiba di Tanjung Pinang aku dijemput oleh keponakanku yang
usianya tidak jauh dariku hanya terpaut tiga tahun. Aku bertanya “Ungku mana
kok yang jemput kamu” keponakanku menjawab “ Oh, ungku lagi sibuk ngurusin etek
Riya, kemaren habis kecelakaan, kakinya patah”.
Ya Allah ……….ternyata masih ada kejadian yang hambamu belum
ketahui, ternyata adikku yang paling kecil dari istri abak yang ke dua
mengalami kecelakaan. Ya Allah ujian apa lagi ini, kuatkan hambamu……………
Ternyata kecelakaan itu bersama dengan kakaku tapi keadaan
yang parah adikku. Belum sempat aku menjenguknya pada hari setibaku dirumah
adikku langsung dibawa ke Batam karena telah terjadi pembusukan akibat operasi
kakinya. Pihak RS Tanjung Pinang mengirimkan ke Batam dan ternyata oleh RS
Batam menyatakan tidak sanggup dan di anjurkan. untuk ke Malaka “
“Ya Allah biaya dari mana batinku”, tapi Allah memang sudah
mengetahui Allah maha mengetahui kapasitas hambanya, dan bukankan “Setelah
kesulitan itu ada kemudahan”. Allhamdulillah abak mendapatkan pinjaman dan
bantuan dari adik-adik abak. Aku berfikir ya Allah begitu banyak hutang
keluarga kami, tapi yang lebih penting kesembuhan adik kami.
Akhirnya adikku diterbangkan ke
“Amputasi” kami sekluarga yang mendengar kabar merasa sangat
lemas sekali aku sudah membayangkan bagaimana orang-orang yang tidak mempunyai
kaki, ya Allah kuatkan kami dan terutama adikku, dia selalu menanyakan dan
mengeluh “yah, kapan Ia bisa sembuh, kapan Ia dioperasi, sakiiiiit yah, apa kaki
Ia mau dipotong”.
Lirih hati ini mendengar kabar itu, “Ya, Allah jikalau hamba
yang berada diposisi itu mungkin bisa merasakan kesakitan dan ketakutan seperti
adikku”, aku mohon padaMu ya Allah berikanlah kesempatan kepada adikku supaya
tidak di amputasi.
Agustus 2004, hampir dua bulan adikku berada di RS Malaysia
kalau masih menunggu untuk mempertimbangkan agar tidak diamputasi akan menambah
biaya, keraguan menyelimuti fikiran abak kalau tidak diamputasi akan terjadi
pembusukan dan akan menjalar keseluruh tubuh, kalau di amputasi. Ya suatu
keputusan yang sangat berat sekali. keputusan untuk di amputasi.
“Kami menyerahkan diri kepadaMu ya Allah, apa yang dialami
oleh keluargaku adalah atas kehendakMu”.
“Belum dikatakan beriman seseorang sebelum diuji
keimanannya”
Akhirnya dengan berharap kepada Allah, akhirnya abak
mengatakan “pak, tolong diperiksa untuk terakhir kali, Jikalau memang benar
urat syarafnya sudah mati tidak ada respon maka lakukanlah amputasi. Dan Dokter
melakukan pengetesan untuk terakhir kali. “Subhanallah, ternyata ketika di tes
adikku merasakan kesakitan dikakinya, yang biasanya tidak pernah terasa
olehnya. Ternyata masih ada urat syaraf kakinya yang hidup. Akhirnya tidak jadi
di amputasi dan dokter melakukan operasi.
Ya Allah terima kasih…………….sujud syukuuuuuuuuuur kami.
Selama adikku kecelakaan hampir
Atas kejadian itu aku pasrah, aku sudah tidak begitu
berharap untuk melanjutkan kuliahku karena aku sudah mengerti kondisi
keluargaku.
“Setelah kesulitan ada kemudahan”
Allhamdulillah aku masih diberi kesempatan oleh Allah, aku
masih diberi rezeqi, untuk melanjutkan kuliahku dengan bantuan dari pamanku.
Aku yakin Bantuan itu didasari oleh pengertian keadaan keluargaku dan mungkin
dengan jalan inilah aku masih diberi kesempatan untuk memberi kebahagian kepada
kedua orangtua dan keluarga. Karena tidak ada satupun anak abak yang melanjutkan
Keperguruan Tinggi, selain aku. Aku mengerti sewaktu dulu bukan keadaan ekonomi
tapi tidak ada keinginan kakak yang mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Tapi
sekarang ini aku sangat menginginkannya tapi ujian demi ujian yang menjawab
semua itu.
“Ya Allah mudahkanlah hambamu ini didalam menyelesaikan
kuliahku, dan berikanlah kesempatan kepada abak dan emak ikut merasakan
kebahagian dikala aku diwisuda dan berikanlah yang terbaik padaku ya Allah.
Itulah doa, niat dan harapan yang aku cita-citakan ketika
aku melanjutkan kuliahku di Strata Satu. Aku tidak ingin membebani orang lain,
walaupun ada yang bersedia untuk membantuku, aku merasa malu sekali dikala aku
ingin meminta uang kuliah dengan pamanku. Maka dari itu dengan penuh semangat
aku belajar dan menjadi assisten dosen, untuk mempercepat agar kuliahku segera
selesai dan mendapat tambahan uang saku sendiri.
Desember 2005, Allhamdulillah apa yang aku doakan Allah
mengabulkan permohonanku, aku dapat menyelesaikan kuliah dalam waktu satu
tahun. Dan dikala topi wisudaku bertengger dikepalaku dengan gelar sarjanaku
dihadiri oleh orang yang teramat aku cintai.Dan Mahasuci Allah, Kebahagian itu
bertambah dikala aku maju di panggung sebagai wisuda terbaik sarjana.
Terimakasih ya Allah, Allah Maha mengetahui, Allah telah
banyak memberi kenikmatan kepada kami, apa yang terjadi pada kami belumlah
sebanding dengan nikmatMu yang diberikan pada kami. Kami semakin menyadari
setiap ujian itu mengandung hikmah yang sangat besar sekali.
1.
Sebagai ujian kami jadi semakin dekat denganMu
2.
Sebagai teguran, agar kami tidak melanggar perintahMu
3.
Sebagai hukuman, agar kami menyesali perbuatan kami.
Kami hanya merasakan ujian beberapa tahun, tapi nikmat
kebahagian berpuluh-puluh tahun. Thank you Allah.
Catatan
*
Abak : panggilan untuk ayah
*
“baa caronyo malanjuikan kuliah nak, lah abih sadonyo
tabaka”
( Bagaimana mau melanjutkan kuliah, semuanya sudah habis
terbakar)
*
Ungku : panggilan untuk kakek
*
Etek : panggilan untuk tante (adik atau kakak dari ibu atau
bapak)
CERPEN : Diary Patah
Hati
| Print Cerpen
Posting cerpen by: nela
Total cerpen di baca: 240
Total kata dlm cerpen: 399
Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
10:54 AM
0 Komentar cerpen
Aku termenung di tengah malam.Lalu sesaat kemudian, air mata
ini tumpah.Bagaimana mungkin aku tidak menangis ketika kisah cintaku harus
berakhir. Aku sungguh tak pernah merelakan cintaku pergi, namun aku juga tak
berdaya unutk menahannya tetap di sisiku.Mungkin aku kelihatan tegar dari luar,
namun sesungguhnya aku ini rapuh.Erick, telah tiga tahun aku mencintainya, dan
kemudian aku berhasil mendapatkan hatinya.Lelah yang telah kutempuh selama tiga
tahun itu, serasa terbayarkan.Namun kemudian, hubungan kami harus berakhir di
angka sebelas bulan.Dia yang menginginkan untuk pergi, lalu apa dayaku?.Aku tak
sanggup menahannya.
Suatu saat, kamu akan berhenti mencintai orang yang kamu
cintai, bukan hanya karena orang yang kamu cintai itu berhenti mencintai
kamu,tapi juga karena kamu tahu kalau orang itu akan lebih berbahagia jika kamu
melepaskannya.
Aku melepasnya demi kebahagiaannya.Biarlah dia mencari
seseorang yang mampu membahagiakannya, namun bagaiamanpun juga, luka dihatiku
masih tetap menganga lebar dan tak mudah untuk sembuh.
Setelah itu, hubungan kami hanya sebatas teman.Aku menerima
semua kenyataan itu.Namun ternyata, ada saat dimana aku harus berhadapan
dengannya lagi.Aku baru menyadari, bahwa rasa sakit itu tak bisa pergi begitu
saja.Aku mengahadapinya, dengan menekan dalam -dalam rasa sakitku, seakan aku
telah melupakan apa yang terjadi, tapi sesungguhnya aku belum bisa!.Satu hal
yang membuatku belum bisa menerima sepenuhnya kenyataan ini, adalah karena aku
tak pernah tahu apa alasan semua ini harus berakhir.
Selang beberapa waktu kemudian, aku mendengar dia telah
bersama yang lain, maka hatikupun serasa lega karena harapanku dulu melepasnya,
ternyata terwujud.Lalu sejak saat itu, aku mulai bangkit dan tidak lagi
terpuruk.Ku tata kembali kepingan hati ini.Ku lekatkan dengan sisa-sisa harapan
yang masih ada, lalu aku tersenyum dan berani menatap dunia. Aku bukan lagi
Nela yang dulu, yang hanya bisa meratap apa yang telah pergi, namun aku yang
sekarang adalah aku yang meninggalkan sisi cinta yang kelam dan melangkah
melihat hal lain yang lebih penting dari sekedar percintaan.
