cerita Untuk sahabat…
Untuk sahabat…
Untuk kawanku nun jauh
disana…
Kawan,
bagaimana kabarmu disana ?. kuharap engkau baik-baik saja, sebaik diriku saat
ini.
Kawan,
masih ingatkah engkau padaku?. Aku, kawan kecilmu yang dulu sering bermain
denganmu, yang dulu selalu menangis bersamamu, yang dulu selalu tertawa
bersamamu. Semoga engkau masih mengingatku seperti aku yang tak sedetikpun
melupakanmu dan persahabatan kita.
Kawan,
telah lama kutunggu kabar darimu, tapi tak selembar suratpun kau kirimkan padaku,
tak sepatah katapun kau ucapkan padaku untuk memberi kabar tentangmu.
Sudahlah
kawan, kukirimkan saja kisah hidupku di perantauan padamu. Kuharap engkau tahu
bahwa ada seorang teman kecilmu yang selalu ingat padamu.
Jika
engkau sempat, kawan, kirimkanlah kisah hidupmu padaku.
Rabu, 23 februari
Bingung,
pusing, capek, entah apalah kata orang jika berada dalam keadaanku sekarang
kawan. Hampir tengah malam, tapi belum satupun tugas yang berhasil
kuselesaikan. Besok pagi ada dua tugas yang mesti dikumpulkan. Tugas prosa untuk mata kuliah natsr dan
makalah ushul fiqh. Aku bingung kawan.
Tadi
pagi sebenarnya tugas-tugas sudah mau kukerjakan. Tapi sayang kawan, rasa malas
menghinggapiku. Akhirnya aku cuma diam memainkan gitar sambil menunggu waktu
kuliah jam 9. Ya, gitar memang sahabat yang selalu bisa mengusir rasa bosanku,
sahabat yang selalu mengerti segala masalahku walaupun tak pernah sekalipun
membantuku menyelesaikan masalah, tapi tetap tak bisa menggantikan peranmu. Tak
hanya itu, gitar juga alat untuk mengungkapkan perasaan universal yang
digunakan diseluruh dunia. Kala sedih, kita mainkan lagu sedih hingga kadang
tak terasa air mata mengalir karena petikan suara senar gitar yang sedih terasa
menyayat hati. Kala senang, kita nyanyikan lagu riang gembira hingga puas diri
kita tertawa. Aku benar kan kawan ?.
Tapi
malang kawan, aku hampir tak pernah mengajak gitarku memainkan irama riang
gembira. Bukan karena aku tak bisa, tapi karena hampir seluruh hidupku suram,
apalagi jika menyangkut masalah asmara. Puas rasanya diriku memikirkannya
hingga hampir setiap hari aku bermuram durja.
Tahukah
kau kawan, Banyak lagu yang biasa kumainkan dengan gitarku, tapi ada beberapa
lagu yang kusukai karena kurasa sangat jitu menggambarkan keadaanku. sangat
mengena dihati karena begitu menyayat hati.
Sebenarnya
aku tak hafal seluruh liriknya, hanya sepenggalan saja. Kau pun tahu kawan, aku
tak pandai menghafal, tapi, Kira-kira
seperti ini lagunya :
Rahasia
indah
Tak
terbayangkan
Berjumpa
dengan dirimu
Menjadi
awal
Kisah
kita berdua
Terlanjur
jauh sudah
Ku
tlah jatuh hati padamu
Tanpa
ku pikir lagi
Ternyata
ku salah
Reff:
Mengapa
tak katakana kau tlah berdua
Mengapa
berdusta tuk raih cintaku
Mesktinya
kau jujur padaku
Tulus
padaku
Mungkin
ku tak membalas
Ku
tak mau berbagi cinta dengannya
Karena
ku tak ingin ada yang terluka
Biarlah
yang lalu menjadi
Sebuah
rahasia indah kita berdua
Dia
yang pantas
Dapatkan
cinta darimu
Karena
dia yang
Pertama
mencintamu
Kini
berakhir sudah
Pada
keputusanku
Tanpa
kupikir lagi
Kurela
kau pergi
Mengapa
tak katakana kau tlah berdua
Mengapa
berdusta tuk raih cintaku
Mesktinya
kau jujur padaku
Tulus
padaku
Mungkin
ku tak membalas
Ku
tak mau berbagi cinta dengannya
Karena
ku tak ingin ada yang terluka
Biarlah
yang lalu menjadi
Sebuah
rahasia indah kita berdua
Cukup
bagus bagiku kawan, cukup menggambarkan rasa sakit hatiku yang pernah tertipu
manisnya paras seorang perempuan yang ternyata telah mempunyai kekasih. Klise
memang, tapi hal ini banyak dialami orang lain disekelilingku. Tertawakanlah
aku kawan, yang tak menuruti kata-katamu dulu.
Kau
pasti mengerti kawan, Patah hati, sakit hati, di khianati, di bohongi adalah
hal biasa dalam cinta, seperti kata pepatah :
Everything
is fair in love and war
Segalanya
adil, boleh, halal, dalam cinta dan peprangan. Benar memang, apapun dilakukan
manusia untuk mendapatkan cinta dan memangkan perang. Tak hanya berbohong dan
berkhianat, tapi juga membunuh, bahkan pemusnahan masal. Benar kan kawan ?.
Tak
heran orang jaman dahulu membuat pepatah seperti itu, karena memang antara
cinta dan perang mempunyai hubungan yang sangat dekat kawan, lebih dekat
daripada nyawa.
Pernahkah
kau membaca sejarah kawan ?. Dari banyak perang yang terjadi, ada beberapa
besar yang terjadi karena perebutan cinta. Perang troya misalnya. Perang yang
menghancurkan separuh negri romawi hanya karena memperebutkan cinta seorang
wanita bernama Helen. Aneh bukan kawan?.
Betapa
absurdnya orang-orang ini kawan. Banyak perempuan yang ada di dunia, mengapa
ada orang yang rela mengorbankan ribuan nyawa pasukannya hanya untuk
mendapatkan cinta seorang wanita ?, padahal dengan kekuasaannya dia bisa
menaklukan hati jutaan wanita yang lain tanpa harus berperang. absurd,
benar-benar absurd.
Kawan,
Ada sebuah lagu lagi yang kusukai karena benar-benar menceritakan kisah hidupku
yang sebenar-benarnya. Its real me. Apa kau ingin tahu lagunya ?. kutuliskan
untukmu kawan.
Bangun
tidur
Tidur
lagi
Bangun
lagi
Tidur
lagi
Banguun
Tidur
lagi
Reff:
Habis
bangun
Lansung
mandi
Jangan
lupa
Senam
pagi
Kalau
lupa
Tidur
lagi
Simple
kawan, sederhana, spontan, tapi mengena, bukan hanya bagiku, tapi bagi sebagian
besar rakyat Indonesia. Jangan tersinggung kawan.
Kau
pun tahu Seperti itulah memang potret nyata orang Indonesia, tak pernah puas
jika menyangkut masalh tidur. Tak puas tidur di rumah, dia tidur di angkutan
umum. Tak puas juga, dia tidur di kantor, di kelas, bahkan di kamar mandi.
Tapi
kawan, sebagus apapun sebuah lagu, tetaplah hanya sebuah lagu. Takkan mampu
merubah nasibku atau menyelesaikan semua masalahku. Sebuah lagu hanyalah
gambaran rasa si pembuat lagu. Entah itu senang, sedih, rindu, bahkan benci. sebuah
lagu hanya ungkapan perasaan semata yang hanya enak didengar bagi sebagian
orang, tapi menyakitkan telinga bagi sebagian orang lainnya.
Pulang
kuliah, aku mulai mengerjakan tugas. Tapi semuanya tak selalu sesuai rencana,
tak segalanya sesuai dengan keinginan kita walaupun kita sudah sangat yakin
akan hal itu. Kau pun tahu itu kawan.
Benar
kata Einstein kawan, tak semua yang terhitung dapat diperhitungkan, dan tak
semua yang dapat diperhitungkan bisa dihitung. Tak mesti semua rencana kita
berjalan sesuai rencana, tak mesti semua keinginan kita bisa terlaksana.
Kawan,
Baru kali ini aku kesulitan menyelesaikan tugas kuliah. Tapi, kesulitan ini pun
bukan tanpa alasan. Apa kau masih ingat laptop tuaku kawan?.
Laptopku
rusak kemarin siang. Laptopku rusak bukan karena terjatuh atau semacamnya, tapi
karena memang sudah saatnya untuk pensiun. Kau pun tahu itu.
Kawan,
Sebenarnya aku ingin menggantinya dengan yang baru, tapi sayang rasanya jika
laptop warisan kakakku ini dipensiunkan setelah membantuku menghempaskan
kebosananku sejak semester 1. Tak hanya aku kawan, laptop ini juga yang telah
membantu kakakku menjadi sarjana dulu.
Sudah
tua memang, dibuat di Taiwan tahun 1997, bisa kau bayangkan sendiri kawan,
berapa usianya sekarang. Tapi karena usianya itulah aku sayang padanya. Semakin
lama suatu benda semakin antik dia. Semakin antik sebuah benda, semakin tak
ternilai harganya, apalagi jika benda antik itu masih berfungsi karena senantiasa
dirawat dengan hati.
