tesis jurusan pendidikan bahasa arab Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Dengan Media Film Terhadap Pemahaman Unsur-Unsur Instrinsik Film Imarat Ya’qubyan Karya Alaa Al – Aswany

 


A.  LATAR BELAKANG MASALAH

Bahasa Arab merupakan bahasa internasional kedua yang banyak digunakan oleh lebih dari separuh penduduk dunia. Bahasa tersebut berperan sebagai bahasa pengetahuan, agama, seni dan lain sebagainya . Selain itu, bahasa ini dapat menjadi alat untuk mencapai tujuan ekonomi, perdagangan, hubungan antarbangsa, sosial budaya dan pendidikan serta pengembangan keagamaan. Dengan demikian, penguasaan bahasa Arab merupakan salah satu persyaratan penting bagi keberhasilan individu, masyarakat pada umumnya dan siswa pada khususnya dalam menjawab tantangan zaman dalam era globalisasi.

Dalam implementasi pembelajaran bahasa di Madrasah Aliyah Sederajat selama ini, hanya menggunakan beberapa metode klasik seperti ceramah, diskusi, kuis serta beberapa metode yang lazim pada umumnya.Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Arab pun tidak menunjukkan respon positif. Mata pelajaran Bahasa Arab hanya terkesan sebagai pelajaran penggugur kewajiban dan kurang menarik serta minim invovasi.

 Mata pelajaran bahasa Arab sekarang sudah menjadi salah satu mata pelajaran bahasa asing kedua setelah bahasa Inggris yang diajarkan di Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Atas Plus. Pembelajaran bahasa Arab di SMA bertujuan mengembangkan empat keterampilan Keempat keterampilan tersebut adalah Mendengar (Istima’) , membaca (Qiraah) , berbicara (kalam) dan menulis (Kitabah). Keempat keterampilan tersebut pada hakekatnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain sehingga pengajarannya harus dilakukan secara terpadu.

Keterampilan mendengar (Mahârah al-Istimâ’) merupakan keterampilan awal dalam pembelajaran bahasa, baik Bahasa ibu maupun bahasa asing termasuk didalamnya adalah Bahasa Arab.Dengan demikian kegagalan dalam pembelajaran keterampilan ini dapat mengakibatkan kegagalan pada pembelajaran keterampilan keterampilan bahasa berikutnya.(Toha Muhammad 2012 : 83)

Ada berbagai macam media pengajaran yang bisa digunakan guru serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah. Media pengajaran sangat bervariasi jenisnya dan kesemuanya mempunyai tujuan untuk mempermudah penyaluran pesan dari guru kepada siswa. Pesan tersebut akan merangsang pikiran, perhatian dan minat siswa sehingga proses transformasi ilmu pengetahuan dapat terjadi. Dari pernyataan tersebut jelas bahwa fungsi media sangat penting dalam mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Ada beberapa jenis media antara lain gambar, foto, suara, audio visual, permainan, dan masih banyak lagi. Untuk mendapatkan keterampilan di bidang kebahasaan, dapat digunakan berbagai media misalnya media audio visual yang merupakan salah satu pilihan yang dapat diterapkan didalam kelas.

Media audio visual adalah media yang menyajikan suara sekaligus gambar yang memungkinkan siswa lebih tertarik mempelajari bahasa Arab. Media tersebut diharapkan dapat menggugah minat siswa belajar bahasa Arab. Siswa tidak hanya diajar melalui lambang verbal saja yaitu ceramah dari guru tetapi juga diberikan variasi pembelajaran dengan menggunakan media audio visual. Dengan demikian, media audio visual merupakan salah satu sumber belajar yang diharapkan dapat mengatasi hambatan-hambatan yang ada dalam proses belajar mengajar terutama dalam keterampilan mendengar. Dapat disimpulkan bahwa manfaat media audio-visual adalah untuk memberikan variasi dalam proses belajar mengajar siswa sehingga perhatian siswa pada pelajaran lebih besar dan pelajaran yang diberikan mudah diingat dan dipahami.

Di era digital ini banyak disuguhkan berbagai kemajuan dibidang teknologi dan informasi yang semakin maju. Film adalah salah satu produk teknologi informatika yang semakin beragam jenis yag disuguhkan sebagai dampak kemajuan zaman yang terus berkembang dari masa kemasa. Film merupakan bagian dari media massa yang paling efektif dalam menyampaikan pesan-pesan kepada khayalak ramai.

Karya sastra adalah karya imajinatif yang tertulis  atau tercetak dan mempunyai niali estetis yang dominan ( wellwek dan warren 1995:11). Karya sastra dapat diteliti dengan dua ilmu yang berbeda  yaitu ilmu bahasa dan ilmu seni. Ilmu bahasa dapat ditekankan dengan unsur kebahasaannya dalam kaitannya dengan benruk pemakain bahasa yang lain sedangkan  ilmu seni atau estetik dapat diteliti dari aspek keseniannya , seperti seni lukis, seni patung, seni tari dan seni musik. Dalam perkembangannya , karya sastra  digolongkan menjadi dua yaitu bentuk fiksi dan karya non fiksi. Karya sastra non fiksi lebih banyak memfokuskan kepada hal ang bersifat empiris dan tidak memuat unsur rekaan, beberapa contoh diantaranya  jurnal, autobiografi , dan manifes. Karya sastra fiksi lebih memuat cerita rekaan dan merupakan imajinasi dari pembuatnya . namun tidak memungkiri inspirasi berdsarkan kisah nyata. Kunci penting dalam karya sastra fiksi terletak pada nilai estetis di dalamnya. Beberapa jenis karya sastra fiksi adalah puisi, drama, rman, novel . namun dalam penelitian ini penulis memfokuskan penelitiannya menggunakan salah satu karya fiksi berupa film. ( foket, 2000; 373)

Film adalah salah satu media komunikasi masa yang membentuk kontruksi masyarakat terhaadap suatu hal serta merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan kemudian memproyeksikan ke layar film menrupakan gambaran nyata dari sebuah tradisi / budaya dari suatu kelompok masyarakat atau hanya sekedar memindahkan realitas  berdasarkan kode, konvensi-konvensi dan ideologi kebudayaan.

