tesis jurusan pendidikan bahasa arab Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Dengan Media Film Terhadap Pemahaman Unsur-Unsur Instrinsik Film Imarat Ya’qubyan Karya Alaa Al – Aswany
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa Arab merupakan bahasa internasional
kedua yang banyak digunakan oleh lebih dari separuh penduduk dunia. Bahasa tersebut
berperan sebagai
bahasa pengetahuan, agama, seni
dan lain sebagainya . Selain
itu, bahasa ini dapat menjadi alat untuk mencapai tujuan ekonomi, perdagangan, hubungan antarbangsa,
sosial budaya dan pendidikan serta pengembangan keagamaan. Dengan demikian,
penguasaan bahasa Arab merupakan salah satu persyaratan penting bagi
keberhasilan individu, masyarakat pada umumnya dan siswa pada khususnya
dalam menjawab tantangan zaman dalam era globalisasi.
Dalam implementasi pembelajaran bahasa di Madrasah Aliyah Sederajat selama ini, hanya menggunakan beberapa metode klasik seperti ceramah,
diskusi, kuis serta beberapa metode yang lazim pada umumnya.Antusias siswa
dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Arab pun tidak menunjukkan respon positif. Mata pelajaran Bahasa Arab hanya terkesan sebagai pelajaran
penggugur kewajiban dan kurang menarik serta minim invovasi.
Mata pelajaran bahasa Arab
sekarang sudah menjadi salah satu mata pelajaran bahasa asing kedua setelah
bahasa Inggris yang diajarkan di Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Atas
Plus. Pembelajaran bahasa Arab di SMA bertujuan mengembangkan empat keterampilan Keempat keterampilan
tersebut adalah Mendengar (Istima’) , membaca (Qiraah) , berbicara (kalam) dan menulis (Kitabah). Keempat keterampilan tersebut pada hakekatnya tidak dapat dipisahkan satu sama
lain sehingga
pengajarannya harus dilakukan secara terpadu.
Keterampilan mendengar (Mahârah
al-Istimâ’) merupakan keterampilan
awal dalam pembelajaran bahasa, baik Bahasa ibu maupun bahasa asing termasuk
didalamnya adalah Bahasa Arab.Dengan demikian kegagalan dalam pembelajaran keterampilan
ini dapat mengakibatkan kegagalan pada pembelajaran keterampilan keterampilan bahasa
berikutnya.(Toha Muhammad 2012 : 83)
Ada berbagai macam media pengajaran yang bisa digunakan guru serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi
sekolah. Media pengajaran sangat bervariasi
jenisnya dan kesemuanya mempunyai tujuan untuk mempermudah penyaluran pesan dari guru kepada siswa. Pesan
tersebut akan merangsang pikiran,
perhatian dan minat siswa sehingga proses transformasi ilmu pengetahuan dapat terjadi. Dari pernyataan
tersebut jelas bahwa fungsi media sangat penting
dalam mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Ada beberapa jenis media antara lain gambar,
foto, suara, audio visual, permainan, dan masih
banyak lagi. Untuk mendapatkan keterampilan di
bidang kebahasaan, dapat digunakan berbagai media misalnya media audio visual yang merupakan salah satu
pilihan yang dapat diterapkan didalam kelas.
Media audio
visual adalah media yang menyajikan suara sekaligus gambar yang memungkinkan siswa lebih tertarik mempelajari bahasa Arab. Media tersebut diharapkan dapat menggugah minat siswa belajar bahasa Arab. Siswa tidak hanya diajar melalui lambang verbal saja yaitu ceramah dari
guru tetapi juga diberikan variasi pembelajaran dengan menggunakan media
audio visual. Dengan demikian, media audio visual merupakan salah satu sumber belajar yang diharapkan dapat mengatasi hambatan-hambatan yang ada dalam proses belajar mengajar terutama dalam keterampilan mendengar. Dapat disimpulkan bahwa manfaat media audio-visual adalah untuk memberikan variasi dalam proses belajar mengajar siswa sehingga perhatian siswa
pada pelajaran lebih besar dan pelajaran yang diberikan mudah diingat dan dipahami.
Di era
digital ini banyak disuguhkan berbagai kemajuan dibidang teknologi dan informasi
yang semakin maju. Film adalah salah satu produk teknologi informatika yang
semakin beragam jenis yag disuguhkan sebagai dampak kemajuan zaman yang terus
berkembang dari masa kemasa. Film merupakan bagian dari media massa yang paling
efektif dalam menyampaikan pesan-pesan kepada khayalak ramai.
Karya
sastra adalah karya imajinatif yang tertulis
atau tercetak dan mempunyai niali estetis yang dominan ( wellwek dan
warren 1995:11). Karya sastra dapat diteliti dengan dua ilmu yang berbeda yaitu ilmu bahasa dan ilmu seni. Ilmu bahasa
dapat ditekankan dengan unsur kebahasaannya dalam kaitannya dengan benruk
pemakain bahasa yang lain sedangkan ilmu
seni atau estetik dapat diteliti dari aspek keseniannya , seperti seni lukis,
seni patung, seni tari dan seni musik. Dalam perkembangannya , karya
sastra digolongkan menjadi dua yaitu
bentuk fiksi dan karya non fiksi. Karya sastra non fiksi lebih banyak
memfokuskan kepada hal ang bersifat empiris dan tidak memuat unsur rekaan,
beberapa contoh diantaranya jurnal, autobiografi
, dan manifes. Karya sastra fiksi lebih memuat cerita rekaan dan merupakan
imajinasi dari pembuatnya . namun tidak memungkiri inspirasi berdsarkan kisah
nyata. Kunci penting dalam karya sastra fiksi terletak pada nilai estetis di
dalamnya. Beberapa jenis karya sastra fiksi adalah puisi, drama, rman, novel .
namun dalam penelitian ini penulis memfokuskan penelitiannya menggunakan salah
satu karya fiksi berupa film. ( foket, 2000; 373)
Film
adalah salah satu media komunikasi masa yang membentuk kontruksi masyarakat
terhaadap suatu hal serta merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat dan kemudian memproyeksikan ke layar film menrupakan gambaran nyata
dari sebuah tradisi / budaya dari suatu kelompok masyarakat atau hanya sekedar
memindahkan realitas berdasarkan kode,
konvensi-konvensi dan ideologi kebudayaan.
