kumpulan cerpen yang enak untuk dibaca

 

Peradilan Rakyat

 

Cerpen Putu Wijaya

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

 

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

 

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

 

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"

Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"

"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung

tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."

Pengacara muda itu tersenyum.

"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

 

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

 

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

 

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

 

Pengacara tua itu meringis.

"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."

"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"

Pengacara tua itu tertawa.

"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.

Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

 

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

 

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

 

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."

"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

 

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

 

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

 

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

 

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

 

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

 

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.

Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.

"Bagaimana Anda tahu?"

 

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

 

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.

"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

 

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"

"Antara lain."

"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."

Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.

"Jadi langkahku sudah benar?"

Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

 

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"

"Tidak! Sama sekali tidak!"

"Bukan juga karena uang?!"

"Bukan!"

"Lalu karena apa?"

Pengacara muda itu tersenyum.

"Karena aku akan membelanya."

"Supaya dia menang?"

 

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."

Pengacara tua termenung.

"Apa jawabanku salah?"

Orang tua itu menggeleng.

 

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

 

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

 

"Tapi kamu akan menang."

"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

 

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

 

Pengacara muda itu tertawa kecil.

"Itu pujian atau peringatan?"

"Pujian."

"Asal Anda jujur saja."

"Aku jujur."

"Betul?"

"Betul!"

 

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.

"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

 

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"

"Mereka tidak mengancam kamu?"

"Mengacam bagaimana?"

"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

 

"Tidak."

Pengacara tua itu terkejut.

"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"

"Tidak."

"Wah! Itu tidak profesional!"

Pengacara muda itu tertawa.

"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"

"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"

Pengacara muda itu terdiam.

"Bagaimana kalau dia sampai menang?"

"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"

"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"

Pengacara muda itu tak menjawab.

"Berarti ya!"

"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

 

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

 

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."

"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

 

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

 

"Betul."

"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

 

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

 

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.

"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

 

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

 

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."

"Tapi..."

 

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.

"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

 

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

 

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

 

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

 

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

 

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

 

 

 

 

 

Salah Nurunin Resleting

Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.

Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.

“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”

Pemeras Kecil

Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Esok harinya, ia menemui lelaki itu.

“Abang semalam mencium kakakku bukan?”
“Ya, tapi jangan keras-keras. Ini seribu untuk tutup mulut!”
“Terima kasih, ini uang kembaliannya lima ratus!”
“Lho, kok pakai uang kembalian segala?”
“Saya tidak mau nakal, Bang. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus!”
“???!!!”

Sakit kanker ato Aids??

Seorang penderita kanker di beritahukan oleh dokternya bahwa hidupnya tidak lama lagi hanya sekitar 2 minggu lagi. Mendengar khabar tak mengenakkan hati, ia memberitahukan anaknya untuk segera mengadakan pesta besar perpisahan.

Ditengah kawan-kawannya ia menyatakan : “Maaf teman-teman, Saya mengumpulkan Kalian agar tahu bahwa Saya tak lama lagi akan meninggalkan Kalian, AIDS telah merongrong tubuh Saya.”

Anaknya dengan heran bertanya : “Ayah, mengapa Ayah berbohong atas penyebab kematian Ayah?”

Ayahnya menjawab : “Sssst, aku tak mau salah seorang dari mereka akan tidur dengan Ibumu yang cantik setelah aku meninggal kelak !”

Kalo Kerja Pake Ini

Kerja pake ini Di suatu pinggiran kota, hiduplah seorang nyonya yang cukup (sedikit mampu) dengan pembantunya yang selalu buat masalah.

Suatu hari, pembantu itu memecahkan piring untuk kesekian kalinya... akhirnya nyonya itu memanggil pembantunya sambil memaki berkata," Minah....kamu ini gimana...dasar org goblok, makanya kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk lututnya) tapi pake ini (sambil nunjuk kepalanya, otak-red)...kamu saya pecat.."akhirnya pembantunya pergi...

5 tahun kemudian, di suatu Supermarket..si Nyonya ketemu dengan pembantunya yang dulu tapi dengan pakaian yang mewah dengan banyak perhiasan emas...

Si-nyonya memanggil," Minah, kok kamu sekarang berubah..menjadi kaya...kok bisa????
Si-pembantunya menjawab," makanya Bu, kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk kepalanya, otak-red) tapi pake ini donk (sambil nunjuk dii antara pahanya)...."?#$#@"

Kalau Main Dokter-Dokteran Jangan di Ruang Tamu

Sepasang suami istri tertangkap basah oleh anak mereka ketika sedang melakukan hubungan badan di ruang tamu. Pasangan suami istri itu berusaha menjelaskan kepada anak mereka yang setengah remaja itu, bahwa mereka sedang bergurau dan bermain dokter-dokteran.

Dengan santai si anak menasihati orang tuanya itu, "Kalau mau main dokter-dokteran jangan di ruang tamu, nanti kalau ada orang ngeliat kan disangka sedang melakukan hubungan suami-istri....!"

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CERPEN : GAUN PENGANTIN DALAM MIMPI

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: Stephany Silvana Sompotan

Total cerpen di baca: 188

Total kata dlm cerpen: 1497

Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 11:19 AM

2 Komentar cerpen

 

Aku tidak tahu kekuatan apa yang aku miliki ini. Sejak aku beranjak SMA ada yang berbeda denganku. Aku takut untuk memberitahukan ini pada orang lain, dan baru sekarang aku berani untuk mengatakannya. Setiap kali aku tidur pasti akan bermimpi. Ada mimpi yang masih diingat, tapi ada mimpi yang susah untuk diingat. Aku memulai petualangan mimpiku yang aneh. Saat ku terlelap dalam tidurku aku bermimpi sedang berada dalam suatu acara pesta besar, dimana tanteku dengan cantiknya duduk diatas singgasana memakai gaun putih panjang dengan motif bunga keperakan seperti orang yang mau nikah. Sejenak aku mengikuti pestanya, dan tak lama kemudian alarm-ku berbunyi. Sudah saatnya aku bangun.                Aku  menceritakan hal itu pada mama, tapi tak direpon dan aku pun hanya mendiamkan hal itu. Keesokan harinya aku mendapat kabar dari mama kalau tante Rina meninggal akibat kecelakaan motor. Oh God, tak salah lagi tante Rina-lah yang kumimpikan saat itu. Aku belum merasa ada yang aneh dengan keadaan itu,,tapi mungkin saja itu satu pertanda tapi tak ku gubris.                Berikutnya dengan keadaan yang sama, aku bermimpi di suatu malam, disebuah pesta besar seorang anak kecil berusia kurang lebih 3 tahun, menggunakan gaun pengantin, dan dalam mimpiku aku tertawa..Masih kecil kok sudah mau kawin. Hal yang sama pun terjadi, aku mendengar kabar kalau anak kecil yang kumimpikan itu sudah meninggal akibat sakit yang dialaminya, dan tak lain adalah anak temanku.                Berikutnya lagi beberapa bulan kemudian sejak peristiwa itu aku bermimpi yang sama, dan terjadi kejadian yang sama, sepupuku yang kumimpikan meninggal karena dibunuh orang.                Tiga kali kejadian yang sama membuatku berpikir lebih dalam lagi dan aku menarik kesimpulan bahwa semua yang kumimpikan menggunakan gaun pengantin akan meninggal entah dengan cara apa saja, dan semuanya itu tak dapat kucegah, karena aku tak tahu mereka akan meninggal dengan cara apa dan aku sangat menyesali ini.     Sungguh aku menyesali semua ini dan tak ingin bermimpi ini lagi yang sangat membuatku takut..Sampai aku masuk perguruan tinggi aku sudah kadang bermimpi aneh seperti itu. Aku menceritakan hal ini pada sahabat-sahabatku dan  mereka begitu cepat merespon.                “Nina, kalo kamu mimpiin aku yang pake gaun pengantin tolong ya kasih tahu sama aku..Sekalipun kita sudah selesai kuliah kamu harus tetap ngabarin aku. Aku takut dengan ceritamu dan aku tahu apa yang kau lihat dalam mimpi itu akan menjadi kenyataan yang pahit..”Sahut Gaby dengan wajah takutnya.                “Iya, aku juga tak tahu mau menolak ini atau tidak, aku selalu takut akan hal ini tapi aku harus menjalani ini. “                “Iya Nin, aku juga ya,kalo mimpiin aku kasih tahu sama aku….”kata Iren menyela pembicaraan Nina                “Iya teman-teman aku akan mengabari kalian..tenang saja jangan terlalu panik begitu….”*************************                3 Bulan semenjak masuk Universitas aku sudah jarang bermimpi aneh, aku senang dengan keadaan ini. Tapi semuanya hanya sementara saja, aku mengakami hal itu lagi  di malam sehari sebelum Hari Ulang Tahunku.. dalam mimpiku, aku hadir dalam pesta pernikahan temanku Gaby. Gaby begitu cantik dengan balutan kebaya modern berwarna gading. Aku begitu senang dengan keadaan ini, terbawa dengan kesenangan sampai-sampai aku tidak berpikir lagi jika aku bermimpi seperti itu akan terjadi sesuatu. Dalam suasana senang itu aku sempat berbicara dengan temanku Gaby.                “Gab, selamat ya, cepat banget kamu nikah…kamu 1000 km dari kami..”                “Nggak Nin, aku bukan 1000 km dari kamu, tapi kita sama-sama 1000 km dari Iren dan Nana..”                “Ngaco kamu Gab, jangan bercanda..”                “Nin, kita kan bikin pesta berdua, masa lupa.. Kamu cantik banget dengan gaun pengantinmu itu. Modelnya Gothic  ya??keren Nin…Tapi Randy kok belum datang juga ya, acaranya khan sudah mau mulai..”                Aku begitu terkejut mendengar kata-kata Gaby. Yang benar aku nikah sama Randy barengan Gaby.?Aku memandang pakaikanku yang agak berbeda dengan Gaby. Seketika itu juga aku mulai mencoba menyadarkan diri dari tidur. Aku harus bangun, aku harus bangun…….dan aku terbangun pukul 03.00 dini hari memasuki hari yang baru dimana aku berumur 17 tahun. Aku memang yang paling muda diantara kami berempat tapi cukup lebih besar dari temanku Iren dan Nana.                Tak bisa kubayangkan bermimpi seperti itu dan dalam mimpiku aku dan Gaby berbalut gaun pengantin, siapa yang harus behati-hati dan siapa yang akan terlebih dulu dijemput ajal aku tidak tahu. Aku tidak mau baik aku atau Gaby yang mengalaminya, aku berharap ini hanya kesalahan dan tidak akan terjadi lagi, karena sudah lama berlalu sejak peristiwa kemarin dan ini bukanlah akhir dari segalanya. Aku percaya pada Tuhan dan ini tidak akan terjadi.                “Happy Birthday Nina,,selamat ulang tahun ya…”sahabat-sahabatku memberi pelukan padaku.                “Makasih ya ucapannya…”aku mencoba tersenyum pada mereka                “Terus traktirannya dimana nich..?”sahut Gaby                “Dimana saja terserah kalian,…”                “Ehmmmm,,,kalo begitu Chinesse Food aja ya…”sahut Iren,,,                “Ok….”Sahutku sambil berjalan bersama mereka menuju ke rumah makan Chinesse Food di pusat kota..Dalam perjalanan bersama mereka aku tetap mencoba tenang tidak mengingat –ingat kejadian dalam mimpiku..                “Nina, kok kamu diam saja, bicara hanya sebatasnya, ini khan hari ulangtahunmu…ceria donk Nina..”Gaby mencubiti pipiku”Atau jangan-jangan karena Randy nggak bisa datang ya??”                “Sebentar lagi dia datang, katanya masih ada mata kuliah. “                “Huh dasar Randy, lebih mentingin kuliah daripada pacarnya..”kata Iren sewot                “Nggak papa kok, lagian mata kuliahnya penting banget nggak boleh bolos..”sahutku membela Randy                “memang nih anak kalo dah cinta dibelain terus..khan baru jadian jadi benih-benih cinta semakin bersemi..”Kata Nana temanku yang dari tadi diam                “Ah biasa aja,…..”sahutku sambil senyum…                Satu jam kami makan dan ngobrol bareng, Randy pacarku tiba-tiba menelponku, dan menyuruhku keluar sebentar menuju ke jalan raya didepan, dari seberang aku sudah bisa melihatnya, dia memegang setangkai bunga mawar membawa kue tart dengan angka 17 diatasnya dan sekaligus membawa beberapa orang yang sedang memainkan gitar. Sungguh sesuatu yang indah dan romantic yang baru kurasakan sekarang. Aku tersenyum sendiri, teman-temanku yang melihatnya tersenyum manis…Randy melambaikan tangannya, aku mencoba berjalan menelusuri parkiran didepan rumah makan dan melintasi jalan yang ada didepan. Jalanan yang begitu ramai dengan kendaraan bermotor dan para pejalan kaki. Saat lampu merah menyala, aku pun langsung menyeberang jalan melewati zebra cross , tapi tak disangka dari arah kananku sebuah sepeda motor Kawasaki niinja dengan pengedara seorang cowok berpakaian hitam melaju kencang dan .AAAARRRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHHHH……..BRUKKKKKKKKK……Hidupku berakhir disini….THE END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CERPEN : KOMPUTER 13

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: raihani

Total cerpen di baca: 44

Total kata dlm cerpen: 1956

Tanggal cerpen diinput: Thu, 18 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 2:24 PM

0 Komentar cerpen

 

KOMPUTER 13Hujan lebat mengguyur bumi yang setelah seharian kering terbakar matahari siang, mulai menyejukkan bumi. Tidak terasa sudah 6 bulan aku tidak masuk kerja alias pengangguran. Tid it Tid it lamunanku buyar fikiranku sadar seketika dengar suara SMS yang masuk ke Mobile Phoneku. Ah fikirku ocehan apalagi yang akan aku dapatkan dari Ortuku.Kubuka pesan singkat itu tidak ada nama yang tertera disana cuma 0813245xxx siapakah gerangan. Ku baca SMS itu “ Silahkan hadir tanggal 21 Mei ke kantor kami untuk wawancara, maaf tahu informasi lowongan disini dari siapa”. Aku berfikir panjang dari siapa SMS itu aku tidak mengenalnya, ku buka memori lamaku untuk mengingat – ingat lamaran apa yang pernah aku kirim. Yeah ternyata aku mengingatnya ya aku pernah melamar di salah satu Sekolah Boarding yang cukup ternama.Dengan semangat aku bergegas untuk membalas SMS itu, “Saya mengerti ada lamaran itu dari temen saya Dini”, maaf pak sebelumnya berapa % yah saya diterima disana. Aku tidak tahu apakah terlalu PD atau tidak aku mengatakan itu karena fikirku aku harus PD untuk mengatakan itu karena jarak tempat Boarding itu dengan tempat tinggalku bukannya dekat beda propinsi. Ya sekolah Boarding itu berada di Banten.Tid it Tid it ada balasan SMS “ silahkan datang, Insya Allah kalau kita sudah mengkonfirmasi untuk wawancara maka sudah 80% diterima”.Dengan bergegas aku langsung memesan tiket untuk berangkat ke Banten, ah fikirku aku akan mendapatkan pengalaman baru lagi, wow that's fantastic aku bisa mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi.Aku berangkat menuju lokasi Boarding School, wow jauh sekali fikirku , sambil bertanya-tanya dengan penduduk sekitar aku memasuki angkot,“bang ini sampai ke Anyer nggak” tanyaku“ oh sampai neng, emangnya eneng mau kemana”.“ saya mau ke Boarding School bang”, jawabku“ oh Boarding School sekolah bagus itu ya” jawab si abang angkot “ mau ngapain kesana neng”“ mau wawancara bang” jawabku“yah udah ini si abang cuma sampai ke Anyer, nanti kalau sudah sampai di Anyer tinggal naik ojek aja jaraknya kurang lebih 10 kg, ojek-ojek disana sudah pada ngerti”“ ow iya bang,terima kasih”Tanpa terasa aku sudah sampai ke Anyer, wow pantai Anyer, belum pernah kulihat cuma denger lagu aja Antara Anyer dan Jakarta, Ah fikirku petualangan baru lagi nih, ah tanpa terasa ini sudah propinsi ke -4 aku kunjungi, Jambi, Jogja, Jakarta, eh sekarang Banten senyumku dalam hati.“mau, kemana neng” tukang ojek menawarkan“ mau, ke Boarding School mang”“ow iya neng, mari naik “sambil menghirup udara segar ,“masih jauh ya mang” tanyaku“ya lumayan neng 10 kg jaraknya” si tukang ojek menjawabSambil memperhatikan lingkungan sekitar aku bertanya“kok gak ada rumah-rumah penduduk ya mang”tukang ojek “ Iya neng, lokasinya memang jauh dari rumah penduduk”“berarti sepi dong mang” tanyaku penasarantukang ojek : “iya, ini sekolah memang dibangun untuk sekolah asrama berbasis lingkungan”wow keren fikirku semakin penasaran.Akhirnya setelah perjalanan panjang aku sampai di sekolah Boarding School ini.“ ini mang aongkosnya” aku memberikan uang lembaran Rp.20.000,-si tukang ojek mengembalikan uang Rp. 10.000,-“ ini neng kembaliannya”Wow fantastic fikirku sekolah yang sangat asri luas sekali dengan pemandangan yang sangat indah, belum pernah aku melihat sekolah seindah ini, bener-bener seperti “Istana didalam hutan”.Tid it tid it hpku berbunyi ow ada sms0813245xxx : “bu sudah sampai dimana”“saya baru sampai disekolah pak ini saya berada dipintu gerbang, ow iya dengan bapak siapa ya ini” balasku0813245xxx : “ nanti langsung aja kekantor yayasan, bertemu dengan pak Yusuf”aku langsung menuju ke satpam“permisi pak, maaf pak saya mau bertemu pak Yusuf diyayasan”satpam “ oh, iya silahkan bu, lurus aja lalu ada pertigaan belok kanan”Sampailah aku ditempat yayasan dengan mempersilahkan aku duduk dan sambil wawancara dengan cukup santai . Pak Yusuf memulai pembicaraan.Pak Yusuf : “ Sebelumnya ibu Rahma sudah pernah mengajar”“ belum pak, ini pengalaman pertama saya” dengan jujur aku menjawabPak Yusuf : “ ibu yakin bisa mengajar disini dengan kondisi lingkungan yang jauh dari perkotaan”“InsyaAllah pak” balaskuPak Yusuf : “baik, bu silahkan langsung menuju lokasi lab komputer, kita coba microteaching”Pak Yusuf memanggil Pak, Edi“Pak Edi ini calon guru komputer baru kita , tolong diantar ke Lab komputer untuk microteaching”pak Edi : “baik pak”Kita menuju lab komputer ,P.edi mengetuk pintu “ permisi pak Zhar, ini ada calon guru komputer baru”pak zhar: “ ow iya , silahkan bu” beginilah kondisi lab kita buw silahkan”terdengar suara anak-anak remaja SMP riuh “hore guru baru ya pak, ya ini dia guru perempuan, kita butuh guru perempuan”.Satu bulan kemudian aku hadir disini untuk menjadi pengajar komputer SMP & SMA khusus wanita, karena di boarding ini antara putra dan putri dipisah semuanya. Aku memasuki ruangan Lab, ya sepi, karena tidak ada pelajaran hari ini. Selain sebagai pengajar aku juga di tugaskan untuk menjadi Coordinator Lab disini. Ya sungguh luar biasa technologi yang dipakai sudah cukup up to date, karena sekolah ini jauh dari perkotaan . Sumber belajar disini menggunakan Teknologi internet untuk mencari bahan pelajaran maupun tugas untuk anak-anak.Aku menyalakan komputer server tit tombol power suply aku tekan, dengan menggunakan software open source menjadi membuatku salut begitu up todatenya sekolah ini, untuk tahun 2005 ini masih sedikit yang menggunakan Sofware Open Source apalagi dilingkungan pendidikan.Ku buka aplikasi browser Firefox seperti biasa ku mencoba internetnya apakah online dengan mengetik “www.gogle.com” browser loading dan seketika tampilan google muncul dihadapanku.Sambil berinternetan aku mencoba semua fasilitas yang ada di lab komputer itu, ku nyalakan 3 komputer siswa sambil aku kendalikan didepan kmputer server, ternyata aku bisa mengendalikan komputer siswa dari depan, semua sudah terhubung dengan jaringan, jadi kalaw mereka membuka macem-macem kita bisa langsung peringatkan dan menghandlenya langsung tanpa ke komputer siswa. Setelah 30 menit aku mencoba semua fasilitas dan software aku mulai mematikan komputer siswa dari komputer server kemudian ku buka komp 1. ku klik sistem --> shut down dengan , dengan seketika komputer 1 itu mati begitu juga komputer kedua dan ketiganya.Setelah ku matikan beberapa sat kemudian tiba-tiba ada bunyi tit dikomputer siswa seolah-olah ada yang menekan tombol powernya, ku memperhatikan dari server depan ya ternyata ada komputer yang nyala komputer 13, aku berfikir panjang, padahal aku tidak menekan tombolnya secara logika memang tidak mungkin karena untuk menyalakan komputer itu harus menekan tombol power, secanggih apapun software hanya bisa mengendalikan disaat komputer menyala.Aku mencoba untuk mematikan komputer 13 itu dari server ku buka komputer 13 laluku klik sistem--> shut down beberapa saat komputernya mati seketika tetapi kemudian terdengar suara tid lagi seperti ada yang menekan tombol powernya. Fikirku mungkin ada yang rusak di CPU komputer 13 ini sehingga komputer merestart sendiri, tanpa berfikir panjang aku menuju kekomputer 13 lalu dengan seksama kumatikan komputer 13 itu. Kutunggu beberapa saat ya komputer itu tidak menyala. Ya aku berfikir memang ada yang eror kali.Ku tutup jendela dan mengunci pitu lab dengan gembok, ya karena tidak ada jam hari ini.Pagi ini jam 9 aku akan mengajar anak-anak kelas VIII, aku menuju Lab komputer kubuka pintu dan gembok lalu aku menyalakan lampu. Tanpa berfikir panjang aku menuju komputer server. Aku menyediakan RPP untuk materi pembelajaran hari ini, Kali ini aku tidak menyalakan komputer terlebih dahulu aku berfikir biar anak-anak yang menyalakan sendiri .Siswa kelas VIII memasuki ruangan labkom, “ pagi bu”, sapa para siswa denganku“pagi jawabku”, ya setelah menduduki tempat masing-masing , aku melihat ada 1 komputer yang kosong tidak diduduki ya komputer 13, aku melihat ada 2 siswa yang berbarengan aku menegurnya“ Sin, ayo pindah kekomputer yang kosong biar masing-masing dapat 1 komputer”,sinta : “ gak bu, biar kita disini saja berdua”“kenapa” tanyaku “ gak ada apa-apa bu” jawabnya“apa rusak ya” tanyaku dengan serempak siswa menjawab iya bu tetapi komputer itu dalam keadaan menyala “apa ada yang menyalakan komputer ini sebelumnya”? Tanyaku“tidak bu” jawab salah satu siswa “ kan kita baru datang”, siapa yang menyalakan komputer itu tanyaku dalam hati.Aku melanjuti materi yang telah kujelaskan kemaren Ya persamaan logika, Microsoft Excel.Siswa sangat mudah sekali menangkap apa yang telah kuterangkan.Pelajaran usai seperti biasa sebelum meninggalkan lab aku memerintahkan kepada anak-anak untuk mematikan komputernya terlebih dahulu termasuk komputer 13. Semua komputer telah dimatikan, aku mengecek semua komputer telah dalam keadaan turn off. Ya sudah kupastikan semua dalam keadaan mati , ku ambil kunci kututup pintu lab dengan gembok beberapa langkah kemudian aku teringat dengan hpku ya, hpku ketinggalan dilab, kubuka kembali labkom aku menuju meja untuk mengambil hpku, setelah itu dari kejauhan aku melihat cahaya yang menyala dikomputer sepertinya ada komputer yang menyala aku menuju kekomputer belakang ya, ya ada komputer yang menyala komputer 13 , aku mulai berfikir sepertinya tadi sudah kumatikan semua komputer itu.Keesokan hari aku melapor kepada teknisi komputer supaya diperbaiki komputer 13 itu“ pak Edi, sepertinya ada yang rusak 1 komputer dilab pak”pak edi : “komputer yang mana bu”“komputer 13” jawabkupak edi : “kemaren sudah saya perbaiki kok bu”“tapi sering nyala sendiri pak, seperti ngerestart , mungkin virus kali pak, tolong diinstal ulang ya pak““ow , iya bu, nanti saya install ulang” jawabnyaMalam pukul 11.00 WIB, aku tidak bisa tidur aku menuju ruang tamu di asrama ada komputer online disana, aku menuju kekomputer itu. Aku berinternetan sambil chating dengan sahabat-sahabatku. Tiba-tiba P.edi menyapaku dari messenggeredi_78 : malam-malam ol burah_manies : iya pak lagi suntuk, jadinya pengen ngenetedi_78 : komputer 13 tadi sudah saya install bu sudah bisa digunakan sekarangrah_manies : ow, iya pak terima kasihedi_78 : bu rahma, anak-anak apa masih ada dilab jam seginirah_manies : ya, nggak lah pak, batas waktunya cuma jam 8.30 pak , kebetulan tadi nggak ada yang pakai lab habis maghrib ini.Edi_78 : ow gitu ya bu, tapi kok saya cek ada komputer yang nyala ya, coba ibu cekkemudian aku membuka program run : command prompt entershow computer enteraku melihat semua komputer dalam keadaan mati , ya cuma komputer 13 yang aktif.rah_manies : ow iya , ya pak, aktif, apa anak-anak lupa mematikannya ya, jawabkuEdi_78 : tadi saya fikir, ibu yang dilab, karena tadi saya bilang halo dibalas halorah_manies : terus siapa ya pakEdi_78 : udah jam 12 bu masak mau ngecek ke lab, udah bu istirahat aja kita lihat saja besok pagi.Keesokan hari aku menuju ke lab rasa penasaran dan rasa takut mucul dihatiku , tiba tiba ketika aku sudah berada di depan pintu lab ada siswa menghampiriku, “bu mau kelab ya ikut dong”, sapanya “iya jawabku, loh baru jam 6 sudah rapi, apa sudah sarapan” . “sudah bu” katanya kok kamu sendirian, “ iya bu, soalnya lagi ada PR, jadinya aku mau nyari diinternet dulu bu” balasnya“ok ayo masuk” sambil kumembuka pintu lab.Nama kamu siapa, kok ibu belum pernah lihat ya, “wah, saya Laras bu, kelas IX, ibu guru baru ya, saya kemaren memang nggak masuk karena sakit” . Laras menuju komputer siswa ya yang dipilihnya komputer 13, ya komputer yang selalu menyala itu.Aku penasaran selama ini tidak ada yang mau menggunakan komputer itu, aku langsung bertanya“Laras kenapa nggak dikomputer depan aja”“ oh ini komputer faforitku bu, karena loadingnya cepet”“oh, gitu ya” jawabkuWah sudah pukul 06.20, “Laras kamu nggak ikut apel, sebentar lagi mau apel pagi” tanyaku“iya bu sebentar”. “Kalau gitu ibu tinggal sebentar ya, ibu mau kebelakang”. Tanpa terasa aku langsung menuju lapangan untuk mengikuti apel rutin sebelum masuk.Apel sudah bubar, aku langsung teringat sebelum ikut apel aku menyalakan komputer, aku langsung menuju Lab. Ya aku tidak bertemu dengan Laras, fikirku dia sudah masuk kekelas untuk mengikuti pelajaran. Semua Komputer dalam keadaan mati, Sudah pukul 09.30 saatnya siswa kelas IX yang masuk pelajaran komputer. Aku memperhatikan siswa -siswaku, ada yang kurang sepertinya, iya Laras tadi pagi yang masuk lab bersamaku dia bilang kelas IX.Aku segera mengambil absen, “siapa yang tidak hadir”, tanyaku “nihil bu,jawab para siswa”, “kok nihil temen mu Laras mana “ tanyaku penasaran”, “ nggak ada bu temen kita yang namanya Laras”, “masak sih” jawabku “tadi pagi barusan aja dia ke lab bareng ibu katanya kelas IX” “ ya kalau ibu nggak percaya lihat aja absen kita nggak ada yang namanya Laras” aku semakin penasaran. Pelajaran selesai, masih saja penasaran itu menghantuiku komputer sudah kumatikan semua, aku teringat komputer 13 tadi bisa dimatiin Laras, bener-bener mati sewaktu aku masuk tadi. Ku tutup semua komputer dan jendela ketika aku mau menggembok pintu lab terdengar suara Tiiiid Tiiid suara komputer baru dinyalakan terdengar lagi.