Film adalah objek bahasa yang kompleks yang meliputi berbagai bahasa, kata, gambar, bunyi,  ( efek suara, kata, musik) teknis, tanpa melupakan aspek ekonomi yang akan diangkat dan menempati ruang yang cukup penting dalam kehidupan nyata. Secara umum film adalah produk budaya yang teriri dari dua unsur , yaitu unsur naratif dan unsur sinematik. Dua unsur ersebut saling berkaitan satu sama lain yang membentuk sebuah film. Unsur naratif adalah bahan yang akan diolah yang berbentuk naskah/teks dan usnur sinematik adalah cara (gaya) untuk mengolahnya ( pratista via Dewojati, 2012-28 )

Film yang menjadi objek penelitian disini adalah film yang berjudul Imarat ya’qubyan karya Alaa al-aswany. Sebuah film yang mengangkat realitas masyarakat mesir pada masa pra dan pasca revolusi. Mesir adalah negri yang luas akan budaya dan peradaban masa lalunya. Film ini disajikan dengan apik menonjolkan sisi-sisi kemiskinan dan kemakmuran mesir pra dan pasca revolusi dimana pasca dijajah oleh Arab maka kehidupan eropa memasuki sudut kota-kota di mesir.  Film ini diadaptasi dari novel yang sama yaitu Imarat Ya’qubyan ( Apartement Yacoubian)

Film imarat ya’qubyan adalah film yang disutradarai oleh marwan hamed, diproduksi oleh Imad Adeeb  dan skenario oleh wahid hameed, diangkat dari novel yang sama pada tahun 2006 dan menjadi serial di Tv di tahun 2007.  Yang mana novel tersebut diterbitkan pada tahub 2002 di mesir dan di terbitkan dalam bahasa inggris pada tahun 2004 yang kemudian diterjemahkan kelebih dari 30 bahasa. Dan film ini selalu diputar dalam festival film Arab. Dalam pemutaran perdananya di mesir telah di tonton lebih dari 6.000.000 penonton dalam pemutrannya diminggu pertama menurut harian al-Ahram fil ini meraih box office sebagai film dengan debut terbaik di Mesir dengan penghasilan kotor 20 juta dalam pemutaran perdananya. Selain pengharagaan film ini juga pernah mendapatkan kecaman dari dewan parlemen mesir, mereka memprotes film ini karena terlalu menonjolkan homoseksualitas dan pemabuk.

Film ini  diangkat dari Novel yang ditulis oleh Alaa Al Aswany yang lahir pada tanggal 26 Mei 1957. Ibunya zainab berasal dari keluarga bangsawan. Pamannya adalah seorang pasha dan mentri pendidikan. Sebelum revolusi mesir pada tahun 1952, Ayahnya Abas Al Aswany adalah seorang penulis dan pengacara yang dikenal sebagai orator karismatik, cerdas dan loyal. Al aswany juga seorang penulis di berbagai majalah dan surat kabar Mesir dan Internasional. Alaa Al Aswany menempuh pendidikan Sarjananya DI Universitas Kairo Jurusan Kedokteran Gigi dan merampungkan pendidikan pasca sarjana di Kairo Mesir.

 film ini sangat menarik untuk diteliti, karena pengarang banyak  menggunakan bahasa- bahasa yang beragam yang disesuaikan dengan tokoh dan perannya dalam film. Alasan kedua karena film ini bercerita tetang dua sisi kehidupan, yaitu kehidupan masyarakat miskin mesir dengan berbagai lika-likunya dan masyarakat elit mesir dengan berbagai kebobrokannya. Karya-karya ala alaa aswany telah mendapat perhatian/ penghargaan dari pecinta film khususnya dimesir hal ini terbukti dengan di raihnya 6.000.000 penonton dalam pemutaran di minggu pertama.

Alasan penulis memilih film imarat ya’qubyan sebagai objek penelitain adalah karena film ini diangkat dari novel best seller yang berjudul sama dan telah di terjemahkan kelebih dari 10 bahasa termasuk bahasa indonesia yang diterbitkan olih serambi. Selain itu fil imarat ya’qubyan telah menapatkan berbagai penghargaan diberbagai ajang lokal maupun internasional. Jika dilihat dari isi film tersebut, film ini banyak mengandung bahasa mesir yang mudah dipahami oleh orang-orang non mesir. Film ini sangat layak dianalisis unsur instrinsiknya karena terdapat  banyak tkoh, latar dan tema yang sangat beragam. Dalam implikasinya di bidang pendidikan bahasa arab, penulis rasa para pelajar akan sangat mudah memahami dan menyukai bahasa arab dengan cara yang lebih menyenangkan yaitu dengan menonton film. Tidak seperti biasa , hanya dilakukan dikelas dengan berbagai kaidah-kaidah yang membosankan dan sulit dimengerti.

Dalam pemahaman unsur instrik  penulis rasa perlu dikaji secara mendalam sehingga menjadi bahan ajar yang cocok untuk  pengembangan pemahaman bahasa arab khususnya dengan media film. Sehingga para pelajar sambil belajar dan menganilisis mereka juga diajak untuk mampu mengolah rasa yang dimiliinya dalam menanggapi setiap adegan-adegan yang ditampillkan dalam film. Sehingga secara tidak langsung mampu mengekspresikan kecintaaannya dan menambah pemahaman bahasa arab. Setiap karya sastra tidak selalu mudah dipahami oleh para pembaca karena terdapat perbedaan latar belakang dan budaya antara pengarang dan pembaca / penikmat film).

Selain unsur-unsur instrinsik film, terdapat juga unsur ekstrinsik yang membangun sebuah film yaitu unsur-unsur  ekstrinsik yang membangun sebuah film yaitu unsur latar belakang film yang mencakup sosial budaya, ekonomi, pendidikan, agama dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini penulis memusatkan penelitiannya terhadap unsur-unsur instrinsik film imarat ya’qubyan ) Apartemen yacoubian karya Alaa al-aswany yang merupakan film laris yang sering diputar pada festival film eropa dimesir.

Hal penting dalam film tersebut adalah nilai estetik Yang membangun keterkaitan antara karya  tersebut dengan  para penikmat film . merujuk kepada simatupan (2006), penonton diajak untuk mampu mengilah rasa yang dimilikinya dalam menanggapi setiap adegan yang ditampilkan dalam film. Sehingga manusia secara tidak langsung mengapresiasi sebuah karya dari sebuah pengalaman yang terjadi pada dirinya. Suatu karya sastra tidak selalu mudah untuk dipahami oleh para pembaca karena terdapat perbedaan latar belakang dan budaya antara pengarang dan penikmat. Hal tersebut menghambat pengarang untuk dapat memahami karyasastra dengan baik.

 Oleh karena itu , untuk dapat memahami karya sastra dengan baik, penulis menggunakan pendekatan struktural dalam menganalisis unsur-unsur instrinsik dalam film imarat ya’qubyan. pendekatan struktural memandang bahwa keterkaitan semua unsur yang tak terpisahkan seperti alur, penokohan, latar, sudut pandang, dan tema itulah yang mampu membentuk kemaknaan pada sebuah roman (Nurgiyantoro, 2007 :37). Namun demikian dalam kajian ini, unsur-unsur yang akan dibicarakan adalah alur, tokoh, latar, dan tema. Yang kemudian penulisterapkan kepada siswa madrasah aliyah untuk mengetahui / menimbang pemahaman mereka terhadap isi dalam film tersebut.