Tapi
terpaksa kawan, lagi-lagi laptop yang sudah sekarat kuperbaiki seadanya,
sekedar bisa digunakan mengerjakan tugas untuk hari rabu saja, tak lebih.
Kawan,
telah Kucoba berbagai cara yang kubisa untuk menyembuhkan seonggok benda hasil
kombinasi sempurna antara kabel, fiber, dan tembaga, yang disebut laptop. Bagai
dokter bedah yang asli mengoperasi pasiennya yang sudah sekarat, aku dengan
cekatan mengotak-atik laptopku.
Masih
kuingat kawan, dokter adalah cita-citamu dulu.
Entah
karena kuperbaiki softwarenya atau karena kebetulan, tiba-tiba saja layar
laptop yang tadinya hitam kelam bercahaya menyala. Bagai melihat kekasih yang
mati hidup kembali, senang, benar-benar senang tak terkira kawan.
Akhirnya
laptopku mulai menunjukkan I'tikad baik ingin membantuku mengerjakan tugas
Walaupun keadaannya terseok-seok. Tapi kawan, bagaimanapun besarnya pengorbanan
laptop tuaku untuk membantu mengerjakan tugas, aku masih belum bisa mengerjakan
tugas. Bukan karena aku enggan menggunakan laptop yang kecepatan mesinnya
setara siput itu kawan, tapi karena aku belum menyiapkan referensi apapun untuk
tugas makalah.
Apa
kau tahu kawan, Mengerjakan atau membuat makalah itu tak seperti membuat cerita
yang bisa kita karang semau kita. Membuat makalah itu tak hanya butuh komposisi
yang bagus, tapi juga butuh kepastian mengenai asal-usul dan kualitas bahan
yang kita gunakan. Karena itulah, membuat makalah itu perlu banyak buku kawan,
susah sekali.
Tapi
malang kawan, kau tahu aku sama sekali bukan tipe mahasiswa yang rajin membeli
buku, atau minimal, rajin membaca buku. Tak heran jika tak satupun buku
terlihat dalam kamarku. Kendala, lagi-lagi kendala, kawan.
Satu-satunya
pilihan yang kupunya hanya warnet. Ya, hanya warnet.
Warnet
selalu jadi solusi jitu bagi mahasiswa-mahasiswa sepertiku. Tinggal tulis apa
yang kita mau, tekan enter, lalu sim salabim, semua datanya muncul di layar
computer. Mudah tak terkira kawan.
Orang-orang
tua kita dulu jika ingin membaca buku sulitnya tak terkira. Buku itu dahulu
bagai permata, hanya dimiliki orang-orang kaya. Tapi tak sedikitpun orang-orang
tua kita menyurutkan langkahnya untuk belajar mencari ilmu. Tapi kita kawan,
tak pernah mau belajar mencari ilmu, padahal mencari ilmu jaman sekarang
semudah membalikan telapak tangan, lebih murah daripada semangkuk bakso di
pinggir jalan. Kawan, Ilmu berserakan dimana-mana, di internet, televisi,
Koran, tapi kita enggan memungutnya. Bahkan buku sumber ilmu pun sudah seperti
kacang goreng, ada dimana-mana, tapi tak pernah kita menyentuhnya kawan.
Kawan,
Di sini warnet cukup banyak, tapi tak satupun yang dekat rumahku. maklum,
rumahku lumayan terpencil walaupun dekat kampus. repot memang tinggal di daerah
terpencil. Tapi seperti inilah nasib kawanmu ini, mahasiswa miskin yang hidup
di kontrakan kecil dalam gang sempit. Tinggal di kamar sempit dalam gang
sempit, serasa apapun menjadi sempit. Sempit sekali kawan, sesempit dunia ini
tanpamu.
Dari
rumah ke warnet butuh waktu sepuluh menit. Jauh memang, tapi aku tak punya
pilihan lain kawan. Mau tak mau harus kulakukan demi mendapat cap baik dari
dosen, mahasiswa yang rajin mengerjakan tugas. Inilah pengorbanan yang harus
kubayar demi mendapatkan huruf A di lembar pengumuman nilai ujian nanti.
Lagi-lagi
inilah letak kesalahanku, aku masih tetap temanmu yang bodoh seperti dulu.
Kesalahan yang kusadari tapi tak bisa kuhindari. Niatku belajar masih karena
ingin mengejar nilai, bukan karena mengejar ilmu. Padahal orang tua kita selalu
mengatakan belajarlah untuk mencari ilmu, maka kesuksesan akan selalu
menyertaimu. Tapi gengsi memang telah merubuhkan ideologi yang turun temurun
diusung keluargaku kawan. Aku tetap belajar untuk mendapatkan nilai bagus. Tak
ayal lagi, aku hanya belajar jika ada tugas atau ada ujian.
Ah,
sudahlah kawan, bukankah nilai juga menjadi tolak ukur kepintaran seseorang ?.
orang yang pandai tentu akan mendapatkan nilai bagus, dan sebaliknya. Itu
menurutku.
Rabu
jam 7 malam, pulang dari warnet aku mulai mengerjakan tugas. ah, kawan, tak
enak rasanya mengerjakan tugas tanpa ditemani segelas kopi. Kuseduh kopi hitam
yang dibawa ibuku tempo hari. Nikmat sekali rasanya. Andai kau ada disini
bersamaku menikmatinya.
Seperti
katamu dulu kawan, Kukerjakan tugas yang susah terlebih dahulu, tugas makalah
ushul fiqh. sebenarnya bukan mudah dalam arti pelajaran ushul fiqh telah
kukuasai, tapi mudah dalam artian karena semua materi yang akan kujadikan
makalah telah ada di buku. Aku hanya tinggal menyalinnya dan sedikit mengubah
bentuknya agar tak terlihat menjiplak dari buku 100%.
Jangan
heran kawan, seperti inilah memang kawanmu. Sangat pandai jika menyangkut
masalah akal. Mengerjakan tugas makalah 20 halaman lebih diselesaikan hanya
dalam waktu 15 menit. Jenius, jenius tak terkira.
Terang
saja kawan, semuanya sudah ada di internet. Tinggal di copy, di paste, lalu
disusun sedemikian rupa. Terakhir tinggal dibubuhi nama, lalu, voila, jadilah
makalah yang siap dicetak dan dikumpulkan. Kawan, Mudah bukan??.
Jam
7.30 malam, makalahku hampir rampung. Tapi, lagi-lagi muncul kendala. Di jilid
paling depan makalah, mesti dipampangkan logo UIN dan aku tidak punya logonya
untuk cover depan makalah. Kau mungkin tertawa karena kebodohanku ini kawan.
Satu-satunya
opsi yang kupunya hanya warnet. Ya, lagi-lagi hanya warnet.
Kawan,
Mau tak mau aku harus kembali menyusuri gang sempit nan sepi. Aku memang telah
2 tahun melewati gang sempit ini. Aku bahkan bisa melewatinya dengan mata tertutup.
Tapi tetap saja aku khawatir tiap kali melewatinya. Entah apa yang ada disana,
tapi aku benar-benar selalu takut melewatinya.
Pulang
dari warnet, kurampungkan sisa makalahku.
Tinggal
satu lagi kawan. Tugas mengarang untuk mata kuliah natsr.
Kawan,
Aku tak tahu apa yang akan kutulis. Cerpenkan ?. ah, aku tak bisa membuat
cerpen. Diary kah?. Aduh, aku pun tak bisa membuatnya. Jika kau jadi aku, apa
yang akan kau buat?
5
menit. Aku belum mendapatkan ide untuk tulisanku. 10 menit, tak satupun huruf
yang berhasil kutulis. Ah, mengapa mengarang itu selalu susah sekali kawan.
Kucoba
membuat segelas kopi lagi. Kopi yang tadi telah tandas kuminum sampai tuntas.
Barangkali segelas kopi lagi bisa menambah imajinasiku yang terkekang
tembok-tembok di dalam gang sempit. Segelas kopi selalu bisa membawa
imajinasiku melayang hingga ke pulau paskah di Australia, oasis di gurun
sahara, suatu tempat penuh es di antartika, bahkan ke tempatmu berada disana.
Ah, semoga segelas kopi kali ini pun berhasil melakukannya.
15
menit, masih seperti sebelumnya. Masih tak satupun kata yang berhasil kutulis.
Entah mengapa. Rasanya pikiranku terbatas oleh batasan-batasan yang dibuat
olehku sendiri. Batasan yang sangat tak menguntungkan karena mamatikan ruang
imajinasi dalam otakku.
Ya,
sangat mematikan imajinasiku. Bagaimana tidak kawan, aku membuat batasan
sendiri, tanpa kusadari, yang mengatakan jika mengerjakan tugas natsr untuk
besok itu harus seperti ini, seperti itu, tidak boleh begini, tidak boleh
begitu. Terang saja daya imajinasiku yang sempit makin menciut dipangkas oleh
batasan-batasan aneh dalam diriku.