 

 

 

 

CERPEN : Kemalaman

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: qeong

Total cerpen di baca: 163

Total kata dlm cerpen: 1805

Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 3:19 AM

0 Komentar cerpen

 

KEMALAMAN Kulambaikan tangan. Bus itu menyalakan lampu kirinya yang berwarna merah, dan berhenti di depanku. Sedangkan suara iqomah dari mushalla yang telat masih mempercantik udara yang kian kelam menghitam. Jingga mega sore kian lenyap dari atap Bumi. Hari mulai malam dan aku naik tangga bus satu-persatu.Sepi, sepi sekali. Hanya ada suara angin yang terbelah, mesin bus, kaca jendela yang kocak dan rengekan anak kecil yang tak lagi betah duduk di pangkuan ibunya dalam bus pengap ini.Bus itu berhenti di terhminal selanjutnya dan menaikkan seorang penumpang wanita yang memilih duduk di sampingku. Lalu senyap kembali. Kernet yang tadinya berkoar-koar mencari penumpang-pun diam terduduk lesu. Ini malam dan malam adalah capek. Suasana seperti ini memberi hanya tiga kegiatan yang bisa kita pilih, tidur, menggerutu dan mengenang. Dan aku terpancing pada kail yang terakhir.Tadi beberapa kawan MTS berkumpul di rumah Nisa. Dan karena begitu indah, aku lupa waktu dan kemalaman. Yang termasuk point terpenting tadi sore adalah, bahwa rumah nisa dekat dengan rumah yang dulu kami sekeluarga pernah ngontrak disitu. Ketika keluargaku utuh dan bersemayam dengan damai dirumah itu. Yang harus kupikirkan saat itu hanyalah belajar dan belajar, bukan uang bulanan yang hampir habis pada tanggal dua puluh atau hutang pada teman yang belum lunas walau sudah dicicil selama tiga bulan. Ku pandangi bekas rumah kami itu sepuas hatiku merasa. Rumah itu adalah salah satu fase pertumbuhanku. Berbeda memang dulu dan kini. Segalanya telah mengalami pergantian waktu.Perbedaan atau pergantian waktu ternyata tidak hanya berdampak pada kata telah, belum, sekarang, sesudah itu, dua hari yang lalu atau keterangan waktu yang lain, tetapi juga berdampak pada kata-kata sifat yang lain yang bukan keterangan waktu, seperti sedih, bahagia, gila, sehat. Untuk skala lebih luas lagi, ternyata kata waktu masih sangat mempengaruhi semua kata, baik kata benda, maupun kata kerja. Misalnya saja sebuah benda yang dikatakan sebagai “Almari”, setelah mengalami pergantian waktu sekian tahun akan berubah, orang akan mengatakannya sebagai “Kayu bakar”. Atau yang lebih instant saja, sebuah benda akan disebut “Bangkai” setelah tiga detik sebelumnya orang mengatakan “Ayam keracunan”. Lebih jauh, ternyata ini tidak hanya mengenai nama-nama dan kata-kata, ternyata pergantian waktu juga berdampak pada seluruh benda dalam Alam Raya ini, apapun. Juga benda-benda yang tak bernama, tak dikata. Jadi, pantaslah kiranya ALLAH, dalam Kitab sucinya, berjanji atas nama Waktu.Pergantian waktu-lah yang berhasil mengubah marahnya Ayah dan omelan Ibu yang dulu terasa panas di telinga menjadi tatah yang kini mengukir senyumku. Kepahitan-kepahitan yang sekarang-pun akan menjadi kenangan indah besok-besok. Itulah, kenapa, kesedihan apapun yang terjadi kini, tak kan mampu membuatku putus asa. Dan untuk kesabaran itu, sekarang aku mengenang.Di pemberhentian selanjutnya kawan dudukku mulai angkat bicara.-         “ di kota sekolah?? ”, ucapnya sambil menolehku. Hancur deh acara kenang-mengenangku. Kujawab saja, tak terbayangkan jika aku tetap bergeming dan tak menggubrisnya.-         “ iya “ sambil kukeluarkan senyum tipis. Senyum tipis, kayak apa??...-         “ sekolah dimana ”. dewasa sekali kelihatannya.-         “ SMK Negeri, kamu?? ”. Maksudku “kamu masih sekolah apa sudah kerja?”. Tapi jawabannya langsung,-         “ MAN “.-         “ O..ooo.. “.-         “ kamu namanya siapa?? “ tanyanya lagi.-         “ udi “.-         “ kamu kelas berapa? “.-         “ dua “.-         “ jurusan?? “.-         “ TI-TKJ “.-         “ seragam identitas sekolah kamu apa?”.-         “ beda jurusan beda warna “.-         “ jurusanmu?? “. Eh, anak ini, kalau tanya kok bisa tanpa rem begitu?. – kurasa memang aku yang belum siap dan belum terbiasa dengan keadaan seperti ini, menghadapi perempuan yang tadinya terlihat anggun dan jual mahal yang tiba-tiba akrab dan berubah jadi anak kecil yang rame. Memang aku yang tak begitu paham tentang bagaimana seorang wanita menjaga kesan pertama. Memang aku yang kuper ini yang tidak ahli dalam komunikasi sosial dalam suasana yang demikian. Memang aku yang salah-.-           seragam jurusanku warna atasannya kuning, bawahannya hijau. Kamu kelas berapa?? ”. Inilah pertanyaan pertama dari program balas dendamku.-         “ satu “, hoo  Ooo… ternyata masih kelas satu.-         “ nge-kos? “.-         “ di rumah kakak “.-         “ rumahmu di mana?? “.-         “ Gambiran “.-         “ kok nggak ngambil man yang di Genteng aja, kan lebih deket??”.-         “ yang di Banyuwangi kan malahan di sampingnya rumah mbak-ku “.-         “ danemnya brapa? “.-         “ dua tiga-tiga mapel “.-         “ lulusan mana? “.-         “ MTs Cluring, udah ah, kamu nanya banyak amat… .  “. Eh nggak ngerasa dia kalau aku ini balas dendam.-         “ kok nggak nanya namaku ??”. HAH!!!.. ..  oko..  oke.. aku Tanyain deh….-         “ emang nama kamu siapa? “.-         “ intan, nih buktinya, ini identitasku “, sambil dipamerkannya sebuah gelang bertuliskan namanya. “Intan”. Emang siapa peduli dia bohong atau tidak. Kalaupun nama aslinya “ MURSID “ aku tak akan menuntutnya. Anak aneh.Sebenarnya kali ini aku lagi-lah yang keliru. Aku masih terkungkung dalam alamku sendiri, belajar dan belajar. Tak tahu bahwa seharusnya aku mulai lebih melebarkan jendela mataku untuk melihat Dunia, bahwa aku harus segera berlatih untuk berinteraksi, bukan hanya dengan keluarga dan saudara, tetapi juga pada kawan dan lawan di manapun aku berada. Begitulah, aku samasekali tak peduli akan kawan dudukku dan tak berharap untuk tahu dan menghafal namanya, karena aku merasa kami tak akan bertemu lagi, tak harus berbasa-basi sebagai wujud interaksi sosial lagi, singkatnya aku tak akan berurusan dengannya lagi setelah kami turun dari Bus itu, ciri khas otak yang berpandangan pendek. Kenapa aku begitu, adalah karena keluargaku telah memberikan semua kebutuhan jasmani dan ruhaniku, membuatku merasa tidak butuh pada yang lain.Sampai bus itu mulai meninggalkan Srono, dia berkata lagi, “ nanti kalau hampir sampai di Saweri Gading dekat patung kuda, tolong kasih tahu aku ya.., aku dijemput mbakku di situ. Aku nggak pernah naik bus sendiri seperti ini, jadi nggak tahu”. Oh!, jadi gitu, aku iyakan saja. Yang aku bingungkan adalah sikap pertama dia duduk di sini tadi lho… . , seperti orang yang sudah bekerja, dewasa dan tenang sekali. Ternyata masih kelas satu, ternyata masih pemula dasar naik bus sendiri. Ah!, wanita, jika seorang wanita terus saja dimata-matai, kadang dia akan terlihat kuat dan tak butuh siapapun, terkadang mewek memanja, kadang rela menyerahkan apa saja, kadang begitu tenang dan kadang begitu bernafsu. Ketidak tegasan seperti inilah yang membuatku –yang kadang sebagai ketua kelas- selalu bingung berinteraksi dengan mereka, bingung menghadapi mahluk terindah.- “ eh, daerah Kabat itu mana yah?“. Dia Tanya.- “ Kabat itu sesudah Rogojampi“.- “ ini sudah Rogojampi??“.- “ belum, sebentar lagi”.- “ soalnya, katanya, kami mau kemah di daerah Kabat itu”.- “ O..oo…. “.Kemah, teringat waktu masih MTs dulu, kami kemah di air terjun Lider. Dari perkemahan yang berada di kawasan kampung menuju air terjun yang dimaksud adalah kawasan kebun kopi yang sangat luas, dan kami harus melintasinya dengan berjalan kaki. Membuat kaki kami serasa memar dipukuli godam. Panas matahari menjilati kepala membuat kami terlihat lusuh dan kacau. Sudah begitu, kakak-kakak Pembina masih juga tega menyuruh kami mencari semut laki-laki, tes morse dan baris-berbaris. Lebih-lebih ketika sampai di pos terakhir, kami langsung disuguhi hutan di bawah sana. Tidak hanya curam, tapi juga licin. Jurang asli, dan kami harus turun masuk hutan itu. Jalan terjal khas jurang, berbatu, basah, tak tentu alurnya, tak tentu bentuknya. Tak ayal siswi-siswi menangis karena sukarnya. Mereka terpeleset-peleset mengikuti alur, tersaruk-saruk takut ketinggalan. Belum lagi teriakan beberapa anak laki-laki barisan depan yang sok berani langsung menceburkan kaki ke air, karena beberapa lintah langsung memeluk kaki-kaki itu erat-erat. Semua anak serasa tak mampu menanggungkan beban seberat ini. Di mana-mana terdengar rintihan, keluh-kesah, tangisan, gerutu, umpatan, teriakan dan do’a. Lebih parah lagi, ada Pembina yang, dalam keadaan seperti itu, segenting itu, sehancur itu, pacaran. Entahlah, saat itu suasana sungguh kacau. Sebagai kami tak akan bisa pulang ke rumah lagi.Sampai di Sawerigading, gadis teman dudukku turun. Aku turun di terminal Karang Ente, Naik Lin nomor 8, Turun di kawasan Cungking dan siap mengikuti rutinitas seorang pelajar untuk esok harinya. Selamat tinggal kenangan, aku harus mengejar masa depan yang beberapa tahun lagi akan menjadi kenangan juga seperti kamu. Sampai jumpa, selalu ada-lah untukku dan selalu hadir-lah jika kupanggil. Ku buka pintu rumah Kos-ku.                                               

 

 

 

 

CERPEN : Guru kehidupan

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: Ricky Luck

Total cerpen di baca: 432

Total kata dlm cerpen: 189

Tanggal cerpen diinput: Mon, 15 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 3:19 AM

0 Komentar cerpen

 

 

ketika orang normal melangkah, sibuntung melompat dua kali untuk jarak yang sama.

orang normal tak lupa dan malah melambaikan tangan dengan sendirinya.

sibuntung hanya ingat mengencangkan otot perut saja dia tidak ingat kebiasaan orang normal.

 

ketika orang normal melihat, dia bisa berlari dan tanpa takut dia melompati batu-batu dan menunduk ketika ranting melintang. Sedang sibuta dia memfokuskan telinga, kulit, tongkat dan penciumannya hanya untuk satu langkah.

 

Tapi ketika finish terlewati, si buntung memperoleh keteguhan hati, perut yang indah, dan keseimbangan yang terpakai oleh tuhan untuk menjadi guru ketangkasan. Si buta mempunyai filsafat, indera selain mata yang lebih kuat, dan kesabaran yang terpakai oleh tuhan untuk mengajar arti hidup ini. Si normal tidak mendapat apapun walau dia sampai lebih dahulu.

 

Lalu orang normal berkata, kenapa tuhan aku tidak menjadi pemenang walau aku tiba lebih dahulu, setidaknya angkat aku jadi guru.

 

Tuhan pun tersenyum dan berkata

"Bukankah kau menang? buktinya piala ada ditanganmu."

"Tapi kenapa aku kosong dan tidak merasa senang?"

Sekarang tuhan tertawa dan berkata

"Karena pialamu tidak bisa dimakan."

 

 

CERPEN : Life is Beautiful

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: raihani

Total cerpen di baca: 531

Total kata dlm cerpen: 2466

Tanggal cerpen diinput: Sun, 14 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 9:15 AM

5 Komentar cerpen

 

LIFE IS BEAUTIFUL

 

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kapasitas kemampuan orang tersebut.”

 

 

Itulah ayat yang paling sering aku baca didalam sholatku semenjak aku memahami artinya dan mendapatkan ujian dari Allah.

 

 

 

Setiap orang pasti mendapatkan nikmat dari Allah karena Allahlah yang maha pemberi nikmat. Nikmat yang Allah berikan kepada tiap orang berbeda ada nikmat kebahagian maupun nikmat ujian yang mana jikalau kita memetik hikmahnya begitu luar biasa. Seperti pengalaman saya selama beberapa tahun ini.

 

 

“ Mandiri”, mungkin aku bisa dikategorikan anak yang mandiri karena semenjak aku kecil aku sudah terbiasa melakukan pekerjaanku sendiri, seperti mempersiapkan keperluan sekolah, menyapu rumah, mencuci piring dan bahkan tugas sekolahku akulah yang mengerjakannya sendiri tanpa bantuan dari kedua orang tuaku. Aku mempunyai keluarga yang besar mungkin karena jumlah saudaraku yang banyak membuat orangtuaku mempunyai waktu sedikit untuk memperhatikan aku.

 

“Ujian”, aku merasakan didalam beberapa tahun ini keluargaku sering mendapatkan ujian. Aku merasakan ujian yang teramat berat adalah semenjak aku duduk dibangku SMA.

 

Ceritanya seperti ini kondisi ayahku sudah lama tidak sehat, mungkin secara kasat mata dari tampilan fisik abak (sebutan untuk ayah ) adalah sosok yang mempunyai badan sehat, karena fostur tubuh abak yang besar, tegap dan tinggi, mungkin karena fostur tubuh yang seperti itulah yang tidak pernah orang lain bayangkan bahwa abak sesungguhnya mempunyai sakit yang amat berat. Abak mendapat penyakit sudah begitu lama semenjak tahun 1985. Secara medis penyakit abak tidak bisa diprediksikan karena hasil dari tes kesehatan menyatakan semuanya normal tetapi secara fisik abak mendapatkan penyakit kulit yang sangat mempengaruhi kesehatannya, abak sering meriang, panas, demam dan gatal-gatal.

 

Abak sudah sering melakukan pengobatan baik secara medis maupun non medis tapi selama ini hasilnya tidak begitu signifikan bahkan semakin memburuk. Akhirnya pada tahun 1998 abak memutuskan untuk melakukan pengobatan secara serius di tanah kelahirannya di Sumatera Barat.

 

Bulan Juni 1998 abak berangkat ke Sumatera Barat bersama emak untuk menemani abak selama melakukan pengobatan. Jadi tinggal aku dan abang, kakak dan keponakanku yang tinggal di Kepulauan Riau.

 

Pada awal bulan petama kami mendapat kabar kalau abak sedang melakukan pengobatan dan terapi khusus dan kondisi abak mulai membaik. Selama abak dan emak di Sumatera Barat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari abak mengamanahkan kepada kakak yang no 4, karena beliaulah yang belum menikah dan lebih mapan dalam mengendalikan usaha. Beliau berdagang pakaian anak-anak di pasar.

 

Tetapi dagangan kakak tidak begitu laris akhir-akhir ini, terkadang hanya laku dua atau tiga helai baju dan bahkan pernah tidak laris sama sekali.

 

Tiga Bulan setelah abak melakukan pengobatan kami mendengar keadaan abak semakin memburuk, walaupun aku tidak ikut berkumpul ketika rapat keluarga, karena aku yang paling bungsu, tetapi aku mendengar bahwa keadaan abak semakin parah hanya terbaring lemah tidak berdaya sehingga tetangga dan keluarga yang ada di Sumatera Barat memprediksikan kalau umur abak tinggal menghitung hari. Aku menangis pasrah ketika mendengar berita tersebut aku hanya berdoa kepada Allah, agar Allah tidak mengambil abak dulu karena kami sekeluarga masih belum siap kehilangan abak. Tetapi aku yakin Allahlah, yang menetapkan umur bagi hamba-Nya, Allah tidak akan mempercepat ataupun menunda ajal apabila sudah sampai waktunya.

 

Tiga hari setelah itu aku yang bersama kakak, abang dan keponakanku masih dalam keadaan kesedihan berharap agar abak segera disembuhkan.

 

Senin ditahun 1998 hujan begitu deras dan petir yang sangat keras. Aku yang ditugaskan untuk memasak untuk keluarga semenjak keberangkatan abak dan emak, setiap hari aku memasak untuk pagi dan petang. Di senja itu setelah hujan reda sekitar pukul 17:30 sore aku menuju ke dapur untuk menyediakan makan malam, tapi setelah keluar dari dapur menuju ke ruang tengah terdengar suara yang begitu dahsyat seperti gempa. Subhanallah aku tidak mengira ternyata suara itu berasal dari rumahku sendiri dari dapurku ternyata dapurku ambruk, dan itu terjadi beberapa menit mungkin sekitar dua menit setelah aku keluar dari dapur. Masyarakat sekitar dan para tetangga pada berdatangan kerumahku. Melihat keadaan dapur rumah yang ambruk dan beberapa dinding dan perabotan rumah retak dan pecah.

 

Di satu sisi aku bersujud syukur kepada Allah karena aku tidak tertimpa batu-batuan, karena pada waktu itu aku berada disana dimana ada satu batu besar tepat dibelakangku, disatu sisi Allah telah memberi cobaan pada keluarga kami. Banyak perabotan rumah khususnya perabotan dapur seperti kompor, piring dan sebagainya pecah dan remuk karena tertimpa batu-batuan.

 

Dua hari setelah kejadian tersebut, kakaku yang diamanahkan abak untuk membiayai kami selama kepergian abak terbaring lemah tidak berdaya ditempat tidur. Ternyata kakaku sakit, kami tidak tahu harus berbuat apa, setelah diperiksa oleh mantri ternyata kakak sakit demam berdarah dan harus dibawa ke rumah sakit segera. Kami semakin bingung kami harus mendapatkan uang dari mana sedangkan keadaan kami seperti ini dan tidak ada orang tua. Tapi aku masih bersyukur ternyata di balik ujian itu Allah memberi jalan keluar pada kami dan beberapa bulan kemudian kami mendengar kabar kalau keadaan abak sudah membaik dan akan segera pulang ke Tanjung Pinang.

 

Tahun 2000 keadaan keluarga semakin membaik, ekonomi keluarga mulai stabil dan tahun 2001 aku memutuskan untuk kuliah ke Jogja dan Allhamdulillah abak dan keluarga mengizinkan walaupun emak merasa berat untuk melepaskan putri bungsunya sendirian di Jogja karena tidak ada sanak famili kami di Jogja.

 

Tahun 2001, aku berangkat ke Jogja, aku sangat bersyukur pada Allah karena telah memberi kemudahan aku dalam kuliah.

 

Tahun 2002 liburan semester aku pulang ke kampung halaman Tanjung Pinang. Aku mempunyai kesempatan pulang dikala liburan semester, kebahagian ada di pelupuk mataku rindu akan kampung halaman dan terutama pada keluarga. Aku akan memberikan kejutan pada keluargaku kalau aku sudah pulang, di hatiku pasti mereka akan “surprise” dan memelukku karena kerinduan setelah satu tahun tidak bersua. Tapi ketika aku pulang didalam perjalanan menuju kerumah sopir yang mengangkutku bercerita kalau tadi malam telah terjadi kebakaran di pasar. Aku hanya mengira kalau yang terbakar hanya bagian utara pasar. Setelah aku sampai di rumah tidak ada seorangpun yang menyambutku. Abak, emak dan abang dan kakak sedang berkumpul tapi tidak menampilkan ekspresi hanya terdengar suara “baru nyampai ya” dari kakakku. Setelah aku mencium tangan abak dan emak, emak mengeluarkan suara “baa caronyo malanjuikan kuliah nak, lah abih sadonyo tabaka” sambil menitikkan air mata. Ternyata yang kebakaran adalah daerah pasar tempat mata pencaharian keluarga kami.