Madrasah Aliyah (MA)  As Sa’adah  Cimahi  merupakan salah satu sekolah menengah atas yang mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran bahasa asing pada siswanya. Mata pelajaran ini diberikan 1 x 45 menit pada siswa kelas X, sedangkan untuk kelas XI Bahasa dan kelas XII Bahasa diberikan 2 x 45 menit tiap pertemuan. Sama halnya dengan SMA 11 Bandung Berdasarkan hasil pengamatan penulissaat observasi, pada keterampilan mendengar banyak terdapat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Dalam hal gramatikal khususnya, siswa banyak mengalami hambatan atau kesalahan dalam membuat kalimat. Tidak dipungkiri bahwa gramatik bahasa Arab memang kompleks untuk dipelajari karena banyaknya sistem-sistem gramatik yang harus dipelajari dan diketahui.

Di sisi lain, media yang disediakan sekolah masih konvensional. Di tiap kelas disediakan satu whiteboard dan satu blackboard. Sedangkan media tambahan yang digunakan dalam pembelajaran diantaranya tape untuk memperdengarkan dialog atau percakapan berbahasa Arab dari kaset yang bersumber dari buku ajarg. Persediaan buku ajar bahasa Arab di perpustakaan juga terbatas. Sebenarnya telah ada laboratorium bahasa tetapi fasilitas tersebut belum digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab. Hal ini dikarenakan keterbatasan sumber daya guru dan media penunjang pembelajaran seperti kaset CD atau pun film.

Keterampilan mendengar adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai siswa. Keterampilan mendengar merupakan keterampilan produktif yang kompleks sehingga guru harus selalu mencari dan menemukan media pengajaran yang inovatif agar dapat membantu siswa dalam keterampilan mendengar. Bila siswa menggunakan bahasa asing secara lisan, pendengarnya masih dapat mengerti dan menerima lafal yang kurang sempurna ataupun ungkapan yang kurang gramatikal. Tetapi jika siswa menggunakan Bahasa asing secara tulisan, pembaca akan lebih teliti dalam menilai dan menganalisis tulisan dari sisi ejaan, tata bahasa, maupun gramatiknya.

Seringkali orang mengunakan istilah implikasi tanpa benar-benar memikirkan apa arti dan definisinya. Penggunaan kata implikasi memang masih jarang digunakan dalam kalimat-kalimat percakapan sehari-hari. Penggunaan kata implikasi biasanya umum digunakan dalam sebuah bahasa penelitian. Maka dari itu masih sedikit kajian yang membahas tentang arti dari kata implikasi. Namun jika mendengar istilah implikasi, hal pertama yang terpikirkan pada umumnya adalah sebuah akibat atau sesuatu hal yang memiliki dampak secara langsung.

Kata implikasi memiliki persamaan kata yang cukup beragam, diantaranya adalah keterkaitan, keterlibatan, efek, sangkutan, asosiasi, akibat, konotasi, maksud, siratan, dan sugesti. Persamaan kata implikasi tersebut biasanya lebih umum digunakan dalam percakapan sehari-hari. Hal ini karena kata implikasi lebih umum atau cocok digunakan dalam konteks percakapan bahasa ilmiah dan penelitian.

Dari alasan-alasan yang dipaparkan penulis diatas . oleh karena itu penelitian ini diberi judul

Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Dengan Media Film Terhadap Pemahaman Unsur-Unsur Instrinsik Film Imarat Ya’qubyan Karya Alaa Al – Aswany

B.  RUMUSAN MASALAH PENELITIAN

1.   Bagimanakah deskripsi unsur-unsur instrinsik yang terkandung dalam Film Imarat Ya’qubyan karya Alaa Al Aswany ?

2.   Bagaimana keterkaitan antarunsur isntrinsik berupa  alur, penokohan, tema dan latar dalam film imarat ya’qubyan karya Alaa Al Aswany ?

3.   Bagaimanakah implementasi pembelajaran bahasa arab dengan media film terhadap unsur-unsur instrinsik fil Imarat Ya’qubyan karya Alaa Al Aswany ?

 

C.  TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka penelitian ini bertujuan untuk

a)   Mengetahui  deskripsi unsur-unsur instrinsik yang terkandung dalam Film Imarat Ya’qubyan karya Alaa Al Aswany

b)   Mengetahui  keterkaitan antarunsur isntrinsik berupa  alur, penokohan, tema dan latar dalam film imarat ya’qubyan karya Alaa Al Aswany

c)   Mengetahui  implementasi pembelajaran bahasa arab dengan media film terhadap unsur-unsur instrinsik fil Imarat Ya’qubyan karya Alaa Al Aswany

 

2.   Manfaat Penelitian

a.   Manfaat teoritis

a)   Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi pengembangan kajian penelitian pendidikan. Khususnya mahasiswa pascarajana pendidikan bahasa arab

b)  Penelitian ini mengaplikasikan teori sastra berupa teori struktural Hasil penelitian ini diharapkan mampu memperkaya pustaka referensi di dunia  pendidikan bahasa arab dengan menggunakan media film.

b.   Manfaat praktis

a)   Menambah wawasan tentang karya sastra arab, terutama dalam pengkajian aspek struktural terhadap karya sastra film.

b)  Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mahasiswa dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah film yang berbahasa arab. Sehingga mampu meningkatkan kemampuan berbahasa arab.

c)   Diharapkan mampu menjadi rujukan didunia pendidikan khususnya pendidikan bahasa arab.

 

D.  KAJIAN PUSTAKA

Kajian pustaka merupakan bagian-bagian yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Karena pada bagian ini berfungsi untuk mencegah agar tidak terjadi pengulangan yang mengacu pada plagiasi penelitian. Sehingga bisa dilihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan, seberapa dalam pengetahuan yang telah diperoleh dan kemungkinan unru pengembangannya lebih lanjut. Penyusunannya dengan memaparkan pustaka-pustaka sejenis sesuai dengan identifikasi masalah dalam penelitian ini. Berikut ini adalah penelitian Sejenis Yang Pernah Dilakukan Sebelumnya.