Erick tetap ada di memoryku, karena bagaimanapun juga aku
bukanlah seorang yang mengidap amnesia yang bisa melupakannya begitu saja. Tapi
dia bukan lagi orang yang menguasai hatiku.
Hebat itu, bukan hanya ketika kamu punya kekuatan, buakan
hanya ketika kamu punya segalanya, namun hebat itu adalah, ketika kamu mampu
bangkit dari keterpurukan
Sudah, sampai di sini semua lembaran kelam.Aku telah
mengakhiri dan menutup lembaran diary patah hatiku.
CERPEN : kisah ku .
| Print Cerpen
Posting cerpen by: abella
Total cerpen di baca: 91
Total kata dlm cerpen: 612
Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
3:41 PM
0 Komentar cerpen
Di suatu hari,
Zevina sedang berjalan mengelilingi mall .yah dimana lagi kalau bukan di MOI (
Mall Of Indonesia ).saat Zevina sedang enak-enaknya jalan ,tanpa Zevina sadari
tali sepatu nya terlepas dan Zevin pun menginjaknya.yah otomatis Zevina
langsung jatuh. Dan pada saat yang bersamaan Zevina menabrak seorang laki-laki.
Laki-laki itu pun jatuh..tapi posisi jatuh mereka seperti sang lelaki sedang
merangkul zevina. pas jatuh tiba-tiba ada yang teriak "
YOOOOOOOVVVHHHHHHHIIIIIIIIIEEEEEEEEE ......... !!!!!!!!!!!! "laki-laki
yang sedang merangkul Zevina pun melepas kannya.dan langsung pergi menuju
sumber suara. Entah dengan berbagai alasan apa ,, akhirnya dia pun pergi
bersama gadis itu.Zevina yg ditinggal gitu aja mulai merasa kesal..karna
tiba-tiba orang itu pergi dan meninggalkan zevina. Tapi sebenrnya zevina juga
mau bilang makasih karna mungkin kalau cowo itu gak nabrak zevin pasti zevin
sudah jatuh ke lantai dengan sangat amat keras. Zevina mulai mencari laki-laki
yang bernama "yovhie" itu. Tapi pertanyaannya.. mau dicari kemana
laki-laki itu??? Mall ini sangat luas.mungkin Zevina sedang beruntung. Saat
zevina berdiri di depan WC tiba-tiba ada yg menepuk pundaknya dan brkata "
hai ".sontak Zevina kaget dan menoleh. lalu iya berkata " hai juga
"."kamu yang tadi ya??? " tanya yovhie. " i-iya " jawab
zevina agak kaku."kenalin nama aku yovhie,nama kau siapa ? " tanya
yovhie."nama aku zevina . salam kenal ya . " sahut zevina dengan
senyuman manisnya."nama kamu bagus juga . eh maaf ya tadi kamu aku tinggal
gak apa-apa
CERPEN : HAMPIR LUMPUH
| Print Cerpen
Posting cerpen by: ninetyninehd
Total cerpen di baca: 104
Total kata dlm cerpen: 1702
Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
8:52 AM
1 Komentar cerpen
Pandanganku membias. Semakin lama semakin gak jelas,
berbayang-bayang dan kemudian gelap. Dunia aku rasa berputar-putar, semakin
kencang dan semakin kencang. Jangankan untuk berjalan, bediri saja aku payah,
sempoyongan, dan akhirnya tumbang. Waktu hanya aku habiskan untuk tiduran di
alas tikar pandan yang sudah tak baru. Berkali-kali aku memuntahkan cairan
lendir ludah pekat yang sudah berwarna kuning hampir orange. Ujung hati ku
tersedak tekanan muntah yang semakin memaksa untuk menembakkan nya. Yang
akhirnya membanjiri tikar pandan alas tidurku. Tubuhku lemas tak bertenaga.
Mengangkat tangan aja susah. Hampir tiga hari aku tidak makan nasi. Bukan aku
tak mau makan, tapi setiap kali aku coba untuk menyuapnya, aku selalu terpaksa
muntah. Hanya buah dan kue-kue saja yang aku konsumsi. Itu juga tak banyak,
hanya sekedar mengisi perut yang sudah melompong. Andai usus atau lambungku
dibedah, mungkin tidak sebutir nasipun yang ditemukan di
Penderitaanku semakin sangat. Pesakitan itu ditandai dengan
wajah pucat basi, dan dua lingkar mata yang mulai mencekung, bergaris biru
kehitaman. Aku sudah tak banyak bergerak. Tubuhku lemas. Jangankan berjalan,
berbicara saja terasa capek benget. Rahang pipiku terasa lunglai tak bertenaga.
Ucapan-ucapan teman yang mengajak ku ngobrol, hanya aku jawab dengan anggukan
dan kedipan mata. Dalam kondisi yang semakin parah aku masih tetap bersikeras
untuk tidak mau ke dokter. Tidak tahan melihat kondisiku, secara paksa mereka
membopong ku ke rumah sakit. Dengan kondisi lemah aku tak bisa memberikan
perlawanan berarti. Namun hati tetap bersikeras untuk tetap tidak mau ke
dokter. Dalam hati aku berikrar“ Lebih baik mati dari pada harus berobat
kedokter”. Kala itu aku benar-benar alregi dokter. Setiap kali ketemu dokter
aku selalu menampakkan wajah masam yang mengancam. Kebencianku berlatar
belakang pemahamanku yang mengatakan bahwa profesi dokter, adalah jalan cepat
untuk menjadi orang kaya di atas derita orang lain. Bagaimana tidak, coba
bayangkan saat dokter berdoa. “ Ya tuhan, berilah aku rizki yang
berlimpah-limpah” harap dokter dalam doanya. Andai saja doa itu terkabulkan,
bisa-bisa orang sekota ini akan ambruk pesakitan. Bukankah dokter mendapatkan
uang dari mengobati orang sakit. Belum lagi sikap dokter yang kerap membedakan
antara si kaya dan simiskin. Mereka sibuk mengoprasi pasien berduit, dan
membiarkan simiskin mati pelan-pelan.
Dengan naik motor di bonceng tiga aku menuju rumah sakit.
Jalan desa yang berkelak-kelok, penuh tikungan dan tanjakan membuat pusingku
semakin parah. Aku kelilpungan lemah tak berdaya. Berkali-kali aku
muntah-muntah dari atas motor yang membuat aku setengah sadar. Dalam kepayahan
itu, tiba-tiba aku merasakan hal yang aneh. Seketika semangatku bangkit, ketika
aku tahu kalau aku sudah masuk kedalam ruang UGD (unit gawat darurat) rumah
sakit pemerintahan itu. Seolah -olah aku tidak pernah sakit, dan berlagak
layaknya orang sehat. Teman-teman yang mengantar ku terkaget-kaget, ketika
melihat aku terbangun dari pembaringan kereta dorong itu. Wajah mereka
menampakkan keheranan. Mana mungkin, aku yang sebelumnya sudah setengah lumpuh,
mampu terbangun dan hendak berjalan hendak turun dari pembaringan itu beroda
itu. Serentak kedua teman beserta perawat menahanku. Tapi aku melawan, sampai
akhirnya dokter mempersilahkan aku duduk di depan meja periksanya. “ Adik sakit
apa?” tanya dokter itu mencoba merayuku. Aku tetap diam dan hanya memandanginya
dengan tatapan kesal. “ Kepalanya pusing ya?” dia mengulangi tanyanya.
Sedangkan aku masih saja diam. “ Coba buka matanya” ucap dokter itu sambil
menyenteri mataku dengan senter kecilnya. “ Sekarang coba keluarkan lidahnya”
dengan terpaksa aku mematuhi ajakannya. “ Perutnya sakit ya?”tanya dokter itu.
Setalah terdiam, akupun membalas ucapannya nada pedas.“ Anda
jelasku. Hanya mengenakan pakaian yang melekat dibadan aku
menuju rumah, tanpa tas , atau barang-barang lain, agar perjalanan ku bisa
lebih mudah. Ramai teman yang mengantarku ke gerbang depan, sampai akhirnya aku
naik dokar menju tempat pemberhentian bis jurusan
CERPEN :
Cinta bagi Bi Narsi
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Ricky
Luck
Total cerpen di baca: 129
Total kata dlm cerpen: 741
Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 6:59 AM
0 Komentar cerpen
Pada metropolitan yang terhampar subur gedung-gedung megah, matahari yang
benderang tabuh hawa penuh perang. Sebuah pawai ke-egoisan menambah ramai
suarakan pekik klakson, belum lagi nafas kotor dari knalpot bergabung jadi satu
wahana, membumbung pada angkasa.
Suasana megah diluar kini hanya sayup pada ruangan yang tertutup kain gorden
tebal. Pada sebuah lantai
Dalam ruangan yang gelap ini aku menyiku pada pojok ruang, mataku kosong dan
menghilang tanggung pada ruang.
"Neng Fara ga boleh kaya gitu, nanti kalo Neng Fara sakit ibu Neng Fara
kesian cemas."
Suara Narsi terdengar hangat, walau basi tapi tekanan dalam suaranya terdengar
tulus. Akupun terhanyut damai dan mengeluarkan sepatah kata.
"
"Neng Fara itu masih muda, baru juga umur 19 ga pantes kalo seputus asa
itu ditinggal pacar."
Sekejap aku menjadi geram dia ga tau apa duduk permasalahan-nya.
"Bi,... Juno itu udah dari SMP sama Fara , dah banyak banget kenangan
dengan Juno."