 

Aku terdiam Maha suci Allah, “Allah maha berkehendak dan maha mengetahui” tetapi Allhamdulillah Allah masih memberi kemudahan bagiku karena aku masih bisa melanjutkan kuliahku.

 

Tahun 2003 aku sudah menginjak semester empat. Di liburan semester ini aku berencana untuk tidak pulang selain mengirit ongkos dan aku mau konsentrasi ke Tugas Akhir. Tapi aku mendengar kabar bahwa kakaku yang no tiga sedang sakit parah.

 

Kakak sakit paru-paru, keadaannya sangkat kurus dan lemah sekali, orang yang menjenguk kakak pada menitikan air mata. Tinggal kulit yang membaluti tulang kakak. Hampir dua tahun aku tidak bertemu dengannya, karena tepat pada tahun keberangkatanku ke Jogja, kakaku ini pindah ke Sumatera Utara mengikuti suaminya.

 

Tanggal 25 Mei 2003 pukul 18:30 WIB seperti biasa setiap satu pekan sekali aku mengisi kajian buat remaja putri di kostku. Pada malam itu sewaktu aku mengisi kajian ada panggilan dari teteh (sebutan buat mbak kost).

 

“kamu punya saudara yang namanya Yuli”

 

“punya teeh kenapa?”

 

“kamu disuruh baca yasin buat kakakmu Yuli, sms dari keluargamu”

 

aku terdiam, didalam benakku ada apa gerangan, tetapi untunglah pada malam itu anak – anak sedang kumpul di tempatku dan aku meminta kepada mereka untuk membacakan yasin bersama-sama. Tanpa terasa air mataku menitik.

 

Tanggal 26 Mei 2003 pukul 07:00 teteh langsung buru-buru menuju kekamarku “Rit, ada sms dari keluargamu, tapi teteh harap sabar ya, kakakmu sudah pergi “. Semalaman aku tidak bisa tidur, aku mengenang masa-masa bersama kakaku sosok yang lembut, ramah dan paling suka ngajak aku makan soto dan bakso, tapi aku merasa takut, ketika aku disuruh membaca yasin aku berfikir surat yasin digunakan untuk memudahkan orang dalam sakaratul maut. Apakah kakaku dala keadaan sekarat. Aku hanya bisa berdoa, dan ternyata aku mendapatkan jawaban pagi ini.

 

Tetes air mata membasahi pipiku tak tertahankan, aku lupa, aku masih ada harapan untuk bertemu dengan kakaku untuk terakhir kalinya, aku langsung menuju ke bandara untuk membeli tiket, tapi didalam perjalanan aku melihat ada kecelakaan lalu lintas, dan membuatku semakin lemas. Setiba dibandara tidak ada tiket yang menuju ke batam, alasannya sudah dibooking, walaupun aku sudah memberikan alasan kepada sipenjual tiket. Tapi mereka masih tetap bersikeras mengatakan sudah full. Akhirnya pupuslah harapanku untuk melihat kakaku untuk terakhir kali, aku hanya mengingat sekitar dua tahun lalu, ketika aku pamit ke Jogja. Tapi aku masih bersyukur kepada Mu ya Allah karena aku masih bisa mengunjungi “penginapan terakhirnya”.

Blog Entry

Bidadari Syurga Dunia

Feb 5, '06 9:47 PM
for everyone


 Bidadari Syurga dunia...
Ada senyum yang terukir indah dimuka..
Ada bias rona merah di wajah..
Memantulkan warna hati si jiwa Syurga

Bidadari Syurga dunia..
Wajah yang senantiasa putih dan menawan
Berhiaskan air wudlu yang terpancar..
Menambah pesona hiasan mata..

Bidadari Syurga dunia..
Yang senyumnya selalu merekah..
Yang parasnya mempesona..
Yang hatinya selembut sutra..

Bidadari Syurga dunia..
Jadi dambaan setiap wanita..
Impian diri wanita sholehah
Qonitat dan berhati bunga..

Bidadari Syurga di hati luka..
Yang pucatkan muka si durjana
Yang tepiskan angan dunia..
Yang hatinya bagaikan kaca..

Bidadari Syurga di hati dunia..
Yang siangnya bagaikan singa di rimba
Yang malamnya bagai sufi perindu
Syurga Zuhud selendang pengikatnya..

Bidadari Syurga dunia..
Dimana pun berada kau tetap setia
Pada Allah, Rasul dan juga Dien-Nya..
Kemana lagi kan kucari Bidadari Syurga Dunia..
Di arusnya dunia merana..
Sentuhanmu bangkitkan rasa..
Hingga syahid ku jumpa di pintu Syurga..
 

 

April 2004, aku merasa bahagia sekali karena aku bisa menyelesaikan kuliahku dalam waktu dua tahun lima bulan. Allah sangat memudahkanku dalam Tugas Akhir. Aku bisa memberi kebahagiaan kepada orang tuaku dan keluargaku untuk menghadiri wisudaku untuk menyaksikan topi toga yang bertengger dikepalaku. Tapi Allah masih belum memberi kesempatan kepada orangtuaku, karena kondisi ekonomi yang belum stabil pasca kebakaran dan pasca kepergian kakak yang banyak menguras biaya. Aku masih bisa tersenyum karena wisudaku didampingi oleh keluarga besarku asrama “BALQIS”.

 

Juni 2004, aku segera disuruh pulang kekampung halaman karena aku sudah menyelesaikan kuliahku. Aku masih berkeinginan untuk melanjutkan kuliahku ke jenjang Strata Satu. Tetapi aku harus menyadari kondisi ekonomi kelauarga masih belum stabil, tapi aku masih mempunyai keyakinan kalau Allah akan membantuku.

 

Setiba di Tanjung Pinang aku dijemput oleh keponakanku yang usianya tidak jauh dariku hanya terpaut tiga tahun. Aku bertanya “Ungku mana kok yang jemput kamu” keponakanku menjawab “ Oh, ungku lagi sibuk ngurusin etek Riya, kemaren habis kecelakaan, kakinya patah”.

 

Ya Allah ……….ternyata masih ada kejadian yang hambamu belum ketahui, ternyata adikku yang paling kecil dari istri abak yang ke dua mengalami kecelakaan. Ya Allah ujian apa lagi ini, kuatkan hambamu……………

 

Ternyata kecelakaan itu bersama dengan kakaku tapi keadaan yang parah adikku. Belum sempat aku menjenguknya pada hari setibaku dirumah adikku langsung dibawa ke Batam karena telah terjadi pembusukan akibat operasi kakinya. Pihak RS Tanjung Pinang mengirimkan ke Batam dan ternyata oleh RS Batam menyatakan tidak sanggup dan di anjurkan. untuk ke Malaka “Malaysia”.

 

“Ya Allah biaya dari mana batinku”, tapi Allah memang sudah mengetahui Allah maha mengetahui kapasitas hambanya, dan bukankan “Setelah kesulitan itu ada kemudahan”. Allhamdulillah abak mendapatkan pinjaman dan bantuan dari adik-adik abak. Aku berfikir ya Allah begitu banyak hutang keluarga kami, tapi yang lebih penting kesembuhan adik kami.

 

Akhirnya adikku diterbangkan ke Malaysia untuk dioperasi. Ternyata pihak RS Malaysia mengatakan telah terjadi kesalahan operasi dan itu sangat fatal sekali karena pembusukan itu. Dari pihak RS Malaysia setelah melakukan pengetesan beberapa kali mengatakan urat syaraf kakiknya sudah mati, dan tidak ada harapan lagi selain di “amputasi” sebelum pembusukan itu menjalar ke seluruh tubuh..

 

“Amputasi” kami sekluarga yang mendengar kabar merasa sangat lemas sekali aku sudah membayangkan bagaimana orang-orang yang tidak mempunyai kaki, ya Allah kuatkan kami dan terutama adikku, dia selalu menanyakan dan mengeluh “yah, kapan Ia bisa sembuh, kapan Ia dioperasi, sakiiiiit yah, apa kaki Ia mau dipotong”.

 

Lirih hati ini mendengar kabar itu, “Ya, Allah jikalau hamba yang berada diposisi itu mungkin bisa merasakan kesakitan dan ketakutan seperti adikku”, aku mohon padaMu ya Allah berikanlah kesempatan kepada adikku supaya tidak di amputasi.

 

Agustus 2004, hampir dua bulan adikku berada di RS Malaysia kalau masih menunggu untuk mempertimbangkan agar tidak diamputasi akan menambah biaya, keraguan menyelimuti fikiran abak kalau tidak diamputasi akan terjadi pembusukan dan akan menjalar keseluruh tubuh, kalau di amputasi. Ya suatu keputusan yang sangat berat sekali. keputusan untuk di amputasi.

 

“Kami menyerahkan diri kepadaMu ya Allah, apa yang dialami oleh keluargaku adalah atas kehendakMu”.

 

“Belum dikatakan beriman seseorang sebelum diuji keimanannya”

 

Akhirnya dengan berharap kepada Allah, akhirnya abak mengatakan “pak, tolong diperiksa untuk terakhir kali, Jikalau memang benar urat syarafnya sudah mati tidak ada respon maka lakukanlah amputasi. Dan Dokter melakukan pengetesan untuk terakhir kali. “Subhanallah, ternyata ketika di tes adikku merasakan kesakitan dikakinya, yang biasanya tidak pernah terasa olehnya. Ternyata masih ada urat syaraf kakinya yang hidup. Akhirnya tidak jadi di amputasi dan dokter melakukan operasi.

 

Ya Allah terima kasih…………….sujud syukuuuuuuuuuur kami.

 

Selama adikku kecelakaan hampir lima kali adikku dioperasi, betapa sakitnya, untuk operasi terakhir kalinya daging pahanya di ambil untuk menutupi tulang kakinya yang kelihatan.

 

Atas kejadian itu aku pasrah, aku sudah tidak begitu berharap untuk melanjutkan kuliahku karena aku sudah mengerti kondisi keluargaku.

 

“Setelah kesulitan ada kemudahan”

 

Allhamdulillah aku masih diberi kesempatan oleh Allah, aku masih diberi rezeqi, untuk melanjutkan kuliahku dengan bantuan dari pamanku. Aku yakin Bantuan itu didasari oleh pengertian keadaan keluargaku dan mungkin dengan jalan inilah aku masih diberi kesempatan untuk memberi kebahagian kepada kedua orangtua dan keluarga. Karena tidak ada satupun anak abak yang melanjutkan Keperguruan Tinggi, selain aku. Aku mengerti sewaktu dulu bukan keadaan ekonomi tapi tidak ada keinginan kakak yang mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Tapi sekarang ini aku sangat menginginkannya tapi ujian demi ujian yang menjawab semua itu.

 

“Ya Allah mudahkanlah hambamu ini didalam menyelesaikan kuliahku, dan berikanlah kesempatan kepada abak dan emak ikut merasakan kebahagian dikala aku diwisuda dan berikanlah yang terbaik padaku ya Allah.

 

Itulah doa, niat dan harapan yang aku cita-citakan ketika aku melanjutkan kuliahku di Strata Satu. Aku tidak ingin membebani orang lain, walaupun ada yang bersedia untuk membantuku, aku merasa malu sekali dikala aku ingin meminta uang kuliah dengan pamanku. Maka dari itu dengan penuh semangat aku belajar dan menjadi assisten dosen, untuk mempercepat agar kuliahku segera selesai dan mendapat tambahan uang saku sendiri.

 

Desember 2005, Allhamdulillah apa yang aku doakan Allah mengabulkan permohonanku, aku dapat menyelesaikan kuliah dalam waktu satu tahun. Dan dikala topi wisudaku bertengger dikepalaku dengan gelar sarjanaku dihadiri oleh orang yang teramat aku cintai.Dan Mahasuci Allah, Kebahagian itu bertambah dikala aku maju di panggung sebagai wisuda terbaik sarjana.

 

 

 

 

Terimakasih ya Allah, Allah Maha mengetahui, Allah telah banyak memberi kenikmatan kepada kami, apa yang terjadi pada kami belumlah sebanding dengan nikmatMu yang diberikan pada kami. Kami semakin menyadari setiap ujian itu mengandung hikmah yang sangat besar sekali.

 

1.

 

Sebagai ujian kami jadi semakin dekat denganMu

2.

 

Sebagai teguran, agar kami tidak melanggar perintahMu

3.

 

Sebagai hukuman, agar kami menyesali perbuatan kami.

 

Kami hanya merasakan ujian beberapa tahun, tapi nikmat kebahagian berpuluh-puluh tahun. Thank you Allah.

 

 

Catatan

 

*

 

Abak : panggilan untuk ayah

*

 

“baa caronyo malanjuikan kuliah nak, lah abih sadonyo tabaka”

 

( Bagaimana mau melanjutkan kuliah, semuanya sudah habis terbakar)

 

*

 

Ungku : panggilan untuk kakek

*

 

Etek : panggilan untuk tante (adik atau kakak dari ibu atau bapak)

 

 

 

 

CERPEN : Diary Patah Hati

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: nela

Total cerpen di baca: 240

Total kata dlm cerpen: 399

Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 10:54 AM

0 Komentar cerpen

 

Aku termenung di tengah malam.Lalu sesaat kemudian, air mata ini tumpah.Bagaimana mungkin aku tidak menangis ketika kisah cintaku harus berakhir. Aku sungguh tak pernah merelakan cintaku pergi, namun aku juga tak berdaya unutk menahannya tetap di sisiku.Mungkin aku kelihatan tegar dari luar, namun sesungguhnya aku ini rapuh.Erick, telah tiga tahun aku mencintainya, dan kemudian aku berhasil mendapatkan hatinya.Lelah yang telah kutempuh selama tiga tahun itu, serasa terbayarkan.Namun kemudian, hubungan kami harus berakhir di angka sebelas bulan.Dia yang menginginkan untuk pergi, lalu apa dayaku?.Aku tak sanggup menahannya.

Suatu saat, kamu akan berhenti mencintai orang yang kamu cintai, bukan hanya karena orang yang kamu cintai itu berhenti mencintai kamu,tapi juga karena kamu tahu kalau orang itu akan lebih berbahagia jika kamu melepaskannya.

Aku melepasnya demi kebahagiaannya.Biarlah dia mencari seseorang yang mampu membahagiakannya, namun bagaiamanpun juga, luka dihatiku masih tetap menganga lebar dan tak mudah untuk sembuh.

Setelah itu, hubungan kami hanya sebatas teman.Aku menerima semua kenyataan itu.Namun ternyata, ada saat dimana aku harus berhadapan dengannya lagi.Aku baru menyadari, bahwa rasa sakit itu tak bisa pergi begitu saja.Aku mengahadapinya, dengan menekan dalam -dalam rasa sakitku, seakan aku telah melupakan apa yang terjadi, tapi sesungguhnya aku belum bisa!.Satu hal yang membuatku belum bisa menerima sepenuhnya kenyataan ini, adalah karena aku tak pernah tahu apa alasan semua ini harus berakhir.

Selang beberapa waktu kemudian, aku mendengar dia telah bersama yang lain, maka hatikupun serasa lega karena harapanku dulu melepasnya, ternyata terwujud.Lalu sejak saat itu, aku mulai bangkit dan tidak lagi terpuruk.Ku tata kembali kepingan hati ini.Ku lekatkan dengan sisa-sisa harapan yang masih ada, lalu aku tersenyum dan berani menatap dunia. Aku bukan lagi Nela yang dulu, yang hanya bisa meratap apa yang telah pergi, namun aku yang sekarang adalah aku yang meninggalkan sisi cinta yang kelam dan melangkah melihat hal lain yang lebih penting dari sekedar percintaan.

Erick tetap ada di memoryku, karena bagaimanapun juga aku bukanlah seorang yang mengidap amnesia yang bisa melupakannya begitu saja. Tapi dia bukan lagi orang yang menguasai hatiku.

Hebat itu, bukan hanya ketika kamu punya kekuatan, buakan hanya ketika kamu punya segalanya, namun hebat itu adalah, ketika kamu mampu bangkit dari keterpurukan

Sudah, sampai di sini semua lembaran kelam.Aku telah mengakhiri dan menutup lembaran diary patah hatiku.

 

CERPEN : kisah ku .

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: abella

Total cerpen di baca: 91

Total kata dlm cerpen: 612

Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 3:41 PM

0 Komentar cerpen

 

   Di suatu hari, Zevina sedang berjalan mengelilingi mall .yah dimana lagi kalau bukan di MOI ( Mall Of Indonesia ).saat Zevina sedang enak-enaknya jalan ,tanpa Zevina sadari tali sepatu nya terlepas dan Zevin pun menginjaknya.yah otomatis Zevina langsung jatuh. Dan pada saat yang bersamaan Zevina menabrak seorang laki-laki. Laki-laki itu pun jatuh..tapi posisi jatuh mereka seperti sang lelaki sedang merangkul zevina. pas jatuh tiba-tiba ada yang teriak " YOOOOOOOVVVHHHHHHHIIIIIIIIIEEEEEEEEE ......... !!!!!!!!!!!! "laki-laki yang sedang merangkul Zevina pun melepas kannya.dan langsung pergi menuju sumber suara. Entah dengan berbagai alasan apa ,, akhirnya dia pun pergi bersama gadis itu.Zevina yg ditinggal gitu aja mulai merasa kesal..karna tiba-tiba orang itu pergi dan meninggalkan zevina. Tapi sebenrnya zevina juga mau bilang makasih karna mungkin kalau cowo itu gak nabrak zevin pasti zevin sudah jatuh ke lantai dengan sangat amat keras. Zevina mulai mencari laki-laki yang bernama "yovhie" itu. Tapi pertanyaannya.. mau dicari kemana laki-laki itu??? Mall ini sangat luas.mungkin Zevina sedang beruntung. Saat zevina berdiri di depan WC tiba-tiba ada yg menepuk pundaknya dan brkata " hai ".sontak Zevina kaget dan menoleh. lalu iya berkata " hai juga "."kamu yang tadi ya??? " tanya yovhie. " i-iya " jawab zevina agak kaku."kenalin nama aku yovhie,nama kau siapa ? " tanya yovhie."nama aku zevina . salam kenal ya . " sahut zevina dengan senyuman manisnya."nama kamu bagus juga . eh maaf ya tadi kamu aku tinggal gak apa-apa kan kamu ?? " tanya yovhie agak hawatir."ooh.. itu ya gk apa-apa .. ( padahal tadi kesel eh pas ngeliat muka gantengnya yohie malah jadi luluh gtu .. xD ) " jawab zevina dengan wajah berseri-seri ."hmm.. aku boleh nanya gak ?? " kata zevin penasaran."apa?" sahut yovhie sambil jalan. " itu tadi yang manggil kamu siapa ?? " kata zevin." oo. itu sih rahel . mang kenapa?? " jawab yovhie santai . " terus dianya mana? " tanya zevin lagi. " dia aku tinggal tadi di WC " dengan santainya dan gk pedulinya yovhie menjawab sprti itu."wah parah . " kata zevin." biarin.. " sahut yovhie gak peduli.setelah kejadian itu yovhie dan zevina pun semakin dekat.dan lama-kelamaan zevina menaruh hati pada yovhie. tapi yovhie hanya menganggap zevina sebagai adiknya saja . justru yovhie menaruh hati pada "AdeL" sahabatnya zevina  , tapi zevina belum tau itu . sampai pada suatu hari pada saat ada acara arisan keluarga zevina dan yovhie baru tau kalau ternyata orang tua zevina dan yovhie memang saling kenal ..dan lebih kagetnya lagi ternyata zevina dan yovhie memang sejak dulu ingin di jodohkan.zevina senang-senang saja mendengar pernyataan itu. tapi yovhie.... dia berusaha untuk menutupi semua perasaannya.sampai saatnya tiba..yovhie mengakui semua perasaannya pada zevina dan adel.adel dan zevina kaget. setelah sebulan kejadian itu..yovhie baru tua kalau zevina punya penyakit parah..dia punya penyakit gagal jantung..pada suatu hari saat zevina dan yovhie sedang berjalan berdua.tiba-tiba zevina pingsan dan yovhie yang kaget langsung membawa zevina ke RS. saat di RS seluruh keluarga yovhie dan zevina ada disana begitu juga dengan adel ( tapi adel hanya sendiri ) .disana zevina sudah menyadari bahwa umurnya sudah tdk panjang lagi . ketika ia berbaring dia berkata pada adel dan yovhie ,, " kini umurku sudah tidak panjang lagi " kata zevina sampai meneteskan air mata."jangan bilang gitu vin ..! " kata adel yang terharu. " kamu harus bisa lawan penyakit ini vin ! " yovhie berusaha menyemangati zevina.sambil meneteskan air mata yang lama-kelamaan mulai bercucuran zevina melanjutkan kata-kata nya .. " semoga di sepanjang hidup ku saat aku bersama kalian aku tidak menyusahkan kalian :) dan aku harap kalian bisa bersama selamanya . " kata zevina dengan senyuman dan perlahan-lahan mulai menutup mata ."zevina ! " kata yovhie berusaha memanggil.tapi zevina tetap tidak sadar. zevina meninggal dengan muka tersenyum dan bercahaya . adel menangis..dan sejak saat itu yovhie dan adel berusaha untuk terus menjalankan wasiat dari zevina meski dengan keadaan sedikit menyakitkan ..

 

 

CERPEN : HAMPIR LUMPUH

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: ninetyninehd

Total cerpen di baca: 104

Total kata dlm cerpen: 1702

Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 8:52 AM

1 Komentar cerpen

 

Pandanganku membias. Semakin lama semakin gak jelas, berbayang-bayang dan kemudian gelap. Dunia aku rasa berputar-putar, semakin kencang dan semakin kencang. Jangankan untuk berjalan, bediri saja aku payah, sempoyongan, dan akhirnya tumbang. Waktu hanya aku habiskan untuk tiduran di alas tikar pandan yang sudah tak baru. Berkali-kali aku memuntahkan cairan lendir ludah pekat yang sudah berwarna kuning hampir orange. Ujung hati ku tersedak tekanan muntah yang semakin memaksa untuk menembakkan nya. Yang akhirnya membanjiri tikar pandan alas tidurku. Tubuhku lemas tak bertenaga. Mengangkat tangan aja susah. Hampir tiga hari aku tidak makan nasi. Bukan aku tak mau makan, tapi setiap kali aku coba untuk menyuapnya, aku selalu terpaksa muntah. Hanya buah dan kue-kue saja yang aku konsumsi. Itu juga tak banyak, hanya sekedar mengisi perut yang sudah melompong. Andai usus atau lambungku dibedah, mungkin tidak sebutir nasipun yang ditemukan di sana. Bukan hanya muntah-muntah, aku juga terdera serangan mencret. Berkali-kali aku aku harus lari ke kamar mandi yang berada cukup jauh dari kamar yang aku tinggali. Waktu itu aku masih menjadi santri di sebuah pondok pesantren semi moderen. Toilet dan kamar santrinya terpisah. Yah, kurang lebih sekitar dua ratus sampai tiga ratus meter lah. Dengan langkah membabung aku berlari menuju kakus. Terlambat sedikit, bisa bahya, celana ku akan dibasahi kotoran encer, berwarna kuning, dan berbau tidak sedap. Tubuhku bermandikan keringat dingin. Aku mengggil, bergetar, gigi-gigi ku saling beradu sampai berbunyi keretek-keretek. Semua itu sebab tekanan suhu tubuh yang sudah tidak seimbang. Tiga hari berlalu, namun penyakit aneh itu juga tak kunjung reda. Konsdisi ku semakin miris memprihatinkan. Tulang-tulang tubuhku yang terbungkis kulit coklatku semakin tampak. Beberapa orang teman menyarankan agar aku pergi kedokter. Tapi aku menolak, sambil terus saja menikmati pusing dan mual yang semakin menjadi. “ Udahlah, sebaiknya kamu cepat kedokter”, “Penyakit mu ini parah lho, udah, chek up aja dulu” bujuk teman yang lain. Teman-teman ku paham betul, kalau aku ini adalah orang yang anti dokter. Dalam beberapa diskusi aku sering kali mengatakan bahwa “aku tidak percaya sama dokter”, “ Dokter-dokter itu hanya pembohong”, Dengan segenap keras kepala yang aku punya, aku menolak saran mereka. “Mana mungkin aku mau untuk pergi ke dokter, mau ditaruh dimana mukaku. Itu sama aja aku menelan ludah ku sendiri”, ucap fikirku dalam hati. Keyakinanku mengatakan bahwa hidup dan mati adalah mutlak milik Alloh. Sehat dan sakit itu biasa, namun kesabaran dalam sakit lumayan elok untuk dibanggakan. Aku hanya berkeyakinan, hanya Alloh yang bisa menyembuhkan sakitku, bukan dokter. Dengan terus mengunyah zikir, aku meminta pertolongannya. Aku tidak perlu dokter. Yang aku perlu hanya Alloh. Lagian di dalam Al Quran tidak pernah ada anjuran untuk kedokter. Di kitab yang penuh kemulyaan itu dikatakan bahwa Al Quran adalah obat. Aku meyakini itu, seperti apa yang dikatakan guru ngajiku. Dan aku tidak mau Al Quran hanya dijadikan teori sebetas perdebatan. Sekuat hati aku meyakininya dalam sakit yang semakin menyiksa.