Kawan,
Kubuka kembali ingatanku minggu lalu. kuingat dosen natsr hanya minta kami
menulis prosa, tak minta kami menulis prosa yang begini, prosa yang begitu.
Bebas kawan, asalkan bentuknya prosa.
Ah,
benar juga kawan. Bebas, asalkan prosa, artinya aku boleh menulis apapun yang
kusuka. Termasuk menulis tentang dirimu.
Indah
kawan, benar-benar indah. Menulis apa yang kita suka itu bagaikan mimpi.
Menulis yang kita suka itu artinya kita menjadi tuhan dalam cerita yang kita
buat. Menulis apa yang kita suka itu artinya kita membuat dunia kita sendiri,
membuat dunia sesuai keinginan kita.
Buatlah
dirimu setampan Keanu reeves, sekaya Richie rich, atau sekuat power ranger.
Bebas kawan, bebas. Tulisanmu itu duniamu. Kau buat jadi apa dirimu, itu
duniamu. Tak kan ada yang mengganggu.
Buatlah
dirimu menjadi presiden, menteri, bahkan jadi pengemis jika kau mau. Itu hakmu,
tulisanmu, tak kan ada yang mengusikmu.
Kawan,
Berbekal dari keyakinan itu. Kuhancurkan batasan-batasan yang tadi sempat
membelenggu imajinasiku. Kutulis apapun yang kumau. Tak peduli nanti orang akan
berkata apa tentang tulisanku. Aku tak peduli.
Pukul
11 malam.
Aku
mengantuk kawan, padahal masih banyak hal yang ingin kutulis. Benar, banyak
sekali. Tentang hidupku, tentang perasaanku padamu, tentang kejadian-kejadian
yang kita alami dulu, tentang penyesalanku meninggalkanmu, dan tentang
kegalauanku saat jauh darimu. Tapi tak bisa kawan. Aku tak mampu melawan kuasa
tuhan yang mengendalikan waktu. Tuhan mengendalikan waktu, dan waktu
mengendalikan kelopak mataku, dan kelopak mataku terus memberi tanda bahwa
sudah masanya ia melakukan tugas mulianya. Mengantar tuannya menuju alam mimpi.
Itulah
kuasa tuhan kawan. Tak seorangpun bisa melawan.
Kututup
laptop tuaku, bersiap menuju dunia baru, dunia yang tak kalah indah dengan
dunia tulisan. Dunia mimpi.
Kamis, 24 februari
Bangun tidur,
tidur
lagi,
bangun
lagi,
tidur
lagi,
banguuuun…..
tidur
lagi..
Kawan,
tak ada kata yang paling tepat mengungkapkan keadaanku tadi pagi. Jam empat
subuh aku bangun, lima menit kemudian tidur lagi. Jam setengah lima subuh aku
bangun lagi, tapi tak lama kemudian aku tidur lagi. Jam 6 aku bangun, lalu
shalat subuh. Hampir saja aku tidur lagi andai aku tidak ingat hari ini aku
masuk kuliah jam 8 pagi. Aku pasti kesiangan jika tertidur sekarang, begitu
pikirku.
Kawan,
Aku tak tahu kenapa aku gampang tertidur tapi susah terbangun. Aku bisa tidur
kapanpun dimanapun, tapi susah sekali bangun. Aku hanya bangun jika memang
sudah waktunya bangun. Jika belum waktunya bangun, kawan, suara bom atom sekalipun takan sanggup
membangunkanku. Hanya saja jika menggunakan bom atom, mungkin ketika terbangun
aku sudah berada di akhirat.
Ah,
bom atom kawan, jika memikirkan bom atom, terbayang lagi video yang kulihat
tempo hari. Video tutorial tentang keadaan rakyat Negara matahari terbit pasca
meledaknya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Ironis kawan, sungguh ironis.
Masyarakat di dua kota itu bagai hidup segan, mati tak mau. Hidup mereka hanya
tinggal menunggu waktu. Meski selamat dari ledakan, mereka tak bisa dari
radiasinya. Bukan hanya mereka, ternak mereka, air mereka, makanan mereka,
tanaman mereka, bahkan bayi mereka yang dalam kandungan mereka ikut merasakan
akibatnya.
Jahat,
benar-benar jahat kawan. Menghancurkan rakyat sipil yang tak berdosa hingga 2
sampai 3 generasi. Benar, 2 hingga 3 generasi kawan. Bagaiman tidak, orang yang
selamat dari ledakan terkena radiasi dari nuklir di bom atom. Radiasi mengendap
di tubuhnya, menghancurkannya perlahan-lahan dari dalam bagai virus computer.
Akibatnya, hebat kawan, hingga bayi yang belum mereka buat pun nantinya akan
menanggung akibatnya. Ketika si bayi lahir, tengoklah apa yang terjadi pada
mereka yang harus mengalami kelainan fisik, autis, mutasi genetik, bahkan
kangker kawan, kangker. Bayi tak berdosa yang harus menanggung akibatnya.
Manusia
tak pernah berhenti, kerusakan silih berganti. Mengorbankan orang lain untuk
kepentingan pribadi. Ironis sekali kawan.
Tak
puas membuat bom yang nyata telah memusnakan banyak sesama, umat manusia masih saja
mengembangkan bom berhulu ledak nuklir. Berlomba siapa paling hebat bomnya,
siapa yang paling besar daya rusaknya, siapa yang paling jauh jangkauannya.
Mengapa tak mereka katakana saja berlomba siapa paling banyak membunuh manusia,
kawan, menghancurkan manusia, memusnahkan manusia. Melakukan hal yang
menyengsarakan sesama hanya untuk mendapat pengakuan siapakah Negara paling
digjaya. Itulah manusia kawan, manusia.
Ah,
sudahlah, kuubah saja nanti sistem Negara-negara di dunia jika aku telah
menjadi sekjen PBB nanti. Tak akan berguna pemikiranku itu jika hanya
diungkapkan seorang mahasiswa yang bahkan tidak dikenali dosennya sendiri.
Itupun
salah satu sifat jahat manusia kawan. Manusia selalu melihat siapa yang
mengatakan, bukan melihat apa yang dikatakan. Manusia akan menuruti segala
titah presiden walaupun itu salah, Manusia selalu menuruti perintah orang yang
dia pandang kedudukannya lebih tinggi darinya, walaupun tak jelas ujung
pangkalnya. Tapi manusia tak pernah mau menuruti kata-kata orang yang dia anggap
lebih rendah kedudukannya walaupun dia tahu itu benar. Gengsi kawan, rasa malu
telah mencabut rasa keadilan dari diri manusia. Aneh bukan kepalang kawan.
Pantaslah dulu ketika nabi adam akan diturunkan manusia malaikat berkata bahwa
manusia itu pembawa kehancuran.
Ah,
sudahlah kawan. Untuk apa aku berkata seperti itu. Aku pun manusia, aku pun
bagian dari makhluk pembawa kehancuran.
jam
setengah 8 pagi, aku berangkat kuliah. Sebenarnya aku malas kuliah hari ini.
Semalam aku bergadang sampai larut untuk mengerjakan tugas yang mesti
dikumpulkan hari ini. Tapi jika aku tak masuk hari ini, apalah arti bergadangku
tadi malam kawan, apalah arti kopi yang kuminum tadi malam. Bukankah aku
bergadang untuk mengerjakan tugas agar bisa kukumpulkan hari ini?.
Apa
kau ingat kawan, Orang tuaku tak pernah sekalipun mengijinkanku tidur selarut
itu jika aku sedang dirumah mereka. Tak pernah beliau mengijinkan anak-anaknya
bergadang menghirup dinginnya angin malam.
Awalnya
kukira mereka tahu begadang itu menimbulkan banyak bahaya kesehatan. Maka
kuturuti saja titah mereka. Belakangan kusadari kawan, ibuku hanya lulus
sekolah rakyat dikampungnya, bapakku bahkan tak pernah sekolah, jadi bagaimana
bisa mereka tahu masalah kesehatan.
Aku
penasaran kawan. Kutanya ibuku, bagaimana mereka bisa begitu yakin, haqqul
yakin, bahwa bergadang itu berbahaya bagi kesehatan anak-anaknya. Lalu apa
jawabnya kawan ?.
"nak,
tidakkah kau cermati lagu bang haji rhoma irama yang judulnya bergadang ?"
Lalu
mengalirlah penjelasan darinya. begadang itu begini, begadang itu begitu, nanti
kau akan seperti ini, akan seperti itu, menimbulkan penyakit ini, penyakit itu.
Ah, panjang sekali kawan, penjelasan yang hanya didasari sebuah lagu dari bang
haji rhoma irama. Begadang.
Mau
tak mau aku harus kuliah.
Jam
8 tepat, aku masuk kelas, mata kuliah ushul fiqh. Hari ini hari presentasi
kelompok pertama. aku sendiri kelompok 11 dari 12 kelompok yang ada. Artinya,
hari presentasiku masih sangat lama, sepuluh minggu dari sekarang. Walaupun
demikian, makalah kelompokku mesti dikumpulkan hari ini.