Aku perlahan teringat ketika Juno say "I Love You" aku dibawa ke
taman bunga, dia bawa-bawa buku puisi lalu membacakan isinya. Terus terang
rasanya aneh denger anak bengal yang sahabat dari SMP ini baca puisi. Dan semua
keanehan berakhir manis dengan kata-kata "Ra, gue tau lo bingung napa gue
baca ni puisi, gue juga sama Ra isi nya aja gue ga ngerti. Tapi gue baca juga soalnya
moga-moga salah satunya bisa bikin lo terenyuh dan mau ja.. ee..jadiii... ee lo
mau
"Non lagian apa bagusnya Juno, bibi ga suka liat kamu pacaran sama Den
Juno. Orangnya sombong, dan yang Bibi lebih prihatin lagi, sama Neng Fara juga
Den Juno tega dan sering ketus."
Dalam aliran air mataku aku meng-iyakan perkataan Bi Narsi. Tapi kata-kata
berikut yang diucapkan Bi Narsi bikin aku meledak.
"Non Fara itu cantik, tinggal milih lagi Juno laen yang lebih baik yang
bisa jaga Non Fara."
"Cukup Bii..,Bibi ga tau apa-apa. Perasaan aku sama Juno cuman aku yang
tahu, Bibi ga tau apa-apa gimana rasanya ditinggal gimana ditinggalin gitu aja
terus dia jadian lagi sama temen deket, bibi ga tau rasanya keilangan pacar,
semua sakit Bii.
"Maaf Non Bibi cuman khawatir aja. Soalnya bibi sayanggggg banget sama Non
Fara yang udah Bibi anggap anak sendiri. Satu lagi Bibi mau tambahin Non, iya
Bibi ga tau apa-apa tentang cinta. Dari kecil sampe sekarang jangankan cinta
Non, ada yang tanya nama Bibi aja udah untung. Terus terang di umur Bibi yang
sekarang, mungkin Bibi rela walau akhirnya Bibi diputusin, tapi Bibi mau sekali
aja rasain apa itu cinta. Non masih mending walau sakit hati diputusin tapi Non
cantik gampang cari gantinya, kalau bibi sampe umur 52 ini masih belum alamin
apa itu cinta." Sambil tersenyum Bi Narsi menghampiri diriku.
Perlahan aku tersadar, Bi Narsi adalah sosok wanita yang pendek, keriting,
hitam, pesek. Bukan itu aja tompel segede kepalan tangan menutupi wajah Bi
narsi. Bi Narsi saat ini adalah perawan tua yang belum menikah. Entah bagaimana
aku seakan mendapat pemahaman. Akupun memeluk Bi Narsi, dalam tangis aku sadar
bahwa aku akan segera melupakan sosok Juno dan melangkah lebih jauh.
Bi Narsi walau tidak mendapat cinta seumur hidupnya tapi dia adalah guru Cinta.
(
CERPEN : Berawal dari Facebook
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Stephany Silvana Sompotan
Total cerpen di baca: 546
Total kata dlm cerpen: 3076
Tanggal cerpen diinput: Thu, 18 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
2:38 PM
5 Komentar cerpen
Perjalanan hidup seorang Ghea menarik untuk ditelusuri.
Punya pacar seorang cowok ganteng dengan segudang prestasi yang sangat dikagumi
oleh banyak orang. Usia pacaran mereka terbilang belum terlalu lama. Kurang
lebih 5 bulan yang lalu. Cinta memang tak bisa dimengerti seperti kata orang
Jauh dimata dekat dengan orang lain. Jarak tempat tinggal yang memang sedikit
jauh membuat keduanya jarang bertemu.
Ghea seorang gadis cantik yang tinggal di kompleks elit. Kawasan tempat
tinggal orang-orang berduit mengingat Papanya seorang pengusaha tekstil. Tepat
didepan rumahnya tinggal seorang Ibu paruh baya dengan seorang lelaki yang
berusia kurang lebih sekitar 27 tahun, seorang pekerja keras yang masih muda,
baru 2 bulan menempati rumah itu.
Setiap pagi sebelum ke kampus Ghea harus berpapasan dengan lelaki itu
yang senang mengendarai mobil teranonya. Tampan, menawan, dewasa dan berwibawa,
bergaya kantoran banget. Tak hentinya melepaskan senyuman ketika mereka
bertemu. Suatu ketika telpon
rumah Ghea berbunyi, dan Ghea yang mengangkatnya langsung bicara dengan orang
yang menjadi lawan bicaranya.
“Ini siapa ya? “tanya Ghea sopan “Oh..Aku Erick..aku yang tinggal
didepan rumahmu. Ingat
CERPEN : asam manis cinta
| Print Cerpen
Posting cerpen by: tika
Total cerpen di baca: 286
Total kata dlm cerpen: 1127
Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
1:27 AM
0 Komentar cerpen
“Lun, dicariin tuh
sama rendy..” teriak jerry mengejutkanku. Aku menoleh pada jerry. “dimana
rendy?” tanyaku. “tuh di taman sekolah” jawab jerry. Aku pun bergegas menuju ke
taman sekolah. Rendy adalah pacarku yang juga sekelas denganku. “Ren.. kata jerry kamu nyari aku ya..? ada
apa ren?” tanyaku bingung. “Lun.. aku gak tau gimana jelasin ke kamu. Lun, seminggu lagi aku akan dipindahkan
ke
Walaupun aku tahu ini hanya sementara tetapi tetap saja kami
pacaran jarak jauh. “Lun.. Lun…”
panggil rendy membuyarkan lamunanku. “kamu kenapa Lun..? jangan sedih lagi ya..
kita
CERPEN : CINTA BAWA PERGI
| Print Cerpen
Posting cerpen by: erizma
Total cerpen di baca: 359
Total kata dlm cerpen: 1429
Tanggal cerpen diinput: Thu, 18 Mar 2010 Jam cerpen diinput:
1:35 PM
1 Komentar cerpen
<!-- /* Font Definitions */ @font-face
{font-family:"Angsana New"; panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4;
mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:16777219 0 0 0 65537 0;} @font-face
{font-family:"Bradley Hand ITC"; panose-1:3 7 4 2 5 3 2 3 2 3; mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0
0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:14.0pt;
font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times
New Roman"; mso-bidi-font-family:"Angsana New";} @page Section1
{size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;}
-->
CINTA BAWA PERGI
Halte di sudut
Di halaman luar tersedia bangku panjang menghadap ke jalan
kereta,di situlah biasanya Hilman duduk matanya memandang tajam ke
langit,sebentar-sebentar kepalanya menoleh ke kiri atau ke kanan ia mengawasi
setiap kereta yang datang. Penjaga loket dan tukang sapu stasiun tak asing lagi
dengan wajah Hilman. Namun kebiasaannya sudah di anggap wajar. Mungkin saking
seringnya. Hilman selalu datang setiap pukul tiga sore dan akan kembali pulang
saat maghrib menjelang. Bulan berganti bulan bertahun lamanya Hilman mengakrab
dengan debu kereta,yang ia lakukan hanya menunggu dan menunggu berdiam di sudut
bangku tua itu. Entah apa gerangan yang di tunggu ,meski dirinya telah jatuh
sakit namun ia tak pernah absen dari bangku stasiun yang seakan sudah hafal
benar dengan bau parfumnya. Tak jarang tukang sapu halaman stasiun menghampiri
Hilman untuk basa- basi sebentar. Mungkin pak Jamsi panggilan akrab tukang sapu
stasiun,ingin tahu apa yang dilakukan oleh Hilman dan siapa gerangan yang ia
tunggu selama kurang lebih dua tahun ini. Akhirnya dengan sedikit cerita dari
pak Jamsi Hilman mau membuka diri padanya.
Ia berkata pada pak Jamsi bahwa ia sedang menunggu kekasih
hati yang pergi merantau.
Sore itu
langit tersenyum ramah pada Hilman dan
pak Jamsi,Hilman memutar memori masa silam sambil menceritakan pada pak Jamsi.
Ia teringat ketika ia melepas gadisnya di stasiun ini,gadisnya berkata bahwa ia
akan kembali. Pada waktu itu Hilman tak mengetahui bahwa gadisnya yang pergi
jatuh sakit,gadisnya menderita Leukimia dan mungkin tak terselamatkan.tetapi
hal ini dia sembunyikan dari Hilman. Ia juga menerangkan alasannya mengapa
Hilman selalu menatap langit biru meskipun mendung bergelayut dan awan hitam
tampak tebal. Karena di bawah langitlah gadisnya berjanji padanya,gadisnya
berpesan jika Hilman rindukannya maka ia akan senantiasa tersenyum dan melihat
Hilman dari langit itulah yang ia katakan untuk menghibur Hilman.
Bertahun-
tahun lamanya gadis Hilman belum juga kembali,namun Hilman tetap menanti dengan
setia. Ia cukup lega dengan memandang langit seakan telah ia temukan sosok
gadisnya yang jelita di atas
Hari ini tepat hari Senin Pak Pos datang mengirim
Dari kejauhan ia mengabarkan tentang keadaanya,gadisnya
menerangkan bahwa dirinya sedang baik – baik saja,dia mengabarkan bahwa dirinya
akan segera pulang hari esok. Hilmanpun berjingkrak tak sabar menunggu hari
esok tiba, yang terbayang di pikirnya adalah wajah gadisnya yang jelita, dan
isi
“Esok hari
aku akan pulang,sambutlah aku dengan senyummu. Dan tunggulah aku di stasiun
tempat kita berpisah dahulu. Akupun sama sepertimu ingin segera melepas
rindu,bertahun lamanya aku harus bertahan di negeri orang demi sesuatu yang
harus aku lakukan, maafkan aku,aku tak pernah mengirim kabar untukmu! Mungkin
telah lama engkau menantinya…
Bila benar Tuhan menghendaki pertemuan kita sebelum yang
terakrhir kali,sekali lagi maafkan aku. Aku belum dapat memberi tahumu alasanku
pergi..