 

Penderitaanku semakin sangat. Pesakitan itu ditandai dengan wajah pucat basi, dan dua lingkar mata yang mulai mencekung, bergaris biru kehitaman. Aku sudah tak banyak bergerak. Tubuhku lemas. Jangankan berjalan, berbicara saja terasa capek benget. Rahang pipiku terasa lunglai tak bertenaga. Ucapan-ucapan teman yang mengajak ku ngobrol, hanya aku jawab dengan anggukan dan kedipan mata. Dalam kondisi yang semakin parah aku masih tetap bersikeras untuk tidak mau ke dokter. Tidak tahan melihat kondisiku, secara paksa mereka membopong ku ke rumah sakit. Dengan kondisi lemah aku tak bisa memberikan perlawanan berarti. Namun hati tetap bersikeras untuk tetap tidak mau ke dokter. Dalam hati aku berikrar“ Lebih baik mati dari pada harus berobat kedokter”. Kala itu aku benar-benar alregi dokter. Setiap kali ketemu dokter aku selalu menampakkan wajah masam yang mengancam. Kebencianku berlatar belakang pemahamanku yang mengatakan bahwa profesi dokter, adalah jalan cepat untuk menjadi orang kaya di atas derita orang lain. Bagaimana tidak, coba bayangkan saat dokter berdoa. “ Ya tuhan, berilah aku rizki yang berlimpah-limpah” harap dokter dalam doanya. Andai saja doa itu terkabulkan, bisa-bisa orang sekota ini akan ambruk pesakitan. Bukankah dokter mendapatkan uang dari mengobati orang sakit. Belum lagi sikap dokter yang kerap membedakan antara si kaya dan simiskin. Mereka sibuk mengoprasi pasien berduit, dan membiarkan simiskin mati pelan-pelan.

 

Dengan naik motor di bonceng tiga aku menuju rumah sakit. Jalan desa yang berkelak-kelok, penuh tikungan dan tanjakan membuat pusingku semakin parah. Aku kelilpungan lemah tak berdaya. Berkali-kali aku muntah-muntah dari atas motor yang membuat aku setengah sadar. Dalam kepayahan itu, tiba-tiba aku merasakan hal yang aneh. Seketika semangatku bangkit, ketika aku tahu kalau aku sudah masuk kedalam ruang UGD (unit gawat darurat) rumah sakit pemerintahan itu. Seolah -olah aku tidak pernah sakit, dan berlagak layaknya orang sehat. Teman-teman yang mengantar ku terkaget-kaget, ketika melihat aku terbangun dari pembaringan kereta dorong itu. Wajah mereka menampakkan keheranan. Mana mungkin, aku yang sebelumnya sudah setengah lumpuh, mampu terbangun dan hendak berjalan hendak turun dari pembaringan itu beroda itu. Serentak kedua teman beserta perawat menahanku. Tapi aku melawan, sampai akhirnya dokter mempersilahkan aku duduk di depan meja periksanya. “ Adik sakit apa?” tanya dokter itu mencoba merayuku. Aku tetap diam dan hanya memandanginya dengan tatapan kesal. “ Kepalanya pusing ya?” dia mengulangi tanyanya. Sedangkan aku masih saja diam. “ Coba buka matanya” ucap dokter itu sambil menyenteri mataku dengan senter kecilnya. “ Sekarang coba keluarkan lidahnya” dengan terpaksa aku mematuhi ajakannya. “ Perutnya sakit ya?”tanya dokter itu. Setalah terdiam, akupun membalas ucapannya nada pedas.“ Anda kan dokter, seharusnya anda tau saya sakit apa, tidak perlu tanya-tanya lagi?. “cetusku dengan nada yang tak ramah. Dokter itu tersenyum sambil memandangku dalam. Terus saja dia melanjutkan rentetan pertanyaannya. Namun aku diam. Tidak satupun kata yang aku ucapkan. Dokter itu heran dengan sikapku. Setelah dokter itu diam, aku mulai bicara. “ Seorang montir, tidak pernah bertanya kepada mobil yang rusak. Tapi toh mobil itu bisa baik kembali. Anda kan dokter, kenapa harus banyak tanya, seharus anda tau apa yang harus anda lakukan. Kalu tidak, percuma saja anda sekolah tinggi-tinggi” cetus ku pedas. Aku rasakan lidahku begitu lincah memutar kata. Pusing kepala itu tidak lagi aku rasakan, Tubuh terasa benar-benar sehat, seolah tidak pernah merasakan sakit sebelumnya. Dokter itu diam. Sepertinya dia mulai kesal dengan ku. Tak lama kemudian dia bergegas meninggalkanku dan beranjak menemui ke dua teman yang menuugu diruang depan. Tidak jelas aku mendengar obrolan mereka. Aku hanya duduk diam memejamkan mata sambil merasakan pusing kepala yang mulai kembali bergejolak. Sampai akhirnya temanku menghampiri ku dan mengajak ku kemabali ke pesantren. Aku lihat di tangan Sumardi terdapat bungkusan pelastik obat. “ Apa itu, obat ya?. Udah buang aja, aku tidak akan mau meminumnya”. “Udahlah, ayo naik” jawab Sumardi memintaku untuk segera naik ke motor. Pusing itu kembali kurasakan semakin sangat. Dalam dekapan kedua teman diatas boncengan motor, sesekali aku tak sadar. Namun rupanya temanku tidak mengetahui hal itu. Tiba di pesantren, Sumardi langsung meminta teman yang lain untuk membuatkan bubur untuk ku. Rupanya dokter tadi menyarankan aku untuk makan bubur. Tak lama kemudian bubur hangat itu sudah tersaji. Sebenarnya begitu segan aku untuk memakan bubur itu. Namun aku gak enak sama teman yang telah bersusasah payah membuatkannya untuk ku. Akupun mencicipi bubur putih itu, bubur yang terbuat dari tanakan nasi yang kebanyakan air. Bubur itu aku rasakan begitu pahit. Tapi karena dorongan teman, aku tetap mencoba melahapnya. Tapi aku tak mampu menghabiskannya. Hanya beberapa sendok saja yang aku telan, itu juga karena terpaksa. Akhirnya Sumardi mengunjukan beberpa butir pil pemberian dokter tadi. “ Sekarang kamu minum dulu obatnya”. Mataka ku mendelik menatap kearahnya. “ Gak. Aku gak akan mau minum obat itu”. Teman-teman yang lain mencoba merayuku. “ Udah minum aja wan. “ “Gak. Aku gak mau” ucapku sambil terus berbaring menutup muka dengan bantal. Aku sedih, kerana sudah banyak merepotkan teman-teman asrama. Esok harinya aku putuskan untuk pulang kerumah. Perjalanan dari Ponorogo menuju Bali bukanlah perjalanan darat yang dekat. Dalam kondisi kesehatan yang masih tak jauh berbeda aku nekat meninggalkan pesantren. Beberapa teman menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Tapi aku menolak. “ Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian, biar aku pulang sendiri saja, aku gak papa kok”,

jelasku. Hanya mengenakan pakaian yang melekat dibadan aku menuju rumah, tanpa tas , atau barang-barang lain, agar perjalanan ku bisa lebih mudah. Ramai teman yang mengantarku ke gerbang depan, sampai akhirnya aku naik dokar menju tempat pemberhentian bis jurusan Surabaya. Sangat jarang bis langsung jurusan Ponorogo-Bali, sehingga aku memilih untuk transit di Surabaya. Di dalam bis itu aku hanya tertidur. Pusing ku semakin menjadi. Goncangan laju bis itu terus saja mengocok perutku yang sudah mual. Beberapa kali aku tertidur dan terbangun lagi. Panas terik siang itu membaut aku semakin lemah. Teriak pedagang asongan mengusik tidurku. “ Tahu-tahu-tahu-tahu”, “Tahu mas” ucapku sambil mengacungkan tangan, dan merogoh uang uang recehan. Tahu goreng itu aku rasa nikmat benget, mungkin karena aku terlalu lapar. Tak lama kemudian aku kembali tertidur. Tanpa terasa perjalan empat jam itu mengantarkan aku sampai ke Surabaya. Tiba di terminal Bungur-Surabaya, hari mulai gelap. Aku masih menyempatkan sholat magrib dan jamak Isya di musholah pojokan terminal. Bilasan air wudhu membuat aku lebih segar. Sejenak aku duduk-duduk memandang kesekitar terminal. Tiba-tiba aku milirik ke sebuah warung sederhana. Dihadapan warung itu bertuliskan “Soto Asli Surabaya”. Perutku berbunyi. “ Kereok......, kreok”. Aku pun menghampiri warung dilorong terminal itu. “ Makan mas...!” tawar pelayan warung dengan senyum ramah. “Ya mbak, pedes ya”. Aku sengaja memsan soto pedas untuk mengalahkan teori dokter yang melarang aku memakan yang pedes-pedes. Anehnya, aku bisa melahap soto itu dengan nikmat. Dorongan muntah yang selama ini aku rasakan sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya rasa lapar yang berlebih . Tiga mangkok soto+ nasi, aku sikat tanpa sisa. Tubuh ku basah berkeringat. Orang-orang disekitar meilirik ku keheranan. Dengan rakus aku melahap soto sedap itu. Dan akhirnya di tutup dengan segelas teh manis hangat ukuran gelas besar. Aku pun sempat membeli sebungkus rokok keretek. Hisapan demi hisapan aku rasa nikamat. Sampai aku berfikir, bahwa sudah sembuh. Selama ini aku meyakini bahwa rokok adalah baro meter kesehatan. Kalau rokok sudah terasa nikmat maka itu barati aku sudah sehat. Aku segara melanjutkan perjalanan menuju Bali. Sengaja aku memilih bis ekonomi non AC agar aku bisa merokok sepuasnya. Digelapnya malam bis itu melaju. Aku duduk disisi jendela dengan pandangan jauh menerawang keluar. Angin malam tiupan jendela mengantarkan lamunanku. Sambil terus menghisap batangan tembakau, aku merasakan kebanggaan yang luar biasa. “ Aku berhasil mematahkan teori dokter itu” bisik ku dalam hati dengan senyum yang tersungging. (Jembrana. 19 Maret 2010)

 

 

 

CERPEN : Cinta bagi Bi Narsi

| Print Cerpen
Posting cerpen by: Ricky Luck
Total cerpen di baca: 129
Total kata dlm cerpen: 741
Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 6:59 AM
0 Komentar cerpen


Pada metropolitan yang terhampar subur gedung-gedung megah, matahari yang benderang tabuh hawa penuh perang. Sebuah pawai ke-egoisan menambah ramai suarakan pekik klakson, belum lagi nafas kotor dari knalpot bergabung jadi satu wahana, membumbung pada angkasa.
 
Suasana megah diluar kini hanya sayup pada ruangan yang tertutup kain gorden tebal. Pada sebuah lantai lima apatermen, panas terang benderang memohon dan mengiba untuk masuk, tapi tentu saja ac temperatur 17’c bagai satpam mengusir kejam sang panas.
 
Dalam ruangan yang gelap ini aku menyiku pada pojok ruang, mataku kosong dan menghilang tanggung pada ruang.
 
"Neng Fara ga boleh kaya gitu, nanti kalo Neng Fara sakit ibu Neng Fara kesian cemas."
 
Suara Narsi terdengar hangat, walau basi tapi tekanan dalam suaranya terdengar tulus. Akupun terhanyut damai dan mengeluarkan sepatah kata.
 
"Susah bi,..." Hanya sampai situ aja aku mampu berkata. Karena detik berikutnya semua kata disabotase suara isak tangis yang mengalun.
 
"Neng Fara itu masih muda, baru juga umur 19 ga pantes kalo seputus asa itu ditinggal pacar."
 
Sekejap aku menjadi geram dia ga tau apa duduk permasalahan-nya.
 
"Bi,... Juno itu udah dari SMP sama Fara , dah banyak banget kenangan dengan Juno."
 
Aku perlahan teringat ketika Juno say "I Love You" aku dibawa ke taman bunga, dia bawa-bawa buku puisi lalu membacakan isinya. Terus terang rasanya aneh denger anak bengal yang sahabat dari SMP ini baca puisi. Dan semua keanehan berakhir manis dengan kata-kata "Ra, gue tau lo bingung napa gue baca ni puisi, gue juga sama Ra isi nya aja gue ga ngerti. Tapi gue baca juga soalnya moga-moga salah satunya bisa bikin lo terenyuh dan mau ja.. ee..jadiii... ee lo mau kan jadi pacar gue Ra." Akupun diam ga percaya dan ketawa, "Ha ha ha...Jelekkkk,... bacanya kaku lo Jun, tapi sweat banget ko, iya aku mau." Aku kembali perih ingat kejadian itu. Tau seperti ini aku ga mau kejadian itu terjadi, aku jadi benci masa-masa itu.
 
"Non lagian apa bagusnya Juno, bibi ga suka liat kamu pacaran sama Den Juno. Orangnya sombong, dan yang Bibi lebih prihatin lagi, sama Neng Fara juga Den Juno tega dan sering ketus."
 
Dalam aliran air mataku aku meng-iyakan perkataan Bi Narsi. Tapi kata-kata berikut yang diucapkan Bi Narsi bikin aku meledak.
 
"Non Fara itu cantik, tinggal milih lagi Juno laen yang lebih baik yang bisa jaga Non Fara."
 
"Cukup Bii..,Bibi ga tau apa-apa. Perasaan aku sama Juno cuman aku yang tahu, Bibi ga tau apa-apa gimana rasanya ditinggal gimana ditinggalin gitu aja terus dia jadian lagi sama temen deket, bibi ga tau rasanya keilangan pacar, semua sakit Bii.
 
"Maaf Non Bibi cuman khawatir aja. Soalnya bibi sayanggggg banget sama Non Fara yang udah Bibi anggap anak sendiri. Satu lagi Bibi mau tambahin Non, iya Bibi ga tau apa-apa tentang cinta. Dari kecil sampe sekarang jangankan cinta Non, ada yang tanya nama Bibi aja udah untung. Terus terang di umur Bibi yang sekarang, mungkin Bibi rela walau akhirnya Bibi diputusin, tapi Bibi mau sekali aja rasain apa itu cinta. Non masih mending walau sakit hati diputusin tapi Non cantik gampang cari gantinya, kalau bibi sampe umur 52 ini masih belum alamin apa itu cinta." Sambil tersenyum Bi Narsi menghampiri diriku.
 
Perlahan aku tersadar, Bi Narsi adalah sosok wanita yang pendek, keriting, hitam, pesek. Bukan itu aja tompel segede kepalan tangan menutupi wajah Bi narsi. Bi Narsi saat ini adalah perawan tua yang belum menikah. Entah bagaimana aku seakan mendapat pemahaman. Akupun memeluk Bi Narsi, dalam tangis aku sadar bahwa aku akan segera melupakan sosok Juno dan melangkah lebih jauh.
 
Bi Narsi walau tidak mendapat cinta seumur hidupnya tapi dia adalah guru Cinta.
 
 
 
(Ada satu masa ketika dunia berjalan tanpa cinta, pada masa itu makan malam keluarga adalah daging goreng anaknya. Tapi akhirnya masa kegelapan itu hilang ketika Tuhan kirim manusia cinta, hanya saja cinta itu pada manusia, seperti Narcissus di hadiahkan cermin. Dia bahagia dan terselamat dari tenggelam di danau, tapi cermin sendiri akan membunuh Narcissus perlahan . Dan Tuhan akan menggumam setidaknya dia hidup lebih lama, perkara dia mati juga gara-gara tidak makan dan kerjanya ngaca terus, itu si bodoh dianya aja yang ga mau belajar dari kesempatan kedua.)

 

 

 

CERPEN : Berawal dari Facebook

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: Stephany Silvana Sompotan

Total cerpen di baca: 546

Total kata dlm cerpen: 3076

Tanggal cerpen diinput: Thu, 18 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 2:38 PM

5 Komentar cerpen

 