Film
adalah objek bahasa yang kompleks yang meliputi berbagai bahasa, kata, gambar,
bunyi, ( efek suara, kata, musik)
teknis, tanpa melupakan aspek ekonomi yang akan diangkat dan menempati ruang
yang cukup penting dalam kehidupan nyata. Secara umum film adalah produk budaya
yang teriri dari dua unsur , yaitu unsur naratif dan unsur sinematik. Dua unsur
ersebut saling berkaitan satu sama lain yang membentuk sebuah film. Unsur
naratif adalah bahan yang akan diolah yang berbentuk naskah/teks dan usnur
sinematik adalah cara (gaya) untuk mengolahnya ( pratista via Dewojati, 2012-28
)
Film yang menjadi
objek penelitian disini adalah film yang berjudul Imarat ya’qubyan karya Alaa
al-aswany. Sebuah film yang mengangkat realitas masyarakat mesir pada masa pra
dan pasca revolusi. Mesir adalah negri yang luas akan budaya dan peradaban masa
lalunya. Film ini disajikan dengan apik menonjolkan sisi-sisi kemiskinan dan
kemakmuran mesir pra dan pasca revolusi dimana pasca dijajah oleh Arab maka
kehidupan eropa memasuki sudut kota-kota di mesir. Film ini diadaptasi dari novel yang sama
yaitu Imarat Ya’qubyan ( Apartement Yacoubian)
Film imarat
ya’qubyan adalah film yang disutradarai oleh marwan hamed, diproduksi oleh Imad
Adeeb dan skenario oleh wahid hameed, diangkat
dari novel yang sama pada tahun 2006 dan menjadi serial di Tv di tahun
2007. Yang mana novel tersebut
diterbitkan pada tahub 2002 di mesir dan di terbitkan dalam bahasa inggris pada
tahun 2004 yang kemudian diterjemahkan kelebih dari 30 bahasa. Dan film ini
selalu diputar dalam festival film Arab. Dalam pemutaran perdananya di mesir
telah di tonton lebih dari 6.000.000 penonton dalam pemutrannya diminggu
pertama menurut harian al-Ahram fil ini meraih box office sebagai film dengan
debut terbaik di Mesir dengan penghasilan kotor 20 juta dalam pemutaran
perdananya. Selain pengharagaan film ini juga pernah mendapatkan kecaman dari
dewan parlemen mesir, mereka memprotes film ini karena terlalu menonjolkan
homoseksualitas dan pemabuk.
Film ini diangkat dari Novel yang ditulis oleh Alaa Al
Aswany yang lahir pada tanggal 26 Mei 1957. Ibunya zainab berasal dari keluarga
bangsawan. Pamannya adalah seorang pasha dan mentri pendidikan. Sebelum
revolusi mesir pada tahun 1952, Ayahnya Abas Al Aswany adalah seorang penulis
dan pengacara yang dikenal sebagai orator karismatik, cerdas dan loyal. Al
aswany juga seorang penulis di berbagai majalah dan surat kabar Mesir dan
Internasional. Alaa Al Aswany menempuh pendidikan Sarjananya DI Universitas
Kairo Jurusan Kedokteran Gigi dan merampungkan pendidikan pasca sarjana di
Kairo Mesir.
film ini sangat menarik untuk diteliti, karena
pengarang banyak menggunakan bahasa-
bahasa yang beragam yang disesuaikan dengan tokoh dan perannya dalam film. Alasan
kedua karena film ini bercerita tetang dua sisi kehidupan, yaitu kehidupan
masyarakat miskin mesir dengan berbagai lika-likunya dan masyarakat elit mesir
dengan berbagai kebobrokannya. Karya-karya ala alaa aswany telah mendapat
perhatian/ penghargaan dari pecinta film khususnya dimesir hal ini terbukti
dengan di raihnya 6.000.000 penonton dalam pemutaran di minggu pertama.
Alasan
penulis memilih film imarat ya’qubyan sebagai objek penelitain adalah karena
film ini diangkat dari novel best seller yang berjudul sama dan telah di
terjemahkan kelebih dari 10 bahasa termasuk bahasa indonesia yang diterbitkan
olih serambi. Selain itu fil imarat ya’qubyan telah menapatkan berbagai
penghargaan diberbagai ajang lokal maupun internasional. Jika dilihat dari isi
film tersebut, film ini banyak mengandung bahasa mesir yang mudah dipahami oleh
orang-orang non mesir. Film ini sangat layak dianalisis unsur instrinsiknya
karena terdapat banyak tkoh, latar dan
tema yang sangat beragam. Dalam implikasinya di bidang pendidikan bahasa arab,
penulis rasa para pelajar akan sangat mudah memahami dan menyukai bahasa arab
dengan cara yang lebih menyenangkan yaitu dengan menonton film. Tidak seperti
biasa , hanya dilakukan dikelas dengan berbagai kaidah-kaidah yang membosankan
dan sulit dimengerti.
Dalam
pemahaman unsur instrik penulis rasa
perlu dikaji secara mendalam sehingga menjadi bahan ajar yang cocok untuk pengembangan pemahaman bahasa arab khususnya
dengan media film. Sehingga para pelajar sambil belajar dan menganilisis mereka
juga diajak untuk mampu mengolah rasa yang dimiliinya dalam menanggapi setiap
adegan-adegan yang ditampillkan dalam film. Sehingga secara tidak langsung
mampu mengekspresikan kecintaaannya dan menambah pemahaman bahasa arab. Setiap
karya sastra tidak selalu mudah dipahami oleh para pembaca karena terdapat
perbedaan latar belakang dan budaya antara pengarang dan pembaca / penikmat
film).
Selain
unsur-unsur instrinsik film, terdapat juga unsur ekstrinsik yang membangun
sebuah film yaitu unsur-unsur ekstrinsik
yang membangun sebuah film yaitu unsur latar belakang film yang mencakup sosial
budaya, ekonomi, pendidikan, agama dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini
penulis memusatkan penelitiannya terhadap unsur-unsur instrinsik film imarat
ya’qubyan ) Apartemen yacoubian karya Alaa al-aswany yang merupakan film laris
yang sering diputar pada festival film eropa dimesir.
Hal penting dalam film tersebut adalah
nilai estetik Yang membangun keterkaitan antara karya tersebut dengan para penikmat film . merujuk kepada simatupan
(2006), penonton diajak untuk mampu mengilah rasa yang dimilikinya dalam
menanggapi setiap adegan yang ditampilkan dalam film. Sehingga manusia secara
tidak langsung mengapresiasi sebuah karya dari sebuah pengalaman yang terjadi
pada dirinya. Suatu karya sastra tidak selalu mudah untuk dipahami oleh para
pembaca karena terdapat perbedaan latar belakang dan budaya antara pengarang
dan penikmat. Hal tersebut menghambat pengarang untuk dapat memahami
karyasastra dengan baik.
Oleh karena itu , untuk dapat memahami karya
sastra dengan baik, penulis menggunakan pendekatan struktural dalam
menganalisis unsur-unsur instrinsik dalam film imarat ya’qubyan. pendekatan
struktural memandang bahwa
keterkaitan semua unsur yang tak terpisahkan seperti alur, penokohan, latar,
sudut pandang, dan tema itulah yang mampu membentuk kemaknaan pada sebuah roman
(Nurgiyantoro, 2007 :37). Namun demikian dalam kajian ini, unsur-unsur yang
akan dibicarakan adalah alur, tokoh, latar, dan tema. Yang kemudian penulisterapkan
kepada siswa madrasah aliyah untuk mengetahui / menimbang pemahaman mereka
terhadap isi dalam film tersebut.