Dari
semua dosenku tak ada yang seperti beliau. Namanya yani heryani. Kawan, dosenku
yang satu ini cerdas bukan kepalang. Dari pertama aku kuliah, beliau selalu
mengajar mata kuliah yang sulit, tapi
selalu bisa kumengerti. Kali ini pun tampak salah satu akar kecerdasannya.
Kelompok apapun kau, kapanpun kelompokmu tampil, makalahnya harus dikumpulkan
hari ini. Adil kawan, adil bukan kepalang. Mereka yang kelompok pertama harus
bergadang mengumpulkan hari ini, kelompok terakhirpun sama.
Saat
semester satu, beliau mengajar mata kuliah nahwu. Nahwu itu kawan, gramatika
bahasa arab, bagai pondasi sebuah gedung. Jika pondasinya kuat, berapa
tingkatpun kau buat gedungmu, tak akan runtuh diterjang badai. Jika pondasinya
lemah, tak usah menunggu badai, runtuhlah dia saat itu juga.
Seperti
itu pula si ilmu nahwu. Jika kuat nahwumu, jutaan ilmu bahasa arab akan sanggup
kau kuasai. Jika lemah nahwumu, ah sudahlah, aku tak sanggup mengatakannya
kawan.
Artinya,
dosenku inilah orang pertama yang meletakan dasar ilmu yang akan kupelajari
semasa kuliah. Tapi begitulah cerdasnya dosenku yang satu ini kawan. Pelajaran
susah, dibuatnya jadi begitu mudah, yah, setidaknya bagiku cukup mudah.
Presentasi
kelompok pertama.
Aku
mengantuk kawan, kelopak mataku berat bukan kepalang. Aku benar-benar
mengantuk, ditambah lagi presentasi kelompok pertama yang monoton. Ya, menurut
pendapatku begitu, setidaknya sampai sesi Tanya jawab.
Dalam
diskusi ,kawan, sesi Tanya jawab selalu menjadi tolak ukur tingkat kecerdasan
seseorang, menurutku. Bagaimana tidak, orang yang mengajukan pertanyaan
pastilah orang yang cerdas yang mampu melihat kesalahan pemateri. Tapi tak
hanya cerdas kawan, juga jahat. jahat karena menyusahkan pemateri presentasi
yang notabene adalah temannya sendiri. Itu juga manusia kawan. Selalu senang
jika temannya mendapat keberhasilan, tapi lebih senang jika bisa menjatuhkan
temannya itu sendiri.
Mata
kuliah ushul fiqh selalu begitu kawan, selalu presentasi. Artinya akan selalu
ada yang berhasil, ada yang gagal, ada yang tampak akar-akar kecerdasannya, ada
pula yang tampak urat-urat kebodohannya. Itulah kawan, kehidupan manusia,
selalu penuh persaingan.
Usai
mata kuliah ushul fiqh, tiba salah satu mata kuliah kesukaanku, terjemah. Aku
suka pelajaran terjemah bukan karena aku bisa. Benar kawan, bukan karena aku
bisa, tapi karena suasana. Seluruh teman sekelasku suka, mau tak mau aku pun
terbawa suasana.
Jika
pelajaran sejarah datang kawan, aku merasa kembali ke taman kanak-kanak.
Belajar terjemah tak ubahnya bermain. Dosen masuk, membagikan undian untuk
kelompok, memberikan soal, lalu kami mendiskusikannya dengan kelompok
masing-masing sambil tertawa lepas. Tak pernah dosen marah, kawan, malah dia
ikut tertawa.
Soal
yang diberikan pun mudah saja kawan, asal kita mau menggunakan sedikit pikiran,
apalagi dikerjakan secara berkelompok. Mudah dan menyenangkan kawan, tak
ubahnya siswa taman kanak-kanak bermain kata, hanya tinggal mencari kata ini
padanannya dengan kata apa, kata itu dengan kata apa. Beginilah seharusnya
belajar kawan. belajar itu proses bagaimana kita menemukan hal-hal baru dalam
hidup, dengan proses yang menyenangkan tentu saja. Belajar itu bukan perlombaan
menghafal kata dari buku, siapa paling banyak menghafal, akan jadi yang paling
bisa menjawab pertanyaan ujian, paling besar nilainya, dan paling dihormati
nantinya.
Belajar
seperti itu bukanlah menghasilkan manusia kawan, hanya menghasilkan mesin yang pintar tapi tak
punya hati, kawan, tak punya hati. Jika ingin menjadi orang pintar yang punya
hati, ajaklah hati belajar, buatlah ia senang dengan belajar, barulah ia akan
hidup.
Tapi
tidak dengan kita saat ini kawan. kita hanya belajar dengan otak, tak pernah
sekalipun mengajak hati ikut senang dengan belajar. Lihatlah akibatnya kawan,
berapa ribu pelajar yang bunuh diri akibat depresi karena tak lulus ujian.
Itulah kawan jika belajar dengan menumpukan tekanan pada otak. Otak tak kuat
menahan tekanan belajar yang terlalu dipaksakan. Akibatnya fatal kawan, sungguh
fatal.
Pulang
kuliah, tidur lagi.
Ya
kawan, tidur lagi. Tak ada hal lain yang kulakukan setiap pulang kuliah selain
tidur. Sebenarnya aku ingin seperti mahasiswa lain. Jalan-jalan setelah kuliah
dengan kekasih, atau sekedar nongkrong didepan kampus menunggu sang pujaan hati
lewat.
Tapi
apa dayaku kawan, sahabatmu ini hanya mahasiswa miskin biasa yang uang sakunya
hanya cukup untuk makan dan bayar kos bulanan. Tak lebih kawan, malah kadang
untuk makanpun aku mesti berhutang.
Orang
bilang punya pacar itu enak, ada yang senang saat kita senang, ada yang sedih
saat kita sedih, ada yang marah saat kita dilukai orang lain, ada yang khawatir
saat kita tak memberi kabar. Tapi bagiku kawan, pacar hanya penghambat
prestasi. Bagaimana tidak menghambat prestasi, Tak punya pacar pun nilaiku
pas-pasan, apalagi jika punya pacar.
Tapi
tak semua orang mesti begitu kawan, sebagian besar orang memang nilainya terjun
bebas gara-gara pacaran. Tapi ada juga temanku yang lain yang nilainya malah
naik drastis gara-gara cinta. Ah, cinta memang aneh kawan. bagai pedang bermata
dua, bagai jalan bercabang yang tak tahu sampai mana ujungnya. Hanya saja kita
tahu apa yang menunggu kita di ujung jalan itu. Satu jalan menuju pada
kehancuran, satunya lagi menuju kebahagiaan.
Yah,
masalah cinta memang abstrak kawan. Tak bisa diartikan hanya menurut persfektif
1 orang. Orang bilang cinta itu buta, gila,indah, sumber derita, dll, tapi
bagiku cinta itu hanya racun rasa strawberry kawan. Awalnya memang manis, tapi
jika tak hati-hati, matilah kau terkena racunnya.
Bicara
tentang cinta, takkan lepas dari tanggal 14 februari. Apa kau tahu hari apa itu
kawan ?.
Benar,
itu hari kasih sayang kawan.
Manusia
di seantero bumi menjadikannya momen untuk menyatakan kasih sayang. Ada yang
memberikan bunga, coklat, bahkan perhiasan kepada pasangannya. Indah kawan,
jika melihat umat manusia saling menyayangi sesama seperti itu. Hanya saja
mesti ada orang orang yang memanfaatkan momentum untuk hal-hal yang tidak baik.
Tengoklah
di Koran-koran kawan. Banyak gadis diperkosa pasangannya pada hari itu dengan
dalih kasih sayang. Ironis kawan.
Beberapa
waktu lalu, seorang kawan memberiku buletin buatannya bertemakan hari
valentine. Kebaca sejenak, ada sejarah hari valentine versi mereka. Kutuliskan
kembali untukmu kawan, sejarah valentine versi temanku yang dimuat dalam
buletinnya:
Valentine….
"andre,
hari ini kan valentine, banyak orang saling berkasih sayang. Tapi sampai hari
ini saya gak pernah tau kenapa valentine harus di harikan (dirayakeun
mereun-red). Nah, kau kan pakar cinta di illegal, tolong jelasin padaku kenapa
bisa begitu?" Tanya imam.
Setelah menyalakan sebatang rokok, andre pun berkata:
"gini bung imam, sebelum saya ngejawab pertanyaanmu
tadi, saya akan menjelaskan sejaranya dulu.
pada zaman dahulu
kala, hidup dua orang yang saling mencintai di daerah sumedang. Tentunya dua
orang tersebut berjenis kelamin pria dan wanita. Si pria bernama palen
karmadji, panggilan akrabnya palen. Sedangkan si wanita bernama entin kamanah,
panggilan akrabnya entine.
Nah, di desa tempat mereka tinggal sering terjadi
perampokan. Karena merasa daerak kekuasaannya tidak aman, lurah harkadi,
memerintahkan kepada staff kelurahan untuk mengumumkan wajib hansip bagi
pemuda.