Perjalanan hidup seorang Ghea menarik untuk ditelusuri. Punya pacar seorang cowok ganteng dengan segudang prestasi yang sangat dikagumi oleh banyak orang. Usia pacaran mereka terbilang belum terlalu lama. Kurang lebih 5 bulan yang lalu. Cinta memang tak bisa dimengerti seperti kata orang Jauh dimata dekat dengan orang lain. Jarak tempat tinggal yang memang sedikit jauh membuat keduanya jarang bertemu.            Ghea seorang gadis cantik yang tinggal di kompleks elit. Kawasan tempat tinggal orang-orang berduit mengingat Papanya seorang pengusaha tekstil. Tepat didepan rumahnya tinggal seorang Ibu paruh baya dengan seorang lelaki yang berusia kurang lebih sekitar 27 tahun, seorang pekerja keras yang masih muda, baru 2 bulan menempati rumah itu.             Setiap pagi sebelum ke kampus Ghea harus berpapasan dengan lelaki itu yang senang mengendarai mobil teranonya. Tampan, menawan, dewasa dan berwibawa, bergaya kantoran banget. Tak hentinya melepaskan senyuman ketika mereka bertemu.            Suatu ketika telpon rumah Ghea berbunyi, dan Ghea yang mengangkatnya langsung bicara dengan orang yang menjadi lawan bicaranya.             “Ini siapa ya? “tanya Ghea sopan            “Oh..Aku Erick..aku yang tinggal didepan rumahmu. Ingat kan?tadi pagi kita ketemu..”            “Oh iya..”Sahut Ghea tertawa kecil..            “Boleh tahu nama kamu siapa?”sahut Erick dari seberang.            “Aku Ghea..kamu tahu nomor telpon rumahku dari siapa?”            “Oh kalo soal itu aku sudah tahu sejak 2 bulan yang lalu sejak kepindahan kami disini.Aku dan ibuku berkenalan dengan papa dan mamamu lalu mereka memberikan nomor telepon kalian. Kupikir hanya untuk masalah darurat saja aku akan menelpon rumahmu,…. dan ternyata tidak semuanya berbeda saat aku memandangmu menatap matamu dan melihat ada sesuatu yang berbeda dari sikap mu yang sedikit manja..”Kata Erick sambil tertawa kecil.            “Oh ya. Rumahmu sudah pakai speedy khan,, ya seperti yang kuketahui semua penghuni perumahan ini sudah menggunakannya?”            “Iya..”Sahut Ghea pelan            “Boleh kan aku minta Facebook kamu..?”            “Iya. Di search aja Ghea Olivia”            “Ok. Thanks…jangan lupa dikonfirmasi ya??”The Last Words dari Erick dan memutuskan pembicaraan mereka..            Dari kejadian itu membuat Ghea dan Erick menjadi dekat mencoba untuk bisa dekat seperti tetangga biasanya....keseringan ketemu dengan Erick membuat Ghea menjadi berubah..            “Ghe, kenapa sich kamu akhir-akhir ini.. lain dari biasanya.”Sahut Vano kekasih hatinya disela-sela waktu istirahat mereka.            “Van, ga ada yang aneh kok sama aku..memangnya aku gimana sich?aku kan selalu ngasih kabar ke kamu kalo aku lagi ada masalah, aku ngasih kabar ke kamu kalo aku lagi senang. Memangnya aneh gimana sayang? Ga ada yang aneh kok.”            “Ghe, aku mau kita saling percaya ga mau ada dusta diantara kita berdua..aku percaya sama Ghea, dan aku mau Ghea juga percaya sama aku. “Kata Vano merangkul Ghea             “Iya sayang aku percaya sama kamu, karena cinta dan sayangku hanya untuk Vano seorang tak ada yang lain. Aku cinta Vano apa adanya.. Untuk saat ini aku hanya ingin Vano yang ada disampingku. Aku tak mau kehilangan Vano ..”            “Iya aku juga seperti itu Sayang.Aku sayang dan cinta sama kamu selamanya hanya ada nama kamu dihatiku tidak ada tempat untuk yang lain…” ************************            “Hai Ghea..thanks ya sudah di confirm”kata-kata tersebut muncul di layar Laptopnya Ghea            “Hehehehheheehehe,,,sama-sama”kata Ghea membalas chattingnya Erick.            “Yang di profil, pacar kamu ya??”            “Iya..dia pacarku..emang kenapa?”            “Mantap..aku senang melihatnya…”balasan Erick            “Hehehe,,aku sayang banget sama pacarku, aku nggak pengen terpisah darinya..”            “Baguslah kalau begitu. .Kenapa ya kalau melihatmu aku selalu merasa gugup?” Ghea begitu terkejut dengan apa yang dibacanya. Jantungnya berdebar dengan begitu kerasnya.            “Oh ya, biasa aja kali. Emang aku artis..hihihi…??kalo ma aku artis itu kamu bisa gugup berhadapan denganku,,tapi ini khan Ghea cewek biasa”            “Wow…cewek cantik seperti kamu masih merendahkan diri saja. Aku senang dengan sifatmu..Foto-fotomu cantik banget..”            “Yang benar?malahan terlihat kekanak-kanakan..”            “Ga lagi. Kamu kelihatan dewasa kok dimataku..lihat yang aslinya dewasa banget” Ghea sedang bingung dengan perasaannya sekarang…            “Seandainya…..”            “Seandainya apa??”tanya Ghea penasaran            “Seandainya bisa memilikimu betapa senangnya..hatiku”dengan cepat Ghea membalas chattingnya            “Aku sudah punya pacar…”            “Iya aku tahu,,,aku akan tetap menunggumu sampai kamu putus dengan pacarmu..maaf kalau aku sudah  lancang…”katanya lagi             “Bisa nggak aku minta nomor telponmu?” Ghea terdiam sejenak            “Buat apa??khan sudah ada nomor rumahku..”            “sekali-kali aku pasti membutuhkanmu…”            “Oh ya? Kenapa harus begitu?”            “Tapi terserah kamu saja mau dikasih atau nggak aku nggak marah kok…”Ghea, pada akhirnya tidak memberitahukan nomor telponnya…dan dari situ berakhirlah obrolan mereka.            Ghea jadi bingung sendiri tak menyangka akan mengalami hal semacam itu. Cinta Ghea sama Vano kini diuji. Ghea tak bisa berpikir lagi dengan perasaannya sekarang. Orang yang baru dikenalinya di FB kini mengatakan hal yang aneh. Perasaannya jadi goyang. Pikirannya kini bercabang, satu Vano dan satunya lagi Erick. Tapi Ghea tetap berkomitmen untuk mencintai Vano dengan sesungguhnya.Ghea tak tahu kalau saat ini dia mulai memikirkan seorang Erick, tertarik dengan seorang Erick..            Ghea dan Vano barengan dari kampus langsung kerumah Ghea, jam menunjukkan pukul 5 sore. Tepat didepan rumah Ghea, Vano dan Ghea menuruni mobil Mercedes Benz-nya Vano, bertepatan dengan Erick yang sedang memarkir mobilnya tepat didepan pagar rumahnya. Dengan lambaian tangan dan senyum manis dari Erick, Ghea membalasnya dengan senyum. Erick tak kalah ganteng dengan Vano wanita mana yang tidak menginginkan pria sepertinya yang ganteng dan sudah mapan, dan tak lain adalah seorang General Manager disebuah perusahaan Otomotif.            “Siapa dia Ghe?tanya Vano sambil menggandeng Ghea masuk ke pekarangan. “Aku baru melihatnya”.katanya lagi            “Oh dia, tetangga baru. Baru 1 bulan lalu mereka pindah kesini dan baru akhir-akhir ini aku melihatnya. Mungkin kali lalu dia kadang keluar rumah ataupun sering pulang larut malam berangkat pagi-pagi sekali, sehingga tidak ada manusia yang mengenalinya..”Ghea senyum sendiri            “Oh ya, akrab ya sama kamu..” tanya Vano pada kekasih hatinya itu            “Nggak juga, aku dan dia tidak terlalu akrab…”            “Sayang kalo dia mengganggumu bilang sama aku ya?”Ghea begitu terkejut mendengar kata-kata Vano barusan..            “Kenapa sich sampai berkata begitu sayang?”            “Dia kelihatan liar dan aku tidak suka kamu kenal dengan cowok seperti itu..”            Ghea terdiam sejenak dan mencoba tersenyum pada Vano.            “Iya, aku akan memberitahukan padamu jika hal itu terjadi..” **********************************            Malam hari sudah didepan mata menunggu Ghea standbye didepan laptop kesayangannya yang dihadiahkan mamanya pada saat ulang tahunnya yang ke 17. Umur laptopnya sudah 4 tahun dan selalu menemaninya kemana-mana, sampai curhatan hatinya pun diketahui oleh teman bisunya itu. Alamat email dan password dimasukkannya, dan tiba-tiba terbukalah layar home pada Facebooknya yang sekarang lagi gemar-gemarnya diminati semua orang, baik yang kecil sampai yang tua. Erick muncul dalam jendela obrolannya dan mulai menyapa Ghea.             “Ghe, aku cemburu melihat kamu dengan pacarmu tadi sore, bisa nggak tidak melakukan hal itu lagi didepanku?..hatiku sakit…sekalipun kau bukan milikku dan telah menjadi milik orang lain aku sangat merasakan kecemburuan ini”            “Masa sich.. biasa aja, aku sangat mencintai pacarku dan begitu juga dengan dia yang sangat mencintaiku. Tak ada seorangpun yang bisa melarang kami berdua untuk mesra..”            “Ghea aku tidak melarangmu..aku cemburu sama pacarmu..seandainya aku mengenalmu lebih dulu sebelum dia mengenalmu, mungkin ceritanya tak akan seperti ini..Maaf karena aku mencintai seseorang yang bukan menjadi milikku”            “Iya aku tahu…kenapa sich kamu tidak mecobanya dengan pacarmu…”            “oh..aku tidak punya pacar Ghea,tak ada seorang wanita yang menyukaiku..kupikir aku terlalu buruk untuk seorang wanita cantik....”            “Owww….aku rasa tak segitunya, pasti akan ada seorang wanita yang mencintaimu kelak..dan jika itu sudah terjadi kamu pasti akan merasakannya, bagaimana saling mencintai dengan seseorang yang selalu membuatmu bahagia dan selalu berada disisimu ketika kamu mengalami kesulitan.”            “Iya aku tahu itu.. usiaku sudah menginjak 27 sudah terlalu tua, dan aku ingin melepas masa lajangku jika aku sudah menemukan orang yang benar-benar mengerti aku dan bisa memahami aku…”“Memang di usia seperti itu sudah cukup matang untuk seorang Erick memutuskan untuk membina sebuah rumah tangga yang baru…”“Kalo seandainya aku mengajakmu kawin denganku, kamu mau nggak???”Kata-kata Erick membuat Ghea berpikir panjang..”ehm lupakan saja,,,bisa nggak aku minta nomor telponmu untuk yang kedua kalinya..”            “Ehm Hpku ada sama pacarku ,kemarin tertinggal di mobilnya..”            “ooopsss…ga pa pa..kasih aja…”            “Emang penting ya..”kata Ghea            “Ghe aku tidak akan menelponmu sekarang…kamu takut ya?Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian…Percayalah padaku Ghe..aku tidak akan melakukan hal itu..” Dengan berat hati aku memberikan nomor HP-ku…            Akhirnya dia pun tahu nomor HP-ku, dan ketakutan mulai melanda hati Ghea..mengingat kata-kata Vano tempo hari (“kamu jangan ngasih nomor HP-mu ke sembarang orang..”)            Ghea sudah terlanjur memberikan nomor HP-nya dan dia telah menyesali akan hal itu. Tapi pada akhirnya perbuatannya itu telah membuatnya lebih dalam berhubungan dengan seorang Erick. Ghea ga tahu apa yang dirasakannya sekarang. Vano pun tak tahu apa yang dilakukan Ghea selama ini dibelakangnya. Hampir tiap hari setiap malam, Ghea dan Erick ngobrol lewat FB, dan kadang-kadang sebelum ke kampus mereka ngobrol sebentar, walaupun hanya bercerita tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tak pantas diceritakan. Kian hari semakin menanjak waktu ketemu mereka. Ghea tidak tahu dengan apa yang telah dilakukannya dibelakang Vano. Dan dia tidak tahu bahwa yang dilakukannya sekarang telah mengalahkan komitmennya untuk berhubungan serius dengan Vano. Kedekatannya yang dimulai di Facebook..membuatnya mulai sedikit melupakan orang yang selama ini bersama-sama dengannya menjalani hidup dalam suka dan dukanya walaupun hanya sebentar. Erick cukup pintar untuk merebut Ghea dari rangkulan orang lain, dan Erick pun melakukan ini bukan karena dia ingin mendapatkan  Ghea hanya untuk senang-senang. Tapi untuk dijadikannya pendamping hidupnya kelak.            Sepulang dari kantornya Erick mampir sebentar ke rumah Ghea, bertepatan Ghea sedang berada dipekarangan rumahnya sambil menyiram bunga-bunga ditamannya. “Ghe, sebentar ada acara???aku mau ngajak kamu Dinner…”            “Ehm…sebenarnya ada….Aku sudah janjian dengan Vano…”            “ow.,,,,nggak pa pa, kalo kamunya memang sudah janjian sama dia nggak masalah dia kan pacarmu…”            “Maaf ya Erick, nanti kapan-kapan aja kita jalan..”            “Tapi Vano ngasih nggak??”            “Ya..mau nanya dulu sama dia, ,,,”kata Ghea sedikit berpikir            “Aku tahu jawabannya,, dia pasti tidak mengijinkanmu..kalaupun aku jadi dia, aku tidak akan melakukan hal itu..”            “Ya udah kalo gitu kamu bersiap-siap saja untuk acaramu sebentar malam..”            “Ok..thanks…acaraku itu akan menjadi malam terakhir bagiku dengannya”            “Kenapa Ghe..?”tanya Erick            “aku ga tahu,,,tapi perasaanku berkata demikian…”            “Aku tahu jawabannya…Aku suka kamu dan ingin bersamamu selamanya, dan aku ingin segera melamarmu, secepatnya. Maukah kamu menjalin hubungan denganku?” Ghea hanya tersenyum menatap Erick yang dengan balutan baju kantornya, dengan sedikit membungkuk, membiarkan bibirnya mencium Ghea yang agak deg-degan dengan perbuatannya demikian..dengan sebuah ciuman mendarat di bibirnya Ghea mengisyaratkan bahwa Ghea menerima permintaannya. *******************************            “Ghe, aku merasa ada yang lain sama kamu..di kampus kita sudah jarang ketemu, dirumah juga begitu, hanya berhubungan lewat telpon saja. Kamu juga nggak ngabarin aku lagi..AKu bingung sama kamu. Aku mengajakmu keluar untuk membicarakan kelanjutan hubungan kita berdua. Gimana mau berlanjut kalo kita seperti ini.. Kamu punya masalah dengan keluargamu?cerita sama aku sayang. AKu tidak mau kamu seperti ini, kamu sudah bukan Ghea yang kukenal dulu. Ghe,,ngomong sama aku..kenapa kamu begini Ghe????”            “Vano, kupikir kita bisa bersama-sama selamanya, tapi sekarang aku berkata itu tak mungkin..”            “Kenapa Ghea?”            “Vano, aku minta maaf, aku tak bisa memegang komitmen kita. Aku tak bisa mendustai perasaanku sendiri. Aku memang suka kamu, sayang kamu dan cinta sama kamu, tapi perasaanku yang sekarang berbeda. Aku menyukai orang lain Vano, dan aku tak mau membohongi perasaanku sendiri. Aku ingin kamu memaafkanku, aku tak bisa menjalin hubungan ini lagi. Karena aku telah berdosa padamu. Aku tak ingin melakukannya,,tapi perasaanku berkata lain. Wanita selalu menggunakan perasaan apabila mau melakukan sesuatu., dan aku telah melakukannya.Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan untukku dan terima kasih banyak untuk keluargamu yang sudah baik padaku dan menerimaku. Maaf Vano hubungan kita harus berakhir..”“Apa maksud semua ini Ghea??” “Aku tak bisa membohongi perasaanku bahwa aku mencintai orang lain,”“Aku menyukai Erick..dan begitupun dengannya..maafkan aku Vano…”, Kata yang paling ditakutkan Ghea akan keluar dari mulutnya, akhirnya harus keluar juga, ia tak tahu kenapa dia melakukannya.tapi dari hatinya yang terdalam kini hadir seorang Erick dan ia akan mencoba untuk menjalin hubungan dengannya sampai ke jenjang yang lebih jauh lagi.

 

 

 

 

 

 

 

CERPEN : asam manis cinta

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: tika

Total cerpen di baca: 286

Total kata dlm cerpen: 1127

Tanggal cerpen diinput: Fri, 19 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 1:27 AM

0 Komentar cerpen

 

 “Lun, dicariin tuh sama rendy..” teriak jerry mengejutkanku. Aku menoleh pada jerry. “dimana rendy?” tanyaku. “tuh di taman sekolah” jawab jerry. Aku pun bergegas menuju ke taman sekolah. Rendy adalah pacarku yang juga sekelas denganku.    “Ren.. kata jerry kamu nyari aku ya..? ada apa ren?” tanyaku bingung. “Lun.. aku gak tau gimana jelasin ke  kamu. Lun, seminggu lagi aku akan dipindahkan ke Australia. Ayahku dapat tugas disana. Meskipun hanya sementara tetapi kemungkinan aku akan lanjut sekolah disana untuk sementara waktu juga.” Jawab rendy dengan gelisah. Aku hanya diam mendengarnya. Aku tak sanggup berkata-kata. Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Aku tak bisa membayangkan gimana kesepian tanpa rendy.    “Lun.. kamu kok nangis sih.. jangan nangis.. aku mohon. Aku janji meskipun telah sampai disana nanti, aku tetap akan menghubungimu melalui email. Hanya saja kita tidak akan bertemu untuk sementara. Dengan kata lain kita pacaran jarak jauh” katanya sambil mengusap air mataku. Aku terdiam sejenak lalu berkata “ janji ya.. aku sayang banget sama kamu ren..”    “ya.. aku janji.. aku juga sayang banget sama kamu” jawab rendy sambil memelukku sejenak.     Teng… Teng… Teng.. Teng...    Bel pun telah berbunyi. Aku dan rendy bergegas masuk kelas. Aku duduk disebelahnya. Selama pelajaran berlangsung aku hanya diam sedangkan rendy sibuk melihatku. Mungkin karna dia tahu aku sedang memikirkannya.     Akhirnya lonceng menandakan pulang pun berbunyi. Aku diantar pulang oleh rendy seperti biasanya. Di dalam perjalanan pulang, Rendy sibuk menghiburku sambil mengemudi mobil. Tetapi aku pun hanya diam. Aku sedih memikirkan waktu singkat yang tinggal seminggu lagi, aku takut aku tak sanggup pisah dengan nya. 

Walaupun aku tahu ini hanya sementara tetapi tetap saja kami pacaran jarak jauh.    “Lun.. Lun…” panggil rendy membuyarkan lamunanku. “kamu kenapa Lun..? jangan sedih lagi ya.. kita kan gak pisah selamanya. Hanya sementara kok” rendy terus berusaha menghiburku.    “iya sementara.. tapi sampai kapan ren..?” tanyaku cemas.  “aku juga sendiri belum tahu sampai kapan. Itu semua tergantung ayahku lun.” Jawab rendy dengan lesuh.. aku hanya diam mendengar jawabannya.     Hingga sampai dirumah, aku pun langsung turun dari mobil nya tanpa berkata-kata. Aku langsung bergegas masuk ke kamarku. Aku menangis karena tak sanggup menahan kesedihanku. Tiba-tiba mama masuk ke kamarku. Mama terkejut dan berusaha menghiburku. Mama bertanya apa yang terjadi tetapi aku pun tak menjawabnya. “ya sudah kalo kamu tidak mau cerita.. mama tinggal dulu ya… kamu jangan nangis lagi ya. Kalo ada masalah, hadapi dengan sabar ya..” kata mama. mama pun berlalu dari hadapanku.    Hari berganti hari aku dan rendy beraktivitas seperti biasanya. Akhirnya hari keberangkatan rendy pun tiba. “ren.. jangan pergi ren..” aku memohon padanya. “Luna sayang.. aku harus pergi.. kamu jangan sedih lagi ya.. aku akan sering-sering mengirimi kamu email kok. Aku pergi dulu ya” kata rendy sambil memelukku. Aku hanya mengangguk sambil menangis. Rendy pun segera berangkat karna takut telat dan dia pun berlalu dari hadapanku.    Akhirnya hari-hari tanpa rendy pun dimulai. Setelah pulang sekolah aku pun langsung menuju di depan komputer untuk mengecek email. Tapi tak ada satu pun email yang masuk dari rendy. Hal itu membuat aku sangat sedih. Tetapi aku berusaha tegar dan bersabar. Mungkin dia belum sempat pikirku. Untuk menghibur diri sendiri aku pun membuka televisi. Tanpa kusadari airmataku menetes terus menerus. Mama tiba-tiba datang menghampiriku.    “kamu kenapa lagi nak..?” Tanya mama. aku terus menangis dan memeluk mama. “Rendy ma.. rendy…”    “rendy kenapa…?” Tanya mama. sambil menunjuk televisi aku berkata “ itu ma…. Pesawat yang ditumpangi rendy kecelakaan dan tidak ada satu orangpun yang selamat ma…”  “inailahi wainailahi rojiun.. sabar nak.. Tuhan sedang menguji kamu..” kata mama. aku terus menangis dan terus menangis. Tiba-tiba aku pusing. Aku terjatuh dan aku tak tahu apa-apa lagi.     Begitu kubuka mata terlihat jerry sedang disampingku. “Lun.. syukurlah kamu sudah sadar” kata jerry. “ aku dimana nih.. apa yang terjadi padaku jer..?” tanyaku bingung. “ kamu sedang di rumah sakit Lun.. kamu tak sadarkan diri selama 3 hari dan aku sangat khawatir Lun… kamu pingsan setelah tahu bahwa rendy kecelakaan” jawab jerry dengan cemas. Aku pun teringat  akan hal itu lagi. Aku sangat terpukul akan hal itu. Aku berusaha tegar menghadapi semua itu. Mungkin mama benar bahwa Tuhan sedang mengujiku.     Aku pun telah pulih dan menjalani aktivitasku seperti biasanya. Hari demi hari, bulan demi bulan kujalani semua itu tanpa rendy lagi. Rendy telah meninggalkanku untuk selamanya. Kini hanya ada jerry yang selalu menghiburku dan selalu disampingku. Ntah mengapa aku merasa bahwa kebaikan jerry sangat tulus padaku. Dia begitu perhatian kepadaku. Aku sangat beryukur mempunyai teman sebaik jerry.     Tanpa terasa 2 tahun telah berlalu dan aku pun telah lulus SMA.  “Lun.. ntar malam kamu ada acara gak..? boleh gak aku ngajak kamu dinner bareng..?” Tanya jerry padaku. “hmm.. gimana ya..? boleh deh klo gitu. Lagian aku juga boring banget.” Jawabku tersenyum.     Malam yang dinanti pun telah tiba. Jerry menjemputku. Kami dinner di sebuah cafe yang cukup mewah. Mungkin bagi jerry itu biasa karna dia juga bisa termasuk dari keluarga yang berada. Kami berbincang- bincang sambil bercanda. Di tengah perbincangan jerry memotong pembicaraanku. Tiba-tiba jerry memegang tanganku. Hal itu membuatku sangat terkejut. “Lun.. lupakanlah masa lalumu. Bukalah lembaran baru. Ikhlaskan kepergian rendy..”   “tapi jer…” jawabku.. “Lun.. selama 2 tahun ini aku selalu berusaha menghiburmu. Asal kamu tahu Lun, aku tak sanggup melihatmu terus-terusan sedih. Lun, dari pertama aku kenal kamu, aku sudah suka banget sama kamu lun. Hanya saja aku tidak berani ungkapin karna aku tahu rendy sangat sayang sama kamu tapi kini rendy telah pergi meninggalkan kita Lun.” Aku terkejut mendengar pernyataan dari jerry. Aku meneteskan airmata. Tidak kusangka selama ini  jerry begitu tulus padaku. Bahkan dia sampai mengorbankan perasaannya sendiri demi persahabatannya dengan rendy. “Lun.. aku sayang banget sama kamu.. meskipun aku tidak sebaik rendy tetapi aku janji akan selalu menjagamu, aku akan selalu bersamamu dan aku janji akan bahagiain kamu.. Lun.. maukah kamu jadi pacarku?” kata jerry sambil menatapku   Aku pun berpikir sejenak dan aku mengangguk sambil menjawab “iya.. aku mau jadi pacar kamu.. makasih ya jer dengan ketulusanmu selama ini buatku..”  Kini hari-hariku telah terhibur bersama Jerry dan kesedihanku pun telah terlupakan…

 

CERPEN : CINTA BAWA PERGI

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: erizma

Total cerpen di baca: 359

Total kata dlm cerpen: 1429

Tanggal cerpen diinput: Thu, 18 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 1:35 PM

1 Komentar cerpen

 

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Angsana New"; panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:16777219 0 0 0 65537 0;} @font-face {font-family:"Bradley Hand ITC"; panose-1:3 7 4 2 5 3 2 3 2 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:14.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Angsana New";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

CINTA  BAWA PERGI

 

 

          

Halte di sudut kota telah ramai,banyak orang – orang berkeliaran entah tujuannya. Berulang kali bus berhenti manaik – turunkan penumpang. Di seberang jalan tampak stasiun kota yang di padat,mereka mengantri di peron menanti kererta api yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka.

Di halaman luar tersedia bangku panjang menghadap ke jalan kereta,di situlah biasanya Hilman duduk matanya memandang tajam ke langit,sebentar-sebentar kepalanya menoleh ke kiri atau ke kanan ia mengawasi setiap kereta yang datang. Penjaga loket dan tukang sapu stasiun tak asing lagi dengan wajah Hilman. Namun kebiasaannya sudah di anggap wajar. Mungkin saking seringnya. Hilman selalu datang setiap pukul tiga sore dan akan kembali pulang saat maghrib menjelang. Bulan berganti bulan bertahun lamanya Hilman mengakrab dengan debu kereta,yang ia lakukan hanya menunggu dan menunggu berdiam di sudut bangku tua itu. Entah apa gerangan yang di tunggu ,meski dirinya telah jatuh sakit namun ia tak pernah absen dari bangku stasiun yang seakan sudah hafal benar dengan bau parfumnya. Tak jarang tukang sapu halaman stasiun menghampiri Hilman untuk basa- basi sebentar. Mungkin pak Jamsi panggilan akrab tukang sapu stasiun,ingin tahu apa yang dilakukan oleh Hilman dan siapa gerangan yang ia tunggu selama kurang lebih dua tahun ini. Akhirnya dengan sedikit cerita dari pak Jamsi Hilman mau membuka diri padanya.

Ia berkata pada pak Jamsi bahwa ia sedang menunggu kekasih hati yang pergi merantau.

            Sore itu langit tersenyum ramah  pada Hilman dan pak Jamsi,Hilman memutar memori masa silam sambil menceritakan pada pak Jamsi. Ia teringat ketika ia melepas gadisnya di stasiun ini,gadisnya berkata bahwa ia akan kembali. Pada waktu itu Hilman tak mengetahui bahwa gadisnya yang pergi jatuh sakit,gadisnya menderita Leukimia dan mungkin tak terselamatkan.tetapi hal ini dia sembunyikan dari Hilman. Ia juga menerangkan alasannya mengapa Hilman selalu menatap langit biru meskipun mendung bergelayut dan awan hitam tampak tebal. Karena di bawah langitlah gadisnya berjanji padanya,gadisnya berpesan jika Hilman rindukannya maka ia akan senantiasa tersenyum dan melihat Hilman dari langit itulah yang ia katakan untuk menghibur Hilman.

            Bertahun- tahun lamanya gadis Hilman belum juga kembali,namun Hilman tetap menanti dengan setia. Ia cukup lega dengan memandang langit seakan telah ia temukan sosok gadisnya yang jelita di atas sana.

Hari ini tepat hari Senin Pak Pos datang mengirim surat pada Hilman,ia baca sampul depan amplop tertuju untuknya,di bawah namanya tertulis alamat pengirim. Setelah ia terima surat itu,ia tak sabar segera membuka dan membaca isi surat itu. Ternyata dari gadisnya.

Dari kejauhan ia mengabarkan tentang keadaanya,gadisnya menerangkan bahwa dirinya sedang baik – baik saja,dia mengabarkan bahwa dirinya akan segera pulang hari esok. Hilmanpun berjingkrak tak sabar menunggu hari esok tiba, yang terbayang di pikirnya adalah wajah gadisnya yang jelita, dan isi surat dari gadisnya,

            “Esok hari aku akan pulang,sambutlah aku dengan senyummu. Dan tunggulah aku di stasiun tempat kita berpisah dahulu. Akupun sama sepertimu ingin segera melepas rindu,bertahun lamanya aku harus bertahan di negeri orang demi sesuatu yang harus aku lakukan, maafkan aku,aku tak pernah mengirim kabar untukmu! Mungkin telah lama engkau menantinya…

Bila benar Tuhan menghendaki pertemuan kita sebelum yang terakrhir kali,sekali lagi maafkan aku. Aku belum dapat memberi tahumu alasanku pergi..

Bila benar Tuhan menghendaki pertemuan kita sebelum yang terakhir…

Nantikan aku Hilman”

 

Tertanda : Amella

 

 

Surat pendek yang di baca Hilman dari gadisnya,ia berulang kali membaca surat itu. Namun ia masih menerka maksud “Bila benar Tuhan menghendaki pertemuan kita sebelum yang terakhir” ia masih bingung dengan kalimat itu. Namun kebingungannya terkalahkan oleh rasa girangnya.

Esok pagi Hilman bersiap untuk menyambut kedatangan seseorang yang bertahun ia nantikan,sarapan pagi sudah terhidang di atas meja. Pukul tujuh pagi ia berangkat dari rumah,tujuh lewat sepuluh ia sudah hadir di stasiun. Duduk di bangku sudut. Dengan ramah Hilman menyapa pak Jamsi dan orang – orang di loket. Wajahnya tampak ceria berseri.

Detik – detik berlalu tak sabar menunggu gadisnya kembali pulang,yang ada di pikirnya sekarang adalah melepas rindu dengan gadisnya. Seperti biasanya ia memandang langit penuh harap. Denting jam menunjukkan pukul dua belas siang,beberapa kereta datang dan pergi tapi Hilman tak kunjung menemukan gadisnya,rasa cemas mulai menghantui dirinya tapi berhasil ia tepiskan. Tak terasa jam berlari kencang hingga senja di ufuk turun. Hati Hilman bergemuruh bercapur kecewa dan cemas,ia tak lelah menanti gadisnya hingga sang surya di gantikan bulan.

Dalam hati Hilman bertanya mengapa gadisnya tak kunjung datang??? Mungkin ia berhalangan hadir hari ini. Hilman berniat esok menanti kedatangannya.

            Malang sungguh malang hanya kata esok dan esok yang ada dalam kamus Hilman. Tetap yang ia nanti tak jua hadir. Hingga berganti bulan lamanya ia menanti. Hilman mengirimkan surat pada alamat yang pernah di tuliskan oleh gadisnya, tak kunjung jua berbalas.

Rasa gelisah terus menghantui Hilman. Nyaris setiap harinya tak ada senyum menghiasi wajah mungilnya. Barulah ia sadar ketika surat kedua sampai di tangannya. Bukan dari gadisnya melainkan orang tua gadisnya,mereka mengabarkan ketika mereka hendak pulang gadisnya jatuh sakit maka dari itu kepulangannya di undur.