Madrasah Aliyah (MA) As Sa’adah
Cimahi merupakan salah satu
sekolah menengah atas yang mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran
bahasa asing pada siswanya. Mata pelajaran ini diberikan 1 x 45 menit pada
siswa kelas X, sedangkan untuk kelas XI Bahasa dan kelas XII Bahasa diberikan 2
x 45 menit tiap pertemuan. Sama halnya dengan SMA 11 Bandung Berdasarkan hasil
pengamatan penulissaat observasi, pada keterampilan mendengar banyak terdapat
kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Dalam hal gramatikal khususnya, siswa banyak
mengalami hambatan atau kesalahan dalam membuat kalimat. Tidak dipungkiri
bahwa gramatik bahasa Arab memang kompleks untuk dipelajari karena
banyaknya sistem-sistem gramatik yang harus dipelajari dan diketahui.
Di sisi lain, media yang disediakan sekolah
masih konvensional. Di tiap kelas disediakan satu whiteboard dan satu blackboard.
Sedangkan media tambahan yang digunakan dalam pembelajaran diantaranya tape untuk memperdengarkan
dialog atau percakapan berbahasa Arab dari kaset yang bersumber
dari buku ajarg. Persediaan buku ajar bahasa Arab di perpustakaan
juga terbatas. Sebenarnya telah ada laboratorium bahasa tetapi fasilitas
tersebut belum digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab. Hal ini dikarenakan
keterbatasan sumber daya guru dan media penunjang pembelajaran seperti kaset CD atau pun film.
Keterampilan
mendengar adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai siswa.
Keterampilan mendengar merupakan keterampilan produktif yang kompleks
sehingga guru harus selalu mencari dan menemukan media pengajaran yang
inovatif agar dapat membantu siswa dalam keterampilan mendengar.
Bila siswa menggunakan bahasa asing secara lisan, pendengarnya masih dapat
mengerti dan menerima lafal yang kurang sempurna ataupun ungkapan
yang kurang gramatikal. Tetapi jika siswa menggunakan Bahasa asing secara
tulisan, pembaca akan lebih teliti dalam menilai dan menganalisis tulisan dari
sisi ejaan, tata bahasa, maupun gramatiknya.
Seringkali orang mengunakan istilah
implikasi tanpa benar-benar memikirkan apa arti dan definisinya. Penggunaan
kata implikasi memang masih jarang digunakan dalam kalimat-kalimat percakapan
sehari-hari. Penggunaan kata implikasi biasanya umum digunakan dalam sebuah
bahasa penelitian. Maka dari itu masih sedikit kajian yang membahas tentang
arti dari kata implikasi. Namun jika mendengar istilah implikasi, hal pertama
yang terpikirkan pada umumnya adalah sebuah akibat atau sesuatu hal yang
memiliki dampak secara langsung.
Kata implikasi memiliki persamaan
kata yang cukup beragam, diantaranya adalah keterkaitan, keterlibatan, efek,
sangkutan, asosiasi, akibat, konotasi, maksud, siratan, dan sugesti. Persamaan
kata implikasi tersebut biasanya lebih umum digunakan dalam percakapan
sehari-hari. Hal ini karena kata implikasi lebih umum atau cocok digunakan
dalam konteks percakapan bahasa ilmiah dan penelitian.
Dari
alasan-alasan yang dipaparkan penulis diatas . oleh karena itu penelitian ini
diberi judul
Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Dengan Media Film Terhadap
Pemahaman Unsur-Unsur Instrinsik Film Imarat Ya’qubyan Karya Alaa Al – Aswany
B.
RUMUSAN MASALAH PENELITIAN
1.
Bagimanakah deskripsi unsur-unsur
instrinsik yang terkandung dalam Film Imarat Ya’qubyan karya Alaa Al Aswany ?
2.
Bagaimana keterkaitan antarunsur
isntrinsik berupa alur, penokohan, tema
dan latar dalam film imarat ya’qubyan karya Alaa Al Aswany ?
3.
Bagaimanakah implementasi pembelajaran
bahasa arab dengan media film terhadap unsur-unsur instrinsik fil Imarat
Ya’qubyan karya Alaa Al Aswany ?
C.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka
penelitian ini bertujuan untuk
a)
Mengetahui deskripsi unsur-unsur instrinsik yang
terkandung dalam Film Imarat Ya’qubyan karya Alaa Al Aswany
b)
Mengetahui keterkaitan antarunsur isntrinsik berupa alur, penokohan, tema dan latar dalam film
imarat ya’qubyan karya Alaa Al Aswany
c)
Mengetahui implementasi pembelajaran bahasa arab dengan
media film terhadap unsur-unsur instrinsik fil Imarat Ya’qubyan karya Alaa Al
Aswany
2.
Manfaat Penelitian
a.
Manfaat teoritis
a)
Hasil penelitian ini diharapkan berguna
bagi pengembangan kajian penelitian pendidikan. Khususnya mahasiswa pascarajana
pendidikan bahasa arab
b)
Penelitian ini mengaplikasikan teori
sastra berupa teori struktural Hasil penelitian ini diharapkan mampu memperkaya
pustaka referensi di dunia pendidikan
bahasa arab dengan menggunakan media film.
b.
Manfaat praktis
a)
Menambah wawasan tentang karya sastra
arab, terutama dalam pengkajian aspek struktural terhadap karya sastra film.
b)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menambah pengetahuan dan pemahaman mahasiswa dalam memahami pesan-pesan yang
terkandung dalam sebuah film yang berbahasa arab. Sehingga mampu meningkatkan
kemampuan berbahasa arab.
c)
Diharapkan mampu menjadi rujukan didunia
pendidikan khususnya pendidikan bahasa arab.
D.
KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka merupakan bagian-bagian
yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Karena pada bagian ini berfungsi
untuk mencegah agar tidak terjadi pengulangan yang mengacu pada plagiasi
penelitian. Sehingga bisa dilihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum
dilakukan, seberapa dalam pengetahuan yang telah diperoleh dan kemungkinan unru
pengembangannya lebih lanjut. Penyusunannya dengan memaparkan pustaka-pustaka
sejenis sesuai dengan identifikasi masalah dalam penelitian ini. Berikut ini
adalah penelitian Sejenis Yang Pernah Dilakukan Sebelumnya.
Tesis yang berkaitan dengan Media yang
akan diteliti yaitu film Imarat Ya’qubyan penulisbelum menemukan baik di
perpustakaan online maupun offline akan tetapi penulismenemukan penelitian
dengan menggunakan sumber data Novel Imarat Ya’qubyan yang mana film Imarat
Ya’qubyan Di adaptasi dari Novel dengan Judul yang sama yaitu :
Skripsi oleh Ainun Khaerani Tahun 2012 yang berjudul Gambaran Masalah
Sosial dalam Novel “ Imarat Ya’qubyan “ karya alaa al aswany fakultas ilmu
pengetahuan budaya program studi bahasa arab universitas indonesia Depok.