Bila benar Tuhan menghendaki pertemuan kita sebelum yang
terakhir…
Nantikan aku Hilman”
Tertanda : Amella
Esok pagi Hilman bersiap untuk menyambut kedatangan
seseorang yang bertahun ia nantikan,sarapan pagi sudah terhidang di atas meja.
Pukul tujuh pagi ia berangkat dari rumah,tujuh lewat sepuluh ia sudah hadir di
stasiun. Duduk di bangku sudut. Dengan ramah Hilman menyapa pak Jamsi dan orang
– orang di loket. Wajahnya tampak ceria berseri.
Detik – detik berlalu tak sabar menunggu gadisnya kembali
pulang,yang ada di pikirnya sekarang adalah melepas rindu dengan gadisnya.
Seperti biasanya ia memandang langit penuh harap. Denting jam menunjukkan pukul
dua belas siang,beberapa kereta datang dan pergi tapi Hilman tak kunjung
menemukan gadisnya,rasa cemas mulai menghantui dirinya tapi berhasil ia
tepiskan. Tak terasa jam berlari kencang hingga senja di ufuk turun. Hati
Hilman bergemuruh bercapur kecewa dan cemas,ia tak lelah menanti gadisnya
hingga sang surya di gantikan bulan.
Dalam hati Hilman bertanya mengapa gadisnya tak kunjung
datang??? Mungkin ia berhalangan hadir hari ini. Hilman berniat esok menanti
kedatangannya.
Rasa gelisah terus menghantui Hilman. Nyaris setiap harinya
tak ada senyum menghiasi wajah mungilnya. Barulah ia sadar ketika
Setelah gadisnya tersadar dari pingsannya ia menyempatkan
diri untuk pulang sebelum ajalnya datang. Ia tahu bahwa tak ada harapan lagi
untuk bertahan hidup. Tanpa sepengetahuan Orang tua gadis Hilman pergi
meninggalkan sepucuk pesan di atas bantal berwarna merah jambu,bekas infus
masih tergantung rapi di tempatnya. Gadis Hilman keluar dari depan pelataran
rumah sakit ia pergi dengan taxi menuju
bandara dan sesampainya di bandara segera ia tunjukkan paspor. Pesawat Garuda
Ulasan senyum tampak dari wajah kekasihnya. Tak sia – sia ia
menanti kedatangannya selama ini. Yang ia rasakan senang tiada tergambar. Ia
tak mampu berkata – kata.
Hilman memeluk erat gadisnya, ia melepas rindu bertahun yang
ia pendam. Di pelukan Hilman pula ia lepas Hilman untuk selamanya dan tak akan
kembali. Benar di pelukan Hilmanlah gadisnya meninggal dunia. Lalu apa yang hendak
di kata takdirnya harus demikian. Berubahlah girang Hilman menjadi duka yang
mendalam. Cinta Hilman dia bawa pergi untuk selamanya.
Itulah
alasan Hilman untuk selalu datang mengunjungi stasiun ini dan di bangku itu
pula Hilman selalu duduk termangu. Kini bukan lagi Hilman muda yang hidupnya hanya ia habiskan di sebuah stasiun
itu hingga akhir hayatnya. Kali ini yang tampak adalah Hilman yang tua rentan
dan rambutnyapun di penuhi oleh uban.
CERPEN : mutasi hantu bag. 2
| Print Cerpen
Posting cerpen by: marciano
Total cerpen di baca: 1130
Total kata dlm cerpen: 303
Tanggal cerpen diinput: Mon, 26 Oct 2009 Jam cerpen diinput:
8:47 PM
0 Komentar cerpen
beberapa hari setelah pertemuannya dengan ribuan jin yang
mengadukan nasibnya yang tertindas di bawah pimpinan ki edi edan, mbah darmo
pergi menyepi ke gunung sendang. ia mencoba memusatkan fikirannya demi mendapat
keputusan terbaik bagi jin-jin yang mengadu kepadanya.
tanpa didampingi aymrgam, abdi setianya. mbah darmo menyepi
selama tiga hari- tiga malam. selama itu pula, kecemasan semakin melanda
jin-jin yang mengadu kepada mbah darmo. karena ki edi edan mulai mencium
gerakan yang dilakukan ribuan jin tersebut.
kuatir dengan perlawanan yang akan dilakukan mbah darmo
beserta ribuan jin yang memberontak. ki edi edan mulai menyusun kekuatan,
ratusan dukun senior ia hasut agar memusuhi mbah darmo.
berbagai cerita bohong ki edi edan sebarkan demi
melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua ISI, ikatan syetan
banyak dukun senior yang terhasut, hanya sedikit yang tidak
mempercayainya. terutama dukun-dukun yang dekat serta mengenal pribadi mbah
darmo yang sesungguhnya. walaupun mbah darmo kadang suka meledak emosinya.
namun ia tak akan pernah berbuat sehina itu dengan menyingkirkan para dukun senior.
setelah tiba dari gunung sendang. mbah darmo menerima
beberapa hari sebelum pertemuan dengan dewan dukun, mbah
darmo mengadakan pertemuan dengan dewan pertimbangan pribadinya yang terdiri
atas, kazu. medama, aiolos, nabutu dan mustafa.mereka membicarakan
langkah-langkah terbaik yang akan diambil dalam menghadapi tuduhan bohong yang
dialamatkan kepada mbah darmo.
CERPEN : Untuk senyummu, mama
| Print Cerpen
Posting cerpen by: yunita
Total cerpen di baca: 1232
Total kata dlm cerpen: 1386
Tanggal cerpen diinput: Wed, 14 Jan 2009 Jam cerpen diinput:
5:24 PM
0 Komentar cerpen
Mamaku
single parent.
Aku sangat
marah dan benci ketika untuk pertama kalinya papa kulihat tengah beralan
berduaan sama wanita itu di sebuah Mall pada suatu siang. Awalnya aku berusaha
menyimpan rahasia itu dan berusaha menyembunyikannya dari mama. Tapi akhirnya
mama sendiri yang memergoki mereka sedang keluar dari kantor untuk makan siang
di sebuah cafe.
Setahun
lebih mama mencoba bertahan sejak papa kepergok jalan sama wanita itu. Tapi kelakuan papa semakin
menjadi-jadi. Lama-kelamaan aku jadi yang mulai tidak tahan dengan perlakuan
itu. Aku tidak ingin melihat papa selalu memukuli mama setiap kali mereka
bertengkar. Aku pun tak ingin mama jadi selalu terluka batin dan jiwanya.
Karena itulah aku dukung keputusan mama untuk bercerai dari papa walaupun papa
selalu mengatakan maaf setiap kali selesai berlaku kasar.
Kesabaran
tentu ada batasnya, untuk apa mama selalu memberi kata maaf jika selalu
kesalahan-kesalahan papa terulang dan terulang lagi, pikirku. Aku memang tak
berhak mencampuri urusan mama dan papa, tapi sebagai anak aku ingin keputusan
yang terbaik. Maka jika bercerai adalah keputusan yang terbaik bagi mama,
kenapa aku tidak merelakannya. Toh, aku masih bisa tetap bahagia tanpa papa ada
bersama kami lagi walau silaturahmi harus tetap terjalin diantara kami. Yang
terpenting bagiku adalah terus melihat mama tersenyum.
Mungkin
itulah sebabnya kenapa aku menyetuui saja ketika mama mengungkapkan
keinginannya untuk menikah lagi. Tak hanya karena ingin memberi figur baru
seorang papa padaku tapi juga karena mama telah menemukan laki-laki yang bisa
membuatnya tersenyum bahagia seperti inginku. Dan orang itu adalah om Win.
Laki-laki yang umurnya lebih tua dari mama beberapa tahun dan duda mempunyai
anak satu. Om Win juga sekantor sama mama selama lebih dari tujuh tahun ini.
Jadi mama cukup mengenal om Win.
“ Vic,
ikut mama makan malam yuk!! Masa kamu selalu menolak ajakan om Win sich, nggak
enak dong.” ajak mama
“ Nggak
bisa nich ma, lain kali saja dech. Vica lagi banyak tugas sekolah nich!!” jawabku
bohong
“ Khan
cuma sebentar. Ntar pulangnya kamu bisa kerja’in lagi.” Rayu mama lagi
“ Beneran
nich ma, Vica bener-bener nggak bisa?”
“ Ya udah kalau gitu, kamu aga rumah baik-baik
ya!! Mama mau pergi dulu sebentar. Oke!!”
“ Siiiiip
dech!!” kuacungkan jempol tanda setuju sambil tersenyum manis ke arah mama.
Kulihat mama pun mulai menghilang dari balik pintu kamarku.
Begitulah,
aku selalu mencari seribu alasan untuk menolak ajakan mama pergi keluar sama om
Win. Bukan karena aku tidak menyukainya, tapi karena perasaanku yang masih
asing terhadap om Win yang sebentar lagi menadi papa baruku. Apalagi om Win
bukan ayah kandungku jadi tetap saja lain walau nanti jadi papaku.
*
“ Vic,
mama pergi ya?” Dio duduk disampingku
“ Iya. Memang kenapa?”
kuganti saluran chanel tv dari remote yang aku pegang. Kulihat Dio
tengah asyik membuka-buka sebuah novel di tangannya. Siang tadi dia datang ke
rumahku untuk mampir karena kebetulan mengantar bingkisan dari mamanya yang
dititipkan bagi bibi-nya yang tinggal dikota ini.
Jarak yang memisahkan kami memang resiko yang harus
ditanggung. Dan Dio yang selama hampir tiga bulan ini kadang seminggu sekali
mengunjungiku.