Setelah gadisnya tersadar dari pingsannya ia menyempatkan diri untuk pulang sebelum ajalnya datang. Ia tahu bahwa tak ada harapan lagi untuk bertahan hidup. Tanpa sepengetahuan Orang tua gadis Hilman pergi meninggalkan sepucuk pesan di atas bantal berwarna merah jambu,bekas infus masih tergantung rapi di tempatnya. Gadis Hilman keluar dari depan pelataran rumah sakit ia pergi dengan taxi  menuju bandara dan sesampainya di bandara segera ia tunjukkan paspor. Pesawat Garuda Indonesia telah tampak dari balik kaca di sebelah kanan gadis Hilman. Beberapa menit kemudian pesawat di berangkatkan. Gadis Hilmanpun merasakan hal yang sama rindu yang tersimpan bergelora dalam benaknya. Pramugari mengumumkan pesawat segera mendarat dengan kecepatan sekian. Gadis Hilman tak sabar turun dari  pesawat dan berlari menuju stasiun. Tanpa ia minta di sana Hilman sudah menunggu gadisnya. Pukul tiga sore ya,tiga sore kereta yang di tumpangi gadis Hilman berhenti di stasiun tempat Hilman menunggu. Dari sudut Hilman mengamati orang – orang yang turun dari kereta. Namun tak kunjung tiba. Ternyata dugaannya salah dari gerbong belakang penumpang terakhir yang turun adalah seseorang yang di nanti Hilman bertahun – tahun telah tiba,tampak wajah pucat pasi berjalan ke arah Hilman dengan langkah tertatih. Hilman yang tertegun melihat kejadian ini seakan tak percaya dengan yang dilihatnya. Spontan ia berlari menghampiri kekasihnya.

Ulasan senyum tampak dari wajah kekasihnya. Tak sia – sia ia menanti kedatangannya selama ini. Yang ia rasakan senang tiada tergambar. Ia tak mampu berkata – kata.

Hilman memeluk erat gadisnya, ia melepas rindu bertahun yang ia pendam. Di pelukan Hilman pula ia lepas Hilman untuk selamanya dan tak akan kembali. Benar di pelukan Hilmanlah gadisnya meninggal dunia. Lalu apa yang hendak di kata takdirnya harus demikian. Berubahlah girang Hilman menjadi duka yang mendalam. Cinta Hilman dia bawa pergi untuk selamanya.

            Itulah alasan Hilman untuk selalu datang mengunjungi stasiun ini dan di bangku itu pula Hilman selalu duduk termangu. Kini bukan lagi Hilman muda yang  hidupnya hanya ia habiskan di sebuah stasiun itu hingga akhir hayatnya. Kali ini yang tampak adalah Hilman yang tua rentan dan rambutnyapun di penuhi oleh uban.

 

 

 

CERPEN : mutasi hantu bag. 2

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: marciano

Total cerpen di baca: 1130

Total kata dlm cerpen: 303

Tanggal cerpen diinput: Mon, 26 Oct 2009 Jam cerpen diinput: 8:47 PM

0 Komentar cerpen

 

beberapa hari setelah pertemuannya dengan ribuan jin yang mengadukan nasibnya yang tertindas di bawah pimpinan ki edi edan, mbah darmo pergi menyepi ke gunung sendang. ia mencoba memusatkan fikirannya demi mendapat keputusan terbaik bagi jin-jin yang mengadu kepadanya.

 

tanpa didampingi aymrgam, abdi setianya. mbah darmo menyepi selama tiga hari- tiga malam. selama itu pula, kecemasan semakin melanda jin-jin yang mengadu kepada mbah darmo. karena ki edi edan mulai mencium gerakan yang dilakukan ribuan jin tersebut.

 

kuatir dengan perlawanan yang akan dilakukan mbah darmo beserta ribuan jin yang memberontak. ki edi edan mulai menyusun kekuatan, ratusan dukun senior ia hasut agar memusuhi mbah darmo.

 

berbagai cerita bohong ki edi edan sebarkan demi melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua ISI, ikatan syetan indonesia. mulai dari ambisi mbah darmo untuk menyingkirkan dukun-dukun senior dengan dukun-dukun muda yang seangkatan dengannya di STISID La Mara. hingga keinginan mbah darmo untuk memperoleh kekuatan abadi untuk menguasai dunia perdukunan internasional.

 

banyak dukun senior yang terhasut, hanya sedikit yang tidak mempercayainya. terutama dukun-dukun yang dekat serta mengenal pribadi mbah darmo yang sesungguhnya. walaupun mbah darmo kadang suka meledak emosinya. namun ia tak akan pernah berbuat sehina itu dengan menyingkirkan para dukun senior.

 

setelah tiba dari gunung sendang. mbah darmo menerima surat panggilan dari dewan dukun, untuk menjelaskan kabar tak sedap yang beredar di dunia dukun. dukungan dari berbagai pihak yang dekat dengan mbah darmo terutama dari rekan seperjuangan dalam menentang kesewangan ki edi edan.

 

beberapa hari sebelum pertemuan dengan dewan dukun, mbah darmo mengadakan pertemuan dengan dewan pertimbangan pribadinya yang terdiri atas, kazu. medama, aiolos, nabutu dan mustafa.mereka membicarakan langkah-langkah terbaik yang akan diambil dalam menghadapi tuduhan bohong yang dialamatkan kepada mbah darmo.

 

CERPEN : Untuk senyummu, mama

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: yunita

Total cerpen di baca: 1232

Total kata dlm cerpen: 1386

Tanggal cerpen diinput: Wed, 14 Jan 2009 Jam cerpen diinput: 5:24 PM

0 Komentar cerpen

 

 

 

 

            Mamaku single parent. Lima tahun yang lalu mama memutuskan bercerai dari papa karena papa punya wanita lain yang tidak lain adalah teman sekantornya.

            Aku sangat marah dan benci ketika untuk pertama kalinya papa kulihat tengah beralan berduaan sama wanita itu di sebuah Mall pada suatu siang. Awalnya aku berusaha menyimpan rahasia itu dan berusaha menyembunyikannya dari mama. Tapi akhirnya mama sendiri yang memergoki mereka sedang keluar dari kantor untuk makan siang di sebuah cafe.

            Setahun lebih mama mencoba bertahan sejak papa kepergok jalan sama  wanita itu. Tapi kelakuan papa semakin menjadi-jadi. Lama-kelamaan aku jadi yang mulai tidak tahan dengan perlakuan itu. Aku tidak ingin melihat papa selalu memukuli mama setiap kali mereka bertengkar. Aku pun tak ingin mama jadi selalu terluka batin dan jiwanya. Karena itulah aku dukung keputusan mama untuk bercerai dari papa walaupun papa selalu mengatakan maaf setiap kali selesai berlaku kasar.

            Kesabaran tentu ada batasnya, untuk apa mama selalu memberi kata maaf jika selalu kesalahan-kesalahan papa terulang dan terulang lagi, pikirku. Aku memang tak berhak mencampuri urusan mama dan papa, tapi sebagai anak aku ingin keputusan yang terbaik. Maka jika bercerai adalah keputusan yang terbaik bagi mama, kenapa aku tidak merelakannya. Toh, aku masih bisa tetap bahagia tanpa papa ada bersama kami lagi walau silaturahmi harus tetap terjalin diantara kami. Yang terpenting bagiku adalah terus melihat mama tersenyum.

            Mungkin itulah sebabnya kenapa aku menyetuui saja ketika mama mengungkapkan keinginannya untuk menikah lagi. Tak hanya karena ingin memberi figur baru seorang papa padaku tapi juga karena mama telah menemukan laki-laki yang bisa membuatnya tersenyum bahagia seperti inginku. Dan orang itu adalah om Win. Laki-laki yang umurnya lebih tua dari mama beberapa tahun dan duda mempunyai anak satu. Om Win juga sekantor sama mama selama lebih dari tujuh tahun ini. Jadi mama cukup mengenal om Win.

            “ Vic, ikut mama makan malam yuk!! Masa kamu selalu menolak ajakan om Win sich, nggak enak dong.” ajak mama

            “ Nggak bisa nich ma, lain kali saja dech. Vica lagi banyak tugas sekolah nich!!” jawabku bohong

            “ Khan cuma sebentar. Ntar pulangnya kamu bisa kerja’in lagi.” Rayu mama lagi

            “ Beneran nich ma, Vica bener-bener nggak bisa?”

              Ya udah kalau gitu, kamu aga rumah baik-baik ya!! Mama mau pergi dulu sebentar. Oke!!”

            “ Siiiiip dech!!” kuacungkan jempol tanda setuju sambil tersenyum manis ke arah mama. Kulihat mama pun mulai menghilang dari balik pintu kamarku.

            Begitulah, aku selalu mencari seribu alasan untuk menolak ajakan mama pergi keluar sama om Win. Bukan karena aku tidak menyukainya, tapi karena perasaanku yang masih asing terhadap om Win yang sebentar lagi menadi papa baruku. Apalagi om Win bukan ayah kandungku jadi tetap saja lain walau nanti jadi papaku.

*

            “ Vic, mama pergi ya?” Dio duduk disampingku

“ Iya. Memang kenapa?”   kuganti saluran chanel tv dari remote yang aku pegang. Kulihat Dio tengah asyik membuka-buka sebuah novel di tangannya. Siang tadi dia datang ke rumahku untuk mampir karena kebetulan mengantar bingkisan dari mamanya yang dititipkan bagi bibi-nya yang tinggal dikota ini.

Jarak yang memisahkan kami memang resiko yang harus ditanggung. Dan Dio yang selama hampir tiga bulan ini kadang seminggu sekali mengunjungiku.

Kuingat kembali kenangan saat berlibur ke rumah nenekku yang ada di luar kota. Seminggu tinggal di sana, membuatku berkesempatan mengenal Dio. Saat itu Dio juga tengah berlibur ke kota itu untuk menemui mamanya. Dan mungkin karena kami sama-sama punya latar belakang keluarga broken home, kami jadi cepat merasa akrab. Banyak kegiatan-kegiatan yang mengasyikkan bagiku waktu seminggu bersamanya. Termasuk pengalamanku mengenal kail pancing hingga menanam bunga hias di kebun rumah mamanya.Begitu liburan usai dan saatnya pulang ke rumah masing-masing, Dio berjani untuk tidak melupakan pertemanan kami yang akhirnya jadi cerita cinta itu.

Mungkin bisa dibilang Dio adalah cinta pertamaku. Walaupun pernah ada beberapa nama yang pernah mengisi hatiku tapi perasaan terhadap Dio kurasakan sangat lain. Dio juga sangat baik dan perhatian. Hal itu membuatku semakin menyayanginya dan berjanji di depan mama waktu curhat di suatu siang untuk setia sampai kapanpun.

Hingga di suatu malam, sesuau membuatku terkejut akan kedatangan om Win bersama Dio.

“ Dio?!??” pekikku tertahan. Kulihat mama juga tak kalah terkejutnya denganku.

“ Lho, adi kalian sudah saling kenal??” om Win menatapku dan menatap Dio bergantian. Kulihat Dio terdiam tertunduk lesu.

“ Win, jadi Dio itu putra kamu yang sering kamu cerikan itu?” mama mencoba memastikan penglihatannya. Karena sejauh ini, Dio mama kenal sebagai pacar aku.

“ Iya. Memang kenapa? Sebenarnya ada apa sich ini, aku jadi bingung. Ada yang bisa menjelaskannya tidak? “ om Win melihat kearahku, mama dan kearah Dio secara bergantian.

“ Sini, kita harus bicara sebentar. Maaf om Win, pinjam Dio sebentar!!” segera kutarik lengan Dio untuk mengikutiku ke arah taman.

“ Vic, kenapa keadaan jadi kayak gini? Aku benar-benar tidak tahu kalau yang dimaksud oleh papa tante Nola itu adalah mama kamu. Aku tidak pernah bertemu dengan tante Nola yang selama ini papaku ceritakan di rumah. Aku pun baru sadar sewaktu sudah berada di depan rumah kamu Vic.” Dio mengeleng-gelengkan kepalanya.

“ Sekarang bagaimana? Apa papamu tahu hubungan kita?”

“ Tidak. Aku jarang berbicara tentang hal-hal pribadiku pada papaku, termasuk tentang kamu.”

“ Tapi mamaku bilang, papamu yang aku panggil om Win itu adalah calon papa baruku. Bahkan mereka sudah menentukan tanggal pernikahan. Kalau itu benar-benar terjadi maka kita akan menjadi kakak dan adik tiri.”

“ Kalau begitu, aku akan bilang ke papaku dan mengatakan tentang hubungan kita biar pernikahan itu dibatalkan saja. Beres khan?!”

“ Tidak, jangan!! Mamaku selama ini bahagia bersama om Win. Aku tidak bisa merenggut kabahagiaan mamaku begitu saja. Lebih baik aku saja yang mengalah.” Dengan lemas aku tiba-tiba mengatakan kalimat itu.

“ Tapi Vic, masa sich harus kita yang mengalah. Dimana-mana yang ada adalah yang tua yang harunya mengalah pada yang muda. Aku nggak setuju.” Dio tiba-tiba sedikit emosi. Kulihat dari pancaran matanya yang gusar dan nanar.

“ Ini memang kejadian yang memang tidak seharusnya terjadi tapi kenyataannya kita harus tetap memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Untuk hal yang satu ini aku memilih untuk mengalah demi melihat senyum mama hadir kembali di setiap hari-hariku. Aku ingin mamaku bahagia Dio!! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk bisa membuat mama bahagia walau aku harus berkorban sesuatu seperti sekarang ini. Maafkan aku Dio!!” tiba-tiba tetes demi tetes air mataku harus meluncur dari sudut mataku karena tak kuasa menahan desakan perasaan di dalam dadaku.

“ Ya sudahlah terserah kamu!! Percuma aku memaksakan perasaan ini padamu. Ternyata kamu cewek pembohong Vic!!.” Dio langsung berbalik dan lari menjauhiku. Perlahan Dio pun menghilang dari pandangan mataku di tengah hiruk-pikuk ramainya jalan raya tanpa menghiraukan panggilanku lagi.

“ Diiiiiiiiiooooooooo!! “ tangisku tersedu-sedu memanggil Dio yang entah betapa hancurnya mendengar keputusannku tadi. Mungkin dia kini jadi membenciku. Maagkan aku Dio, ini kulakukan demi mamaku. Mama yang sangat kusayangi melebihi nyawaku sendiri. Maafkan aku..!!! by yunita

 

 

CERPEN : TENTANGMU, LUKAKU, DAN BELAHAN JIWAKU

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: lov3ly_rabbit

Total cerpen di baca: 1569

Total kata dlm cerpen: 918

Tanggal cerpen diinput: Fri, 8 Jan 2010 Jam cerpen diinput: 8:36 AM

0 Komentar cerpen

 

Malam kian larut, namun mataku seolah enggan terpejam. Sekilas kenangan tentangmu terbayang di pelupuk mata. Mendadak badanku lemas, dadaku sesak, dan mataku terasa perih menahan genangan air mata. 4 bulan tlah berlalu sejak peristiwa itu, namun rasa itu masih tetap ada ketika aq mengingatmu. Hatiku terasa perih bagai tertusuk ribuan duri. Sekuat tenaga aq menahan air mataku agar tidak terjatuh ke pipi. Aku pun hanya bisa diam membisu mengingat semua memori lalu yang pernah terukir di tempat ini. Tempat dimana kita pernah mengisi hari liburan kita dengan canda tawa dan kemesraan. Dan di tempat ini pula kau melamarku menjadi istrimu.Namun kini semua berbeda. Saat ini aku duduk sendirian di taman tempat kau dulu meminangku. Aku merasa kesepian di tengah keramaian pesta api unggun. Sungguh berbeda dengan suasana 4 bulan yang lalu. Saat itu kau berlutut di hadapanku dengan membawa sebuket mawar putih yang ditengahnya terselip sepasang cincin yang indah terbungkus kotak mungil nan cantik. Tak bisa ku lukiskan bahagianya aku ketika menerima pinanganmu. Kau pun berjanji tuk setia padaku, selalu mencintaiku, dan menyerahkan seluruh hidupmu padaku. Dan betapa bodohnya aku yang mempercayai ucapanmu.Tawangmangu memang tempat berlibur yang menyenangkan di wilayah Solo-Karanganyar meski sudah ratusan kali di datangi. Makanya aku langsung menerima ajakan kekasihku untuk menemaninya menghadiri acara ulang tahun kantornya. Namun tak pernah ku sangka kalo acaranya akan di selenggarakan di villa ini. Tempat terindah sepanjang kisah cinta kita. Namun kini aku hanya bisa mengenang semua kenangan itu dengan pilu. Aku terpaksa menyingkir dari keramaian pesta dan memilih untuk menyendiri di taman ini supaya kekasihku tak tahu perasaanku saat ini.Ribuan cara tlah ku coba tuk sembuhkan lukaku, dan mungkin hal terbodoh yang ku lakukan adalah dengan menerima uluran cinta dari Ivan. Seorang pria dewasa yang ramah, sopan, perhatian, mapan, dan bisa menerimaku apa adanya. Setelah aku memutuskan untuk mengakhiri jalinan cinta kita karna kamu menduakanku, Ivan hadir dalam hidupku dan berusaha mengobati lukaku dengan perhatian dan ketulusan cintanya.Sebulan pertama setelah kita putus, aku masih berduka karna pernikahan kita yang tinggal 35 hari lagi batal seiring hancurnya hubungan kita karna terungkapnya perselingkuhanmu dengan gadis belia itu. Kau tahu betapa sakitnya hatiku saat itu, namun kau malah menambah lukaku dengan menghina dan merendahkan aku dan keluargaku. Hubungan yang tlah terjalin selama 3,5 tahun ternyata kau nodai dan kau kau hancurkan dengan kisah cintamu bersamanya. Di depanku kau memujaku, bahkan air cucian kakiku pun rela kau minum. Namun ternyata selama 1 tahun terakhir ini kau menikmati hubunganmu dengannya. Kau rendahkan aku di depannya, dan kau hina aku dan kluargaku. BAJI***N!!! Kata itu pun seolah tak bisa menggambarkan kelakuan bejatmu. Untuk apa kau meminangku, untuk apa kau memohon-mohon ke keluargaku supaya mengijinkan kita menikah, dan untuk apa kau berikan aku cinta, jika akhirnya kau hanya ingin menyakitiku dengan penghianatanmu. Jika memang dulu kau tak pernah mencintaiku dan kau menginginkan gadis itu, untuk apa kau berencana menikahiku, padahal di belakangku kau mencari kenyamanan darinya. Hufth…tak kan pernah habis kata tuk memaki dan menyumpahimu tuk ungkapkan kekecewaan dan kemarahanku.Bulan kedua, aku dan keluargaku harus menanggung malu dan memberi penjelasan ke semua orang karna batalnya pernikahan kita. Sempat terpikir tuk mengakhiri hidupku karna tak kuasa menghadapi cemoohan dan cibiran dari orang-orang di sekitarku. Namun kehadiran Ivan menyelamatkanku dari dosa karna pikiran bodohku. Ivan tak henti-hentinya mensupportku dan menghiburku. Ivan tak pernah lelah mencintaiku meski dia tau aku mungkin tak kan pernah bisa membalas cintanya.Bulan ketiga setelah perpisahan kita, aku mulai bisa bangkit dari keterpurukanku. Ivan membuatku berani menghadapi dunia lagi meski tanpamu di sisiku. Senyum dan keceriaanku pun kembali. Ku jalani hari-hariku bersama Ivan. Meski ku tahu dia mencintaiku, namun hatiku masih beku. Tak sedikit pun terpikir olehku tuk menerima cintanya. Hingga suatu hari ibuku berkata, “Ivan lelaki yang baik, Nduk. Ibu yakin dia ndak akan menyakitimu. Terima saja cintanya, lupakan masa lalu, dan bukalah lembaran baru bersama Ivan.”Kata-kata ibu selalu terngiang di telingaku. Aku percaya bahwa kata-katanya merupakan curahan isi hatinya yang ingin melihatku bahagia bersama lelaki yang baik dan mencintaiku dengan setulus hati. Atas pertimbangan itulah aku akhirnya menerima lamaran Ivan, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk belajar mencintainya, meski mungkin cintaku tak kan bisa sebesar cintanya padaku. Sejak saat itu, hari-hariku tak lagi sepi dan kelabu. Aku bahagia memiliki Ivan. He’s the best I ever had. And I’m gonna marry him.Ku pikir lukaku sudah sembuh, namun malam ini, di tempat ini, kusadari bahwa luka itu masih ada. Tubuhku bergetar mengingat semua kenanganku bersamamu. Aku dilanda ketakutan. Aku takut menyakiti Ivan karna masa laluku. Aku tak mau kehilangan dia. Dialah separuh jiwaku. Di remang-remang cahaya api unggun, aku melihat wajahnya yang berseri dan selalu menyunggingkan senyum yang tulus. Dan dia sedang berjalan mendekat menghampiriku dengan senyumnya yang tulus.“Lho kenapa disini sendirian sayang? Bukannya tadi bilangnya mau ke kamar karna udah ngantuk? Kamu gak kenapa-napa kan sayang” tanya Ivan dengan lembutnya.Mata itu begitu indah, binarnya memancarkan ketulusan dan kebaikan hatinya.Dan tiba-tiba aq mendapat kekuatan tuk melangkah meniti masa depan yang indah bersamanya. Aku siap menghadapi apapun bersamanya. Selamat tinggal masa lalu. Selamat datang lembar baru.“Aku gak papa kok Mas, anterin aku ke kamar yuk, aku dah ngantuk,” pintaku.Ivan mengantarku ke kamar, dan dia pun memasuki kamarnya untuk beristirahat. Saat ini, saat aku menulis sepenggal kisah cintaku, aku air mataku tak henti mengalir. Bukan lagi air mata karena lukaku, namun air mata bahagia. Aku beruntung memiliki Ivan sebagai belahan jiwaku. Semoga kisahku bersamanya kan abadi.Thanks God. Thanks a lot Baby. Luv You.

CERPEN : Cerpen Penjual Pensil

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: Admin

Total cerpen di baca: 24220

Total kata dlm cerpen: 536

Tanggal cerpen diinput: Tue, 11 Nov 2008 Jam cerpen diinput: 8:05 AM

30 Komentar cerpen

 

Tentunya kita pernah naik bis dan bertemu dengan pedagang yang aneh-aneh. Masih inget gak waktu pertama kali dapat “hadiah” sebuah barang yang tiba-tiba dibagikan orang di pangkuan kita waktu duduk di bis?. Mungkin pertama kali heran tetapi akhirnya jadi sedikit sebal karena kita jadi waspada karena dititipi barang dagangan dengan paksa sehingga ga enak klo mo tidur. Ada juga sih kita yang ceroboh menjatuhkan hingga ke kolong bangku, wis pokoke sangat merepotkan. Tapi klo aku sih daripada sebal mending menikmati momen sang penjual ngoceh berpromosi ria soal barang dagangannya. Terkadang ada juga yang kreatif, misalnya penjual pensil di bis beberapa tahun yang lalu.

Sambil membagi dagangannya dia nyerocos…”Silahkan dipilih warnanya macem2, hanya dengan uang lima ribu bisa dapet sepuluh pensil istimewa, warnanya pun gaul, klo suka dangdut tinggal pake yang kelap-kelip, ditanggung gak habis dalam sepuluh tahun. Pensil ini punya kemampuan bisa memendek dan kayunya empuk untuk diraut atau enak juga buat digigit-gigit karena bahannya tidak beracun dan ramah lingkungan. Selain buat nulis pensil ini punya fungsi istimewa yaitu untuk relaksasi. Tinggal dikorek-korek ke kuping pasti hidup jadi lebih indah, juga bisa buat alat pertahanan diri tinggal dicolokin ke mata lawan, atau klo nekat bisa juga digunakan sebagai tusuk gigi, tapi klo yang terakhir itu kurang disarankan…..,” Nah itu emang penjual pensil yang agak eror tapi minimal punya selling skill. Intinya sih klo mo dagang jangan sampai menjatuhkan harga diri, misalnya dengan cara melas… “ Om ayo dong dibeli, saya belum makan tiga hari.., kasihanilah, buat makan…..” hihihi cara yang ga mbois blas… Begitupun cara-cara yang gak etis misalnya ngancam-ngancam, maksa-maksa atau berbohong tentang barangnya. Sebagai konsumen kita juga ga boleh bikin pedagang sakit hati. Jadi ingat Hilman dalam novelnya Lupus Kecil, ceritanya Lupus lagi liat penjual siput laut atau keong, trus dia nanya-nanya..”Mang siputnya bisa dimakan ga?”, “ya gak bisa dek, ini kan siput laut..”..”trus bisa gigit Ga?” “ Gak dong pokoke aman kok buat mainan. Adek mo beli?” tanya pedagangnya antusias. Trus si Lupus jawab, “ Aneh, klo gak bisa dimakan dan ga bisa gigit kok dijual? Mending jualan semut Rangrang aja, walo ga bisa dimakan tapi kan bisa gigit…..” Nah itu baru sekelumit cerita tentang pedagang dan konsumen. Intinya sih sebagai konsumen kita juga ga boleh mengadul-adul barang dagangan orang tapi gak beli dengan legitimasi pembeli adalah raja, padahal yang namanya pembeli adalah yang bener2 melakukan transaksi. Tapi juga pedagang emang suka menyebalkan tapi kok kita butuh ya. Jadi seperti hubungan dilematis, benci tapi rindu… klo didepan pedagang kita jadi sok mencibir… “kok mahal banget sih bang, barangnya ga bagus nih dsb…”..tetapi begitu nyampe rumah kita cekikikan seneng karena dapet barang bagus dan murah ampe dipamerin ma temen2 sekantor. Budaya yang aneh dan mungkin bagi kita itu white lie, padahal tetep aja ga etis seperti gak etisnya pedagang yang suka bohong..”waduh klo segitu sih buat kulakannya aja ga nutup Neng..” atau “pokoknya klo ada yang lebih murah ta belinya sendiri deh..dsb..”. Hmmm… ternyata benar juga klo gak ati2 di Pasar bisa jadi tempat kita jual beli dosa.