Skripsi ini membahas tentang masalah sosial yang terdapat dalam novel “imarat
ya’’qubyan” . landasan teori yang
digunakan dalam skripsi ini adalah landasan teori tentang tema, latar, tokoh
dengan menggunakan metode deskriptif analitis secara mendalam dalam melakukan pengumpulan
data. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dalam novel imarat ya’qubyan selain
terdapat beragam unsur instrinsik juga terdapat empat masalah sosial yang masih
dianggap tabu berupa diskriminasi, homoseksualitas, gerakan islam radikal dan
korupsi yang ditinjau melalui sosiologi sastra. ( Digilib universitas Indonesia
Disunduh pada tanggal 25 februari 2017)
Skripsi karya desi nurjanah Tahun 2013 jurusan
bahasa dan sastra arab fakultas adab dan humaniora Universitas Islam Negri
Sunan Gunung Jati Bandung yang berjudul “ Gambaran Lelaki dalam Novel Imarat
Yaqubyan Karya Alaa Al Aswany ( Studi Psikologis Sastra) “
Tesis Oleh Gofar Abdul Tahun
2014 Yang Berjudul “ Pengaruh Media Film Berbahasa Arab Terhadap
Peningkatan Kemampuan Istima’ Siswa : Studi Eksperimen Kuasi Terhadap Siswa
Kelas Viii Smp Ummul Quro Bandung Tahun Ajaran 2012/2013” tesis jurusan
pendidikan bahasa arab universitas pendidikan indonesia. Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh temuan penulistentang pembelajaran bahasa Arab yang
kurang diminati dan sedikit menyita perhatian siswa. Salah satu faktor
penyebabnya dikarenakan kurang menariknya media yang membantu dalam proses
pembelajaran bahasa Arab. Sehingga mempengaruhi minat siswa untuk mempelajari
bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan tersebut dengan
menggunakan media film berbahasa Arab dalam pembelajaran bahasa Arab, sebagai
cara untuk melatih siswa aktif dalam proses pembelajaran dan untuk menarik
minat siswa dalam belajar bahasa Arab serta untuk mengetahui berpengaruh atau
tidaknya media film dalam meningkatkan kemampuan menyimak siswa didalam
pembelajaran bahasa Arab. Metode penelitian yang penulisgunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif melalui pendekatan quasi
experimen dengan design penelitian quasi experimental nonequevalent control
group design. (Digilib Upi di unduh tanggah 25 februari 2017)
Tesis Oleh Laelatul Nur Wakhidah
Tahun 2017) Al Anashir Al Dakhiliyah Fi Masrahiyah "Ashabul
Ghar" Li Ali Ahmad Bakatsir. Undergraduate Thesis, Uin Sunan Ampel Surabaya.
Penulismenggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjawab rumusan masalah
dengan menggunakan teks drama tersebut sebagai sumber datanya. Adapun data dari
penelitian ini adalah percakapan yang mengindikasikan adanya unsur intrinsik
dalam drama. Data diperoleh dengan cara dokumentasi dan penelitian kepustakaan
yang terkait dengan teori unsur intrinsik dan drama Ashḥābu al-Ghār karya Ali
Ahmad Bakatsir. Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
analisis unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam drama Ashḥābu al-Ghār karya
Ali Ahmad Bakatsir. ( digilib Uin Sunan Ampel Surabaya diunduh pada tanggal 25
februari 2017
E.
KERANGKA PEMIKIRAN
Media memiliki peranan yang besar dalam
upaya membentuk keahlian peserta didik dan mengubahnya dari keahlian yang
bersifat abstrak ke yang bersifat konkret. Pendekatan ini bertujuan untuk
melengkapi konteks yang menjelaskan makna kata-kata, struktur, dan
istilah-istilah kebudayaan baru melalui gambar, peta, foto
Kata media merupakan bentuk jama dari kata
medium. Kata ini berasal dari bahasa latin yang secara harfiah berarti
perantara atau pengantar (sadiman dkk, 2009:6) Media seperti yang dikutp dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2010:729) adalah (1) alat , (2) sarana komunikasi
seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster dan spanduk, (3)
perantara, penghubung. Sedangkan dalam kamus kata serapan , media adalah
alat/sarana/beenda , yang menjadi perantara untuk menghantarkan sesuatu
(Martinus, 2001: 359-360)
Hamalik ( 1989-12) mengungkapkan bahwa media
pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan supaya lebih
mengerfrktifkan komunikasi interaksi antara guru dan siswa dalam protses belajar mengajar di sekolah.
Sedangkan menurut soeparno (1988;1) media adalah suatu alat yang dipakai sebagai
saluran untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi dari suatu seumber kepada
penerima.
Dari beberapa definisi di atas, dapat
ditarik kesimpulan bahwa media pengajaran adalah segala sesuatu yang digunakan
untuk menyampaian pesan guna lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi
antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.Menurut sanaky, media
pengajaran berufungsi untuk merangsang pembelajaran dengan membuat duplikasi
dari objek yang sebenarnya, membuat konsep abstrak ke konsep konkret, memberi
kesamaan presepsi, mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah dan jarak. Media
mampu menjembatani kesulitan siswa dalam belajar bahasa sekaligus menjadi alat
bantu yang sangat efektif bagi guru.
Manfaat lain dari media adalah utnuk
memberikan variasi dalam proses belajar mengajar sehingga perhatian siswa pada pelajaran lebih besar dan pelajaran yang diberikan mudah
diingat dan dipahami. Sebelum menggunakan media pengajaran, diperlukan adanya pemilihan media pengajaran yang tepat
sesuai dengan kriteria tertentu. Menurut
Hamalik (1989: 6), dalam memilih media pengajaran harus sesuai dengan: 1)
tujuan pengajaran; 2) bahan pengajaran; 3) metode mengajar; 4) ketersediaan
alat yang dibutuhkan; 5) pribadi pengajar; 6)minat dan kemampuan pembelajar; 7)
situasi pembelajaran yang sedang berlangsung. Salah satu jenis media pengajaran adalah
media audio visual. Menurut Sanaky (2009: 102), “media audio visual adalah seperangkat alat yang dapat
memproyeksikan gambar dan suara”. Alat-alat yang termasuk media audio
visual contohnya televisi, video-VCD, sound slide, dan film.
Film
adalah media visual yang memuat satu atau lebih tema cerita yang memiliki pesan-pesan tertentu. Film dapat dikatakan
sebagai salah satu media hiburan yang paling populer. Dilihat dari jenisnya film dibagi ke dalam
tiga jenis yaitu dilm cerita, film berita , film dokumenter dan film kartun.[1]
Adapun dari segi durasnnya film dibagi kedalam dua macam yaitu film panjang dan
film pendek. Dari segi isinya terbagi kedalam film action, film drama, film
komedi dan film propaganda.[2]
Llebih luas lagi film dapat dibagi menjadi beberapa genre film. Sebenarnya
tidak ada maksud dan tujuan dari pengelompokan atau pemisahan tersebut. Namun
secara tidak langsung , kehadiran film- film dengan karakter tertentulah yang
akhirnya memunculkan pengelompokan tersebut[3].
Dalam perkembangannya film dibagi menjadi bebrapa macam genre yaitu :
a.
Film Laga ( aksi). Genre film memfokuskan
cerita pada perjalanan hidup sesorang dalam upaya mempertahankan diri. Film ini
seringkali dibumbui dengan keahlian setiap tokoh dalam pertarungan dari awal hingg akhir
cerita. Kunci sukses dalam film yang bergenre aksi adalah kecerdasan dari
sutradara untuk bagaimana menciptakan
sasana dan pola yang detail sehingga mampu menarik penonton seakan-akan
menjadi satu kesatuan salam setiap adegan film.
b.