Kuingat kembali kenangan saat berlibur ke rumah nenekku yang
ada di luar
Mungkin bisa dibilang Dio adalah cinta pertamaku. Walaupun
pernah ada beberapa nama yang pernah mengisi hatiku tapi perasaan terhadap Dio
kurasakan sangat lain. Dio juga sangat baik dan perhatian. Hal itu membuatku
semakin menyayanginya dan berjanji di depan mama waktu curhat di suatu siang
untuk setia sampai kapanpun.
Hingga di suatu malam, sesuau membuatku terkejut akan
kedatangan om Win bersama Dio.
“ Dio?!??” pekikku tertahan. Kulihat mama juga tak kalah
terkejutnya denganku.
“ Lho, adi kalian sudah saling kenal??” om Win menatapku dan
menatap Dio bergantian. Kulihat Dio terdiam tertunduk lesu.
“ Win, jadi Dio itu putra kamu yang sering kamu cerikan
itu?” mama mencoba memastikan penglihatannya. Karena sejauh ini, Dio mama kenal
sebagai pacar aku.
“ Iya. Memang kenapa? Sebenarnya ada apa sich ini, aku jadi
bingung.
“ Sini, kita harus bicara sebentar. Maaf om Win, pinjam Dio
sebentar!!” segera kutarik lengan Dio untuk mengikutiku ke arah taman.
“ Vic, kenapa keadaan jadi kayak gini? Aku benar-benar tidak
tahu kalau yang dimaksud oleh papa tante Nola itu adalah mama kamu. Aku tidak
pernah bertemu dengan tante Nola yang selama ini papaku ceritakan di rumah. Aku
pun baru sadar sewaktu sudah berada di depan rumah kamu Vic.” Dio
mengeleng-gelengkan kepalanya.
“ Sekarang bagaimana? Apa papamu tahu hubungan kita?”
“ Tidak. Aku jarang berbicara tentang hal-hal pribadiku pada
papaku, termasuk tentang kamu.”
“ Tapi mamaku bilang, papamu yang aku panggil om Win itu
adalah calon papa baruku. Bahkan mereka sudah menentukan tanggal pernikahan.
Kalau itu benar-benar terjadi maka kita akan menjadi kakak dan adik tiri.”
“ Kalau begitu, aku akan bilang ke papaku dan mengatakan
tentang hubungan kita biar pernikahan itu dibatalkan saja. Beres khan?!”
“ Tidak, jangan!! Mamaku selama ini bahagia bersama om Win.
Aku tidak bisa merenggut kabahagiaan mamaku begitu saja. Lebih baik aku saja
yang mengalah.” Dengan lemas aku tiba-tiba mengatakan kalimat itu.
“ Tapi Vic, masa sich harus kita yang mengalah. Dimana-mana
yang ada adalah yang tua yang harunya mengalah pada yang muda. Aku nggak
setuju.” Dio tiba-tiba sedikit emosi. Kulihat dari pancaran matanya yang gusar
dan nanar.
“ Ini memang kejadian yang memang tidak seharusnya terjadi
tapi kenyataannya kita harus tetap memilih jalan mana yang akan kita tempuh.
Untuk hal yang satu ini aku memilih untuk mengalah demi melihat senyum mama
hadir kembali di setiap hari-hariku. Aku ingin mamaku bahagia Dio!! Aku sudah
berjanji pada diriku sendiri untuk bisa membuat mama bahagia walau aku harus
berkorban sesuatu seperti sekarang ini. Maafkan aku Dio!!” tiba-tiba tetes demi
tetes air mataku harus meluncur dari sudut mataku karena tak kuasa menahan
desakan perasaan di dalam dadaku.
“ Ya sudahlah terserah kamu!! Percuma aku memaksakan
perasaan ini padamu. Ternyata kamu cewek pembohong Vic!!.” Dio langsung
berbalik dan lari menjauhiku. Perlahan Dio pun menghilang dari pandangan mataku
di tengah hiruk-pikuk ramainya jalan raya tanpa menghiraukan panggilanku lagi.
“ Diiiiiiiiiooooooooo!! “ tangisku tersedu-sedu memanggil
Dio yang entah betapa hancurnya mendengar keputusannku tadi. Mungkin dia kini
jadi membenciku. Maagkan aku Dio, ini kulakukan demi mamaku. Mama yang sangat
kusayangi melebihi nyawaku sendiri. Maafkan aku..!!! by yunita
CERPEN : TENTANGMU, LUKAKU, DAN BELAHAN JIWAKU
| Print Cerpen
Posting cerpen by: lov3ly_rabbit
Total cerpen di baca: 1569
Total kata dlm cerpen: 918
Tanggal cerpen diinput: Fri, 8 Jan 2010 Jam cerpen diinput:
8:36 AM
0 Komentar cerpen
Malam kian larut, namun mataku seolah enggan terpejam.
Sekilas kenangan tentangmu terbayang di pelupuk mata. Mendadak badanku lemas,
dadaku sesak, dan mataku terasa perih menahan genangan air mata. 4 bulan tlah
berlalu sejak peristiwa itu, namun rasa itu masih tetap ada ketika aq
mengingatmu. Hatiku terasa perih bagai tertusuk ribuan duri. Sekuat tenaga aq menahan
air mataku agar tidak terjatuh ke pipi. Aku pun hanya bisa diam membisu
mengingat semua memori lalu yang pernah terukir di tempat ini. Tempat dimana
kita pernah mengisi hari liburan kita dengan canda tawa dan kemesraan. Dan di
tempat ini pula kau melamarku menjadi istrimu.Namun kini semua berbeda. Saat
ini aku duduk sendirian di taman tempat kau dulu meminangku. Aku merasa
kesepian di tengah keramaian pesta api unggun. Sungguh berbeda dengan suasana 4
bulan yang lalu. Saat itu kau berlutut di hadapanku dengan membawa sebuket
mawar putih yang ditengahnya terselip sepasang cincin yang indah terbungkus
kotak mungil nan cantik. Tak bisa ku lukiskan bahagianya aku ketika menerima
pinanganmu. Kau pun berjanji tuk setia padaku, selalu mencintaiku, dan menyerahkan
seluruh hidupmu padaku. Dan betapa bodohnya aku yang mempercayai
ucapanmu.Tawangmangu memang tempat berlibur yang menyenangkan di wilayah
Solo-Karanganyar meski sudah ratusan kali di datangi. Makanya aku langsung
menerima ajakan kekasihku untuk menemaninya menghadiri acara ulang tahun
kantornya. Namun tak pernah ku sangka kalo acaranya akan di selenggarakan di
villa ini. Tempat terindah sepanjang kisah cinta kita. Namun kini aku hanya
bisa mengenang semua kenangan itu dengan pilu. Aku terpaksa menyingkir dari
keramaian pesta dan memilih untuk menyendiri di taman ini supaya kekasihku tak
tahu perasaanku saat ini.Ribuan cara tlah ku coba tuk sembuhkan lukaku, dan
mungkin hal terbodoh yang ku lakukan adalah dengan menerima uluran cinta dari
Ivan. Seorang pria dewasa yang ramah, sopan, perhatian, mapan, dan bisa
menerimaku apa adanya. Setelah aku memutuskan untuk mengakhiri jalinan cinta
kita karna kamu menduakanku, Ivan hadir dalam hidupku dan berusaha mengobati
lukaku dengan perhatian dan ketulusan cintanya.Sebulan pertama setelah kita
putus, aku masih berduka karna pernikahan kita yang tinggal 35 hari lagi batal
seiring hancurnya hubungan kita karna terungkapnya perselingkuhanmu dengan
gadis belia itu. Kau tahu betapa sakitnya hatiku saat itu, namun kau malah
menambah lukaku dengan menghina dan merendahkan aku dan keluargaku. Hubungan
yang tlah terjalin selama 3,5 tahun ternyata kau nodai dan kau kau hancurkan
dengan kisah cintamu bersamanya. Di depanku kau memujaku, bahkan air cucian
kakiku pun rela kau minum. Namun ternyata selama 1 tahun terakhir ini kau
menikmati hubunganmu dengannya. Kau rendahkan aku di depannya, dan kau hina aku
dan kluargaku. BAJI***N!!! Kata itu pun seolah tak bisa menggambarkan kelakuan
bejatmu. Untuk apa kau meminangku, untuk apa kau memohon-mohon ke keluargaku
supaya mengijinkan kita menikah, dan untuk apa kau berikan aku cinta, jika
akhirnya kau hanya ingin menyakitiku dengan penghianatanmu. Jika memang dulu
kau tak pernah mencintaiku dan kau menginginkan gadis itu, untuk apa kau
berencana menikahiku, padahal di belakangku kau mencari kenyamanan darinya.
Hufth…tak
CERPEN : Cerpen Penjual Pensil
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Admin
Total cerpen di baca: 24220
Total kata dlm cerpen: 536
Tanggal cerpen diinput: Tue, 11 Nov 2008 Jam cerpen diinput:
8:05 AM
30 Komentar cerpen
Tentunya kita pernah naik bis dan bertemu dengan pedagang
yang aneh-aneh. Masih inget gak waktu pertama kali dapat “hadiah” sebuah barang
yang tiba-tiba dibagikan orang di pangkuan kita waktu duduk di bis?. Mungkin
pertama kali heran tetapi akhirnya jadi sedikit sebal karena kita jadi waspada
karena dititipi barang dagangan dengan paksa sehingga ga enak klo mo tidur. Ada
juga sih kita yang ceroboh menjatuhkan hingga ke kolong bangku, wis pokoke
sangat merepotkan. Tapi klo aku sih daripada sebal mending menikmati momen sang
penjual ngoceh berpromosi ria soal barang dagangannya. Terkadang ada juga yang
kreatif, misalnya penjual pensil di bis beberapa tahun yang lalu.