Nah, program wajib hansip ini ditentang oleh karang taruna.
Masalahnya, wajib hansip ini, melarang para pemuda untuk menikah. Lurah harkadi
beralasan, kalau pemuda itu sudah menikah, maka ketika menjadi hansip ia akan
lemah, karena tujuannya buka menangkap musuh (rampok), tetapi tujuannya adalah
uang. Maka dibuatlah kebijakan itu.
Palen pun tak luput dari program wajib hansip. Ia dibawa
oleh keamanan kelurahan untuk dilatih. Namun palen menolak, karena baginya
wajib hansip adalah penghalang cintanya bersama entin.
Lurah harkadi mengetahui alasan palen untuk tidak mengikuti
wajib hansip. Maka ia memerintahkan untuk menangkap palen dan kekasihnya entin.
Perjuangan palen tidak berhenti begitu saja. Di penjara
kelurahan ia banyak menikahkan pemuda dan pemudi yang menolak wajib hansip.
Lurah harkadi mengetahui kegiatan palen di penjara, ia pun
geram dan menyuruh mengasingkan kekasih palen, yaitu entin, ke hutan yang penuh
binatang buas.
Palen sedih mendengar berita itu. Tetapi palen tetap
menikahkan pemuda pemudi di penjara kelurahan. Hingga akhirnya, palen pun
mendapat hukuman yang sama dengan entin, diasingkan ke hutan.
Namun hutan tempat mereka diasingkan berjauhan. Supaya
mereka tidak dapat bersatu.
Tanggal mereka diasingkan sama, yaitu tanggal 14 februari.
Hingga akhirnya palen dan entin tidak terdengar lagi beritanya. Sampai orang
tidak mengetahui keadaan dan keberadaannya.
Maka untuk menghormati keberanian dan perjuangan palen,
dibuatlah peringatan palen-entin pada tanggal mereka diasingkan. Tapi biar agak
gaya disebut valentine, biar agak kebarat-baratan. Gitu mam ceritanya"
"ooh, tetapi bang andre kenapa harus ada coklat waktu
merayakan valentine ?" Tanya imam.
"soalnya dulu, waktu dipenjara, palen pake baju
coklat". Jawab andre.
Perbincangan mereka terdengar oleh dadan, kemudian dadan
berkata:
" ah, waduk si andre mah mam, moal dirayakeun lamun
sejarahnya kitu mah".
"emang kumaha kitu sejarahna dadan ameh
dirayakeun?" Tanya andre. Kemudian dadan pun duduk didekat mereka berdua
dan berkata:
"ameh dirayakeun mah sejarahna kudu ti luar negri, ti
negri romawi, yang matinya pendeta valentine, lain si palen jeung si entin.
Nah, itu pun baru dirayakan sekitar 200 tahun setelah
kematian pastur valentine. Untuk memperingati kematiannya dijadikanlah perayaan
valentine pada tanggal 14 februari, karena pastur valentine meninggal pada
tanggal tersebut. Tah eta nu asli mah."
Kemudian imam pun diam termenung seperti sedang berfikir,
lantas ia berkata:
" ah, urang mah jadi lieur, ceuk si andre kieu, ceuk si
dadan kitu, numana nu bener ?, terus ari valentine tah nu sebenerna peringatan
hari kasih sayang atau peringatan kematian pastur valentine ?. bingung si saya
mah. Udah ah, sekarang saya mau pergi les balet dulu. Daripada mikirin
valentine, lieur.
Ah,
aku tak habis pikir kawan, ada-ada saja ulah pembuat buletin ini. Aneh memang,
tapi bagiku cukup masuk akal. Andai di akhir cerita tidak mereka cantumkan
cerita aslinya, mungkin aku percaya valentine itu awalnya dari sumedang.
Sudahlah,
membicarakan cinta itu tak kan ada akhirnya.
Sore
hari aku bangun. Tak biasanya, tiba-tiba saja aku ingin belajar untuk mata
kuliah besok. Inilah hasrat kawan, datang kapanpun dia mau, pergi kapanpun dia
ingin pergi.
Besok
pelajaran sejarah islam, salah satu pelajaran paling kusukai dari dulu. Belajar
sejarah tak ubahnya mendengarkan dosen mendongeng, seru tapi juga mengundang
kantuk. Aku serius kawan, pelajaran sejarah itu selalu berhasil membawaku
bermimpi. Melanglang buana ke panasnya udara mekkah jaman nabi dengan sejarah
perang badar, mengembara diantara megahnya bangunan di Baghdad dengan sejarah
bani abbasiah, berjalan-jalan diantara eksotisme bangunan hasil perkawinan
budaya arab dan eropa di Andalusia, bahkan hingga mengunjungi bangunan bukti
cinta sang raja di india, taj mahal.
Indah
kawan, jika kau bayangkan masa kejayaan islam dulu. Tapi mestinya tak
disebutkan kejayaan islam, melainkan kejayaan dunia, karena ketika islam
Berjaya, seluruh umat manusia ikut sentosa.
Masa
islam Berjaya, seluruh manusia di sekitarnya bahagia. Tak lain dan tak bukan
kawan, itu karena keagungan islam yang tak membedakan manusia. Tak pernah
sekalipun mereka dulu membiarkan tetangganya sakit hanya karena mereka berbeda
agama, atau membiarkan tetangganya kelaparan hanya karena berbeda warna kulit.
Singkat kata ringkas cerita, mereka itu hidup berdampingan dengan siapapun.
Indah bukan kawan?.
Hal
ini kawan tentu saja berdasarkan ajaran nabi kita. Nabi sendiri bahkan pernah
menjenguk seseorang yang sedang sakit, padahal orang itu telah melemparinya
dengan kotoran, tak hanya sekali kawan, saban hari nabi lewat di depan rumahnya
tak pernah sekalipun ia absen melempar nabi dengan kotoran.
Saat
suatu hari ia absen, tak melempar kotoran pada nabi, nabi mendatangi rumahnya,
menanyakan keadaan dan mengkhawatirkannya, bahkan menjenguk sambil membawakan
makanan.
Itulah
nabi kita kawan, membalas kotoran dengan makanan. Tak pelak lagi kawan, orang
tersebut langsung memeluk islam tanpa berfikir.
Ah,
entah kapan aku bisa mengikuti hal itu kawan, membalas cacian dengan pujian,
membalas cibiran dengan senyuman, membalas kejahatan dengan kebaikan. Andai aku
bisa kawan, andai aku bisa.
Jam
5 sore, aku mulai bosan belajar.
Kututup
buku sejarah yang sejak tadi kubaca. Tapi aku belum juga mau beranjak dari
tempat dudukku. Ini momentum kawan, jarang sekali terjadi aku mau berlama-lama
duduk membaca buku, tak boleh kusia-siakan. Kucari apa yang bisa kulakukan jika
sudah tak ingin belajar tapi juga belum mau beranjak
Ah, aku ingat. Puisi kawan. benar, puisi.
Tapi
puisi apa, aku tak pandai bersyair, juga tak pintar merangkai kata. Aku bukan
pujangga cinta yang dari mulutnya bisa mengalir begitu saja petuah-petuah
indah, aku hanyalah manusia mahasiswa biasa. Sudahlah, kucoba dulu saja.
Sulit
kawan, benar-benar sulit.
Saat
aku sedang tak ingin bersyair sering sekali terbersit dalam pikiranku
sajak-sajak tentang perasaan saat itu. Tapi saat aku ingin membuatnya, ia
hilang tak berbekas, bagai ditelan bumi. Ternyata membuat sajak itu tak mudah
kawan.
Sudahlah,
nanti saja jika ada sajak masuk kepalaku akan langsung kuikat dengan tulisan
agar tak lari lagi.
Pukul
7 malam.
Sendiri
lagi, selalu begini kawan. bagi orang yang punya kekasih, masa seperti ini
adalah waktunya bercengkrama dengan sang pujaan hati. Tapi aku kawan, selalu
sendiri. Pantaslah lagu ciptaan ahmad dani disematkan padaku, sangat jitu
menggambarkan perasaanku. Seperti inilah lagunya:
Malam
ini..
Ku
sendiri..
Tak
ada yang…
Menemani…
Seperti
malam-malam..
Yang
sudah-sudah…
Hati
ini…
Selalu
sepi…
Tak
ada yang…
Menghiasi…
Seperti
jiwa ini…
Yang
selalu pupus…
Tuhan
kirimkanlah aku…
Kekasih
yang baik hati…
Yang
mencintai aku..
Apa
adanya…
Benar,
Tuhan, sudikah kiranya engkau kirimkan aku kekasih yang baik hati dan mau
menerimaku apa adanya.
Sudahlah
kawan, aku mengantuk. Besok saja kuteruskan menulis.