Film komedi, jika dalam film laga
sutradara menjadi titik utama dalam kesuksesannya, berbeda dengan film komedi
yang menitik beratkan kesuksesannya dari kepawaian sang actor. Sehebat apapun
sutradara mengatur jalannya cerita, tanpa keahlian sang actor tidak akan berhasil.
Karna tujuan dari film bergenre komedi adalah untuk memancing gelak tawa
penonton hasil dari acting yang dilakukan oleh aktorfilm. Sentuhan editing audio dan visual cukup menduung dan ikut
berperan dalam film komedi.
c.
Film horror. Film horror dirancang untuk
menakut-nakuti dan memancing ketakutan tersemunyi, akhir cerita adalah intinya,
menakutkan, mengejutkan, akan tetapi ,cukup menarik dan menghibur penonton.
d.
Film Drama. Kunci utama film genre adalah
dengan mengangkat tentang permasalahan manusia yang tak pernah puas mendapatkan
jawaban. Seperti misalnya masalah cinta remaja, perselisihan keluarga ata
perjalanan seseorang dalam menempuh cita-cita. Biasanya, drama tidak berfkus
pada efek khusus, komedi, atau tindakan , film drama dapat dikatakan sebagai
genre film terbesar.
e.
Epik/film sejarah. Epik meliputi drama
kostum, drama sejarah, film perang. Film ini biasanya menceritakan zaman-zaman
bersejarah
f. Film
genre musik. Film musik/tari bentuk sinematik yang menekankan nilai skala penuh
atau lagu dan tarian secara signifikan. Biasanya dengan menggunakan pertunjukan
musik/ tarian yang terintegrasi dengan alur cerita.
g.
Fim Sci-Fi (Scient Fiksi) Film ini berisi
menganai cerita-cerita imajinatif penulis / sutradara yang biasanya
menceritakan planet yang jauh, alien, tekhnologi dan lain sebagainya. Film ini
merupakan cabang dari film fantasi, film aksi. Film genre ini sering
mengedepankan teknologi.
Film tersusun atas berbagai unsur, salah
satunya adalah unsur instrinsik film. Yaitu unsur pembangun yang berasal dari
film itu sendiri. Berikut ini aalah beberapa unsur-unsur instrinsik sebagai
ciri sebuah film :
a.
Sekenario adalah rencana untuk penokohan
film berupa naskah , skenario berisi sinopsis, deeskripsi treatment (deskripsi
peran), rencana shot dan dialog. Di dalam skenario semua informasi tentang
suara ( audio) dan gambar (visual) yang akan ditampilkan ddalam sebuah film
dkemas dalam bentuk siap pakai untuk produksi.
b.
Sinopsis adalah ringkasan cerita pada
sebuah film yaitu menggambarkan secara singkat alur film dan menjelaskan isi
film secara keseluruhan.
c.
Plot sering juga disebut sebagai alur
atau jalan cerita. Plot merupakan jalan cerita pada sebuah skenario. Plot hanya
terdapat dalam film cerita. Alur dalam sebauh film terdiri dari alur maju, alur
mundur , ataupun alur campuran ( maju-mundur)
d.
Penokohan adalah penggambaran tokoh pada
film yang meliputi protagonis (tokoh utama), antagonis ( lawan protagonis )
tokoh pembantu, figuran dan lain sebagainya.
e.
Karakteristik pada sebuah film cerita
merupakan gambaran umum karakter yang dimiliki oleh para tokoh dalam film
tersebut.
f.
Scene biasa disebut dengan adegan , scene
adalah aktivitas terkecil dalam film yang merupakan rangkaian shot dalam suatu
ruang dan waktu serta memiliki gagasan.
g.
Shot adalah bidikan kamera terhadap
sebuah objek dalam penggarapan film. Shot ini juga dapat menentukan terhadap
pesan yang akan disampaikan sutradara dalam film.
Sebuah karya fiksi pada umumnya disajikan
dalam dua bentuk penuturan yaitu narasi dan dialog. Kedua bentuk tersebut hadir
secara bergantian sehingga cerita yang ditampilkan menjadi lebih variatif dan
tidak bersifat monoton. Drama dan film merupakan karya yang terdiri atas aspek
sastra dan aspek pementasan. Aspek sastra drama berupa teks drama, dan aspek
sastra film berupa teks film atau skenario. Luxemburg (1986: 158) mengemukakan
bahwa yang dimaksud dengan teks-teks drama ialah semua teks yang bersifat
dialog-dialog dan yang isinya membentangkan sebuah alur. Dalam sebuah teks
drama dialoglah yang menduduki tempat utama: tindak-tindak bahasa tidak
membahas sesuatu, melainkan berbuat sesuatu, menimbulkan reaksi para lawan
bicara
Isi film merupakan
fokus dalam penelitian ini, dalam menganalisis struktur karya sastra yang harus
dilakukan adalah melihat, menelaah, dan menganalisis unsur-unsur pembentuknya dengan menyeluruh
dan tidak sepotong-potong karena analisis stuktural merupakan prioritas yang
pertama sebelum yang lain lain. (Teeuw 1983: 61), tanpa itu kebulatan makna
intrinsik yang hanya dapat digali dari karya sastra itu sendiri, tidak akan
tertangkap. Dalam
penelitian ini penulis mengkaji unsur- unsur nstrinsik dalam film imarat
ya’qybyan yang meliputi
1.
Alur
Alur atau plot merupakan unsur fiksi
yang terpenting karena kejelasan kaitan antarperistiwa yang dikisahkan secara
linier, akan mempermudah pemahaman terhadap cerita yang ditampilkan
(Nurgiyantoro, 2005:110). Stanton menjelaskan tentang alur yaitu cerita yang
berisikan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab
akibat. Forster mengemukakan pendapatnya tentang alur sebagai
peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan
kausalitas (via Nurgiyantoro, 2005: 113). Penerapan alur pada sebuah cerita
yang ideal dimulai dengan situasi stabil, kemudian ada suatu kekuatan yang
datang menghambat dan akhirnya menimbulkan ketidakseimbangan.
Berdasarkan kriteria urutan waktu,
pada dasarnya teknik pengembangan cerita (penyampaian alur) dibedakan atas alur
progresif (alur maju/ alur kronologis/alur lurus) dan alur regresif (alur
mundur/alur tak kronologis/alur sorot balik). Namun, pengarang bebas berkreasi
memadukan keduanya menjadi alur campuran (Nurgiyantoro, 2005: 153)
2.