Sambil membagi dagangannya dia nyerocos…”Silahkan dipilih
warnanya macem2, hanya dengan uang
CERPEN : Untuk Sahabat
| Print Cerpen
Posting cerpen by: fairy
Total cerpen di baca: 45218
Total kata dlm cerpen: 814
Tanggal cerpen diinput: Sun, 10 May 2009 Jam cerpen diinput:
11:26 AM
24 Komentar cerpen
Ketika dunia terang,
alangkah semakin indah jikalau ada sahabat disisi. Kala langit mendung, begitu
tenangnya jika ada sahabat menemani. Saat semua terasa sepi, begitu senangnya
jika ada sahabat disampingku. Sahabat. Sahabat. Dan sahabat. Ya, itulah kira-kira sedikit tentang diriku
yang begitu merindukan kehadiran seorang sahabat. Aku memang seorang yang
sangat fanatik pada persahabatan. Namun, sekian lama pengembaraanku mencari
sahabat, tak jua ia kutemukan. Sampai sekarang, saat ku telah hampir lulus dari
sekolahku. Sekolah berasrama, kupikir itu akan memudahkanku mencari sahabat.
Tapi kenyataan dengan harapanku tak sejalan. Beragam orang disini belum juga
bisa kujadikan sahabat. Tiga tahun berlalu, yang kudapat hanya kekecewaan dalam
menjalin sebuah persahabatan. Memang tak ada yang abadi di dunia ini. Tapi
paling tidak, kuharap dalam tiga tahun yang kuhabiskan di sekolahku ini, aku
mendapatkan sahabat. Nyatanya, orang yang kuanggap sahabat, justru
meninggalkanku kala ku membutuhkannya.
“May, nelpon yuk. Wartel buka tuh,” ujar seorang teman yang hampir
kuanggap sahabat, Riea pada ‘sahabat’ku yang lain saat kami di
perpustakaan. “Yuk, yuk, yuk!” balas
Maya, ‘sahabatku’. Tanpa mengajakku
Kugaris bawahi, dia tak mengajakku. Langsung pergi dengan tanpa ada
basa-basi sedikitpun. Padahal hari-hari kami di asrama sering dihabiskan
bersama. Huh, apalagi yang bisa kulakukan. Aku melangkah keluar dari
perpustakaan dengan menahan tangis begitu dasyat. Aku begitu lelah menghadapi
kesendirianku yang tak kunjung membaik. Aku selalu merasa tak punya teman. “Vy, gue numpang ya, ke kasur lo,” ujarku pada seorang yang lagi-lagi
kuanggap sahabat. Silvy membiarkanku
berbaring di kasurnya. Aku menutup wajahku dengan bantal. Tangis yang selama
ini kutahan akhirnya pecah juga. Tak lagi terbendung. Sesak di dadaku tak lagi
tertahan. Mengapa mereka tak juga sadar aku butuh teman. Aku takut merasa
sendiri. Sendiri dalam sepi begitu mengerikan. Apa kurangku sehingga orang yang
kuanggap sahabat selalu pergi meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti semua ini.
Begitu banyak pengorbanan yang kulakukan untuk sahabat-sahabatku, tapi lagi-lagi mereka ‘menjauhiku’. “Faiy, lo kenapa sih ? kok nangis tiba-tiba,”
tanya Silvy padaku begitu aku menyelesaikan tangisku. “Ngga papa, Vy,” aku mencoba tersenyum.
Senyuman yang sungguh lirih jika kumaknai.
“Faiy, tau nggak ? tadi gue ketemu loh sama dia,” ujar Silvy malu-malu.
Dia pasti ingin bercerita tentang lelaki yang dia sukai. Aku tak begitu berharap banyak padanya
untuk menjadi sahabatku. Kurasa semua sama. Tak ada yang setia. Kadang aku
merasa hanya dimanfaatkan oleh ‘sahabat-sahabatku’ itu. Kala dibutuhkan, aku
didekati. Begitu masalah mereka selesai, aku dicampakkan kembali. “Faiy, kenapa ya, Lara malah jadi jauh sama
gue. Padahal gue deket banget sama dia. Dia yamg dulu paling ngerti gue.
Sahabat gue,” Silvy curhat padaku tentang Lara yang begitu dekat dengannya,
dulu. Sekarang ia lebih sering cerita
padaku. Entah mengapa mereka jadi menjauh begitu. “Yah, Vy. Jangan merasa sendirian gitu
dong,” balasku tersenyum. Aku menerawang,” Kalau lo sadar, Vy, Allah
CERPEN : Dilarang Jatuh Cinta
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Admin
Total cerpen di baca: 49351
Total kata dlm cerpen: 1183
Tanggal cerpen diinput: Fri, 21 Nov 2008 Jam cerpen diinput:
12:38 AM
42 Komentar cerpen
Cerpen Maroeli Simbolon, Dimuat di Republika 12/19/2004Wah!
Semua mata terbelalak -- berpusat kepada laki-laki yang berdiri persis di atas
atap gedung berlantai 33, siap untuk bunuh diri. Sejumlah polisi sibuk
mengamankan lokasi yang dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan peristiwa
tragis itu secara langsung, dengan berbagai ekspresi yang tak kalah seru.
CERPEN : Menunggu Pelangi
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Ivana
Total cerpen di baca: 49843
Total kata dlm cerpen: 3249
Tanggal cerpen diinput: Fri, 12 Jun 2009 Jam cerpen diinput:
3:34 PM
43 Komentar cerpen
“Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!”
teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air
hujan yang berjatuhan. “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo
disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku
segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan
kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh
sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi. Oh iya. Kenalkan
namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka
dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit
lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan
itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya
menjadi hobi kita setiap ada hujan. Hari ini, begitu
indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan
indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga
terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling
manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga
memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini. Tak lama, rintik –
rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang
rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah
volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air
membasahi permukaan daun mereka.
Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku
angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang
ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan,
kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah
suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan
Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa
sebelum hujan reda.
“ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa......” tiba – tiba suara
si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik
kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu
itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu.
Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku
yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang.
Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan. “ Hai! Udah lama
ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa
menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh.
Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggakpapa To. Santai
aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit
yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan.
Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu
lagi. Sangat indah saat ini. Sungguh romantis
situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun
kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget
segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit
untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku
berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang
belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh,
bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa
mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. “Huft.. ayo bicara Tito!” aku
berbicara pada diriku sendiri dalam hati. Mobil Avanza
berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini.
Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru
Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku
menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa
yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa
mudah buat aku nembak dia?? Di kampus, aku memulai
pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku.
Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak
terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk
mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang
adalah sang Master dari Matematika. Istirahat, aku
menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada
Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku
menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin. Dag dig dug makin
terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena
aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu
jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat?
“Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas
saja kubalas “PASTI!!!”. Diriku serasa
melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di
CERPEN : persahabatan
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Joy
Total cerpen di baca: 165262
Total kata dlm cerpen: 1028
Tanggal cerpen diinput: Tue, 23 Dec 2008 Jam cerpen diinput:
3:41 PM
128 Komentar cerpen
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang
memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia
mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.”
ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya
sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”,
“Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke
lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada
temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di
lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.”
ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main
saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini :
Share/Save/Bookmark
CERPEN : Laskar Girls
| Print Cerpen
Posting cerpen by: holil
Total cerpen di baca: 791
Total kata dlm cerpen: 1982
Tanggal cerpen diinput: Sun, 15 Nov 2009 Jam cerpen diinput:
3:37 PM
0 Komentar cerpen
<!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal,
div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in;
margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times
New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in
1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;}
div.Section1 {page:Section1;} --> Laskar
GirlsLeli, Ovi, Vina, dan Eva adalah sebuah geng penjajah cinta yang
terkenal banget disekolahnya, SMP II Ghar Laok. Geng Loving Found yang biasa
disingkat eLFi ini, menjadikan suasana sekolah menjadi sebuah realita kehidupan
cinta remaja anak SMP. Geng Loving Found udah lama sich berdiri, mungkin
seminggu lalu. Dalam acara pembukaan lalu, mereka berempat mengundang pak
Rahmat, guru BP paling longor disekolah mereka. Ketika pak Rahmat mendapat
undangan itu, pak Rahmat langsung menerimanya dengan lebar tangan. Tapi dasar
anak eLFi yang nakalnya nggak karuan dan nggak punya perasaan membuat pak Rahmat jalan kaki 10 kilo meter dari tempat party eLFi, rumah
Vina sampe kerumahnya. Yah, mana nggak mo jalan kaki wong ban sepeda motornya
dibocorin pake paku ama mereka. Jadinya kacian deh pak Rahamat.# # #Malam ini
adalah malam Minggu, malam yang katanya tuk saaatnya bermain dengan rembulan.