Tesis yang berkaitan dengan Media yang akan diteliti yaitu film Imarat Ya’qubyan penulisbelum menemukan baik di perpustakaan online maupun offline akan tetapi penulismenemukan penelitian dengan menggunakan sumber data Novel Imarat Ya’qubyan yang mana film Imarat Ya’qubyan Di adaptasi dari Novel dengan Judul yang sama yaitu :

Skripsi oleh Ainun Khaerani  Tahun 2012 yang berjudul Gambaran Masalah Sosial dalam Novel “ Imarat Ya’qubyan “ karya alaa al aswany fakultas ilmu pengetahuan budaya program studi bahasa arab universitas indonesia Depok. Skripsi ini membahas tentang masalah sosial yang terdapat dalam novel “imarat ya’’qubyan” .  landasan teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah landasan teori tentang tema, latar, tokoh dengan menggunakan metode deskriptif analitis secara mendalam dalam melakukan pengumpulan data. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dalam novel imarat ya’qubyan selain terdapat beragam unsur instrinsik juga terdapat empat masalah sosial yang masih dianggap tabu berupa diskriminasi, homoseksualitas, gerakan islam radikal dan korupsi yang ditinjau melalui sosiologi sastra. ( Digilib universitas Indonesia Disunduh pada tanggal 25 februari 2017)

Skripsi karya desi nurjanah Tahun 2013 jurusan bahasa dan sastra arab fakultas adab dan humaniora Universitas Islam Negri Sunan Gunung Jati Bandung yang berjudul “ Gambaran Lelaki dalam Novel Imarat Yaqubyan Karya Alaa Al Aswany ( Studi Psikologis Sastra) “

Tesis Oleh Gofar Abdul Tahun  2014 Yang Berjudul “ Pengaruh Media Film Berbahasa Arab Terhadap Peningkatan Kemampuan Istima’ Siswa : Studi Eksperimen Kuasi Terhadap Siswa Kelas Viii Smp Ummul Quro Bandung Tahun Ajaran 2012/2013” tesis jurusan pendidikan bahasa arab universitas pendidikan indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh temuan penulistentang pembelajaran bahasa Arab yang kurang diminati dan sedikit menyita perhatian siswa. Salah satu faktor penyebabnya dikarenakan kurang menariknya media yang membantu dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Sehingga mempengaruhi minat siswa untuk mempelajari bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan media film berbahasa Arab dalam pembelajaran bahasa Arab, sebagai cara untuk melatih siswa aktif dalam proses pembelajaran dan untuk menarik minat siswa dalam belajar bahasa Arab serta untuk mengetahui berpengaruh atau tidaknya media film dalam meningkatkan kemampuan menyimak siswa didalam pembelajaran bahasa Arab. Metode penelitian yang penulisgunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif melalui pendekatan quasi experimen dengan design penelitian quasi experimental nonequevalent control group design. (Digilib Upi di unduh tanggah 25 februari 2017)

Tesis Oleh Laelatul Nur Wakhidah  Tahun 2017) Al Anashir Al Dakhiliyah Fi Masrahiyah "Ashabul Ghar" Li Ali Ahmad Bakatsir. Undergraduate Thesis, Uin Sunan Ampel Surabaya. Penulismenggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjawab rumusan masalah dengan menggunakan teks drama tersebut sebagai sumber datanya. Adapun data dari penelitian ini adalah percakapan yang mengindikasikan adanya unsur intrinsik dalam drama. Data diperoleh dengan cara dokumentasi dan penelitian kepustakaan yang terkait dengan teori unsur intrinsik dan drama Ashḥābu al-Ghār karya Ali Ahmad Bakatsir. Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana analisis unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam drama Ashḥābu al-Ghār karya Ali Ahmad Bakatsir. ( digilib Uin Sunan Ampel Surabaya diunduh pada tanggal 25 februari 2017

 

E.  KERANGKA PEMIKIRAN

Media memiliki peranan yang besar dalam upaya membentuk keahlian peserta didik dan mengubahnya dari keahlian yang bersifat abstrak ke yang bersifat konkret. Pendekatan ini bertujuan untuk melengkapi konteks yang menjelaskan makna kata-kata, struktur, dan istilah-istilah kebudayaan baru melalui gambar, peta, foto

Kata media merupakan bentuk jama dari kata medium. Kata ini berasal dari bahasa latin yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar (sadiman dkk, 2009:6) Media seperti yang dikutp dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2010:729) adalah (1) alat , (2) sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster dan spanduk, (3) perantara, penghubung. Sedangkan dalam kamus kata serapan , media adalah alat/sarana/beenda , yang menjadi perantara untuk menghantarkan sesuatu (Martinus, 2001: 359-360)

Hamalik ( 1989-12) mengungkapkan bahwa media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan supaya lebih mengerfrktifkan komunikasi interaksi antara guru dan siswa  dalam protses belajar mengajar di sekolah. Sedangkan menurut soeparno (1988;1) media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi dari suatu seumber kepada penerima.

Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa media pengajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyampaian pesan guna lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.Menurut sanaky, media pengajaran berufungsi untuk merangsang pembelajaran dengan membuat duplikasi dari objek yang sebenarnya, membuat konsep abstrak ke konsep konkret, memberi kesamaan presepsi, mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah dan jarak. Media mampu menjembatani kesulitan siswa dalam belajar bahasa sekaligus menjadi alat bantu yang sangat efektif bagi guru.

Manfaat lain dari media adalah utnuk memberikan variasi dalam proses belajar mengajar sehingga perhatian siswa pada pelajaran lebih besar dan pelajaran yang diberikan mudah diingat dan dipahami. Sebelum menggunakan media pengajaran, diperlukan adanya pemilihan media pengajaran yang tepat sesuai dengan kriteria tertentu. Menurut Hamalik (1989: 6), dalam memilih media pengajaran harus sesuai dengan: 1) tujuan pengajaran; 2) bahan pengajaran; 3) metode mengajar; 4) ketersediaan alat yang dibutuhkan; 5) pribadi pengajar; 6)minat dan kemampuan pembelajar; 7) situasi pembelajaran yang sedang berlangsung. Salah satu jenis media pengajaran adalah media audio visual. Menurut Sanaky (2009: 102), “media audio visual adalah seperangkat alat yang dapat memproyeksikan gambar dan suara”. Alat-alat yang termasuk media audio visual contohnya televisi, video-VCD, sound slide, dan film.

Film adalah media visual yang memuat satu atau lebih tema cerita yang memiliki  pesan-pesan tertentu. Film dapat dikatakan sebagai salah satu media hiburan yang paling populer.  Dilihat dari jenisnya film dibagi ke dalam tiga jenis yaitu dilm cerita, film berita , film dokumenter dan film kartun.[1] Adapun dari segi durasnnya film dibagi kedalam dua macam yaitu film panjang dan film pendek. Dari segi isinya terbagi kedalam film action, film drama, film komedi dan film propaganda.[2] Llebih luas lagi film dapat dibagi menjadi beberapa genre film. Sebenarnya tidak ada maksud dan tujuan dari pengelompokan atau pemisahan tersebut. Namun secara tidak langsung , kehadiran film- film dengan karakter tertentulah yang akhirnya memunculkan pengelompokan tersebut[3]. Dalam perkembangannya film dibagi menjadi bebrapa macam genre yaitu :

a.    Film Laga ( aksi). Genre film memfokuskan cerita pada perjalanan hidup sesorang dalam upaya mempertahankan diri. Film ini seringkali dibumbui dengan keahlian setiap tokoh  dalam pertarungan dari awal hingg akhir cerita. Kunci sukses dalam film yang bergenre aksi adalah kecerdasan dari sutradara  untuk bagaimana menciptakan sasana dan pola yang detail sehingga mampu menarik penonton  seakan-akan  menjadi satu kesatuan salam setiap adegan film.