Jum'at 25 februari
Bangun
pagi,
gosok
gigi,
cuci
muka,
main
lagi…
kawan,
itu penggalan lagu yang kudengar dari sebuah film animasi buatan negri jiran
tetangga kita, Malaysia. Tapi kawan, lagu itu kurang mengena dihatiku. Maka
kuubah sedikit liriknya. Jadilah seperti ini:
bangun
pagi..
gosok
gigi..
cuci
muka...
tidur
lagi...
aha,
yang ini baru jitu. Inilah aku, tak pernah puas jika hanya tidur selama 1
ronde. Begitu bangun, mesti ada satu ronde lagi. Bahkan terkadang harus ada
lagi babak tambahan. Ekstra time, itulah istilahnya kata orang eropa kawan.
bangun
tidur kawan, sekejap setelah bangun tidur maksudku, segalanya mesti kacau
balau, tak tahu ada dimana, hari apa dan tanggal berapa.
Itulah
kawan yang selalu dikatakan orang tua, jika bangun tidur arwah kita belum
terkumpul seluruhnya.
Ada
satu kebiasaan yang selalu kulakukan setelah bangun tidur. Tentunya selain
tidur lagi kawan. melihat almanak, ya kawan, melihat alamanak.
Bagiku
almanak atau kalender itu buka sekedar kertas berisi angka-angka yang berisi
tanggal. Bagiku, almanak itu manajer yang mengatur segala jadwal kegiatanku.
Tengoklah sendiri almanak di kamarku kawan. gambar warna-warninya telah pupus
tertutup coretan-coretan spidol. Wajah cantik model gambarnya telah hilang
tertutup tulisan-tulisan tak beraturan hasil karyaku.
Benar
kawan, penuh coretan tak beraturan. Ada tulisan agenda kegiatan, kata-kata
bijak para pujangga, bahkan tanggal ulang tahun kawan-kawanku.
Itulah
sebabnya kawan, setiap bangun tidur aku selalu melihat almanak. Tak hanya ingin
tahu hari apa ini dan tanggal berapa ini, tapi juga untuk menambah semangatku,
Ya
kawan, untuk menambah semangatku mengawali hari baru. Setiap kulihat kata-kata
bijak yang tertera disana, rasanya semangat hidupku meluap hingga ke ujung kuku
kakiku. Kata-kata bijak itu kawan, adalah prinsip yang kuyakini hingga saat
ini. Prinsip yang terus kugenggam erat walaupun sebagian terasa absurd bagi
yang tak mengerti. Dari prinsip hidupku seperti:
Hidup
itu dari perjuangan, bukan dari belas kasihan
Lalu prinsipku dalam
menggunakan waktu:
Waktu
itu bagaikan pedang,
jika ia tak kau potong
maka ia yang akan memotongmu.
Hingga prinsipku dalam
mencari kekasih:
Janganlah
melihat seorang wanita dari wajahnya
Lihatlah
ia dari kakinya.
Mungkin
kau tak mengerti kawan, mengapa aku menulis seperti itu, janganlah melihat
perempuan dari wajahnya melainkan dari kakinya. Tapi aku menulis itu bukan
tanpa alasan. Pikirkan kawan, percuma seorang wanita berparas cantik jelita,
elok dipandang mata, tapi kakiknya tak menyentuh tanah.
Maka
tak salah jika aku selalu melihat perempuan dari kakinya sebelum aku melihat
wajahnya.
Kulihat
almanak, kucari tanggal hari ini, 25 februari. Tak ada yang istimewa. Memang
selalu tak ada hari istimewa bagiku. Benar kawan, bahkan aku tak menganggap
hari ulang tahunku istimewa. Bagiku, tak ada bedanya dengan hari-hari biasa.
Usai
melihat almanak, kebiasaanku selanjutnya adalah melihat jadwal pelajaran hari
ini. Itulah kawan, aku selalu lupa pelajaran apa hari ini walaupun kemarin sore
buku pelajarannya telah aku siapkan. Aku sendiripun heran, kemana perginya ingatanku
tadi malam. Mungkin hilang bersama mimpiku tadi malam.
Hari
ini pelajaran sejarah dan sastra sunda.
Ah,
nothing special, tak ada yang istimewa kawan, tetap tak ada yang istimewa
walaupun aku suka sejarah. Memang tak ada kawan. semoga saja suatu hari aku
punya hari istimewa. Semoga.
Jam
8 pagi. Aku harus cepat-cepat mandi. Hari ini aku masuk kelas pukul 9 pagi. Aku
tak boleh terlambat. Terlalu sering aku terlambat kawan, sampai muak rasanya
kawan melihat raut teman-teman sekelasku yang mencibir karena keterlambatanku.
Tapi apa daya kawan.
Ah,
sebenarnya aku malas sekali mandi. Jangan menganggapku jorok kawan. keadaanlah
yang membuatku malas mandi. Kaubayangkan sendiri lah kawan jika mandi dengan
air yang rupanya saja seperti kopi susu. Tak jelas berwarna coklat atau abu-abu.
Hari
ini aku masuk kuliah jam 9 pagi.
Bandung,
kawan, cuacanya selalu panas. Jam 9 pagi saja udara sudah terasa membakar.
Kawan, andai 1 jam saja aku berdiri diluar rumah, entah aku akan jadi apa. Kau
bayangkan sendiri sajalah kawan
Aku
berangkat di tengah panas terik. Terpaksa kawan, demi titah suci nan mulia
menuntut ilmu. Tapi hari ini aku enggan berjalan kaki. Biarlah kukorbankan
selembar uang seribuan lecek yang sudah tak jelas gambarnya apakah itu patimura
atau cut nyak dien, entahlah kawan, tak pernah kupedulikan.
Di
ujung gang ada jalan raya, tempat lalu lalang segala jenis kendaraan. Di situlah kawan, hari
ini kugantungkan nasibku hari ini. Andai angkutan yang membawaku ke kampus
datang tepat waktu, selamatlah aku dari keterlambatan yang biasa menimpaku.
Tak
hanya aku kawan, di jalan raya berkumpul nasib ribuan manusia. Jalan raya
seakan jembatan menuju 2 arah berbeda, arah menuju surga atau neraka.
Jam
9 kurang 1 menit.
Hampir,
kawan, hampir saja aku terlambat. Beberapa detik saja aku telat, habislah sudah
nasibku. Dosen hari ini kawan, galaknya bukan buatan. Selangkah saja kau kalah
darinya ketika masuk kelas, bersiaplah menerima gelombang kemarahannya. Kau
pasti mengerti kawan, akulah pencetak gol terbanyak, top skorer dalam masalah
terlambat masuk kelas. Namaku sudah terpatri dalam buku agendanya sebagai
mahasiswa yang paling sering terlambat. Tapi itulah kawanmu ini, mahasiswa yang
dipenuhi ironi.
Tapi,
ada yang aneh kawan, biasanya pada jam seperti ini beliau sudah ada di dalam
kelas, atau minimal ada di depan kelas menghabiskan rokok murahan yang
dibelinya di warung sebelah. Tapi kali ini berbeda kawan, tak kulihat batang
hidungnya.
Ia
tak masuk hari ini.
Pelik
kawan, susah payah aku berlari mengejar waktu, mempertaruhkan nasibku pada
angkutan umum bobrok yang suara mesinnya seperti granat, meletup-letup tak
karuan. Tapi apa kawan ?. sia-sia, segalanya sia-sia.
Tak
apalah kawan, anggap saja ini hari kemerdekaan. Merdeka dari kemarahan dosen.
Oh,
iya kawan, aku lupa memberitahumu, hari ini mata kuliah sastra sunda. Kau tahu
kawan, sastra sunda itu pelajaran kebudayaanku sendiri, tapi aku tak tahu
apa-apa tentang sastra sunda. Ironis kawan, tapi inilah kenyataannya. Sastra
sunda sama nasibnya dengan orang sunda yang sudah tak bangga dengan
kebudayaannya sendiri.
Bahkan
kawan, aku pernah melihat orang-orang jepang bermain angklung, salah satu alat
tradisional kami, alat tradisional sunda yang tak dihargai oleh orang sunda
sendiri. Nantilah kawaan, jika aku sudah punya jabatan, akan kuubah system
Negara ini. Doakan saja kawan, doakan.
Jam
1 siang, aku pulang.
Tak
usahlah kuceritakan lagi apa yang kulakukan setelah pulang kuliah. Kau tahu lah
apa yang biasanya kulakukan.
Tidur
dan bermimpi, itulah yangb kulakukan.
Kawan,
tidur siangku hari ini benar-benar nyenyak kawan. Udara terik di luar tak mampu
membuyarkan mimpiku. Mimpi tentang seseorang yang kulihat di kampus tadi.
Seorang
wanita kawan, salahkah aku jika memimpikan seorang wanita yang tadi kutemui.
Kurasa tidak kawan. Karena aku laki-laki, karena aku berhak punya cinta seperti
orang lain.
Tadi
di kampus kawan, kulihat bunga mekar yang keindahannya melebihi bunga manapun
yang ada di dunia. Aku melihat rembulan yang cahayanya melebihi purnama tanggal
15. Indah kawan, indah bukan buatan.
Masih
segar di mataku, wajahnya, matanya, senyumnya, bahkan lesung pipit yang
menghiasi indah pipinya. Andai kawan, andai aku bisa memilikinya.
Nah,
syair kawan, tiba-tiba saja bait-bait menari-nari di dalam pikiranku.