Jauh dibaewah rembulan di sebuah codox café, anak remaja sedang berkumpul
disana, sesekali diantara mereka menatap rembulan kemudian melirik keluar
malam. Inilah tempat geng Loving Found menghabiskan malam Minggunya di café
yang terkenal ini, Codox Café. Katanya sich tempatnya enak, nyaman dan remaja
banget gitu lho. Lo tau nggak sebelum eLFi menemukan nich tempat eLFi sempet
bingung ama nama cafénya. Coba lo pade pikir, masak sich café dikasi nama
codox. Nggak salah tuuh. Komentar Vina kala itu. Namun setelah mereka coba
masuk rupanya café ini trendi banget dan pas buat mereka.Setiap kali mereka
mengunjungi Codox Café ini mereka selalu ngerumpiin tentang cowok-cowok keren
yang ada disekolahnya. Yah, kalo boleh jujur geng Loving Found tuch jomblo
semua. Bukannya nggak ada cowok yang nggak naksir ama mereka, tapi
cowok-cowoknya pada takut ama mereka. Bisa lo bayangin sendiri gimana nggak mo
takut, waktu itu ada anak cowok pengen ngibulin geng eLFi tapi kejadiannya
malah terbalik cowok itu kini jadi bulan-bulanan geng eLFi. Yaaa capek
dech… “Waduh enak dong, malem ini
kita maen ama rembulan,” ujar Ovi, membuka percakapan membuat semua mata memandang
kearahnya. Aduh jadi takut nich. Ovi, anak yang punya kebiasaan fusy ini selalu
aja bikin mereka semangat dan tertawa.“Rembulan kaki lo, wong malem ini
rembulan nggak dateng.” Kata Eva sambil bersastra. Eva, dengan rambut keriting
yang membuat semua orang yang melihatnya merinding karena salting sebab ada
kepiting yang menyangkut di kuping. Ups, kok jadi ngelantur sich. Tapi perlu lo
tau kalo si Eva tuch cewek paling romantis di geng eLFi dan Eva juga paling
banyak berjasa di gengnya. Setiap ada ulangan Bahasa Indonesia Evalah yang
bakalan jadi bahan refrensi contekan Leli, Vina, dan Ovi. Kalo Eva nggak mo
ngasi contekannya ama mereka, reputasi Eva sebagai calon selebriti dunia
bakalan ancur. Makanya setiap kali temennya mo nyontek, Eva ngasi aja dengan
ikhlas dan lapang dada. “Aduh, uda deh.
Mendingan kita sekarang musyawarah tentang gimana kita nggak ngejomblo terus.
Gue boring tau, kalian so pasti kan ?” cerocos Vina akhirnya setelah beberapa
saat tadi diem membatu. Nah, ini dia si cantik Vina, tubuhnya semampai seperti
Luna Maya, kakinya jenjang seperti Britney Spears, wajahnya cantik bagai
Rianti, tapi sayang rambutnya gundul. Eh, nggak ding boongan. Tapi suer lho
Vina paling cantik banget diantara anggota geng Loving Found. Baik lagi. Hmmm
siapa sich yang nggak naklsir ama dia ?.“Oke banget tuch ide lo. Dibawa ke
bengkel mana otak lo kok jadi cemerlang gini, ” oceh Leli. Vina menggelembung
seperti ayam mau nembung. Emang Vina ayam apa, pake gelembung segala. “Sory deh
Vin, Iam just kidding kok.”Leli, ya Leli. Cewek yang satu ini adalah cewek
paling antik dan gokil. Yah, boleh dibilang dia tuch orangnya over acting.
Ampe-ampe motor bebeknya yang dia beli mo diganti cat tiap minggu. Alasannya
cuama satu, “Nggak Gila!!” Waduh emang udah gila bener kali nich cewek. Trus,
gimana nggak mo dibilang antik dan gokil kalo setiap kali Leli mo pergi ke mall
atau ketempat yang gede-gede gitu dia selalu pake sepatu Aladin yang ujungnya
panjang serperti perahu keseret badai. Pokoknya nich cewek paling antik tik
tik. Meskipun gitu dia tuch paling aktif lho kalo ada acara gede-gede. Pernah
sekali dia jadi ketua panitia party sekolahnya. Eh bukannya sukses, malah jadi
amburadul gara-gara sliting celana jeans Leli nggak ditutup. Emang payah tuch
cewek.“Gue punya usul nich,” Ovi buka mulut, “Gimana kalo kita ngadain kontes
pencarian cowok dalam waktu yang akan kita sepakati.”“Caranya ?” tanya Vina
bingung.“Gini frend, yah kalo lo setuju kita mulai hari besok, ” jawab Ovi
asal.“Caranya gimana dodol! Ngelamun sich, jadinya nggak nyambung. ” Cibir
Leli.“Maksudnya gini kawan, setiap orang yang ada disini, berpotensi atau tidak
wajib mengikuti kontes Loving Found atau pencarian cinta, sebab dalam
undang-undang dasar geng eLFi mulai sekarang harus punya pasangan
masing-masing. Biar entar kalo malam Minggu nggak nonton rembulan terus. Nah
sedangkan tata caranya adalah: pertama, lo semua harus cari cowok yang cool dan funky. Kedua,
lo harus tau dia tajir apa nggak , ” sejenak Ovi, berhenti mengatur nafas.“Kalo
tajir sich susah. ” Celetuk Eva.“Ketiga,” lanjut Ovi “Waktu!. Nah, sarat yang
nomer tiga ini yang paling susah, yang bakal bikin kalian nggak sanggup, satu
minggu!”“Alah itu mah gampang banget, kirain lo ngasih waktu satu jam. Gue mana
bisa?” komentar Leli sambil garuk-garuk
kepala yang gatal.“Okey, gimana lo pada setuju
nggak?” kata Ovi minta persetujuan Leli, Vina, dan Eva yang hanya bisa cemberut
nggak semangat. Tapi akhirnya mereka jawab juga setelah beberapa saat
terediam. “Okey let’s go!” Jawab Vina,
Leli dan Eva serempak.# # #Let’s War to Found LoveEva.Rabu, jam tujuh pagi
suasana Jakarta sepi banget. Namun, jauh dari suaasan hening seorang cewek
dengan pakaian you can see kekurangan bahan kain sedang siap-siap keluar
ruamah.“Eva berangkat dulu ya ma,” pamit Eva ama mamanya dengan menyunggingkan
senyum termanisnya.“Hati-hati dijalan ya.”“Ya ma.” Jawab Eva singkat. Lalu
pergi ditelan gelombang udara. Emang lo tau dari mana kalo udara
beregelombang?. He he he.Leli Kalo cewek antik bin gokil ini pakaiannya sangat
nyentrik banget. Kalo kita liat dari atas Leli suka pake pando bermotif bunga melati, trus turun kebawah, leher pake
kalung mas dengan karat 0,1 gram. Itupun kalungnya dapet dari hadiah snack
kesukaannya, tic tac snack. Lanjut, baju pake merk Nike dengan banyak bordiran
disekitar lengannya dipadu dengan rock mini selutut yang banyak kantongnya.
Wah, kira-kira ada nggak ya yang bakal nyantol ama dia? Kita lanjut aja dulu
dech.OviSuit, suit, kira-kira si Ovi menang nggak sich kalo masalah pakaian ama
Leli dan Eva. Kita liat aja dech.“Aduh Oviii! Kamu ngapain aja sich di dalam
kamar lama amat.” Teriak mama Ovi dari luar kamar Ovi sambil mengetuk-ngetuk
pintu kamarnya.“Aduh maa, plis deh, Ovi bentar lagi turun kok. Udah mama ama
papa sarapan duluan.” Sewot Ovi sambil terus melototin cermin gedenya.Lima jam
kemudian, saat rumah Ovi pada sepi semua. Ovi mulai celingak-celinguk sendiri
kebingungan keluar dari kamarnya. Dengan rock mini jeansnya diatas lutut, Ovi
mulai menuruni tangga rumahnya. Tas kecil dia pegang. Kaos ketat berwarna merah
cerah seperti lentera dipakainya untuk menuju pertempuran kontes pencarian
cinta.Vina Nah, ini dia
cewek yang kita tunggu-tungu.Wuidih suer man, hari ini Vina cantik banget, kalo
dinilai dari pakain dia kali ini jauh beda dari biasanya. So temen-temennya
pasti kalh tuch. Dengan baju model baru keluaran 2009 dipadu dengan rock jeans
keluaran Kencana yang pasti banyak orang melirik.# # #Mentari masih terkulai
dalam buaian subuh. Sebening embun jatuh di atas daun talas. Pagi ini sungguh
menyejukkan banget. Apakah bagi geng eLFi juga, yang lagi sibuk-sibuknya
mencari cinta dalam minggu ini…?. Yah, moga aja hati mereka semua sejuk-sejuk
seperti lemari kulkas.Tapi pagi ini kayaknya ada yang nggak beres deh dengan si
cantik Vina. So what gitu lho, pagi-pagi gini dia udah cantiiik banget. (Emang
kalo cantik nggak beres apa? heh, payah lo!) eh nggak ding, Vina tuch lagi
ketemu Leli sedang berdiri didepan rumahnya dengan penampilan aneeeh banget.