b.   Film komedi, jika dalam film laga sutradara menjadi titik utama dalam kesuksesannya, berbeda dengan film komedi yang menitik beratkan kesuksesannya dari kepawaian sang actor. Sehebat apapun sutradara mengatur  jalannya cerita,  tanpa keahlian sang actor tidak akan berhasil. Karna tujuan dari film bergenre komedi adalah untuk memancing gelak tawa penonton hasil dari acting yang dilakukan oleh aktorfilm. Sentuhan editing  audio dan visual cukup menduung dan ikut berperan dalam film komedi.

c.    Film horror. Film horror dirancang untuk menakut-nakuti dan memancing ketakutan tersemunyi, akhir cerita adalah intinya, menakutkan, mengejutkan, akan tetapi ,cukup menarik dan menghibur penonton.

d.   Film Drama. Kunci utama film genre adalah dengan mengangkat tentang permasalahan manusia yang tak pernah puas mendapatkan jawaban. Seperti misalnya masalah cinta remaja, perselisihan keluarga ata perjalanan seseorang dalam menempuh cita-cita. Biasanya, drama tidak berfkus pada efek khusus, komedi, atau tindakan , film drama dapat dikatakan sebagai genre film terbesar.

e.    Epik/film sejarah. Epik meliputi drama kostum, drama sejarah, film perang. Film ini biasanya menceritakan zaman-zaman bersejarah

f.  Film genre musik. Film musik/tari bentuk sinematik yang menekankan nilai skala penuh atau lagu dan tarian secara signifikan. Biasanya dengan menggunakan pertunjukan musik/ tarian yang terintegrasi dengan alur cerita.

g.   Fim Sci-Fi (Scient Fiksi) Film ini berisi menganai cerita-cerita imajinatif penulis / sutradara yang biasanya menceritakan planet yang jauh, alien, tekhnologi dan lain sebagainya. Film ini merupakan cabang dari film fantasi, film aksi. Film genre ini sering mengedepankan teknologi.

Film tersusun atas berbagai unsur, salah satunya adalah unsur instrinsik film. Yaitu unsur pembangun yang berasal dari film itu sendiri. Berikut ini aalah beberapa unsur-unsur instrinsik sebagai ciri sebuah film :

a.    Sekenario adalah rencana untuk penokohan film berupa naskah , skenario berisi sinopsis, deeskripsi treatment (deskripsi peran), rencana shot dan dialog. Di dalam skenario semua informasi tentang suara ( audio) dan gambar (visual) yang akan ditampilkan ddalam sebuah film dkemas dalam bentuk siap pakai untuk produksi.

b.   Sinopsis adalah ringkasan cerita pada sebuah film yaitu menggambarkan secara singkat alur film dan menjelaskan isi film secara keseluruhan.

c.    Plot sering juga disebut sebagai alur atau jalan cerita. Plot merupakan jalan cerita pada sebuah skenario. Plot hanya terdapat dalam film cerita. Alur dalam sebauh film terdiri dari alur maju, alur mundur , ataupun alur campuran ( maju-mundur)

d.   Penokohan adalah penggambaran tokoh pada film yang meliputi protagonis (tokoh utama), antagonis ( lawan protagonis ) tokoh pembantu, figuran dan lain sebagainya.

e.    Karakteristik pada sebuah film cerita merupakan gambaran umum karakter yang dimiliki oleh para tokoh dalam film tersebut.

f.    Scene biasa disebut dengan adegan , scene adalah aktivitas terkecil dalam film yang merupakan rangkaian shot dalam suatu ruang dan waktu serta memiliki gagasan.

g.   Shot adalah bidikan kamera terhadap sebuah objek dalam penggarapan film. Shot ini juga dapat menentukan terhadap pesan yang akan disampaikan sutradara dalam film.

Sebuah karya fiksi pada umumnya disajikan dalam dua bentuk penuturan yaitu narasi dan dialog. Kedua bentuk tersebut hadir secara bergantian sehingga cerita yang ditampilkan menjadi lebih variatif dan tidak bersifat monoton. Drama dan film merupakan karya yang terdiri atas aspek sastra dan aspek pementasan. Aspek sastra drama berupa teks drama, dan aspek sastra film berupa teks film atau skenario. Luxemburg (1986: 158) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan teks-teks drama ialah semua teks yang bersifat dialog-dialog dan yang isinya membentangkan sebuah alur. Dalam sebuah teks drama dialoglah yang menduduki tempat utama: tindak-tindak bahasa tidak membahas sesuatu, melainkan berbuat sesuatu, menimbulkan reaksi para lawan bicara

Isi film merupakan fokus dalam penelitian ini, dalam menganalisis struktur karya sastra yang harus dilakukan adalah melihat, menelaah, dan menganalisis unsur-unsur pembentuknya dengan menyeluruh dan tidak sepotong-potong karena analisis stuktural merupakan prioritas yang pertama sebelum yang lain lain. (Teeuw 1983: 61), tanpa itu kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat digali dari karya sastra itu sendiri, tidak akan tertangkap. Dalam penelitian ini penulis mengkaji unsur- unsur nstrinsik dalam film imarat ya’qybyan yang meliputi

1.   Alur

Alur atau plot merupakan unsur fiksi yang terpenting karena kejelasan kaitan antarperistiwa yang dikisahkan secara linier, akan mempermudah pemahaman terhadap cerita yang ditampilkan (Nurgiyantoro, 2005:110). Stanton menjelaskan tentang alur yaitu cerita yang berisikan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat. Forster mengemukakan pendapatnya tentang alur sebagai peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas (via Nurgiyantoro, 2005: 113). Penerapan alur pada sebuah cerita yang ideal dimulai dengan situasi stabil, kemudian ada suatu kekuatan yang datang menghambat dan akhirnya menimbulkan ketidakseimbangan.