 

 

CERPEN : Untuk Sahabat

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: fairy

Total cerpen di baca: 45218

Total kata dlm cerpen: 814

Tanggal cerpen diinput: Sun, 10 May 2009 Jam cerpen diinput: 11:26 AM

24 Komentar cerpen

 

 Ketika dunia terang, alangkah semakin indah jikalau ada sahabat disisi. Kala langit mendung, begitu tenangnya jika ada sahabat menemani. Saat semua terasa sepi, begitu senangnya jika ada sahabat disampingku. Sahabat. Sahabat. Dan sahabat.   Ya, itulah kira-kira sedikit tentang diriku yang begitu merindukan kehadiran seorang sahabat. Aku memang seorang yang sangat fanatik pada persahabatan. Namun, sekian lama pengembaraanku mencari sahabat, tak jua ia kutemukan. Sampai sekarang, saat ku telah hampir lulus dari sekolahku. Sekolah berasrama, kupikir itu akan memudahkanku mencari sahabat. Tapi kenyataan dengan harapanku tak sejalan. Beragam orang disini belum juga bisa kujadikan sahabat. Tiga tahun berlalu, yang kudapat hanya kekecewaan dalam menjalin sebuah persahabatan. Memang tak ada yang abadi di dunia ini. Tapi paling tidak, kuharap dalam tiga tahun yang kuhabiskan di sekolahku ini, aku mendapatkan sahabat. Nyatanya, orang yang kuanggap sahabat, justru meninggalkanku kala ku membutuhkannya.   “May, nelpon yuk. Wartel buka tuh,” ujar seorang teman yang hampir kuanggap sahabat, Riea pada ‘sahabat’ku yang lain saat kami di perpustakaan.   “Yuk, yuk, yuk!” balas Maya, ‘sahabatku’. Tanpa mengajakku   Kugaris bawahi, dia tak mengajakku. Langsung pergi dengan tanpa ada basa-basi sedikitpun. Padahal hari-hari kami di asrama sering dihabiskan bersama. Huh, apalagi yang bisa kulakukan. Aku melangkah keluar dari perpustakaan dengan menahan tangis begitu dasyat. Aku begitu lelah menghadapi kesendirianku yang tak kunjung membaik. Aku selalu merasa tak punya teman.   “Vy, gue numpang ya, ke  kasur lo,” ujarku pada seorang yang lagi-lagi kuanggap sahabat.   Silvy membiarkanku berbaring di kasurnya. Aku menutup wajahku dengan bantal. Tangis yang selama ini kutahan akhirnya pecah juga. Tak lagi terbendung. Sesak di dadaku tak lagi tertahan. Mengapa mereka tak juga sadar aku butuh teman. Aku takut merasa sendiri. Sendiri dalam sepi begitu mengerikan. Apa kurangku sehingga orang yang kuanggap sahabat selalu pergi meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti semua ini. Begitu banyak pengorbanan yang kulakukan untuk sahabat-sahabatku, tapi  lagi-lagi mereka ‘menjauhiku’.    “Faiy, lo kenapa sih ? kok nangis tiba-tiba,” tanya Silvy padaku begitu aku menyelesaikan tangisku.   “Ngga papa, Vy,” aku mencoba tersenyum. Senyuman yang sungguh lirih jika kumaknai.   “Faiy, tau nggak ? tadi gue ketemu loh sama dia,” ujar Silvy malu-malu. Dia pasti ingin bercerita tentang lelaki yang dia sukai.    Aku tak begitu berharap banyak padanya untuk menjadi sahabatku. Kurasa semua sama. Tak ada yang setia. Kadang aku merasa hanya dimanfaatkan oleh ‘sahabat-sahabatku’ itu. Kala dibutuhkan, aku didekati. Begitu masalah mereka selesai, aku dicampakkan kembali.    “Faiy, kenapa ya, Lara malah jadi jauh sama gue. Padahal gue deket banget sama dia. Dia yamg dulu paling ngerti gue. Sahabat gue,” Silvy curhat padaku tentang Lara yang begitu dekat dengannya, dulu.   Sekarang ia lebih sering cerita padaku. Entah mengapa mereka jadi menjauh begitu.    “Yah, Vy. Jangan merasa sendirian gitu dong,” balasku tersenyum. Aku menerawang,” Kalau lo sadar, Vy, Allah kan selalu bersama kita. Kita ngga pernah sendirian. Dia selalu menemani kita. Kalau kita masih merasa sendiri juga, berarti jelas kita ngga ingat Dia,” kata-kata itu begitu saja mengalir dari bibirku.   Sesaat aku tersadar. Kata-kata itu juga tepat untukku. Oh, Allah, maafkanku selama ini melupakanmu. Padahal Dia selalu bersamaku. Tetapi aku masih sering merasa sendiri. Sedangkan Allah setia bersama kita sepanjang waktu. Bodohnya aku. Aku ngga pernah hidup sendiri. Ada Allah yang selalu menemaniku. Dan seharusnya aku sadar, dua malaikat bahkan selalu di sisiku. Tak pernah absen menjagaku. Kenapa selama ini aku tak menyadarinya? Dia akan selalu mendengarkan ‘curhatanku’. Dijamin aman. Malah mendapat solusi.   Silvy tiba-tiba memelukku.   “Sorry banget, Faiy. Seharusnya gue sadar. Selama ini tuh lo yang selalu nemenin gue, dengerin curhatan gue, ngga pernah bete sama gue. Dan lo bisa ngingetin gue ke Dia. Lo shabat gue. Kenapa gue baru sadar sekarang, saat kita sebentar lagi berpisah…” Silvy tak kuasa menahan tangisnya.   Aku merasakan kehampaan sejenak. Air mataku juga ikut meledak. Akhirnya, setelah aku sadar bahwa aku ngga pernah sendiri dan ingat lagi padaNya, tak perlu aku yang mengatakan ‘ingin menjadi sahabat’ pada seseorang. Bahkan malah orang lain yang membutuhkan kita sebagai sahabatnya.   Aku melepaskan pelukan kami.   “ Makasih ya, Vy. Ngga papa koki kita pisah. Emang kalau pisah, persahabatan bakal putus. Kalau putus, itu bukan persahabatan,” kataku tersenyum. Menyeka sisa-sisa air mataku.   Kami tersenyum bersama. Persahabatan yang indah, semoga persahabatan kami diridoi Allah.   Sahabat itu, terkadang tak perlu kita cari. Dia yang akan menghampiri kita dengan sendirinya. Kita hanya perlu berbuat baik pada siapapun. Dan yang terpenting, jangan sampai kita melupakan Allah. Jangan merasa sepi. La takhof, wala tahzan, innallaha ma’ana..Dia tak pernah meninggalkan kita. Maka jangan pula tinggalkannya.

 

CERPEN : Dilarang Jatuh Cinta

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: Admin

Total cerpen di baca: 49351

Total kata dlm cerpen: 1183

Tanggal cerpen diinput: Fri, 21 Nov 2008 Jam cerpen diinput: 12:38 AM

42 Komentar cerpen

 

Cerpen Maroeli Simbolon, Dimuat di Republika 12/19/2004Wah! Semua mata terbelalak -- berpusat kepada laki-laki yang berdiri persis di atas atap gedung berlantai 33, siap untuk bunuh diri. Sejumlah polisi sibuk mengamankan lokasi yang dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan peristiwa tragis itu secara langsung, dengan berbagai ekspresi yang tak kalah seru. Ada yang bergidik, ada yang terbelalak histeris, ada juga yang terkagum-kagum. Situasi heboh itu melumpuhkan lalulintas. Beberapa polisi sibuk berdebat dan stres -- mencari solusi bagaimana mencegah orang sableng itu agar tidak mewujudkan kegilaannya. Ada juga polisi yang langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulans. Mengapa ada yang ingin bunuh diri?Silakan tanya kepada para penduduk di sebuah negeri yang sedang dilanda cinta, atau kepada seorang laki-laki muda yang tampan, yang kini berdiri gagah dan tenang di bibir gedung pencakar langit, dan siap terjun bebas. Padahal, embun masih terjun ke bawah ketika polisi yang memanjat baru mencapai setengah gedung. Orang-orang pun berteriak histeris. Dan, lihatlah, seperti tubuh yang bunuh diri pertama, wanita itu juga melayang-layang ke bawah. Dari tubuhnya, satu per satu tumbuh bunga-bunga yang mekar. Dan, begitu tiba di tanah, tubuhnya telah menjelma sebatang pohon bunga beraneka rupa. Di pucuk bunga terselip kertas yang bertulis, ''Kubuktikan cinta dengan kepasrahan!'' Belum habis keterkejutan orang-orang, kembali terdengar teriakan seseorang, ''Lihat! Di atas gedung bertingkar 52 sana juga ada yang hendak bunuh diri!''Semua terperangah, berteriak ngeri. ''Kegilaan apa lagi ini?!''''Lihat! Di gedung 67 tingkat itu juga!''''Lihat! Di gedung warna kelabu ungu bertingkat 73 itu juga!''''Lihat! Di atas menara pahlawan itu juga!'' Semua menggigil seputih kapas di ujung ilalang. Bahkan angin pun beringsut ketakutan. Sebab, hari itu lebih sepuluh orang melakukan bunuh diri dengan cara yang sama (melompat dari atas gedung bertingkat) dan motif yang sama atau hampir sama. Mungkinkah cinta yang menciptakan semua tragedi yang mencemaskan ini? Peristiwa itu mencengangkan semua orang, sekaligus menimbulkan rasa takut dan khawatir yang hebat. Dan peristiwa ini menjadi topik utama di mana-mana, dari kedai kopi, kafe hingga hotel berbintang, terutama menjadi headline koran-koran terkemuka. Berbagai kalangan pengamat memberi komentar dan tanggapan, dari psikolog hingga pengamat sepakbola. Ternyata, hari demi hari, peristiwa bunuh diri itu tiada henti, terus-menerus terjadi. Sehingga, semakin panjang daftar orang yang mati bunuh diri dengan melompat dari atas gedung. Bahkan menjadi ancaman, melebihi wabah penyakit menular. Bunuh diri itu sudah melanda semua orang, dari jompo hingga anak-anak, dengan teknik yang semakin aneh. Sableng bin edan! Ada yang berpakaian Pangeran, Ratu, Pendekar, Batman, Superman. Ada yang bersalto, jumpalitan di udara, berselancar. Ada pula yang terjun sambil baca puisi. Penduduk negeri itu semakin dicekam rasa takut dan waswas yang luar biasa. Semua mengkhawatirkan sanak keluarganya dan dirinya akan ikut bunuh diri suatu waktu. Sebab, penyakit bunuh diri itu dengan cepat menyebar dan menjangkiti siapa saja. ''Bila tidak segera dihentikan, anak-anak kita, saudara kita, bahkan kita sendiri akan terpengaruh, dan melakukan tindakan bunuh diri itu.''''Ya. Ini harus kita hentikan!''''Bagaimana caranya? Adakah cara jitu yang kamu pikirkan?'' ''Ah. Ayo, kalangan intelektual, berpikir dan bertindaklah segera. Jangan cuma ngoceh ke sana ke mari!'' teriak orang-orang, kehilangan arah.Penduduk semakin panik, saling bertanya satu sama lain. Tetapi, semua menggeleng. Semua angkat bahu. Semua jadi buntu jadi batu. Apa lagi yang dapat dilakukan? Maka, tanpa dikomando, semua tekun berdoa dan samadi agar wabah penyakit bunuh diri itu segera berakhir. Sayangnya, ketika doa-doa meluncur di udara, burung-burung gagak berebutan menyerbu dan mencabik-cabiknya sehingga tidak pernah sampai di meja kerja Tuhan. Jika pun ada yang sampai, cuma berupa sisa atau percah. Tentu Tuhan tidak sudi mendengarnya. Apalagi Tuhan semakin sibuk menata surga -- sambil mendengarkan musik klasik -- karena kiamat sudah dekat. Disengat kepasrahan yang mencekam itu, tiba-tiba Maharaja menemukan gagasan, ''Kita bikin pengumuman!'' teriaknya pasti.Seketika semua melongong. ''Pengumuman? Untuk apa?''''Di setiap tempat, kita buat pengumuman: Dilarang Jatuh Cinta!''Semua kurang menanggapi. ''Apakah mungkin efektif untuk mengatasi maut yang mengancam di depan mata kita?'' Maharaja angkat bahu. ''Coba dulu, baru tahu hasilnya,'' jawab Maharaja. ''Masalah utamanya sudah jelas, akibat cinta. Setiap orang yang terjerat cinta, entah mengapa jadi ingin bunuh diri. Satu-satunya cara, ya, kita larang orang-orang jatuh cinta. Siapa pun tak boleh jatuh cinta agar hidup terjamin.'' ''Wah, mana mungkin. Jatuh cinta itu manusiawi. Beradab dan berbudaya. Berasal dari hati. Kata hati. Muncul begitu saja -- tanpa diundang. Apalagi, cinta kan pemberian Tuhan,'' protes orang-orang, tak dapat menerima pendapat Maharaja yang dinilai ngawur. ''Terserah. Jika ingin selamat, menjauhlah dari cinta. Kalian jangan pernah jatuh cinta. Mengerti?! Tetapi jika sudah bosan hidup, ya, silakan jatuh cinta!'' tegas Maharaja. ''Sekarang, mari kita pasang pengumuman itu sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya!'' Meski dijerat tali ketidakmengertian yang luar biasa, pengumuman akhirnya dibuat juga. Dipancangkan dan ditempelkan di mana-mana, termasuk di bandara. Maharaja bahkan melakukan siaran langsung di seluruh televisi: ''Saudara-saudari sekalian yang saya benci. Sebab, mulai sekarang, saya tak ingin mencintai, agar berumur panjang. Saya harus benar-benar dipenuhi kebencian. Seperti kita saksikan bersama-sama, cinta telah menyebabkan banyak orang bunuh diri. Cinta telah membutakan mata. Cinta telah merenggut nyawa sanak keluarga kita. Cinta mengancam kita. Maka, dengan ini, kepada semua yang mendengarkan pengumuman ini, saya tegaskan: dilarang jatuh cinta! Kita harus melawan cinta. Kita tegas-tegas menolak cinta. Cinta tidak memberi apa-apa yang berharga bagi kita, cuma kematian. Mengerikan, bukan? Mulai sekarang, kita proklamirkan semboyan baru kita: hidup sehat tanpa cinta. Hiduplah dengan saling membenci, bercuriga, menghasut, dan sebagainya. Jangan pernah mencintai!'' Aneh. Penduduk bertepuk sorak menyambut pengumuman itu. Bahkan, untuk selanjutnya, banyak yang memuji kebijaksanaan Maharaja sebagai sikap brilian. Mereka merasa telah menemukan solusi jitu memberantas wabah penyakit bunuh diri itu. Hidup tanpa cinta, tidak terlalu buruk demi hari depan yang lebih baik. Dengan saling membenci, esok yang lebih cerah dan terjamin siapa tahu segera tercapai. Hari masih terlalu subuh. Ayam dan burung-burung masih ngorok. Tetapi keributan orang-orang dan kesibukan polisi telah merobek cadar ketenangan. Apalagi wartawan-wartawan sibuk meliput dan melaporkan -- blizt dan lampu kamera televisi berpantulan. Apa yang sedang terjadi. Wah. Sungguh mengejutkan dan mencengangkan! Betapa tidak, di depan gedung istana Maharaja berlantai 113 yang mencuat menusuk langit kelam, Maharaja dengan masih memakai piyama sedang berdiri di atasnya bersiap-siap bunuh diri. Orang-orang menahan napas dan terbelalak ngeri menyaksikan tragedi ini. Sementara, istrinya, Maharani menyorot api kebencian, ''Biarkan ia menikmati kesempurnaan cintanya!'' Maharaja mengembangkan tangan. ''Ah. Ternyata cinta itu indah. Kita tak dapat hidup tanpa cinta. Cinta itu anugerah. Berdosalah orang-orang yang tak memiliki cinta!'' teriak Maharaja, lalu melompat ke bawah. Tubuhnya melayang dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Tiba-tiba menyusul sesosok tubuh wanita muda yang sintal, melompat sembari bersenandung lagu cinta. Tubuhnya juga melayang, seperti menari -- dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Begitu tiba di tanah, bunga-bunga itu pelahan merambat dan menyatu, lalu membesar dan menjadi belukar yang menjalari dinding-dinding istana dan rumah tangga-rumah tangga. Semua melotot heran. ''Mengapa Maharaja bisa segila itu?''''Selingkuh. Ia selingkuh dengan sekretarisnya!'' cibir Maharani sambil meludah ke tengah belukar itu. Akibat ludah itu, tiba-tiba belukar itu bergerak-gerak liar sepenuh nafsu kelabu, membelit kedua kaki Maharani, dan menariknya, ''Cintakah?!'' Jakarta, 2003/200

 

 

 

CERPEN : Menunggu Pelangi

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: Ivana

Total cerpen di baca: 49843

Total kata dlm cerpen: 3249

Tanggal cerpen diinput: Fri, 12 Jun 2009 Jam cerpen diinput: 3:34 PM

43 Komentar cerpen

 

                    “Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!” teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air hujan yang berjatuhan. “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi.                          Oh iya. Kenalkan namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya menjadi hobi kita setiap ada hujan.                          Hari ini, begitu indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini.                          Tak lama, rintik – rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air membasahi permukaan daun mereka.     Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan, kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa sebelum hujan reda.                            “ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa......” tiba – tiba suara si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu. Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang. Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan.                            “ Hai! Udah lama ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh. Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggakpapa To. Santai aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan. Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu lagi. Sangat indah saat ini.                           Sungguh romantis situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh, bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. “Huft.. ayo bicara Tito!” aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati.                             Mobil Avanza berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini. Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa mudah buat aku nembak dia??                         Di kampus, aku memulai pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku. Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang adalah sang Master dari Matematika.                          Istirahat, aku menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin.                              Dag dig dug makin terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat? “Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas saja kubalas “PASTI!!!”.                              Diriku serasa melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di sana. Aku berdansa dengannya dengan disaksikan oleh keluarga dan sobat-sobatku disana. Siapa lagi bidadarinya kalau bukan Pelangi? Kita jadi sering banget jalan berdua. Dan sering juga melihat pelangi bersama-sama.                              Setelah gossip jadiannya aku sama Pelangi tersebar, Rico and friends mendatangi aku. Aduh, dia pasti bakal ngelabrak aku habis – habisan nih. Aku bergegas pergi dari dudukku. Tapi anak buah Rico menarik tas hitamku. Aku jatuh ke lantai dan merasa ketakutan sekali. Apalagi Dido dan Rahman yang bergabung di genk itu adalah juara boxing antar kampus. Keringat dingin bercucur dari dahiku hingga ujung dagu. Perlahan – lahan Rico menjulurkan tangannya. Aku memejamkan mata dengan kuat dan berusaha melindungi kepalaku dengan lenganku. Tapi apa? “ Slamet ya. Ternyata lo yang ngedapetin Pelangi duluan” Itu yang Rico ucapakan. Hah? Bener? Waw. Aku ga nyangka banget ada orang yang baik sampe kaya gitu. Makin seneng deh.                               Besoknya, aku berangkat ke kampus kaya biasa. Naik sepeda motor sama boncengin Pelangi. Pelangi juga memberiku gantungan kunci benang berwarna – warni mulai dari merah dan berurut sampai ungu. Ditengahnya terdapat plastik bertuliskan ‘Rainbow’ dan sekarang kugunakan untuk menghias kunci sepeda motorku.                               Pulangnya aku dikabarkan dengan kabar yang sangat tidak menggembirakanku. Ayahku masuk rumah sakit! Mengapa? Aku juga ga  tau. Intinya, mama meneleponku dan memberitahu kalau ayah masuk rumah sakit. Segera kulajukan dengan cepat Sportbikes menuju rumah sakit.                               Aku melihat mama, Tami dan Hugo terduduk lemas di ruang tunggu. Aku segera menghampiri mama. “ Mama! Gimana ayah?!” bermuka pucat mama menjawab, “Ayahmu kumat lagi To. Padahal sudah lama penyakit ayah tidak muncul.”                                Aku terduduk lesu ke kursi di sebelah adikku Tami. Tami memandangi wajahku dengan raut wajahnya yang pucat dan berusaha menahan tangis. Aku mempersilahkan untuk meletakkan kepalanya di dadaku. Kupeluk erat badan mungilnya. Dengan isak tangis keluargaku benar -  benar dipenuhi haru hari ini,                               Otakku berjalan lambat ke belakang dan membiarkan kotak di pojok otakku memutar kembali memori kita sekeluarga. Aku teringat beberapa minggu lalu saat ayah baru pulang dari Amerika. Keluargaku benar – benar senang dan bahagia. Hingga kutemui Pelangi dan kutembak dia. Saat ayah memberikan oleh – olehnya pada kami. Dan saat Hugo menggangguku ketika bertelepon dengan Pelangi. Oh betapa berbeda sekali dengan hari ini.                                “Tito!!” panggil mama dan menyadarkan lamunanku akan memori beberapa minggu lalu. Mama memberi kertas berisi biaya yang harus dibayar untuk perawatan ayah. “ Segini banyak, Ma?” aku bertanya heran pada mama. Mama menganggukkan kepalanya pertanda kata – kata “ IYA”                            Gimana cara mendapatkan uang sebanyak ini? Aduh… Pikiranku lebih kacau dan makin stress ketika Pelangi berkata ia akan pergi ke Australia. Ya ampun! Apa ada lagi cobaan yang akan menerkamku setelah ini? Ah! Terpaksa aku harus merelakan kepergian Pelangi ke Australia. Tapi kali ini lebih haru lagi yang kurasakan. Hatiku seakan dicabik – cabik. Aku berharap Pelangi bisa mengingatku di sana. Kuharap Pelangi juga akan menepati dan tidak mengingkari belasan janjinya padaku. Baiklah, aku masih punya gantungan kunci dari Pelangi. Aku harus memikirkan caraku mendapatkan uang untuk perawatan ayah. Tapi dimana?                                 Oh iya! Ada Paman Heru! Paman yang paling berjasa di dunia balapku. Aku pergi ke rumah Paman Heru saat itu juga. Aku lihat Paman Heru sedang bersantai di depan rumahnya sambil minum kopi. Aku menyapanya dan mulai berbincang beberapa lama.     “Kamu butuh uang berapa To?” Paman Heru bertanya sambil bersiap mengambil dompet kulit dari saku celananya. “Segini Paman” aku memberikan kertas yang diberikan mama saat di rumah sakit. “ Wah. Banyak nih To. Oke paman mau kasih. Tapi Cuma bisa seperempatnya aja. Sisanya cari sendiri oke?” sahut paman. “Oke deh paman.” Balasku sedikit kecewa. Paman Heru mengeluarkan hampir seluruh isi dompetnya. Ku raih uang itu. Aku mengucapkan terimakasih.                                 “ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah? Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh dimana ya? Paman Heru udah jarang banget ketemu event – event balap.” Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman? Ngga ada sama sekali?”  tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu. Paman kemarin ketemu satu event. Hadiahnya lumayan gede juga” jawab paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.” Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman. “Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku dengan  heran. “Iya. Kamu tau kan konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh gapapa. Pokoknya ayah sembuh.”                              Setelah kubicarakan hal ini dengan mama, Tami dan Hugo, tak ada yang menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo. Hanya dia yang menyemangatiku saat itu. “ Udah To. Kalo ada barang yang bisa dijual, biar mama jual daripada kamu ikut balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “ Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan atau apa gitu buat bayar biayanya ayah. Daripada kakak nanti kenapa – napa.” Tami yang masih di bangku SD itu juga berusaha melarang. Tapi keputusanku udah bulat. Aku akan tetap mengikuti balap ini.                             Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah siap aku di atas motor balapku ini. Tak lupa ada gantungan kunci dari Pelangi yang menemaniku. Para cewek – cewek di depanku menarik bendera hitam putih di tangan mereka. Segera melaju kami semua. Urutan pertama ada rivalku si Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya. Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal satu lap lagi. Aku masih di urutan dua. Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku juga tak mau kalah. Aku tancap gasku. Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli memainkan trik. Kutancap gas hingga aku berada di depan Joe. Kuhalangi laju motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil mencapai urutan pertama di garis finish.     Paman Heru berteriak menyemangatiku dari jauh. Para penonton menyoraki dan memberi tepuk tangan untukku. Sangat haru sekali. Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi! Polisi! Penonton berlarian kesana kemari. Para pembalap lain melaju kencang tak berarah. Paman Heru berteriak padaku “Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa paman???!!!!! Aku kan belum dapat hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa ya????!!!!!!”                                 Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat. Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah. Tak kusangka segerombolan cewek centil berlari dengan histeris di depanku. Aku rem motorku dengan sangat mendadak dan dengan kecepatan yang melebihi normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku terjatuh dari motorku!                                 Kaki kiriku tertindih body motorku. Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga sudah kukantongi.                                   Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang pembalap dengan motor besarnya segera melindas kedua kakiku dengan kecepatan tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih sakit daripada hatiku yang tercabik saat Pelangi pergi. Paman Heru datang menghampiriku. Belum sempat aku mendengar Paman Heru berbicara, pandangankupun gelap. Apa ini? Aku sudah mati? Oh aku sudah mati ya. Ternyata  aku sudah mati.                                  Perlahan – lahan aku membuka mataku. Rasanya sudah lama sekali aku tidur. Tapi ada mama di depanku. Tami dan Hugo juga ada. Baunya sama persis ketika aku melihat ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku sedang ada di rumah sakit?                              Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!! Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya peristiwa itu membuat aku kehilangan kedua kakiku. Harusnya aku menuruti nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah menjadi bubur. Apa daya??                            “Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi dating kesini lho.” Kata Tami saat aku berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus terus? Kak Pelangi bilang apa aja?” tanyaku penasaran dan langsung bangkit dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa. Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm, enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya udah deh”.                            Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat janji tiap ada hujan turun dia akan balik buat liat pelangi sama – sama. Dengan bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri lorong rumah sakit hingga ke lobby dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga larut ia tak juga datang.                             Namun aku sangat menyesal menunggunya sejak aku melihat surat yang terletak di atas meja. Andai saja waktu Tami bercerita padaku, aku tau kalau di tangannya ada surat dari Pelangi. Surat itu berisi :  “Buat Tito sahabat gue sekaligus pacar gue yang paling  gue sayang. To, gue minta maaf. Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di sini gue udah ketemu ama cowok yang gue pikir bisa dampingin hidup gue. Tolong titip gantungan kuncinya ya. Rawat yang baik oke?”       Itupun belum semua. Yang paling membuat aku menyesal menunggunya semalaman adalah kalimat terakhir dari suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama orang cacat kaya lo”                            Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk dari pembiasan yang tidak nyata. Namun bisa membuat satu cahaya putih menjadi bermacam – macam warna. Tetapi pelangi hanya sementara dan bila tak ada air dan cahaya pelangi hanya akan mengingkari janjinya untuk menyinari dunia.      Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak nyata di hatinya. Ia bisa membuat hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan itu hanya sementara untukku dan bila tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia mengingkari janjinya dan berpaling.