Penokohan
Penokohan
merupakan salah satu unsur utama dalam sebuah cerita/ film. Menurut
Sudjiman (1988:16-18) tokoh dalam cerita adalah individu yang mengalami
peristiwa atau berperan dalam cerita. Berdasarkan fungsinya tokoh dalam sebuah
film dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh yang memegang peran penting dalam sebuah
fil m disebut tokoh utama atau biasa disebut dengan tokoh protagonis yang
dimana perannya selalu menjadi tokoh yang sentral dalam sebuah film, bahakan
bisa disebut menjadi pusat perhatian dalam sebuah film. Kedua kategori tersebut
saling berkaitan dan melengkapi dalam
sebuah flm. Setiap tokoh dalam cerita
pada dasarnya memilii posisi yang tepat untuk mendukung sebuah keutuhan
cerita dalam film ( Maryantom 2009:11)
Pelukisan tokoh dilakukan dengan cara yang berbeda-beda oleh
pengarang. Untuk mendiskripsikan suatu tokoh, pengarang dapat menjelaskan
langsung keadaan fisik, moral dan keadaan sosial tokoh yang disebut sebagai le
portrait. Seperti pada karya sastra abad XVI dan XVII susunan pengenalan
penokohan selalu konstan yaitu dimulai dari pendeskripsian fisik kemudian
pendeskripsian moral dan keadaan sosial. Setiap tahap pendiskripsianpun
susunannya selalu teratur, misalnya pada pendeskripsian fisik menjelaskan
ciri-ciri fisik tokoh secara mendetail dari kepala sampai kaki, bentuk wajah,
tangan, dan lain-lain. Pendiskripsian tokoh lain yang dilakukan pengarang
adalah hanya menjelaskan tingkah laku tokoh-tokoh tersebut untuk mengemukakan
secara tidak langsung karakter tokoh yang bersangkutan yang disebut sebagai les
personnages en acte (Schmitt dan Viala, 1982:70-71).
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan ke dalam
beberapa jenis berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjaunnya. Oleh karena
itu seorang tokoh dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis sekaligus
misalnya tokoh utama-antagonis, tokoh tambahan protagonis, dan sebagainya.
Berdasarkan peranan atau tingkat pentingnya penokohan dalam sebuah cerita
Nurgiyantoro (2005:176-l78) membedakan menjadi tokoh utama (central
character, atau main character) dan tokoh tambahan (peripheral
character).
3.
Latar
Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas
tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial
tempat terjadinya peristiwa – peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam
Nurgiyantoro, 2005:216). Ketiga unsur itu saling berkaitan dan saling
mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Latar memberikan pijakan cerita
secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis
kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah ada dan terjadi.
Dengan demikian, pembaca merasa dipermudah dalam mengembangkan daya imajinasinya
(Nurgiyantoro, 2005:217). Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur
pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial.
4.
Tema
Tema menyangkut makna sebuah karya sastra. Pada karya fiksi
sebuah tema tidak ditunjukkan dengan mudah melainkan harus dipahami dan
ditafsirkan melalui cerita dan data-data (unsur pembangun cerita) yang lain.
Hartoko dan Rahmanto menjelaskan, tema merupakan gagasan dasar umum yang
menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur
semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.
Stanton juga mengemukakan bahwa tema sebagai makna sebuah cerita yang secara
khusus
menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang
sederhana (Nurgiyantoro, 2005:68 &70).
Karya sastra merupakan struktur makna
atau struktur yang bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra merupakan
sistem tanda yang mempunyai makna yang
mempregunakan medium bahasa (pradopo 1995:141). Hal yang harus diketahui sebelum
menganalisis n film adalah unsur-unsur struktural yang membentuknya menjadi
satu keatuan utuh.
Unsur tersebut meliputi unsur instrinsik
dan unsur ekstrinsik. Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya itu
sendiri. Bagian dari unsur instrinsik di antaranya adalah cerita, plot peristiwa,
penokohan , tema, latar, sudut pandang , bahasa atau gaya bahasa. Unsurk
ekstrinsik adalah unsur unsur yang berada diluar karya sastra yang secara tidak
;angsungmempengaruhi bangunan dan sistem yang terdapat dalam karya sastra.
Unsur tersebut adalah biografi pengarang, psikologis pengaarang dan pembaca.
Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik dan sosial juga
berpengaruh terhadap karya, selain itu pandangan hidup suatu bangsa , bebagai
karya seni lain turut mempengaruhinya ( Nurgiyantoro, 1995:23)
Film Imarat Ya’qbyan merupakan fokus
dalam penelitian ini, dalam menganalisis struktur karya sastra yang harus
dilakukan adalah membaca, menelaah, dan menganalisis unsur-unsur pembentuknya
dengan menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong karena analisis struktural
merupakan prioritas yang pertama sebelum yang lain (Teeuw 1983: 61)
Penulis menitik beratkan penelitian ini
kepada unsur-unsur instrinsik film Imarat ya’qubyan yang kemudian diujikan
kepada sample. Dimana sample dalam penelitain ini adalah siswa dan siswi
madrasah aliyah. Penulis mengambil sample tersebut karena usia-usia siswa
madrasah aliyah merupakan usia yang matang dan sedang giat- giatnya mengenal
dunia.
F.
LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
Metode
penelitain merupakan cara yang dilakukan dalam sebuah penelitian untuk
memperoleh fakta dan prinsip secara sistematis. Penelitian ini dilakukan untuk
menentukan unsur-unsur instrinsik dalam film Imarat Ya’qubyan yang kemudian
mengimplemetasikannya sebagai bahan ajar metode audio visual pada siswa
madrasah aliyah kelas XI.
Untuk
memperoleh data-data yang objektif dan agar penulisan lebih sistematis maka
penulis menggunakan rincian sebagai berikut :
1.
Jenis data dan pendekatan penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan subjek sebuah film
Imarat Ya’qubyan karya alaa al aswany . Objek penelitian ini adalah
unsur-unsur intrinsik yang berupa alur, penokohan, latar, dan tema yang akan
dianalisis menggunakan teori struktural.
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Struktural.
Hal ini berdasarkan pendapat Teeuw dalam bukunya membaca dan menilai sastra (
1983:600 ) “ karya sastra dipandang sebagai struktur yang otonom, lepas dari
latar belakang sejarahnya, lepas pula dari diri dan niat si penulis, lepas dari
latar belakang sosial dari efeknya pembaca” dengan demikian pendekatan ini
merupakan suatu pendekatan terhadap karya sastra itu sendiri untuk mencapai
makna menyeluruh melalui unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra ini
sendiri.
2.
Sumber data Penelitian
a.
Data primer
Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan
oleh penuli dari sumber pertamanya. Dalam
penelitian ini, data primer yang diperoleh oleh penulis adalah: hasil wawancara
dengan Guru Bahasa Arab serta beberapa
siswa. Sumber data dalam penelitian ini
adalah film Imarat Ya’qubyan karya Alaa AL-Aswany adapun Lokasi dalam
Penelitian ini adalah Kelas XI di Ma As-
sa’adah Jln Sadarmanah no 110 Kel Leuwi
gajah kec cimahi selatan kota cimahi dan kelas XI di SMA 11 Bandung. Pemilihan kedua sekolah
tersebut di dasari oleh kurangnya minat dan ketrampilan mendengar siswa dan
siswi yang menurut hemat penulissangat kurang dibandingkan kemahiran membaca.
Selain itu karena pelajaran bahasa arab diajarkan di kedua sekolah tersebut.
b.