Berdasarkan kriteria urutan waktu, pada dasarnya teknik pengembangan cerita (penyampaian alur) dibedakan atas alur progresif (alur maju/ alur kronologis/alur lurus) dan alur regresif (alur mundur/alur tak kronologis/alur sorot balik). Namun, pengarang bebas berkreasi memadukan keduanya menjadi alur campuran (Nurgiyantoro, 2005: 153)

2.   Penokohan

Penokohan  merupakan salah satu unsur utama dalam sebuah cerita/ film. Menurut Sudjiman (1988:16-18) tokoh dalam cerita adalah individu yang mengalami peristiwa atau berperan dalam cerita. Berdasarkan fungsinya tokoh dalam sebuah film dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan.  Tokoh yang memegang peran penting dalam sebuah fil m disebut tokoh utama atau biasa disebut dengan tokoh protagonis yang dimana perannya selalu menjadi tokoh yang sentral dalam sebuah film, bahakan bisa disebut menjadi pusat perhatian dalam sebuah film. Kedua kategori tersebut saling berkaitan  dan melengkapi dalam sebuah flm. Setiap tokoh dalam cerita  pada dasarnya memilii posisi yang tepat untuk mendukung sebuah keutuhan cerita dalam film ( Maryantom 2009:11)

Pelukisan tokoh dilakukan dengan cara yang berbeda-beda oleh pengarang. Untuk mendiskripsikan suatu tokoh, pengarang dapat menjelaskan langsung keadaan fisik, moral dan keadaan sosial tokoh yang disebut sebagai le portrait. Seperti pada karya sastra abad XVI dan XVII susunan pengenalan penokohan selalu konstan yaitu dimulai dari pendeskripsian fisik kemudian pendeskripsian moral dan keadaan sosial. Setiap tahap pendiskripsianpun susunannya selalu teratur, misalnya pada pendeskripsian fisik menjelaskan ciri-ciri fisik tokoh secara mendetail dari kepala sampai kaki, bentuk wajah, tangan, dan lain-lain. Pendiskripsian tokoh lain yang dilakukan pengarang adalah hanya menjelaskan tingkah laku tokoh-tokoh tersebut untuk mengemukakan secara tidak langsung karakter tokoh yang bersangkutan yang disebut sebagai les personnages en acte (Schmitt dan Viala, 1982:70-71).

Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjaunnya. Oleh karena itu seorang tokoh dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis sekaligus misalnya tokoh utama-antagonis, tokoh tambahan protagonis, dan sebagainya. Berdasarkan peranan atau tingkat pentingnya penokohan dalam sebuah cerita Nurgiyantoro (2005:176-l78) membedakan menjadi tokoh utama (central character, atau main character) dan tokoh tambahan (peripheral character).

3.   Latar

Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa – peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2005:216). Ketiga unsur itu saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah ada dan terjadi. Dengan demikian, pembaca merasa dipermudah dalam mengembangkan daya imajinasinya (Nurgiyantoro, 2005:217). Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial.

4.   Tema

Tema menyangkut makna sebuah karya sastra. Pada karya fiksi sebuah tema tidak ditunjukkan dengan mudah melainkan harus dipahami dan ditafsirkan melalui cerita dan data-data (unsur pembangun cerita) yang lain. Hartoko dan Rahmanto menjelaskan, tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Stanton juga mengemukakan bahwa tema sebagai makna sebuah cerita yang secara khusus

menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana (Nurgiyantoro, 2005:68 &70).

Karya sastra merupakan struktur makna atau struktur yang bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra merupakan sistem tanda  yang mempunyai makna yang mempregunakan medium bahasa (pradopo 1995:141). Hal yang harus diketahui sebelum menganalisis n film adalah unsur-unsur struktural yang membentuknya menjadi satu keatuan utuh.

Unsur tersebut meliputi unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Bagian dari unsur instrinsik di antaranya adalah cerita, plot peristiwa, penokohan , tema, latar, sudut pandang , bahasa atau gaya bahasa. Unsurk ekstrinsik adalah unsur unsur yang berada diluar karya sastra yang secara tidak ;angsungmempengaruhi bangunan dan sistem yang terdapat dalam karya sastra. Unsur tersebut adalah biografi pengarang, psikologis pengaarang dan pembaca. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik dan sosial juga berpengaruh terhadap karya, selain itu pandangan hidup suatu bangsa , bebagai karya seni lain turut mempengaruhinya ( Nurgiyantoro, 1995:23)

Film Imarat Ya’qbyan merupakan fokus dalam penelitian ini, dalam menganalisis struktur karya sastra yang harus dilakukan adalah membaca, menelaah, dan menganalisis unsur-unsur pembentuknya dengan menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong karena analisis struktural merupakan prioritas yang pertama sebelum yang lain (Teeuw 1983: 61)

Penulis menitik beratkan penelitian ini kepada unsur-unsur instrinsik film Imarat ya’qubyan yang kemudian diujikan kepada sample. Dimana sample dalam penelitain ini adalah siswa dan siswi madrasah aliyah. Penulis mengambil sample tersebut karena usia-usia siswa madrasah aliyah merupakan usia yang matang dan sedang giat- giatnya mengenal dunia.

 

F.   LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

Metode penelitain merupakan cara yang dilakukan dalam sebuah penelitian untuk memperoleh fakta dan prinsip secara sistematis. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan unsur-unsur instrinsik dalam film Imarat Ya’qubyan yang kemudian mengimplemetasikannya sebagai bahan ajar metode audio visual pada siswa madrasah aliyah kelas XI.

Untuk memperoleh data-data yang objektif dan agar penulisan lebih sistematis maka penulis menggunakan rincian sebagai berikut :

1.   Jenis  data dan pendekatan penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan subjek sebuah film Imarat Ya’qubyan karya alaa al aswany . Objek penelitian ini adalah unsur-unsur intrinsik yang berupa alur, penokohan, latar, dan tema yang akan dianalisis menggunakan teori struktural.

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Struktural. Hal ini berdasarkan pendapat Teeuw dalam bukunya membaca dan menilai sastra ( 1983:600 ) “ karya sastra dipandang sebagai struktur yang otonom, lepas dari latar belakang sejarahnya, lepas pula dari diri dan niat si penulis, lepas dari latar belakang sosial dari efeknya pembaca” dengan demikian pendekatan ini merupakan suatu pendekatan terhadap karya sastra itu sendiri untuk mencapai makna menyeluruh melalui unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra ini sendiri.

2.   Sumber data Penelitian

a.     Data primer  

Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh penuli dari sumber pertamanya. Dalam penelitian ini, data primer yang diperoleh oleh penulis adalah: hasil wawancara dengan Guru Bahasa Arab  serta beberapa siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah film Imarat Ya’qubyan karya Alaa AL-Aswany adapun Lokasi dalam Penelitian ini adalah  Kelas XI di Ma As- sa’adah Jln Sadarmanah no 110  Kel Leuwi gajah kec cimahi selatan kota cimahi dan kelas XI di  SMA 11 Bandung. Pemilihan kedua sekolah tersebut di dasari oleh kurangnya minat dan ketrampilan mendengar siswa dan siswi yang menurut hemat penulissangat kurang dibandingkan kemahiran membaca. Selain itu karena pelajaran bahasa arab diajarkan di kedua sekolah tersebut.