(yaaa, kalo gitu buakan Vina dong yang nggak beres, tapi si Leli! Dasar lo!). Leli
cuma cengar-cengir ketika Vina menghampirinya.“Ngapain lo pagi-pagi gini udah
berdiri depan rumah gue?! Kesambet setan lo?” Tanya Vina asal, kalo orang yang
didapatinya itu si Leli alias jin payung.“Nggak ngapa-ngapain. Gue kesini cuma
mo liat gaya penampilan lo ari ini, kali aja gue bisa niru.” Jawab Leli santai
sambil ngeliat Vina dari ujung rambut ampe ujung bulu telapak kaki. (Lho, emang
mulai kapan sih telapak kaki berbulu ? Bingung deh.)“Dasar lo nggak
berubah-rubah, tetep aja gokil.”“Yeee, emanag gue mo berubah apaan? Power
Ranggers? Capek dech.” Ujar Leli dengan gaya banci model classic. Lo tau nggak
banci model classic, itu tu seperti si Mulyo, kucingnya pak Adi yang mati
sekarat.“Udah deh mendingan sekarang lo balik, kita ketemu di sekolah. Lo sekolah
nggak ari ini?” Kata Vina akhirnya setelah beberapa saat Leli bengong melihat
dirinya.Memposona ooiii!!. Teriak hati Leli. Kayaknya sih…“Heii!! Lo sekolah
nggak ari ini?!!” Teriak Vina kesal.“Eh, iya iya gue sekolah. Gue tunggu lo di
sekolah ya. Baii..” sahut Leli kaget sambil ngacir dari hadapan Vina.“Huh,
tambah ari tambah aneh aja tuh anak. Kacian dech gue. Eh, kok jadi gue sich
yang kasian, Leli maksud gue!” Gumam Vina sambil masuk kedalam rumahnya diikuti
pertanyaan entar di sekolah.Di Sekolah. Pagi-pagi banget. Diwaktu anak-anak
udah pada rame. Geng eLFi udah pada mulai ngerumpiin pencariannya tentang
cinta. Waduh, kayak ada koferensi pers aja yah.“Gimana kabar kalian semua? Udah
pada dapet belom?” Eva buka mulut, pertanda konferensi persnya eLFi dibuka.
“kok pada bengong semua sih?” lanjut Eva bingung melihat temen-temennya pada
tutup mulut.“Baekkk Miss Ceriwis!!!” Teriak Ovi kesel. Masak pagi-pagi yang
udah jelas-jelas gini ceria masih ditanya kabarnya. Nggak banget gitu
lho.“mendingn rencan kita mencari cinta dibatalin aja.” Uajr Vina tiba-tiba
mengagetkan ketiga sahabatnnya.“What!! Apa lo bilang, ngebatalin pencarian
cinta? Nggak deh!” Jawab Ovi dengan nada tinggi, berirama rendah, mengalun
syahdu. Lho kok jadi ngelantur sich. “lo semua kan udah setuju. Kenapa sekarang
harus terhenti?” lankjut Ovi emosi. Katyajknya sich..“Ovi, gue tau lo kecewa
ama omongan gue barusan. Tapi ini menyangkut persahabatan kita yang nggak
mungkin putus gara-gara acara beginian.” Jelas Vina.“Maksud lo apaan sich? Lo
takut gara-gara acara ginian kiata akan terpisah gitu?” tambah ovi lagi.“Yah,
gitu.” Jawab Vina singkat.“Tapi yang lain kok pada diem sich” Ovi merespon
temen-temennya tuk ngomong.“Ya gitu Ov, gue setuju apa kata vina. Entar gue
takut kalo kalian udah pada punya cowok masing-masing persahabatan yang kita
bina selama bertahun-tahun bakalan menjadi boomerang dan nggak bakalan meriah
lagi. Gue nggak mau ini terjadi.” Cerocos Leli dengan argumentasinya yang cukup
mengagumkan. Dikiiit banget nggak nyampe segunung kok.“Lo betul banget Li, kita
bakalan nggak kompak lagi kalo kita punya cowok. Kerjaannya pasti kalo nggak
sibuk ngedet, sopping bareng dan lain-lain dech. Pokoknya pokok super busy !”
Lanjut Eva yang sedari tadi terdiam membatu.Akhirnya dengan senyuman, tatapan
langkah awal mereka sebagai sahabat kini kembali dalam buaian keindahan senja
yang turut tersenyum pada mereka. Jauh dari arah mereka seseorang sedang
memerhatikannya dengan tatapan pelangi cerah pada matanya yang indah. Lalu
tersenyum dan kemudian menghilang bersama panorama
10 Maret 2010 jam 18:18
Ini rasa yang hanya sekali para insan rasakan dalam
hidupnya,,rasa yang pasti yang akan dialami oleh setiap jiwa manusia, tetapi
tidak semua jiwa manusia mengalami kemudahan ketika ruh mereka dicabut oleh
malaikat-malaikat yang diutus oleh Allah. dimana semua yang hidup didunia ini
akan merasakan sakitnya itu, rasanya seperti kambing yang di kulitin hidup
hidup, oleh para insan di dunia atau seperti di tusuk pedang yang telah di
panaskan.,, wao tak bisa kubayangkan hal itu… tapi mau bagaimana? Semua orang
pasti merasakannya… adi mulailah ikhlas dari sekarang… di sini suatu kisah
dimana aku tahu tentang sakratul maut,dan mulai sinilah aku berpikir dewasa
tentang hal itu … Minggu pagi tepat jam 9 aku pergi kearah yang sama dengan
salah satu temanku,tapi kita berbeda tujuan,aku ingin bekerja kelompok dan dia
ingin mengikuti bimbingan belajar,dan kita pun terpisah dengan waktu... Waktu
pun terus berputar,tak terasa pengerjaan kita selesai dengan apa yang kita
inginkan,kami pun menuju keluar pintu kamar untuk beristirahat sejenak di
luar,ketika aku ingin menjatuhkan tubuh ku di empuknya sofa ruang tamu,sesuatu
yang tak ku duga kudengar dengan telinga kiriku,hingga tubuhku terasa bergetar
saat kudengar itu,hingga bibirku berkata “INNALILAHIWAINNAILAIHI ROJIIUN” satu
kalimat yang aku ucapkan dengan perasaan seperti aku berada dikegelapan malam
dan dinginnya angin yang menusuk hatiku… begitu cepat dia meninggalkan kita
semua,dan begitu cepat untuk dia barada di rumah kehidupan itu. Ku dengar dua
insan telah merasakan rasa itu, yang satu pergi tanpa tanda dan yang satu pergi
dengan meninggalkan jejak dan mereka hanya meninggalkan ‘NAMA’ dua insan yang
tak pernah bertatap muka dengan ku dan hanya ku dengar namanya dari bibir bibir
kecil insan lainnya,seketika itu pikiran ku mulai berpikir tentang hal itu… Aku
pun pergi kerumahnya,sebenarnya kita tak ada tujuan untuk itu,jd kami hanya
membawa barang barang sederhana.. Saat aku menginjakan kakiku dihalaman
rumahnya kudengar suara tangis yang sangat begitu mendalam hingga menembus
dinding hatiku dan mengetarkan tubuhku, kakiku menuntunku kerumah
itu,,,kulewati beberapa orang yang telah berduka didepan terasnya yang kecil,
Ku lihat dia di balik kain coklat batik yang menutupi seluruh badannya,dan saat
kain itu di buka,kulihat wajahnya yang begitu menawan dengan mata yang terbuka
setengah,ku perhatikan wajah lembutnya itu dengan setetes air yang telah berada
di ujung mataku,,detak jantung ku berdetak cepat,tak kuasa ku melihatnya,,, Itu
pun pertama dan terakhirnya ku melihat wajahnya.., tak tahu kenapa air mata ini
tertetes? dan aku tahu jawabanaya yaitu aku menagis bukan karena dia
meninggalkan kita semua,tapi aku menagis karma aku membayangkan rasa itu yaitu
sakratul maut,dan penyiksaan di neraka,dan juga pertanyaan pertanyaan yang akan
di lemparkan kepada kita di alam kubur nanti, kita hidup hanya sementara di
dunia ini,dan ini adalah keputusan yang kita ambil saat kita melakukan
perjanjian dengan allah, kemudian aku bertanya pada diriku mengapa ku tak bisa
mengingat hal itu,,??? Pertanyaan itu mengikuti ku seperti bayangan ku yang
slalu mengikuti diriku ini, saat ku berjalan menuju suatu tempat dengan papan
papan yang berdiri diatas tanah coklat dimana para insan beristirahat untuk
terakhir kalinya,dan saat jenajah itu akan di bumikan,saat itu terpikir di
kepalaku…. Ku pikirkan kembali tentang pertanyaan tadi “jika semua insan
diingatkan dengan perjanjian itu,maka tak akan ada surga dan tak aka nada
neraka” tapi itu adalah rahasia allah,dan tak ada gunanya aku berpikir hal
itu,," yang harus ku pikirkan adalah “Bagaimana dengan kewajiban
ku......?,” “Bagaimana dengan tanggung jawab ku......?” “Bagaimana dengan
kehalifahan ku di dunia ini.....?” “Apa kah aku sudah melaksanakan semua tugas
itu.....?” "Dan bagaimana dengan kau.......?" Air mata ini terus
mengalir saat aku ditanya dan mendengarkan kata “SAKRATUL MAUT” karma Rasa
sakit pada sakaratul maut langsung menghunjam ruh itu sendiri sehingga
menerobos seluruh organ-organ tubuhnya, seluruh jaringan sarafnya, seluruh
urat-urat. di tubuhnya, bahkan juga seluruh persendian tubuhnya, hingga
merambati akar rambut dan kulit dari atas kepala hingga ujung kaki … Dan rasa
sakit itu hanya 1 kali menghampiri dalam hidup kita,,,,! Masyaallah dahsyatnya
saat itu….. Jika SAKRATUL MAUT itu datang maka: Tak ada lagi…. arti harta…………
Tak ada lagi.…arti jabatan……… Tak ada lagi….arti keangkuhan……. Tak ada lagi….
arti kesenangan duniawi……. Tak ada lagi ….arti kekuasaan Hanya ada arti sebuah
nama jadi sebelum rasa itu datang, apa kah kamu sudah melakukan tanggung jawab
itu….? Jika tidak laksanakanlah dari sekarang, Sebelum semuanya terlambat…..
jika kamu telah melaksanakan kewajiban itu maka keTika kamu berpikir sakratul
maut dan neraka kamu akan meneteskan air mata mu itu di wajahmu..........
Diperbarui sekitar seminggu yang lalu · Lihat Kiriman Asli ·
Laporkan Catatan
Komentar
Posting Komentar