 

CERPEN : persahabatan

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: Joy

Total cerpen di baca: 165262

Total kata dlm cerpen: 1028

Tanggal cerpen diinput: Tue, 23 Dec 2008 Jam cerpen diinput: 3:41 PM

128 Komentar cerpen

 

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku  sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!”  jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?”  tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.”  jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!”  jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.

Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini : Share/Save/Bookmark

 

 

CERPEN : Laskar Girls

 

| Print Cerpen

Posting cerpen by: holil

Total cerpen di baca: 791

Total kata dlm cerpen: 1982

Tanggal cerpen diinput: Sun, 15 Nov 2009 Jam cerpen diinput: 3:37 PM

0 Komentar cerpen

 

<!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> Laskar  GirlsLeli, Ovi, Vina, dan Eva adalah sebuah geng penjajah cinta yang terkenal banget disekolahnya, SMP II Ghar Laok. Geng Loving Found yang biasa disingkat eLFi ini, menjadikan suasana sekolah menjadi sebuah realita kehidupan cinta remaja anak SMP. Geng Loving Found udah lama sich berdiri, mungkin seminggu lalu. Dalam acara pembukaan lalu, mereka berempat mengundang pak Rahmat, guru BP paling longor disekolah mereka. Ketika pak Rahmat mendapat undangan itu, pak Rahmat langsung menerimanya dengan lebar tangan. Tapi dasar anak eLFi yang nakalnya nggak karuan dan nggak punya perasaan  membuat pak Rahmat jalan kaki  10 kilo meter dari tempat party eLFi, rumah Vina sampe kerumahnya. Yah, mana nggak mo jalan kaki wong ban sepeda motornya dibocorin pake paku ama mereka. Jadinya kacian deh pak Rahamat.# # #Malam ini adalah malam Minggu, malam yang katanya tuk saaatnya bermain dengan rembulan. Jauh dibaewah rembulan di sebuah codox café, anak remaja sedang berkumpul disana, sesekali diantara mereka menatap rembulan kemudian melirik keluar malam. Inilah tempat geng Loving Found menghabiskan malam Minggunya di café yang terkenal ini, Codox Café. Katanya sich tempatnya enak, nyaman dan remaja banget gitu lho. Lo tau nggak sebelum eLFi menemukan nich tempat eLFi sempet bingung ama nama cafénya. Coba lo pade pikir, masak sich café dikasi nama codox. Nggak salah tuuh. Komentar Vina kala itu. Namun setelah mereka coba masuk rupanya café ini trendi banget dan pas buat mereka.Setiap kali mereka mengunjungi Codox Café ini mereka selalu ngerumpiin tentang cowok-cowok keren yang ada disekolahnya. Yah, kalo boleh jujur geng Loving Found tuch jomblo semua. Bukannya nggak ada cowok yang nggak naksir ama mereka, tapi cowok-cowoknya pada takut ama mereka. Bisa lo bayangin sendiri gimana nggak mo takut, waktu itu ada anak cowok pengen ngibulin geng eLFi tapi kejadiannya malah terbalik cowok itu kini jadi bulan-bulanan geng eLFi. Yaaa capek dech…         “Waduh enak dong, malem ini kita maen ama rembulan,” ujar Ovi, membuka percakapan membuat semua mata memandang kearahnya. Aduh jadi takut nich. Ovi, anak yang punya kebiasaan fusy ini selalu aja bikin mereka semangat dan tertawa.“Rembulan kaki lo, wong malem ini rembulan nggak dateng.” Kata Eva sambil bersastra. Eva, dengan rambut keriting yang membuat semua orang yang melihatnya merinding karena salting sebab ada kepiting yang menyangkut di kuping. Ups, kok jadi ngelantur sich. Tapi perlu lo tau kalo si Eva tuch cewek paling romantis di geng eLFi dan Eva juga paling banyak berjasa di gengnya. Setiap ada ulangan Bahasa Indonesia Evalah yang bakalan jadi bahan refrensi contekan Leli, Vina, dan Ovi. Kalo Eva nggak mo ngasi contekannya ama mereka, reputasi Eva sebagai calon selebriti dunia bakalan ancur. Makanya setiap kali temennya mo nyontek, Eva ngasi aja dengan ikhlas dan lapang dada.  “Aduh, uda deh. Mendingan kita sekarang musyawarah tentang gimana kita nggak ngejomblo terus. Gue boring tau, kalian so pasti kan ?” cerocos Vina akhirnya setelah beberapa saat tadi diem membatu. Nah, ini dia si cantik Vina, tubuhnya semampai seperti Luna Maya, kakinya jenjang seperti Britney Spears, wajahnya cantik bagai Rianti, tapi sayang rambutnya gundul. Eh, nggak ding boongan. Tapi suer lho Vina paling cantik banget diantara anggota geng Loving Found. Baik lagi. Hmmm siapa sich yang nggak naklsir ama dia ?.“Oke banget tuch ide lo. Dibawa ke bengkel mana otak lo kok jadi cemerlang gini, ” oceh Leli. Vina menggelembung seperti ayam mau nembung. Emang Vina ayam apa, pake gelembung segala. “Sory deh Vin, Iam just kidding kok.”Leli, ya Leli. Cewek yang satu ini adalah cewek paling antik dan gokil. Yah, boleh dibilang dia tuch orangnya over acting. Ampe-ampe motor bebeknya yang dia beli mo diganti cat tiap minggu. Alasannya cuama satu, “Nggak Gila!!” Waduh emang udah gila bener kali nich cewek. Trus, gimana nggak mo dibilang antik dan gokil kalo setiap kali Leli mo pergi ke mall atau ketempat yang gede-gede gitu dia selalu pake sepatu Aladin yang ujungnya panjang serperti perahu keseret badai. Pokoknya nich cewek paling antik tik tik. Meskipun gitu dia tuch paling aktif lho kalo ada acara gede-gede. Pernah sekali dia jadi ketua panitia party sekolahnya. Eh bukannya sukses, malah jadi amburadul gara-gara sliting celana jeans Leli nggak ditutup. Emang payah tuch cewek.“Gue punya usul nich,” Ovi buka mulut, “Gimana kalo kita ngadain kontes pencarian cowok dalam waktu yang akan kita sepakati.”“Caranya ?” tanya Vina bingung.“Gini frend, yah kalo lo setuju kita mulai hari besok, ” jawab Ovi asal.“Caranya gimana dodol! Ngelamun sich, jadinya nggak nyambung. ” Cibir Leli.“Maksudnya gini kawan, setiap orang yang ada disini, berpotensi atau tidak wajib mengikuti kontes Loving Found atau pencarian cinta, sebab dalam undang-undang dasar geng eLFi mulai sekarang harus punya pasangan masing-masing. Biar entar kalo malam Minggu nggak nonton rembulan terus. Nah sedangkan tata caranya adalah: pertama, lo semua  harus cari cowok yang cool dan funky. Kedua, lo harus tau dia tajir apa nggak , ” sejenak Ovi, berhenti mengatur nafas.“Kalo tajir sich susah. ” Celetuk Eva.“Ketiga,” lanjut Ovi “Waktu!. Nah, sarat yang nomer tiga ini yang paling susah, yang bakal bikin kalian nggak sanggup, satu minggu!”“Alah itu mah gampang banget, kirain lo ngasih waktu satu jam. Gue mana bisa?” komentar  Leli sambil garuk-garuk kepala yang gatal.“Okey, gimana lo pada  setuju nggak?” kata Ovi minta persetujuan Leli, Vina, dan Eva yang hanya bisa cemberut nggak semangat. Tapi akhirnya mereka jawab juga setelah beberapa saat terediam.  “Okey let’s go!” Jawab Vina, Leli dan Eva serempak.# # #Let’s War to Found LoveEva.Rabu, jam tujuh pagi suasana Jakarta sepi banget. Namun, jauh dari suaasan hening seorang cewek dengan pakaian you can see kekurangan bahan kain sedang siap-siap keluar ruamah.“Eva berangkat dulu ya ma,” pamit Eva ama mamanya dengan menyunggingkan senyum termanisnya.“Hati-hati dijalan ya.”“Ya ma.” Jawab Eva singkat. Lalu pergi ditelan gelombang udara. Emang lo tau dari mana kalo udara beregelombang?. He he he.Leli Kalo cewek antik bin gokil ini pakaiannya sangat nyentrik banget. Kalo kita liat dari atas Leli suka pake pando bermotif  bunga melati, trus turun kebawah, leher pake kalung mas dengan karat 0,1 gram. Itupun kalungnya dapet dari hadiah snack kesukaannya, tic tac snack. Lanjut, baju pake merk Nike dengan banyak bordiran disekitar lengannya dipadu dengan rock mini selutut yang banyak kantongnya. Wah, kira-kira ada nggak ya yang bakal nyantol ama dia? Kita lanjut aja dulu dech.OviSuit, suit, kira-kira si Ovi menang nggak sich kalo masalah pakaian ama Leli dan Eva. Kita liat aja dech.“Aduh Oviii! Kamu ngapain aja sich di dalam kamar lama amat.” Teriak mama Ovi dari luar kamar Ovi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.“Aduh maa, plis deh, Ovi bentar lagi turun kok. Udah mama ama papa sarapan duluan.” Sewot Ovi sambil terus melototin cermin gedenya.Lima jam kemudian, saat rumah Ovi pada sepi semua. Ovi mulai celingak-celinguk sendiri kebingungan keluar dari kamarnya. Dengan rock mini jeansnya diatas lutut, Ovi mulai menuruni tangga rumahnya. Tas kecil dia pegang. Kaos ketat berwarna merah cerah seperti lentera dipakainya untuk menuju pertempuran kontes pencarian cinta.Vina                  Nah, ini dia cewek yang kita tunggu-tungu.Wuidih suer man, hari ini Vina cantik banget, kalo dinilai dari pakain dia kali ini jauh beda dari biasanya. So temen-temennya pasti kalh tuch. Dengan baju model baru keluaran 2009 dipadu dengan rock jeans keluaran Kencana yang pasti banyak orang melirik.# # #Mentari masih terkulai dalam buaian subuh. Sebening embun jatuh di atas daun talas. Pagi ini sungguh menyejukkan banget. Apakah bagi geng eLFi juga, yang lagi sibuk-sibuknya mencari cinta dalam minggu ini…?. Yah, moga aja hati mereka semua sejuk-sejuk seperti lemari kulkas.Tapi pagi ini kayaknya ada yang nggak beres deh dengan si cantik Vina. So what gitu lho, pagi-pagi gini dia udah cantiiik banget. (Emang kalo cantik nggak beres apa? heh, payah lo!) eh nggak ding, Vina tuch lagi ketemu Leli sedang berdiri didepan rumahnya dengan penampilan aneeeh banget. (yaaa, kalo gitu buakan Vina dong yang nggak beres, tapi si Leli! Dasar lo!). Leli cuma cengar-cengir ketika Vina menghampirinya.“Ngapain lo pagi-pagi gini udah berdiri depan rumah gue?! Kesambet setan lo?” Tanya Vina asal, kalo orang yang didapatinya itu si Leli alias jin payung.“Nggak ngapa-ngapain. Gue kesini cuma mo liat gaya penampilan lo ari ini, kali aja gue bisa niru.” Jawab Leli santai sambil ngeliat Vina dari ujung rambut ampe ujung bulu telapak kaki. (Lho, emang mulai kapan sih telapak kaki berbulu ? Bingung deh.)“Dasar lo nggak berubah-rubah, tetep aja gokil.”“Yeee, emanag gue mo berubah apaan? Power Ranggers? Capek dech.” Ujar Leli dengan gaya banci model classic. Lo tau nggak banci model classic, itu tu seperti si Mulyo, kucingnya pak Adi yang mati sekarat.“Udah deh mendingan sekarang lo balik, kita ketemu di sekolah. Lo sekolah nggak ari ini?” Kata Vina akhirnya setelah beberapa saat Leli bengong melihat dirinya.Memposona ooiii!!. Teriak hati Leli. Kayaknya sih…“Heii!! Lo sekolah nggak ari ini?!!” Teriak Vina kesal.“Eh, iya iya gue sekolah. Gue tunggu lo di sekolah ya. Baii..” sahut Leli kaget sambil ngacir dari hadapan Vina.“Huh, tambah ari tambah aneh aja tuh anak. Kacian dech gue. Eh, kok jadi gue sich yang kasian, Leli maksud gue!” Gumam Vina sambil masuk kedalam rumahnya diikuti pertanyaan entar di sekolah.Di Sekolah. Pagi-pagi banget. Diwaktu anak-anak udah pada rame. Geng eLFi udah pada mulai ngerumpiin pencariannya tentang cinta. Waduh, kayak ada koferensi pers aja yah.“Gimana kabar kalian semua? Udah pada dapet belom?” Eva buka mulut, pertanda konferensi persnya eLFi dibuka. “kok pada bengong semua sih?” lanjut Eva bingung melihat temen-temennya pada tutup mulut.“Baekkk Miss Ceriwis!!!” Teriak Ovi kesel. Masak pagi-pagi yang udah jelas-jelas gini ceria masih ditanya kabarnya. Nggak banget gitu lho.“mendingn rencan kita mencari cinta dibatalin aja.” Uajr Vina tiba-tiba mengagetkan ketiga sahabatnnya.“What!! Apa lo bilang, ngebatalin pencarian cinta? Nggak deh!” Jawab Ovi dengan nada tinggi, berirama rendah, mengalun syahdu. Lho kok jadi ngelantur sich. “lo semua kan udah setuju. Kenapa sekarang harus terhenti?” lankjut Ovi emosi. Katyajknya sich..“Ovi, gue tau lo kecewa ama omongan gue barusan. Tapi ini menyangkut persahabatan kita yang nggak mungkin putus gara-gara acara beginian.” Jelas Vina.“Maksud lo apaan sich? Lo takut gara-gara acara ginian kiata akan terpisah gitu?” tambah ovi lagi.“Yah, gitu.” Jawab Vina singkat.“Tapi yang lain kok pada diem sich” Ovi merespon temen-temennya tuk ngomong.“Ya gitu Ov, gue setuju apa kata vina. Entar gue takut kalo kalian udah pada punya cowok masing-masing persahabatan yang kita bina selama bertahun-tahun bakalan menjadi boomerang dan nggak bakalan meriah lagi. Gue nggak mau ini terjadi.” Cerocos Leli dengan argumentasinya yang cukup mengagumkan. Dikiiit banget nggak nyampe segunung kok.“Lo betul banget Li, kita bakalan nggak kompak lagi kalo kita punya cowok. Kerjaannya pasti kalo nggak sibuk ngedet, sopping bareng dan lain-lain dech. Pokoknya pokok super busy !” Lanjut Eva yang sedari tadi terdiam membatu.Akhirnya dengan senyuman, tatapan langkah awal mereka sebagai sahabat kini kembali dalam buaian keindahan senja yang turut tersenyum pada mereka. Jauh dari arah mereka seseorang sedang memerhatikannya dengan tatapan pelangi cerah pada matanya yang indah. Lalu tersenyum dan kemudian menghilang bersama panorama

 

 

 

10 Maret 2010 jam 18:18

Ini rasa yang hanya sekali para insan rasakan dalam hidupnya,,rasa yang pasti yang akan dialami oleh setiap jiwa manusia, tetapi tidak semua jiwa manusia mengalami kemudahan ketika ruh mereka dicabut oleh malaikat-malaikat yang diutus oleh Allah. dimana semua yang hidup didunia ini akan merasakan sakitnya itu, rasanya seperti kambing yang di kulitin hidup hidup, oleh para insan di dunia atau seperti di tusuk pedang yang telah di panaskan.,, wao tak bisa kubayangkan hal itu… tapi mau bagaimana? Semua orang pasti merasakannya… adi mulailah ikhlas dari sekarang… di sini suatu kisah dimana aku tahu tentang sakratul maut,dan mulai sinilah aku berpikir dewasa tentang hal itu … Minggu pagi tepat jam 9 aku pergi kearah yang sama dengan salah satu temanku,tapi kita berbeda tujuan,aku ingin bekerja kelompok dan dia ingin mengikuti bimbingan belajar,dan kita pun terpisah dengan waktu... Waktu pun terus berputar,tak terasa pengerjaan kita selesai dengan apa yang kita inginkan,kami pun menuju keluar pintu kamar untuk beristirahat sejenak di luar,ketika aku ingin menjatuhkan tubuh ku di empuknya sofa ruang tamu,sesuatu yang tak ku duga kudengar dengan telinga kiriku,hingga tubuhku terasa bergetar saat kudengar itu,hingga bibirku berkata “INNALILAHIWAINNAILAIHI ROJIIUN” satu kalimat yang aku ucapkan dengan perasaan seperti aku berada dikegelapan malam dan dinginnya angin yang menusuk hatiku… begitu cepat dia meninggalkan kita semua,dan begitu cepat untuk dia barada di rumah kehidupan itu. Ku dengar dua insan telah merasakan rasa itu, yang satu pergi tanpa tanda dan yang satu pergi dengan meninggalkan jejak dan mereka hanya meninggalkan ‘NAMA’ dua insan yang tak pernah bertatap muka dengan ku dan hanya ku dengar namanya dari bibir bibir kecil insan lainnya,seketika itu pikiran ku mulai berpikir tentang hal itu… Aku pun pergi kerumahnya,sebenarnya kita tak ada tujuan untuk itu,jd kami hanya membawa barang barang sederhana.. Saat aku menginjakan kakiku dihalaman rumahnya kudengar suara tangis yang sangat begitu mendalam hingga menembus dinding hatiku dan mengetarkan tubuhku, kakiku menuntunku kerumah itu,,,kulewati beberapa orang yang telah berduka didepan terasnya yang kecil, Ku lihat dia di balik kain coklat batik yang menutupi seluruh badannya,dan saat kain itu di buka,kulihat wajahnya yang begitu menawan dengan mata yang terbuka setengah,ku perhatikan wajah lembutnya itu dengan setetes air yang telah berada di ujung mataku,,detak jantung ku berdetak cepat,tak kuasa ku melihatnya,,, Itu pun pertama dan terakhirnya ku melihat wajahnya.., tak tahu kenapa air mata ini tertetes? dan aku tahu jawabanaya yaitu aku menagis bukan karena dia meninggalkan kita semua,tapi aku menagis karma aku membayangkan rasa itu yaitu sakratul maut,dan penyiksaan di neraka,dan juga pertanyaan pertanyaan yang akan di lemparkan kepada kita di alam kubur nanti, kita hidup hanya sementara di dunia ini,dan ini adalah keputusan yang kita ambil saat kita melakukan perjanjian dengan allah, kemudian aku bertanya pada diriku mengapa ku tak bisa mengingat hal itu,,??? Pertanyaan itu mengikuti ku seperti bayangan ku yang slalu mengikuti diriku ini, saat ku berjalan menuju suatu tempat dengan papan papan yang berdiri diatas tanah coklat dimana para insan beristirahat untuk terakhir kalinya,dan saat jenajah itu akan di bumikan,saat itu terpikir di kepalaku…. Ku pikirkan kembali tentang pertanyaan tadi “jika semua insan diingatkan dengan perjanjian itu,maka tak akan ada surga dan tak aka nada neraka” tapi itu adalah rahasia allah,dan tak ada gunanya aku berpikir hal itu,," yang harus ku pikirkan adalah “Bagaimana dengan kewajiban ku......?,” “Bagaimana dengan tanggung jawab ku......?” “Bagaimana dengan kehalifahan ku di dunia ini.....?” “Apa kah aku sudah melaksanakan semua tugas itu.....?” "Dan bagaimana dengan kau.......?" Air mata ini terus mengalir saat aku ditanya dan mendengarkan kata “SAKRATUL MAUT” karma Rasa sakit pada sakaratul maut langsung menghunjam ruh itu sendiri sehingga menerobos seluruh organ-organ tubuhnya, seluruh jaringan sarafnya, seluruh urat-urat. di tubuhnya, bahkan juga seluruh persendian tubuhnya, hingga merambati akar rambut dan kulit dari atas kepala hingga ujung kaki … Dan rasa sakit itu hanya 1 kali menghampiri dalam hidup kita,,,,! Masyaallah dahsyatnya saat itu….. Jika SAKRATUL MAUT itu datang maka: Tak ada lagi…. arti harta………… Tak ada lagi.…arti jabatan……… Tak ada lagi….arti keangkuhan……. Tak ada lagi…. arti kesenangan duniawi……. Tak ada lagi ….arti kekuasaan Hanya ada arti sebuah nama jadi sebelum rasa itu datang, apa kah kamu sudah melakukan tanggung jawab itu….? Jika tidak laksanakanlah dari sekarang, Sebelum semuanya terlambat….. jika kamu telah melaksanakan kewajiban itu maka keTika kamu berpikir sakratul maut dan neraka kamu akan meneteskan air mata mu itu di wajahmu..........

Diperbarui sekitar seminggu yang lalu · Lihat Kiriman Asli · Laporkan Catatan

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerita Untuk sahabat…

tips n trik mengirim cerpen ke media cetak

kaya dengan rukun islam