 

 

b.     Data sekunder

Data sekunder adalah data yang telah tersusun dalam bentuk dokumenc-dokumen berupa Film Imarat ya’qubyan , jumlah guru, kurikulum, jurnal, hasil evaluasi, letak geografis sekolah dan dokumen-dokumen lain yang mendukung.

3.   Metode penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yaitu metode yang dilakukan denga cara mendeskripsikan fakta-fakta yang ada kemudian menganalisisnya ( Ratna, 20004:53). Dalam penelitian ini akan menggambarkan  data yang ada dalam film dan data yang dikumpulkan melalui tes/ wawancara terhadap siswa Madrasah aliyah dan sekolah menengah atas yang kemudian menganalisisnya. Penulis juga melakukan studi pustaka  yang digunakan sebagai sumber data maupun rujukan.

4.   Teknik pengumpulan data

Dalam penelitian ini tidak dilakukan penentuan sampel, untuk mengetahui permasalahan yang ingin diungkap, data membutuhkan interpretasi-interpretasi yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam rumusan masalah. Kegiatan pengadaan data ini dilakukan oleh penulisdengan kemampuan berpikir yang meliputi pengetahuan kecermatan dan ketelitian guna mendapatkan data yang diperlukan.

a)     Observasi

Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam metode ini observasi yang digunakan adalah observasi non partisipan yaitu mengamati dan mencatat tanpa terlibat langsung sebagai aktor dalam pelaksanaan pembelajaran aktif pada pembelajaran bahasa arab. metode ini penulisgunakan untuk menghimpun data tentang situasi dan kondisi Subyek Penelitian. 

b)    Wawancara

Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan terhadap dua orang atau lebih bertatap muka, mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan ( narbuko Khalid & Ahmadi Abu : 83). Dan wawancara ini penulis menggunakan wawancara bebas terpimpin yaitu wawncara yang bebas tetapi menggunakan kerangka pertanyaan. Dalam hal ini penulis melakukan wawancara terhadap guru mata pelajaran bahasa arab di sekolah tersebut. serta informan lain terkait dengan tema yang sedang diteliti.

c)     Tes

Tes adalah suatu pertanyaan atau tugas/seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait/atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar (Zainul 1995) Tes ini dilakukan oleh penulis untuk mendapatkan gambaran / hasil dari rumusan masalah penelitian.

 

d)    Dokumentasi

 

Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan  transkip, buku, CD, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat , agenda dan lain sebagainya ( arikunto suharsimi : 202).   Dokumentasi ini penulis gunakan untuk mencari data penelitian berupa cd film imarat ya’qubyan, pengarang, sutradara, unsur instrinsik  serta untuk mengetahui kondisi dan keadaan sekolah.

 

5.   Prosedur analisis data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan deskriptif analitik yaitu teknik analisis data dengan menuturkan, menafsirkan, serta megklasifikasikan dan membandingkan fenomena-fenomena ( arikunto suharsimi : 202) 

1)     Penyajian Data

Data dalam penelitian ini disajikan dengan mendeskripsikan kalimat kalimat yang relevan dengan permasalahan yang dikaji yaitu unsur-unsur intrinsik, berupa alur, penokohan, latar, tema dalam film imarat ya’qubyan yang kemudian diterpkan kepada siswa sekolah menengah atas dan madrasah aliyah.

2)     Teknik Analisis

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah teknik analisis konten yang bersifat deskriptif-kualitatif. Teknik ini digunakan karena data bersifat kualitatif yang berupa bangunan bahasa dan pemaknaannya. Kegiatan analisis ini meliputi menyimak, mencatat data, membaca ulang, mengidentifikasi data, mengklasifikasi data, membahas data, penyajian data, dan penarikan inferensi.

G. SISTEMATIKA PENULISAN

Pembahasan dalam Tesis ini akan dibagi menjadi Empat bab yaitu

Bab pertama yaitu pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, Rumusan masalah penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, kerangka berfikir, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab kedua landasan teori berisi  teori pembelajaran bahasa arab, media pembelajaran, maharat istima’, film, unsur instrinsik.

Bab Ketiga Pembahasan mengenai  gambaran umum seputar MA As Saadah dan SMA 11 Bandung,  Letak geografis, sejarah berdiri dan perkembangannya, visi dan misi, struktur organisasi, keadaan guru serta sarana dan prasaranaya.  Sinopsis Film Imarat Ya’qubyan, Biografi Pengarang, sutradara, produser dan penulis skenario film. Dan hasil penelitian  berupa unsur instrinsik film dan implementasinya terhadap pembelajaran bahasa arab.

Bab keempat pembahasan yaitu sebagai bagian akhir tesis ini berisi kesimpulan , saran-saran yang berkenaan dengan pembahasan, serta kata penutup dari penulis. Pada bagian akhir skripsi ini dicantumkan pula daftar pustaka dan lampiran-lampiran.


BAB II

KERANGKA TEORITIS

Pada bagian ini peneliti akan membahas mengenai latar belakang teoritis dari subjek penelitian secara terperinci. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan peran media film dalam pengajaran bahasa arab untuk meningkatkan ketrampilan mendengar.

BAGIAN KESATU : PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Banyak definisi yang mengartikan  kata “ Bahasa”. Karena kata Bahasa mempunyai makna yang sangat luas.  Dari berbagai definisi dapat disimpulkan bahwasanya Bahasa adalah seperangkat symbol fonetik yang diatur oleh sistem tertentu  dimana setiap angggota komunitas, budaya tertentu mengetahui maknanya  untuk mencapai komunikasi antara satu sama lain.[1]

Dalam praktiknya sudah sangat lama sekali banyak yang menganggap pembelajaran bahasa arab sangatlah sulit. Maka dari itu sangat sedikit siswa yang menyukai bahasa arab dan memilih bahasa arab sebagai bahasa ketiga. Hal ini disebabkan kurangnya pembaharuan kurikulum / bahan ajar yang inovatif dan kreatif.  Hal ini diperburuk oleh dua sebab ini yang menjadikan pendahulu  kebingungan dalam praktek lingusitiknya yaitu tidak mampu menentukannya letak awal dan akhir. Alasan kedua adalah sempitnya pandangan bahasa Arab, dan ketergantungannya pada Al Qur'an dalam hal rasa hormat atau takut salah.  Hal ini menyebabkan kurangnya inovasi dalam pembelajaran bahasa arab antara dialek arab kuno dan kontemporer. Sehingga kebanyakan pembelajaran bahasa arab hanya menggunakan beberapa kata- kata yang disebutkan dalam kamus leksikal.[2]