Data sekunder
Data sekunder adalah data yang telah tersusun
dalam bentuk dokumenc-dokumen berupa Film Imarat ya’qubyan , jumlah guru, kurikulum, jurnal, hasil
evaluasi, letak geografis sekolah dan dokumen-dokumen lain yang mendukung.
3.
Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode deskriptif analisis, yaitu metode yang dilakukan denga cara
mendeskripsikan fakta-fakta yang ada kemudian menganalisisnya ( Ratna,
20004:53). Dalam penelitian ini akan menggambarkan data yang ada dalam film dan data yang
dikumpulkan melalui tes/ wawancara terhadap siswa Madrasah aliyah dan sekolah
menengah atas yang kemudian menganalisisnya. Penulis juga melakukan studi
pustaka yang digunakan sebagai sumber
data maupun rujukan.
4.
Teknik pengumpulan data
Dalam
penelitian ini tidak dilakukan penentuan sampel, untuk mengetahui permasalahan
yang ingin diungkap, data membutuhkan interpretasi-interpretasi yang berkaitan
dengan permasalahan yang akan dibahas dalam rumusan masalah. Kegiatan pengadaan
data ini dilakukan oleh penulisdengan kemampuan berpikir yang meliputi
pengetahuan kecermatan dan ketelitian guna mendapatkan data yang diperlukan.
a)
Observasi
Observasi
biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap
fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam metode ini observasi yang digunakan
adalah observasi non partisipan yaitu mengamati dan mencatat tanpa terlibat
langsung sebagai aktor dalam pelaksanaan pembelajaran aktif pada pembelajaran
bahasa arab. metode ini penulisgunakan untuk menghimpun data tentang situasi
dan kondisi Subyek Penelitian.
b)
Wawancara
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam
penelitian yang berlangsung secara lisan terhadap dua orang atau lebih bertatap
muka, mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau
keterangan-keterangan ( narbuko Khalid & Ahmadi Abu : 83). Dan wawancara ini
penulis menggunakan wawancara bebas terpimpin yaitu wawncara yang bebas tetapi
menggunakan kerangka pertanyaan. Dalam hal ini penulis melakukan wawancara
terhadap guru mata pelajaran bahasa arab di sekolah tersebut. serta informan
lain terkait dengan tema yang sedang
diteliti.
c)
Tes
Tes adalah suatu
pertanyaan atau tugas/seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh
informasi tentang trait/atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir
pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap
benar (Zainul 1995) Tes ini dilakukan oleh penulis untuk mendapatkan gambaran / hasil dari
rumusan masalah penelitian.
d)
Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai
hal-hal yang berupa catatan transkip,
buku, CD, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat , agenda dan lain
sebagainya ( arikunto suharsimi : 202).
Dokumentasi ini penulis gunakan untuk mencari data penelitian berupa cd
film imarat ya’qubyan, pengarang, sutradara, unsur instrinsik serta untuk mengetahui kondisi dan keadaan
sekolah.
5.
Prosedur analisis data
Analisis data dalam penelitian ini
menggunakan deskriptif analitik yaitu teknik analisis data dengan menuturkan,
menafsirkan, serta megklasifikasikan dan membandingkan fenomena-fenomena (
arikunto suharsimi : 202)
1)
Penyajian Data
Data dalam penelitian ini disajikan dengan mendeskripsikan
kalimat kalimat yang relevan dengan permasalahan yang dikaji yaitu unsur-unsur
intrinsik, berupa
alur, penokohan, latar, tema dalam film imarat ya’qubyan yang kemudian diterpkan
kepada siswa sekolah menengah atas dan madrasah aliyah.
2)
Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam
penelitian adalah teknik analisis konten yang bersifat deskriptif-kualitatif.
Teknik ini digunakan karena data bersifat kualitatif yang berupa bangunan
bahasa dan pemaknaannya. Kegiatan analisis ini meliputi menyimak, mencatat
data, membaca ulang, mengidentifikasi data, mengklasifikasi data, membahas
data, penyajian data, dan penarikan inferensi.
G. SISTEMATIKA PENULISAN
Pembahasan dalam Tesis ini akan dibagi menjadi Empat bab yaitu
Bab pertama yaitu pendahuluan yang berisi latar belakang masalah,
Rumusan masalah penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka,
kerangka berfikir, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab kedua landasan teori berisi
teori pembelajaran bahasa arab, media pembelajaran, maharat istima’,
film, unsur instrinsik.
Bab Ketiga Pembahasan mengenai
gambaran umum seputar MA As Saadah dan SMA 11 Bandung, Letak geografis, sejarah berdiri dan
perkembangannya, visi dan misi, struktur organisasi, keadaan guru serta sarana
dan prasaranaya. Sinopsis Film Imarat
Ya’qubyan, Biografi Pengarang, sutradara, produser dan penulis skenario film.
Dan hasil penelitian berupa unsur
instrinsik film dan implementasinya terhadap pembelajaran bahasa arab.
Bab keempat pembahasan yaitu sebagai bagian akhir tesis ini berisi
kesimpulan , saran-saran yang berkenaan dengan pembahasan, serta kata penutup
dari penulis. Pada bagian akhir skripsi ini dicantumkan pula daftar pustaka dan
lampiran-lampiran.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
Pada bagian ini peneliti akan membahas
mengenai latar belakang teoritis dari subjek penelitian secara terperinci.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan peran media film dalam pengajaran
bahasa arab untuk meningkatkan ketrampilan mendengar.
BAGIAN KESATU : PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
Banyak definisi yang mengartikan
kata “ Bahasa”. Karena kata Bahasa mempunyai makna yang sangat
luas. Dari berbagai definisi dapat
disimpulkan bahwasanya Bahasa adalah seperangkat symbol fonetik yang diatur
oleh sistem
tertentu dimana setiap angggota
komunitas, budaya tertentu mengetahui maknanya
untuk mencapai komunikasi antara satu sama lain.[1]
Dalam praktiknya sudah sangat lama sekali
banyak yang menganggap pembelajaran bahasa arab sangatlah sulit. Maka dari itu
sangat sedikit siswa yang menyukai bahasa arab dan memilih bahasa arab sebagai
bahasa ketiga. Hal ini disebabkan kurangnya pembaharuan kurikulum / bahan ajar
yang inovatif dan kreatif. Hal ini
diperburuk oleh dua sebab ini yang menjadikan pendahulu kebingungan dalam praktek lingusitiknya yaitu
tidak mampu menentukannya letak awal dan akhir. Alasan kedua adalah sempitnya
pandangan bahasa Arab, dan ketergantungannya pada Al Qur'an dalam hal rasa
hormat atau takut salah. Hal ini
menyebabkan kurangnya inovasi dalam pembelajaran bahasa arab antara dialek arab
kuno dan kontemporer. Sehingga kebanyakan pembelajaran bahasa arab hanya
menggunakan beberapa kata- kata yang disebutkan dalam kamus leksikal.[2]
Dalam pembelajaran bahasa arab, Pengajar
bahasa harus menentukan tujuan, rencana, kurikulum dan metode pengajaran yang
menarik sekan-akan pengajar mengajarkan bahasa asli. Benar-benar mengabaikan fakta
bahwa bahasa ini bukan bahasa pertama atau bahasa asal pelajar. Dalam
pengertian ini, buku dan materi pendidikan yang telah ditulis ke sekolah di
negara asal sering digunakan untuk pengajaran. Hal ini mungkin berlaku untuk
pengajaran bahasa Inggris di Filipina, Burma, India dan beberapa negara.