Kutuliskan untukmu kawan.
rembulan,
Indah
bukan buatan,
Ah,
itu bukan rembulan,
Itu
matahari,
Karena
cahayanya menerangi semesta alam,
Ah,
itu bukan matahari kawan,
Itu
oase di padang pasir,
Karena
member kesegaran bagi musafir yang kelelahan,
Ah,
aku salah lagi kawan,
Itu
bukan oase,
Itu
butiran es di terik matahari,
Menyejukkan
di tengah keinginanku akan kesegaran,
Wahai
bidadari indah nan rupawan,
Bolehkah
hamba memeluk puan?.
Wanita
gadis nan cantik menawan,
Bolehkah
hamba memiliki puan.
Pukul
3 sore, aku bangun tidur. Segar sekali rasanya kawan. Entah mengapa. Tapi sayang
jika kulewatkan, tak biasanya aku langsung bangun setelah tertidur satu babak.
Kau pun tahu kawan, mestinya ada babak tambahan.
Ah
sudahlah, tak penting ada apa, yang pasti sayang jika kulewatkan momentum ini.
Momentum
kawan, hal langka yang dicari setiap manusia. Momentum menjadi sebuah titik
penentu apapun yang ada di dunia, selalu menjadi titik balik nasib setiap
manusia. Makanya kawan, sayang jika momentum ini kulewatkan.
Setelah
mandi, aku keluar melihat pemandangan yang jarang sekali kulihat. Bandung di
sore hari.
Ramai
kawan, tak kalah ramai dengan dunia mimpiku. Aku berjalan menuju lapangan,
satu-satunya tempat terbuka yang kutahu di sekitar tempat tinggalku ini.
Aneh
kawan, baru kali ini kulihat orang mengadu burung merpati. Dua ekor burung
merpati diterbangkan dari tempat yang cukup jauh. Merpati siapa yang sampai ke
garis akhir terlebih dahulu, dialah yang Berjaya. Entahlah, aku tak begitu
mengerti peraturannya. Tapi itu yang kutahu. Entahlah kawan, yang penting aku
menikmatinya.
Senja
mulai beranjak menuju bandung, tapi orang-orang disini belum juga terjaga dari
kesenangan mereka sore ini. Ternyata kawan, ada juga kesenangan seperti ini.
Dari
sinilah kawan, aku mengerti 1 hal, bahwa segala sesuatu bisa dibagi.
Penderitaan, kebahagiaan, kesedihan, kesenangan. Aku juga tahu kawan, itulah
gunanya teman.
Sabtu 26 februari 2011.
Libur
kawan. Sabtu itu hari berlibur. Aku bisa melakukan banyak hal yang aku mau di
hari sabtu. Hari sabtu kawan, hari kemerdekaanku. Tak ada tugas kuliah, tak ada
latihan soal, tak ada dimarahi dosen menyebalkan.
Hari
sabtu kawan, bagai hari kemerdekaan. Aku bisa tidur sampai puas karena Hari ini
hari hibernasi. Aku bisa tidur tanpa takut terlambat kuliah. Ah, indahnya dunia
andai setiap hari seperti hari sabtu.
Tapi
tak bisa kawan, jika tak ada hari lain, tak akan ada kehidupan. Hidup itu tak
mesti selalu sesuai keinginan. Kadang senang, kadang susah. Kadang indah,
kadang memuakan. Tapi itulah yang membuat hidup ini menjadi indah. Nikmati saja
kawan, karena hidup Cuma sekali.
Biasanya,
setiap hari sabtu aku tidur sampai siang menuntaskan hutang waktu tidurku yang
selalu terambil waktu belajar, tapi sabtu kali ini tak bisa. Kelabu kawan,
kelabu. Hari ini aku harus mencuci.
Beginilah
kawan jika hidup jauh dari keluarga. Makan tidur sendiri, mencuci pun mesti
dilakukan sendiri. Ah, sial, mau tak mau harus kulakukan.
Mencuci,
kawan, hal yang tak pernah kulakukan dengan benar. Saat mencuci, tanganku
dibantu sabun berperang melawan kotoran di pakaian, tapi pikiranku terbang
entah kemana. Itulah kawan, saat mencuci, ada saja hal yang kupikirkan. Masalah
pelajaran lah, politik lah, cinta lah, bingung aku dibuatnya. Pantas bajuku tak
pernah terasa benar-benar bersih.
Mencuci,
kawan, tak pernah kulakukan kurang dari satu jam. Itulah aku kawan, bahkan
ketika mencuci pun aku masih sempat bermimpi.
Jika
membicarakan masalah bermimpi, kawan, akulah juaranya. Andai bermimpi
dilombakan dalam olimpiade, aku yakin kawan, akulah yang akan dapat medali
emasnya. Bermimpi itu mudah kawan, sangat mudah. Pejamkan matamu, bayangkan
dalam hatimu, dan jadilah apapun yang kau mau.
Mewujudkannya pun bukan hal yang sulit kawan. Cukup pikirkan apa yang
kau inginkan, cari jalannya, dan lakukan. Mudah sekali kawan.
Dari
sekian banyak mimpiku, ada mimpi yang terus kujaga, jika mampu akan kuwujudkan.
Aku ingin jadi orang nomor wahid di dunia. Kau tahu siapa dia kawan ?. sekjen
PBB, itulah dia kawan.
Kau
bayangkan sendiri kawan, betapa jayanya jika engkau menjadi sekjen pbb.
Perserikan bangsa-bangsa kawan, organisasi paling disegani. Tapi itu dulu
kawan, saat ini lain halnya. Pbb hanya organisasi formalitas, tapi isinya
dikendalikan amerika.
Kembali
ke cucianku yang entah kapan bisa kuselesaikan.
Usai
kuputuskan hari ini aku akan mencuci, aku mulai mencari baju-bajuku yang kotor
berkeringat, saksi bisu betapa kerasnya perjuanganku mencari ilmu. Kucari
dimana aku mampu mencarinya. Dalam lemari, di bawah meja, kolong tempat tidur.
Ah,
andai yang kucari sekarang adalah harta karun, entah berapa banyak yang
kudapat. Tapi saying kawan, yang kucari hanyalah pakaian kotor bekas kupakai.
Maka tak heran jika yang kudapat hanya pakaian yang tak jelas baunya, bau
keringatkah?, sisa makanankah?, farfumkah?. Ah, entahlah kawan. Yang pasti
seluruh bau inilah yang membuatku menderita, harus mencuci di hari libur.
Hampir
setengah jam aku mencari, akhirnya aku yakin tak ada lagi yang tersisa. Semoga
kawan, semoga tak ada yang tersisa, karena jika ada yang tersisa, artinya aku
harus melakukan babak tambahan. Mencuci ronde kedua.
Usai
mencari pasien yang hendak kucuci, kucari satu unsur penting lagi dalam
mencuci. Tentara pemusnah kotoran, pembersih pakaian, penghilang segala noda
pakaian. Tahukah engkau siapa dia kawan ?. detergen.
Detergen
selalu menakjubkan jika kau melihatnya dalam iklan. Hebat bukan kepalang kawan.
Ada yang bisa mencuci sendiri, ada yang seperti gelombang besar menhapus tuntas
segala kotoran, bahkan ada juga yang bisa membuat pakaian harum bak taman
bunga, tapi itu hanya iklan kawan, hanya iklan.
Detergen
yang di iklan bisa mencuci sendiri tetap saja butuh tangan kita untuk meyikat
kotorannya, tak pernah muncul tangan-tangan ajaib seperti di iklan. Bahkan
detergen yang di iklan digambarkan bisa membuat pakaian kita menjadi seharum
taman bunga ternyata tak mampu menghapus tajamnya bau keringat.
Tapi
mau tak mau, terpaksa kawan, harus kugunakan.
Kutuang
detergen, kuberi air, lalu kemasukkan seluruh pakaianku ke dalamnya. Gabungan
dari tiga formula itu kawan, akan menghasilkan dua hal. Baju bersih dan air
penuh kotoran.
Aku
bingung kawan, bagaimana cara si detergen memisahkan noda dari pakaian.
Kupikirkan, tapi tak juga kudapat jawabannya. Pusing aku jadinya.
Sudahlah,
tinggal kutunggu saja hasil pekerjaannya.
Orang selalu mengatakan, waiting is a boring
thing, menunggu adalah hal yang membosankan. Tapi tidak bagiku kawan. Bagiku
menunggu itu adalah kesempatan. Kesempatan untuk berfikir, kesempatan untuk
merenung, bahkan kesempatan untuk berkarya.
Sukseslah
engkau kawan jika bisa mengubah waktu tidak produktif menjadi waktu yang
produktif. Waktu menunggu yang menurut sebagian orang membosankan akan berubah
menjadi sebuah kesempatan.
Begitulah
yang selalu diucapakan guruku di sma. Itu juga lah yang selalu kupegang dan
kuyakini. Berbekal keyakinan itu kawan,
aku bergegas mengambil pulpen dan kertas. Aku mau menulis sesuatu. Puisi,
kawan, puisi.