Dalam pembelajaran bahasa arab, Pengajar bahasa harus menentukan tujuan, rencana, kurikulum dan metode pengajaran yang menarik sekan-akan pengajar mengajarkan  bahasa asli. Benar-benar mengabaikan fakta bahwa bahasa ini bukan bahasa pertama atau bahasa asal pelajar. Dalam pengertian ini, buku dan materi pendidikan yang telah ditulis ke sekolah di negara asal sering digunakan untuk pengajaran. Hal ini mungkin berlaku untuk pengajaran bahasa Inggris di Filipina, Burma, India dan beberapa negara. Negara-negara Afrika.[3]

Karakteristik bahasa Arab adalah bahasa derivasi adapun makna dari derivasi menurut stem dalam kalimat bahasa arab menpunyai tiga struktur yaitu kata kerja ( fiil), kata benda (isim)  dan Huruf ( harf). Bahasa arab merupakan bahasa yang kaya dengan pengucapannya, terdapat banyak makna dalam setiap gabungan bahasa arab dengan kata – kata lainnya. Dengan membuang huruf dalam bahasa arab ( mentasrif ) akan memunculkan bahasa baru. Bahasa arab merupakan bahasa yang sangat ekspresif dan kaya akan ungkapan, metode kebahasaan, tata bahasa dan lain sebagainya.[4]

Definisi Pembelajaran bahasa arab  secara istilah adalah segala sesuatu yang mengacu pada proses seseorang mempelajari bahasa kedua. Secara spesifik proses mempelajari tata bahasa , pengetahuan dan kemampuan untuk menguasai bahasa kedua dalam hal ini bahasa arab. Biasanya hal ini dilakukan di dalam pendidikan formal dan pendidikan eksplisit.[5]

Dalam pandangan beberapa ahli bahasa perolehan bahasa merupakan proses khusus untuk anak-anak yang akan terus mereka aplikasikan hingga dewasa. Dan mereka cukup banyak, mengambil bahasa yang mereka dapatkan, kemampuan ini tidak hilang dengan kedewasaan.  Dalam pembelajaran bahasa dimana masyarakat sekitar berbicara bahasa ajar. Dimana individu tersebut mempunyai banyak kesempatan dalam mengaplikasikan bahasa yang telah ia pelajari sehingga kemampuan bahasa tersebut akan berkembang hari demi hari.  Dengan demikian memudahkan individu dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sesai dengan kebudayaan masyarakatnya. Sehingga dalam pengaplikasiannya  lebih jelas dan secara otomatis memudahkan pengguna bahasa.[6]

1.     TINGKATAN BAHASA ARAB

Tes bahasa yang diajarkan dalam sebuah program pengajaran bahasa Arab ke pembicara lainnya bermasalah. Beberapa percaya bahwa itu hanyalah sebuah keputusan untuk mengajarkan bahasa semacam itu dan lebih memilihnya. Ini bahkan lebih sulit. Hal ini disebabkan oleh banyaknya tingkat bahasa Arab dan sifat program yang berbeda.

Bahasa Arab, seperti bahasa lainnya, memiliki tingkat penggunaan. Pada tingkat atas, terdapat  dua tingkatan bahasa : yang pertama adalah bahasa warisan dan yang kedua  adalah bahasa kontemporer. Pada tingkat horizontal kita menemukan tingkatan yang berbeda. Termasuk yang berhubungan dengan intelektual, termasuk orang yang berpendidikan.

 



[1] [1] الأستاذ الدكتور رشدي أحمد طعيمة " تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج وأساليبه" منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو. مصر 1989 ه ص 21

 

[2] دكتور تمام حيسان "مناهج البحث في اللغة "مكتبة الأنجلو المصرية. القاهرة 1990 ص

[3] الأستاذ الدكتور رشدي أحمد طعيمة " تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج وأساليبه" منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو. مصر 1989 ه ص 33

[4] الأستاذ الدكتور رشدي أحمد طعيمة " تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج وأساليبه" منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو. مصر 1989  35-37

[5] الأستاذ الدكتور رشدي أحمد طعيمة " تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج وأساليبه" منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو. مصر 1989  30

[6] الأستاذ الدكتور رشدي أحمد طعيمة " تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج وأساليبه" منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو. مصر 1989  30

 

H. DAFTAR PUSTAKA

Pradopo, Rahmat Joko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, Dan Penerapannya. Yogyakarta: pustaka Pelajar.

Simatupang. Lono Lastoro. 2006. Jagad Seni: Refleksi Kemanusiaan. Yogyakarta

Wellek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta : Gramedia

Zuchdi, Damayanti dkk. 1993. Panduan Analisis Konten dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.

Dewojati, Cahyaningrum. 2012. Drama sejarah, teori dan penerapannya. Penerbit Javakarsa Media

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Bayu widagdo, muhammad, Bikin film indie itu mudah !, yogyakarta: CV. Andi Offset 2007.

Effendy, Heru, Mari memuat film, Jakarta : Lebar 1965

Abdullah bin Ahmad Al-Fakihy, Syarh Fawakih al-Haniyah (Semarang: Maktabah Usaha Keluarga Semarang, tt),

Arikunto , suharsini, prosedur penelitian suatu pendekatan praktis, jakarta rineka cipta , 1998

Arsyad, Azhar, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Abdul Hamid, Uril Baharuddin, Bisri Mustofa. Pembelajaran Bahasa Arab. Malang: UINMalang Press. 2008.

Djamarah, Syaiful Bahri. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif:Suatu Pendekatan Teoritis dan Psikologis. Edisi Revisi, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.

Efendy, Ahmad Fuad, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Malang, Misykat, 2005.

Hermawan, Acep. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2011.

Hamzah B, Uno. Profesi Kependidikan, Problema, Solusi, dan Reformasi

Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Idris, Zahara. Dkk. Pengantar Pendidikan.

Jakarta: Grasindo, 1992. Izzan, Ahmad, Metodologi Pembelajaran Bahasa

Arab, Bandung, Humaniora, 2009.

Al-Khouli, Muhammad ‘Ali, Asalibu Tadrisi Al- Lughotil ‘Arobiyyah, Riyadl, Darul Ulum, 1989.

Munjin, Ahmad, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,2008.

Muna, Wa, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta, Teras, 2011.

Nuha, Ulin, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Jogjakarta, Diva Press, 2012.

Referensi Online

https://www.wikipedia.org/

www.lib.ui.ac.id/

digilib.upi.edu/

digilib.uinsby.ac.id/



[1] Elvinaro ardianto dan lukiyati komala erdiyana, komunikasi massa suatu ppengantar ( Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2004) hlm 138.

[2] Heru Effendy, Mari Membuat Film, (Jakarta; Lebar, 1965), hlm 47.

[3] M. Bayu Widagdo , Bikin film indie itu mudah !, (Yogyakarta : CV. Andi Offset , 2007), hlm. 26.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerita Untuk sahabat…

tips n trik mengirim cerpen ke media cetak

kaya dengan rukun islam