Negara-negara Afrika.[3]
Karakteristik bahasa Arab adalah bahasa
derivasi adapun makna dari derivasi menurut stem dalam kalimat bahasa arab
menpunyai tiga struktur yaitu kata kerja ( fiil), kata benda (isim) dan Huruf ( harf). Bahasa arab
merupakan bahasa yang kaya dengan pengucapannya, terdapat banyak makna dalam
setiap gabungan bahasa arab dengan kata – kata lainnya. Dengan membuang huruf
dalam bahasa arab ( mentasrif ) akan memunculkan bahasa baru. Bahasa arab
merupakan bahasa yang sangat ekspresif dan kaya akan ungkapan, metode
kebahasaan, tata bahasa dan lain sebagainya.[4]
Definisi Pembelajaran bahasa arab secara istilah adalah segala sesuatu yang
mengacu pada proses seseorang mempelajari bahasa kedua. Secara spesifik proses
mempelajari tata bahasa , pengetahuan dan kemampuan untuk menguasai bahasa
kedua dalam hal ini bahasa arab. Biasanya hal ini dilakukan di dalam pendidikan
formal dan pendidikan eksplisit.[5]
Dalam pandangan beberapa ahli bahasa perolehan
bahasa merupakan proses khusus untuk anak-anak yang akan terus mereka
aplikasikan hingga dewasa. Dan mereka cukup banyak, mengambil bahasa yang
mereka dapatkan, kemampuan ini tidak hilang dengan kedewasaan. Dalam pembelajaran bahasa dimana masyarakat
sekitar berbicara bahasa ajar. Dimana individu tersebut mempunyai banyak
kesempatan dalam mengaplikasikan bahasa yang telah ia pelajari sehingga kemampuan
bahasa tersebut akan berkembang hari demi hari.
Dengan demikian memudahkan individu dalam berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa sesai dengan kebudayaan masyarakatnya. Sehingga dalam
pengaplikasiannya lebih jelas dan secara
otomatis memudahkan pengguna bahasa.[6]
1. TINGKATAN
BAHASA ARAB
Tes bahasa yang diajarkan dalam sebuah program
pengajaran bahasa Arab ke pembicara lainnya bermasalah. Beberapa percaya bahwa
itu hanyalah sebuah keputusan untuk mengajarkan bahasa semacam itu dan lebih
memilihnya. Ini bahkan lebih sulit. Hal ini disebabkan oleh banyaknya tingkat
bahasa Arab dan sifat program yang berbeda.
Bahasa Arab, seperti bahasa lainnya, memiliki
tingkat penggunaan. Pada tingkat atas, terdapat dua tingkatan bahasa : yang pertama adalah
bahasa warisan dan yang kedua adalah
bahasa kontemporer. Pada tingkat horizontal kita menemukan tingkatan yang
berbeda. Termasuk yang berhubungan dengan intelektual, termasuk orang yang berpendidikan.
[1] [1] الأستاذ
الدكتور رشدي أحمد طعيمة " تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج
وأساليبه" منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو.
مصر 1989 ه ص 21
[2] دكتور
تمام حيسان "مناهج البحث في اللغة "مكتبة الأنجلو المصرية. القاهرة 1990
ص
[3] الأستاذ
الدكتور رشدي أحمد طعيمة " تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج
وأساليبه" منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو.
مصر 1989 ه ص 33
[4] الأستاذ الدكتور رشدي أحمد طعيمة "
تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج وأساليبه" منشورات المنظمة
الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو. مصر 1989 35-37
[5] الأستاذ الدكتور رشدي أحمد طعيمة "
تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج وأساليبه" منشورات المنظمة
الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو. مصر 1989 30
[6] الأستاذ الدكتور رشدي أحمد طعيمة "
تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها مناهج وأساليبه" منشورات المنظمة
الإسلامية للتربية والعلوم و الثقافة ، إيسيسكو. مصر 1989 30
H.
DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, Rahmat Joko. 2003. Beberapa
Teori Sastra, Metode Kritik, Dan Penerapannya. Yogyakarta: pustaka Pelajar.
Simatupang. Lono Lastoro.
2006. Jagad Seni: Refleksi Kemanusiaan. Yogyakarta
Wellek, Rene & Austin
Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta : Gramedia
Zuchdi, Damayanti dkk. 1993. Panduan Analisis Konten dan
Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.
Dewojati, Cahyaningrum. 2012. Drama
sejarah, teori dan penerapannya. Penerbit Javakarsa Media
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Bayu widagdo, muhammad, Bikin film indie itu mudah !, yogyakarta:
CV. Andi Offset 2007.
Effendy, Heru, Mari memuat film, Jakarta : Lebar 1965
Abdullah
bin Ahmad Al-Fakihy, Syarh Fawakih al-Haniyah (Semarang: Maktabah Usaha
Keluarga Semarang, tt),
Arikunto
, suharsini, prosedur penelitian suatu pendekatan praktis, jakarta rineka cipta
, 1998
Arsyad, Azhar, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2003.
Abdul Hamid, Uril Baharuddin, Bisri Mustofa. Pembelajaran
Bahasa Arab. Malang:
UINMalang Press. 2008.
Djamarah, Syaiful Bahri. Guru dan Anak Didik dalam
Interaksi Edukatif:Suatu Pendekatan Teoritis dan Psikologis. Edisi Revisi,
Jakarta : Rineka
Cipta, 2005.
Efendy, Ahmad Fuad, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab,
Malang, Misykat, 2005.
Hermawan, Acep. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2011.
Hamzah B, Uno. Profesi Kependidikan, Problema, Solusi, dan Reformasi
Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Idris, Zahara. Dkk. Pengantar Pendidikan.
Jakarta: Grasindo, 1992. Izzan, Ahmad, Metodologi Pembelajaran
Bahasa
Arab, Bandung, Humaniora,
2009.
Al-Khouli, Muhammad ‘Ali, Asalibu Tadrisi Al- Lughotil
‘Arobiyyah, Riyadl,
Darul Ulum, 1989.
Munjin, Ahmad, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam,2008.
Muna, Wa, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta, Teras, 2011.
Nuha, Ulin, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Jogjakarta, Diva Press, 2012.
Referensi
Online
digilib.upi.edu/
digilib.uinsby.ac.id/
[1]
Elvinaro ardianto dan lukiyati komala erdiyana, komunikasi massa suatu
ppengantar ( Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2004) hlm 138.
[2]
Heru Effendy, Mari Membuat Film, (Jakarta; Lebar, 1965), hlm 47.
[3] M.
Bayu Widagdo , Bikin film indie itu mudah !, (Yogyakarta : CV. Andi Offset ,
2007), hlm. 26.
Komentar
Posting Komentar