Tempo
hari, aku ingin membuat puisi, tapi aku terserang virus malas yang membuat
ideku tak beranjak dari tempatnya, apa kau masih ingat kawan?. Mungkin sekarang
aku bisa membuatkanmu puisi barang sebait.
5
menit. Tak ada yang berhasil kutulis.
Ah,
aku tak tahu harus memulai dari mana jika ingin membuat puisi.
Aku
jadi bingung dengan diriku kawan. Saat aku tak ingin membuat sajak, selalu saja
terlintas di benakku bait-bait puisi. Ketika aku ingin membuatnya, bait-bait
itu hilang entah kemana. Aku benar-benar bingung kawan.
Sudahlah
kawan, aku menyerah. Lebih baik kutuliskan saja sebuah sajak karya maestro
sajak palestina, jabra Ibrahim. Ini kutuliskan untukmu, kawan, karena kutahu
engkau suka puisi sepertiku.
Di
gurun-gurun pengasingan
Musim
semi demi musim semi,
Di
gurun-gurun pengasingan ini,
Mau
apa kami dengan cinta kami,
Bila
mata penuh debu dan udara dingin begini ?
Tanah
kami yang hijau,
Palestina
kami,
Bunga-bunganya
seakan sulaman pada gaun-gaun wanita kami,
Bulan
maret menghiasi bukit-bukitnya
Dengan
bunga narsis dan kembang piun seindah permata,
Bulan
april mekar di padang-padang terbuka
Dengan
kembang dan bunga-bunga bagai pengantin jelita,
Bulan
mei adalah nyanyian pedesaan kami
Yang
kami nyanyikan selalu
Di
tengah hari di bawah baying-bayang biru
Pohon
zaitun di lembah-lembah kami,
sementara
di ladang-ladang kami yang bermasakan
kami
menunggu jandi bulan juli
dan
tarian riang di tengah panenan
Oh,
tanah kami dimana masa kanak-kanak kami
Berlalu
bagai mimpi
Di
bawah lindap kebun jeruk,
Di
antara pohonan badam lembah kami
Kenanglah
kami kini
Yang
mengelana di tengah duri-duri di gurun yang gersang,
Yang
mengelana di gunung-gunung karang,
Kenanglah
kami kini,
Yang
berada di tengah gebalau kota-kota
Si
seberang gurun-gurun dan laut-laut raya
Dengan
mata penuh debu dalam pengembaraan yang tak habis-habisnya.
Mereka
merusak bunga-bunga di bukit sekeliling kami,
Menghancurkan
rumah-rumah yang melindungi kami,
Menghamburkan
koyak-moyak sisa tubuh kami,
Kemudian
membentangkan gurun di muka kami
Dengan
lembah-lembah
Yang
menggeliat dalam kelaparan
Dan
bayang-bayang biru yang sirna menjadi duri-duri merah
Menaungi
mayat-mayat yang ditinggalkan
Sebagai
mangsa gagak dan elang.
Tidakkah
dari bukit-bukitmu para malaikat menyanyi pada gembala-gembala,
Tentang
damai di bumi dan persahabatan antar manusia?
Hanya
maut yang akan tertawa
Bila
diantara isi-isi perut hewan dilihatnya
Tulang-tulang
rusuk manusia
Dan
lewat peluru-peluru yang terbahak tertawa,
Ia
tampil menarikan tarian gembira
Di
atas para wanita yang meratap duka.
Tanah
kami zamrud berkilauan,
Tetapi
di gurun-gurun pengasingan,
Musim
semi demi musim semi,
Hanya
debu yang bersiul di wajah kami,
Maka
mau apa lagi kami dengan cinta kami.
Bila
mata dan mulut kami penuh debu dan udara beku begini?
Jam
8 pagi, mungkin adonan cucianku sudah siap diolah menjadi pakaian bersih. Andai
aku punya pembantu, kawan, tak usah aku berpeluh mencuci seperti ini. Andai,
kawan.
Sudah
kukatakan padamu kawan, bagiku, mencuci dan bermimpi itu satu kesatuan, tak
dapat dipisahkan. Bila aku mencuci, mestilah aku bermimpi. Mencuci dan bermimpi
bagiku kawan, seperti tubuh dan jiwa. Tubuh tanpa jiwa hanyalah seonggok daging
yang tak berguna. Begitu pula mencuci tanpa bermimpi. Aneh kawan, tapi itulah
aku.
Waktu
memcuci kali ini pun aku bermimpi. Kuceritakan padamu mimpiku itu kawan.
Aku
melesat dengan angkutan tercepat yang pernah ada, langsung menuju satu-satunya
pemberhentian yang ingin ku tuju saat itu, sebuah stasiun di alam mimpi.
Ketika
sampai, kawan. Kurasakan ada sesuatu yang berbeda dari tempat itu, sebuah
tempat di dunia mimpiku yang biasanya berwarna suram, kali ini berwarna merah
muda cerah nan indah. Awalnya aku tak tahu ini dimana. Tapi akhirnya aku tahu
kawan, aku berada dia alam mimpiku, berada dalam hatiku sendiri.
Aku
bingung, mengapa hatiku terlihat cerah. Kuberlari kesana kemari mencari
seseorang, aku ingin bertanya, siapa yang melakukan semua ini.
Aku
berlari kesana kemari. Berlari tanpa henti. Akhirnya, di kejauhan kulihat
sesosok manusia yang rasanya sangat kukenal.
Aku
kenal mata mengantuknya, bentuk wajah asimertisnya, bahkan perawakan mungilnya.
Aku kenal kawan. Aku kenal sekali. Itu aku kawan, itu diriku sendiri.
Tapi
kenapa wajahnya terlihat begitu cerah dan berseri?. Akukah itu ?. bukankah
sudah sejak lama wajahnya muram ?.
Tapi
benar kawan, itu aku, aku benar-benar yakin itu aku.
Kuhampiri
dia, kutanya ada apa ?
Dia
tak menjawab, kawan, hanya diam seribu bahasa, tapi kutahu dari wajahnya bahwa
dia sedang gembira. Harta karun sebanyak apa yang dia temukan sehingga wajah
suramnya bertabur cahaya?. Nilai sebesar apa yang didapatkannya sehingga
wajahnya berbinar gembira?.
Kutanya
sekali lagi padanya kawan, sayang mulutnya terkunci rapat oleh senyuman yang
tak henti-henti dilontarkannya. Tapi tangan kecilnya menunjuk satu arah.
Kuikuti
jalan yang diarahkan tangan mungilnya. Aku berlari, terjatuh, merangkak di
jalan berbatu dalam dunia mimpiku. Tapi aneh kawan, semakin lama jalan yang
kulalui semakin mulus, semakin besar, dan semakin bercahaya. Aku tak ingat
pernah membuat jalan seperti itu dalam hatiku.
Semakin
jauh kuberlari, semakin indah jalan yang kulalui. Ahkirnya aku sampai di taman
bunga. Ada apa lagi ini?. Mengapa dalam mimpiku ada tamn bunga.
Kulihat
sekeliling. Tak ada apapun di sana kawan, kecuali bunga. Sejauh mata memandang,
hanya bungan yang terlihat.
Ah,
apa bagusnya.
Tapi
tiba-tiba kawan, seluruh bunga di taman terbuka bermekaran sepenuhnya. Ah,
ternyata ini yang merubah suasana hatiku.
Dari
dalam kelopak bunga, muncul sesosok wajah perempuan berjilbab rapi. Indah
kawan, benar-benar indah, jauh lebih indah daripada taman bunga.
Aku
kenal dia kawan, dia salah satu kawanku, sama sepertimu.
Tapi
kenapa harus dia?. Mengapa aku menyimpan wajahnya dalam hatiku?.
Aku
diserang ribuan pertanyaan tak menentu. Aku tak tahu mengapa, tapi wajahnya
telah merubah suasana muram dihatiku menjadi menyenangkan, mengubah jalan terjal
berlubang menjadi jalan mulus tanpa hambatan.
Aku
berfikir, mencari jawaban, mengumpulkan segala kemungkinan yang mungkin bisa
terjadi. Tapi yang kudapat hanya satu. Apa kau ingin tahu kawan, apa jawaban
yang kudapat ?.
Cinta
kawan, mungkin ini cinta.
Tapi
aku tak berani berspekulasi kawan, kaupun tahu sebabnya, hanya memikirkan cinta
saja membuatku pusing. Apalagi jika kau harus terlibat di dalamnya.
Tapi,
jika itu memang cinta, sanggupkah diriku ini menolaknya kawan?. Semoga aku
sanggup.
Biarlah,
untuk sementara ini, kubingkai saja wajahnya dalam hatiku.
Jam
3 sore, aku pergi ketempat yang kudatangi kemarin, mencari kesenangan di dunia
nyata. Mencari kesenangan diantara lalu lalang manusia yang sama sepertiku.
Kapan-kapanlah
kuceritakan lagi untukmu kawan. Tanganku cukup lelah menulis.
Jika
engkau masih ingat kepadaku kawan, cobalah ceritakan kisahmu padaku, agar tak
gundah diriku memikirkan nasibmu.
Komentar
Posting Komentar